Selasa, 16 Januari 2018

My Boss Loive



My Boss Love
Saat khayalanku terhalang oleh pengkhianatan waktu, cinta dan dirimu yang menjebakku dalam perasaan semumu bahwa ku tahu dulu aku pernah merasakan indahnya perasaan di cintai, di sayangi dan di jadikan wanita yang berharga dalam hatimu. Itu dulu saat kau masih menjadi milikmu dan saat ini tiga tahun berlalu perasaanku pun ikut perlahan menghilang, butuh berbulan-bulan bagiku untuk melepasnya, merelakannya untuk orang lain yang begitu dekatku, mengkhianatiku tanpa rasa bersalah.
Pagi begitu hangat saat matahari sedikit menyapaku dari singgasananya, hari ini tepat ulang tahunku yang ke 28 tapi tak yang ada yang special kecuali ucapan kecil dari keluarga dan teman-teman kerjaku di hotel. Sudah setahun lebih aku bekerja di hotel berbintang lima ini, dan tidak lama bagiku untuk beradaptasi dengan mereka setelah kepindahanku dari Surabaya selama dua tahun aku bekerja di sebuah resort sebagai pelayan.  Tidak lama setelah itu tante Yuni  menyuruhku mengisi lowongan staff hotel di tempatnya, ia bekerja sebagai manajer perhotelan dan begitu mudah bagiku untuk mengisi pekerjaan yang kosong itu.Hanya beberapa bulan setelah itu aku di percaya oleh tante Yuni untuk mengurusi pelayanan kamar tamu VVIP sebagai ketua manajamen pelayanan tamu, sebanyak 50 lebih pegawai berada dalam pengawasanku, dengan sikap tegas dan teliti yang ku miliki membuat teman-teman yang lain tanpa ragu memilihku bertanggung jawab kepada tamu VVIP yang kadang menjengkelkan harus menuruti kemauan mereka. Bagiku butuh kesabaran yang lebih untuk menghadapi orang-orang seperti itu, karena kebersihan dan memperlakukan mereka seperti raja adalah hal yang paling berharga dalam kamus pekerjaanku dan beginilah caraku untuk mencintai pekerjaanku.Waktu menunjukkan pukul 11 malam, setelah pegawai lain selesai melakukan pekerjaannya, aku beranjak menuju keruangan pegawai beristirahat, setiap hari minggu aku bisa pulang kerumah, tetapi karena jarak begitu jauh dari tempatku bekerja, aku memutuskan untuk menyewa kamar kecil yang jaraknya tak begitu jauh dari hotel karena aku tidak lebih banyak menghabiskan waktuku di tempat kerja dan sisanya aku diizinkan tinggal di ruang istirahat pegawai, sangat jarang dan hanya beberapa orang yang menggunakan ruangan ini sehingga leluasa bagiku menempati tempat ini.
Sebelum merebahkan tubuhku, aku menarik gorden yang berada tepat di sampingku, pemandangan terpampang indah di depanku, seperti sebuah lukisan besar yang hidup. Aku duduk di tepi tempat tidur bersila, menarik nafas begitu dalam. Laut malam serta cahaya memenuhi tempat itu, terlihat ombak saling berkejaran, dan orang-orang menikmati malamnya dengan bergandengan tangan menyusuri pantai, suasana yang begitu ramai terlihat dengan jelas di bawah sana. Salah satu penyebab aku begitu suka dengan tempat bekerjaku adalah bisa melihat pemandangan mewah dan indah seperti ini.
 ‘’Raya…!!’’ Panggil seseorang di balik pintu.
‘’Ada apa?’’ tanyaku membuka pintu.
‘’para tamu sudah hampir tiba di lantai 5’’ ujarnya pergi, aku mengikutinya tepat di depan lift menunggu tamu yang sejak kemarin sudah di beritahukan oleh Pak Gani tentang kedatangannya. Mereka adalah pemimpin partai, sekitar ada 15 pejabat yang akan menginap selama dua hari di hotel ini. Setelah membawa mereka ke kamar masing-masing, aku mengecek makanan yang akan di sajikan saat makan siang nanti, menyiapkan ruangan rapat yang berada di lantai enam.
‘’Hei..!’’ sapa seseorang dari belakang menghampiri dan menepuk pundakku dan segera aku menghentikan pekerjaanku saat merapikan ruang rapat yang baru saja selesai di gunakan.
‘’Iya…Bapak butuh sesuatu !’’ ujarku berbalik.
‘’Ray…!’’ ucapnya pelan, aku mengangkat kepalaku agar bisa melihatnya dengan jelas, aku terperanjat kaget, mendorong tubuhku beberapa langkah kebelakang. Seseorang yang tidak asing bagiku, tubuhnya yang tinggi dan wajahnya begitu ramah tersenyum padaku.
‘’bagaimana kabarmu?’’ tanyanya lagi.
‘’Angga…!!’’ seruku setelah sadar dengan apa yang berada di hadapanku, aku berharap ini hanya mimpi, aku tidak percaya dengan apa yang berdiri di hadapanku. Sosok tiga tahun yang lalu pernah mengisi ruang di hatiku. Sosok yang juga akhirnya menyakiti begitu dalam hingga butuh setahun untuk melepaskan sakit hatiku dan melupakannya. Tapi kini dia berada di depanku seolah menggali semua ingatan burukku tentang dirinya.
Kenangan tiga tahun yang lalu…..
Tidak ada angin yang berhembus, tak ada awan hitam yang menutupi langit biru yang cerah hari ini, entah mengapa perasaanku begitu aneh semua yang ku lakukan tidak ada yang beres satupun, bahkan untuk melayani tamu hari ini, sering sekali aku membuat kesalahan, menjatuhkan minuman pesanan pelanggan, terjatuh saat menuruni tangga, dan yang lebih parah saat lenganku terkena panci panas di dapur. Semua itu terjadi pada hari yang sama. Aku menatap layar hpku, sudah tiga hari aku Angga tidak menghubungiku, bahkan sms dan panggilanku diabaikannya. Aku tidak tahu mengapa, yang ada dalam pikiranku saat ini, dia begitu sibuk bekerja di minggu pertamanya, setelah di terima di sebuah perusahaan, kami sudah jarang bertemu, bahkan untuk menghubungiku sudah jarang dan sesekali ia mengirim pesan lalu tidak membalasnya lagi. Aku tidak begitu khawatir tentang Angga karena kesibukannya, asalkan ia baik-baik saja. Aku hanya perlu bersabar, bulan depan aku dan dia akan segera menikah, pasti aku punya waktu banyak untuk bertemu dengannya, bahkan aku akan mengurangi jam kerjaku di resort meski gajiku dipotong, semua itu tidak apa-apa bagiku.
‘’Bagaimana lenganmu?’’ sahut Deana masuk ke kamar duduk tepat di sampingku. Deani adalah teman sekamarku dan juga teman saat kami kuliah, karena kami begitu dekat dan melakukan segalanya bersama, hanya saja kami bekerja di tempat yang berbeda, Deana bekerja di sebuah perusahaan yang sama dengan Angga, tapi dia lebih lama setahun bekerja di sana, sedangkan aku sudah bekerja di sebuah resort perhotelan sebagai pelayan di malam hari dan siangnya aku membersihkan kamar dan melayani tamu.
‘’ini hanya luka kecil’’ kataku menarik selimut dan meraih hp mencoba terus menghubungi Angga.
‘’Angga belum menghubungimu?’’ Tanya Deana merapikan bajuku yang berantakan. Tanpa menjawab pertanyaannya. Aku menutupi diriku selimut.
‘’Ray, besok aku akan pindah, tempatnya tidak begitu jauh dari tempatku bekerja’’ lanjut Deana.
‘’kok tiba-tiba..!’’ ujarku duduk melihatnya membuka lemari merapikan pakaiannya. Wajahnya begitu lelah dan terlihat ia begitu buru-buru seolah-olah menyembunyikan sesuatu dariku.
‘’ceritanya panjang Ray, nanti akan aku jelaskan ‘’ singkatnya mengganti pakaian lalu pergi, sepertinya dia akan menemui seseorang.
Masalah Deana tidak begitu merisaukanku, ku tahu dia akan baik-baik saja, dia adalah wanita yang begitu kuat dan tegar, apalagi ketika berhubungan dengan cinta, putus nyambung adalah hal yang biasa baginya, Deana adalah wanita yang mudah tersenyum dan ceria. Aku begitu menyukai sikapnya apalagi ketika memberikan saran kencan romantis bersama Angga.
Malam ini setelah meminta izin dari manajer aku memutuskan untuk mengunjungi Angga di rumahnya dan yang membukakan pintu adalah adik laki-lakinya Toni.
‘’Tadi dia keluar, katanya akan menemuimu !’’ ucapnya menyuruhku duduk, tiba-tiba perasaanku tidak enak..
‘’Tapi sudah tiga hari ini kami belum pernah berkomunikasi ‘’. kataku dengan wajah bingung aku menatap Toni
‘’ Aku mendengarnya di telepon saat dia menyebutkan tempatnya, CafĂ© Light !’’ katanya, setelah pamit aku langsung menuju tempat itu. Entah mengapa perasaanku saat ini kacau, deg-degan tanpa sebab, jari-jariku terus ku genggam, nafasku terasa sesak sesekali aku menghembuskan nafas begitu dalam, supir taksi yang juga sesekali menanyakan apakah aku baik-baik saja melihatku terus khawatir.
Hanya beberapa menit, aku sudah tiba tepat di Cafe, penglihatanku terus memutar di tempat parkir dan benar saja, di sana aku mekihat mobil hitam dengan plat yang begitu ku kenal, aku yakin itu milik Angga. Aku tidak tahu mengapa hatiku tidak tenang, lenganku yang masih kesakitan terus ku tahan, pergelangan kakiku masih sakit sedikit pincang masih bisa ku tahan untuk menemui Angga. Suasana malam ini tidak begitu ramai sehingga memudahkan untuk mencarinya. Tepat di meja pojok aku menemukan Angga dia tidak sendiri, bersama seorang wanita. Aku menghampiri mereka tanpa rasa curiga sedikitpun.
‘’Raya…!’’ sapa Angga berdiri tiba-tiba, lalu wanita yang membelakangiku ikut berdiri.
‘’Deana…!!’’ ujarku terkejut saat melihat wanita yang di ajak bicara oleh Angga adalah Deana.
‘’Apa yang kalian lakukan di sini?’’ tanyaku ikut duduk di samping Angga.
‘’kami kebetulan bertemu, aku menunggu seseorang di sini, dan aku menghampiri Angga saat melihatnya !’’ jelasnya terlihat gugup.
‘’aku pergi dulu’’ Deana langsung pergi dengan langkah terburu-buru, matanya sembab, aku bisa tahu dari suaranya yang sedikit tertekan, ia baru saja menangis.
‘’Aku baru mau menghubungimu, kamu tahu dari mana aku ada di sini?’’ Tanya Angga meraih lenganku.
‘’Deana bilang tanganmu terluka !’’ ujarnya khawatir, aku hanya tersenyum dan begitu bahagianya karena bisa bertemu dengannya hari ini, meski secara mendadak.
‘’Maaf Ray, malam ini aku tidak bisa mengantarmu, aku harus kembali ke kantor’’ ujarnya mengantarku mencarikan taksi.
‘’kerja semalam ini?’’ kataku sedikit protes.
‘’Aku karyawan baru, kau tahukan, bagaimana sulitnya kerja di perusahaan besar itu, dan betapa sulitnya masuk sebagai karyawan di sana’’ jelasnya menyakinkanku.
‘’Baiklah !’’ ujarku masuk.
‘’Bentar yah Mbak, saya kebelet mau ke wc !’’ supir taksi itu segera berlari, aku menunggu sambil menatap keluar jendela, dari kejauhan Angga masuk ke mobilnya, tak lama setelah itu seorang wanita berlari menuju ke mobil Angga, aku terkejut tidak percaya, wanita itu adalah Deana. Tiba-tiba sesuatu kembali merasuk ke hatiku, sebuah perasaan menakutkan yang akan aku alami. Rasa penasaran terus membayangi pikiranku, beribu pertanyaan terus menyerangku. Apa yang sebenarnya terjadi ? apa hubungan mereka berdua?.
‘’ikuti mobil itu!’’ perintahku cepat, tanpa berkata apa-apa supir itu terus mengikuti mobil Angga. Mereka berhenti di apotek, Deana dengan berlari kecil masuk dan tak lama keluar kembali masuk ke mobil Angga. aku masih mengikuti mereka selama setengah jam dan mereka berhenti di sebuah hotel.
Tubuhku tiba-tiba begitu lemah, kakiku dengan paksa ku langkahkan mengikuti mereka, sampai di depan kamar hotel, wajah mereka terlihat begitu khawatir, meski tidak jelas apa yang mereka katakan dari jarak seperti ini, aku tahu ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku. Aku menjatuhkan tubuhku di lantai, saat mereka berdua masuk, aku tak bisa lagi menahan air mataku, begitu sakit menusuk masuk ke dalam hatiku, terasa sakit di khianati oleh orang-orang yang ku percayai.
‘’kamu nggak apa-apa kan?’’ sahut seseorang menepuk pundakku.
‘’ini kamarku!’’ katanya menyuruhku pindah, aku segera berdiri memegang gagang pintu dengan tangan gemetaran aku berusaha berjalan membawa tubuhku menjauh, kedua kakiku ikut gemetaran, aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan tubuh seperti ini, aku seperti cangkang kosong yang jiwanya pergi, beberapa kali aku harus terjatuh.
‘’biar ku bantu!’’ seseorang menghampiriku, laki-laki yang tadi melihatku menangis di depan kamarnya, ia membantuku berdiri dan memapahku sampai ke lift. Dia menatapku sejenak lalu ikut masuk ke lift.
‘’aku akan mengantarmu turun, keadaanmu sepertinya tidak baik!’’ lanjutnya berdiri di sampingku. Aku belum mengatakan apapun selain mengeluarkan air mata, laki-laki yang berada di sampingku hanya diam, sesekali memperhatikanku.
‘’Terima kasih!’’ kataku pergi.
Malam semakin larut menunjukkan pukul 11 malam, aku sendiri tidak percaya dengan apa yang ku lakukan saat ini, berdiri di samping mobil Angga menunggunya, berharap dia akan segera turun, aku tahu menunggu seperti ini hanya sia-sia, tapi aku tak berpikir apa-apa lagi kecuali apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Udara semakin dingin, hujan rintik perlahan turun dan aku dengan bodohnya masih menunggu Angga turun, duduk bersandar di samping mobilnya, aku memeluk lututku, dingin yang merasuk dalam rongga dadaku tak lagi kuhiraukan. Entah berapa jam aku duduk dengan dingin yang menyelimutiku, rintik hujan yang membasahi tubuhku, saat ini waktu menunjukkan pukul satu. Tiba-tiba seseorang datang membuka pintu mobil, aku mengangkat kepalaku berharap yang datang adalah Angga.
‘’Yah…kamu masih di sini?’’ tanyanya menghampiriku, laki-laki yang tadi menolongku, ternyata mobilnya bersebelahan dengan mobil Angga. Dia berjongkok di hadapanku dan memeriksa keadaanku yang begitu lemas, hampir tak sadarkan diri. Aku menatapnya dia membantuku berdiri.
‘’kamu kehujanan? Berapa lama kamu di sini?’’ tanyanya lagi, setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang dikatakanya, kesadaranku perlahan mulai hilang, tidak begitu jelas yang ku ingat dia mengendongku, masuk ke sebuah ruangan yang entah di mana dan menyelimutiku.
‘’Al…siapa wanita ini?’’ tunjuk Yuan duduk di sebelah Alfar yang sejak tadi memperhatikan gadis yang terbaring dengan wajah pucat dan keringat. Alfar mengelengkan kepalanya.
‘’Yaaa…kamu tidak mengenalnya dan membawanya masuk begitu saja’’.
‘’mau bagaimana lagi, dia pingsan di depanku, nggak mungkin aku ninggalin dia begitu saja’’ ujar Alfar meneguk kopinya.
‘’untung saja tidak ada yang melihat kita membawanya ke hotel, orang-orang akan melihatmu membawa seorang wanita’’.
‘’Maka dari itu aku menghubungimu dan minta tolong!’’ Ujarnya berdiri mendekati gadis yang begitu menyedihkan, gadis yang belum dikenalnya, ia tolong begitu saja. Ia juga tidak tahu mengapa ia menolongnya, hatinya tiba-tiba goyah, dari kejauhan ia melihat wanita itu mengikuti dua orang yang masuk ke kamar hotel. Wanita itu hanya berdiri mematung, lalu menjatuhkan tubuhnya tepat di pintu kamar. Ia mendekatinya tanpa suara, beberapa menit ia berdiri menyaksikan wanita itu menangis dengan suara yang di tahannya, menangis begitu pilu, nafasnya begitu berat.
Waktu menunjukkan pukul delapan agi, aku membuka mata melihat suasana yang begitu asing di sekitarku, ini kamar hotel, aku membangunkan tubuhku, kembali melihat sekitarku. Baju yang kugunakan semalam sudah berganti dengan pakaian baru. Aku meraih tasku, melangkah pelan agar laki-laki yang sedang berbaring di sofa tidak terbangun, dalam hati yang begitu dalam aku mengucapkan terima kasih padanya yang sudah menolongku, aku tidak ingin membuat diriku terlihat lebih memalukan. Perlahan aku membuka pintu dan tiba-tiba seseorang sudah berdiri di depan kamar.
‘’kamu udah baikan?’’ tanyanya, dia adalah laki-laki yang mengangkatku.
‘’Aku Yuan…!’’.
‘’Aku minta maaf  dan sampaikan terima kasihku padanya’’ ujarku buru-buru pergi.
Meski perasaan yang begitu dalam menancap dalam hatiku, kejadian yang begitu jelas masih terus membayangi pikiranku. Aku menarik nafas lebih dalam, aku tidak ingin seperti ini terus terpuruk sendiri tanpa ada yang tahu apa yang kualami, tersenyum di balik kesedihanku, sedangkan Angga sendiri sudah seminggu ini jarang menghubungiku dan Deana, aku mengabaikan semua telpon dan smsnya. Aku tidak ingin mencari tahu lagi, karena semakin aku ingin tahu akan semakin membuatku sakit hati, biarlah semuanya berlalu karena hanya dengan seperti ini aku akan baik-baik saja, selama aku diam dan berpura-pura dan perlahan menjauh akan membuatku lupa apa yang telah terjadi.
Hari ini aku sedikit di sibukkan dengan Wedding Party yang akan di adakan malam ini di aula hotel, mengatur meja undangan dan membantu menyiapkan sajian makan malam. Tak lama kemudian satu persatu tamu undangan memenuhi aula. Aku berdiri dari kejauhan berjaga-jaga agar para tamu merasa nyaman dengan pelayan dan jamuan yang di sediakan.
‘’Hei…Ray…!’’ sapa seorang wanita yang sudah berdiri di sampingku.
‘’Deana…!’’. Kataku.
‘’Yaa..kamu kok nggak pernah angkat telpon dan balas sms aku..!’’ ujarnya tersenyum, dia menghilangkan moodku malam ini, melihatnya saja sudah membuatku cepat-cepat ingin pergi.
‘’Ahh…kamu belum ketemu Angga? katanya dia juga akan hadir…!’’ lanjut Deana, tak lama Angga menghampiri kami setelah Deana melambaikan tangan padanya. Kali ini mereka berdua berada di hadapanku. Aku bisa membaca ekspresi dari mereka berdua begitu alami memainkan sebuah drama di depan mataku.
‘’Ray…aku pergi dulu…! Aku akan membiarkan kalian mengobrol’’ tambah Deana pergi, aku juga melangkah pergi di ikuti Angga.
‘’Kamu marah yah…? Maaf akhir-akhir ini aku sibuk’’ ujarnya menarik tanganku. Aku masih diam, berusaha menahan semua yang ada dalam hatiku saat ini.
‘’Aku juga sibuk, jadi kembalilah ke aula…!’’.
‘’Kamu kenapa sih? Sebentar lagi kita nikah loh…! Aku juga sibuk demi masa depan kita’’ jelasnya masih mengenggam lenganku.
‘’Aku tahu kamu sibuk…nanti kita bicara lagi, aku harus kerja!’’ lanjutku, dia melepas genggamanya.
‘’Baiklah, biar aku yang ngantarin kamu pulang, aku tunggu yah’’ lanjutnya tersenyum lalu pergi.
Kembali air mataku tumpah, aku tidak bisa mengatakan apa-apa di depan Angga, begitu banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya, apa hubungan mereka berdua, sesuatu yang aneh terus merayap ke pikiranku, mengerogoti hatiku. Sepanjang acara berlangsung aku terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Deana tersenyum lepas, tanpa kekhawatiran di wajahnya, terus berada di samping Angga.
Dalam pikiranku saat ini aku terus membayangkan diriku yang berani tanpa malu sedikitpun, menghampiri mereka berdua, mencaci mereka dan mendaratkan tamparan di wajahnya. Aku ingin orang-orang yang ada di acara ini melihat kebusukan mereka. Meski harus merusak pesta pernikahan orang yang sedang berlangsung. Aku ingin sekali meneriaki mereka dan bertanya apa alasan mereka melakukan hal ini kepadaku. Tapi ini hanya ada dalam bayanganku saja. Berdiri sekaku ini tanpa bisa berbuat apa-apa. Tubuhku begitu lelah aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dari kejauhan aku kembali melihat Deana, ia tidak sendiri. Apa yang dilakukannya di tempat sepi seperti ini di depan ruang istriahat para karyawan hotel. Rasa penasaran membuatku semakin dekat melangkah. Suara Deana semakin jelas. Meski tatapannya sesekali waspada orang-orang akan mendengarnya.
‘’Apa yang harus kita lakukan…?’’ Tanya Deana  menunggu jawabanya orang yang sedang di ajaknya bicara. Aku masih mengintip berusaha melihat orang yang sedang bersamanya.
‘’Beri aku waktu…aku nggak bisa bilang langsung ke dia…!!’’ ujarnya, dari suaranya aku bisa tahu pria yang sedang bersamanya adalah Angga.
‘’waktu…!! Sampai kapan Angga…!! sampai perutku mulai membesar…!’’ bentak Deana. Aku yang mendengar mereka semakin terpukul. Ternyata Deana dan Angga selama ini di belakangku sudah mengkhianati begitu lama. Deana hamil dan Angga adalah Ayah dari anak itu.
Tangis yang ku pendam memecah kesunyian, di ruangan yang begitu sepi dan cahaya yang agak gelap menemani tangisku. Aku terus memukuli dadaku bahkan rasa sakit di tubuhku kalah dengan rasa sakit hatiku saat ini, begitu sakitnya hingga aku tidak lagi memikirkan orang-orang yang memandangku dengan derai air mata yang tidak terbendung. Aku terus melangkahkan kakiku menuruni lantai satu demi satu, tiba di lantai dasar dan terus berjalan sampai di depan hotel, di sana terdapat taman kecil dan kolam ikan yang cukup luas. Di temani cahaya taman yang redup aku duduk memeluk lututku, menangis sejadi-jadinya, di tempat ini sangat sepi sehingga tidak akan ada orang yang datang dan aku bisa sendiri meratapi kebodohanku yang hanya diam dan tak bisa melakukan apa-apa.
Dari kejauhan tampak seseorang laki-laki berjalan sambil menendang kerikil yang di laluinya, wajahnya tampak kesal.
‘’Membosankan…!!’’ ujarnya memasukkan kedua tangannya di saku celana. Hpnya sejak tadi berdering dan itu dari Yuan. Alfar tidak memedulikan panggilan itu. Ia hanya kesal pada Yuan yang memaksanya ikut ke pesta. Ia tidak begitu suka dengan suasana ramai, terutama pesta seperti ini, baginya itu hanya membuang waktunya dan tidak menyenangkan. Alfar adalah anak tunggal dan ia adalah anak dari pemilik resort dan perhotelan tempat Raya bekerja, Alfar terbiasa melakukan semuanya sendiri sejak kecil ia tidak begitu dekat dengan beberapa orang, kecuali Yuan dan Akbar, sepupunya sendiri. Berbeda dengan Yuan yang senang menghabiskan waktunya bersenang-senang dan Akbar yang saat ini berada di Eropa menyelesaikan kuliahnya dan hanya Yuan yang selalu menemaninya. Di usianya yang ke 30, Alfar yang tidak begitu tertarik dengan manajemen perhotelan terpaksa harus mengikuti keinginan Ayahnya untuk terjun langsung sebelum dia mendapatkan jabatan direktur menggantikan posisi Ayahnya. Ia patuh dengan perintah Ayahnya karena sebelumnya dia telah membatalkan pernikahannya. Ia tidak ingin menikah dengan orang yang tidak di cintainya, apalagi menyangkut pilihannya Ayahnya sudah memperkenalkan dirinya dengan beberapa wanita tapi tak satupun yang membuatnya tertarik.
Alfar menarik nafas, angin bertiup hangat di telinganya, irama dedaunan yang begitu indah bergesekan seirama angin yang meniupnya. Ia bisa bernafas lega bisa keluar dari keramaian yang ada di dalam, tanpa sepengetahuan Yuan dia pergi begitu saja. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar sesuatu, memastikan suara yang di dengarnya. Ia merinding ketakutan tetapi rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Ia mendekati arah suara itu, semakin mendekat dan terdengar begitu jelas, suara wanita yang sedang menangis. Di tepi kolam tepat di bawah lampu, seorang wanita menangis dengan suara serak. Ia teringat dengan wanita yang menangis di depan kamar hotel dan samping mobilnya, kali ini tanpa sengaja lagi-lagi ia bertemu wanita yang sedang menangis. Alfar menghampirinya.
‘’kamu baik-baik aja kan!! Ini sudah larut malam…!’’ sahut Alfar, membuatku terkejut, cepat-cepat aku menghapus air mataku. Aku berdiri teringat pekerjaan yang kutinggalkan.
‘’Kamu…!!! Bukankah kamu yang menangis di hotel dan pingsan di samping mobilku’’ lanjutnya, aku berbalik memastikan wajah laki-laki yang menolongku meski aku tidak begitu ingat.
‘’Maafkan aku dan terima kasih, aku harus kembali kerja’’ ujarku berlalu begitu saja, tetapi dia dengan cepat menghadang langkahku.
‘’Hanya itu…??’’ katanya memperhatikan raut wajahku yang masih basah dengan air mata.
‘’ Yaaa…ini ketiga kalinya kita bertemu dan setiap bertemu denganmu tanpa sengaja, aku melihatmu menangis…’’ sambungnya, tapi aku tidak punya semangat untuk bicara lebih banyak saat ini. Aku hanya mengucapkan kata yang sama, maaf dan terima kasih, tetapi dia tidak membiarkanku pergi.
‘’Sepertinya kamu karyawan di sini yah…!!’’ tanyanya memperhatikan pakaian yang kupakai.
‘’Raya…!!’’ ujarnya memperhatikan namaku yang tertulis.
‘’Oke…sampai ketemu besok !!’’ ujarnya membiarkan aku pergi meski tidak mengatakan apa-apa, aku tahu saat ini diriku begitu memalukan, ini ketiga kalinya tanpa sengaja dia mendapati diriku menangis.
Pagi menjelang dan aku masih berbaring di kasur kecilku, di bawah selimut kesedihanku masih berlanjut meski tak ada lagi air mata tetapi perasaan itu terus menyakitiku. Hari ini aku tidak ingin melakukan apa-apa, maka dari aku meminta izin tidak masuk kerja hari ini. Hari semakin siang dan aku masih berbaring, tak lama hpku berbunyi, dan panggilan itu berasal dari Tante Yuni. Dia memintaku untuk menemuinya karena ia baru saja tiba dari Kediri.
‘’Oh iya Tante Yuni…ada yang ingin kukatakan!!’’ kataku setelah cukup lama mengobrol.
‘’Aku ingin membatalkan pernikahanku…!’’ kataku tiba-tiba membuat Tante Yuni terkejut.
‘’Apa??’’ sentaknya, aku berbohong dan menceritakan alasanku yang belum siap untuk menikah.
‘’Kok tiba-tiba, apa harus kukatakan dengan kepada ibumu dan keluarga Angga nantinya..!!!’’
‘’Aku mohon tante…!!’’ ujarku memohon, Tante Yuni menatapku dia tahu saat ini aku punya sesuatu yang tidak bisa kuceritakan kepadanya, karena aku adalah keponakan satu-satunya yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri, Tante Yuni tahu aku menyimpan masalahku sendiri maka dari itu dia tidak banyak bertanya apa yang aku alami.
Hari itu juga, aku ikut bersama Tante Yuni, karena dia bekerja sebagai manajer hotel dan kebetulan sedang merekrut karyawan, aku meninggalkan kota ini dan bekerja di hotel yang terbilang mewah di kota ini, suasana kota yang begitu ramai, dekat dari laut yang sering di kunjungi oleh orang-orang dari luar negeri menjadikan tempat ini di minati oleh banyak orang. Untuk menjauh dari rasa sakitku aku mengganti nomorku dan semua akun sosial media ku non aktifkan. Sampai saat ini aku baik-baik saja, aku menjadi sosok wanita yang begitu kuat dan tegar, pengalaman masa lalu banyak menempaku jadi lebih baik. Saat ini aku benar-benar menikmati hidupku, dengan teman-teman yang bisa membuatku begitu semangat bekerja, orang-orang yang berada dalam tanggung jawabku dan posisi yang kumiliki membuatku semakin jatuh cinta dengan pekerjaanku.
Tapi hari ini tiba-tiba ingatan itu seperti terulang lagi, kejadian tiga tahun lalu bertebaran dalam pikiranku, tapi semuanya itu tidak menyentuh dan mengubah perasaanku saat ini. Laki-laki yang berdiri di hadapanku, dia benar-benar Angga.
‘’Hei..!’’ Balasku tersenyum sedikit canggung.
‘’ Kamu kemana selama ini? ‘’ tanyanya, wajahnya berubah tajam menatapku. Wajar saja karena waktu itu aku pergi tanpa pamit padanya, tanpa memberitahukan sakit hati yang aku alami. Membatalkan pernikahanku secara sepihak, ibuku yang terus menerus mendesakku untuk memberitahukan alasannya, selama setahun aku tidak memberi kabar kepada orang tuaku, dan hanya mengiriminya uang karena aku tidak ingin mereka bertanya lebih banyak.
‘’Aku harus kembali kerja!’’ kataku pergi.
’’RAYA…!!’’ bentak Angga memukul meja dengan keras. Langkahku terhenti. Dia menghampiriku dan menarik lenganku masuk ke lift.
’’Lepas nggak!!’’ kataku memaksa, tetapi dia semakin menggenggam lenganku, menarikku masuk ke kamar hotel.
’’Kamu gila yah…? ’’ Angga melepas tangannya setelah menutup pintu dan menguncinya
’’Aku hanya ingin bicara…’’.
’’saat ini aku sedang kerja, aku tidak punya waktu bicara denganmu!’’.
’’kenapa kamu tiba-tiba menghilang, tanpa memberitahuku dan membatalkan pernikahan kita, selama ini kamu di mana? Apa alasanmu meninggalkanku’’. Tanyanya, aku masih diam memikirkan apa yang seharusnya aku katakan.
’’Jawab Ra…!’’ katanya begitu marah.
’’Aku tidak ingin membahasnya’’. Kali ini Angga terlihat begitu marah, dia melempar hpnya dan memegang kedua pundakku.
’’Apa karena aku sering mengabaikanmu…!!’’ lanjutnya.
’’Apa kamu masih belum jujur, tidak ada yang ingin kamu katakan?’’.
’’Apa maksudmu..!’’.
’’Aku hanya ingin kamu jujur!’’.
’’Jujur…!’’.
’’Iya jujur, kamu kira aku bodoh Angga…!!’’ aku melepas paksa kedua tangannya.
’’Jangan pura-pura tidak tahu, aku melakukan ini karena kebodohanku yang percaya padamu, aku harus meninggalkan semua sakit hatiku, dengan cara ini aku tidak ingin menyakiti siapa-siapa’’.
’’Ada yang ingin kukatakan padamu, ini tentang Deana…!!’’ ujarnya, tetapi aku cepat memotong pembicaraannya.
’’Aku harap kalian berdua bahagia…!!’’ kataku pergi meninggalkan Angga yang pikirannya penuh dengan teka-teki mengenai semua ucapanku padanya.
Seseorang mengetuk pintu, buru-buru aku mengganti pakaianku dan membuka pintu.
’’Pak Gani menyuruh anda menemuinya di ruangannya’’ katanya lalu pergi, aku segera turun kelantai dasar. Pak Gani menyuruhku membersihkan kamar hotel yang berada di lantai 10, kamar yang berada di ujung tengah menghadap lift dan satu-satunya kamar yang sangat luas dan memiliki lantai atas yang menghubungkan atap dan rumah kaca. Aku masih sangat ingat dengan ruangan ini, waktu itu Pak Burhan direktur utama dan pemilik saham hotel terbesar sesekali datang menginap, dan ruangan ini sengaja di rancangnya sendiri. Saat pertama kali bekerja di hotel ini, ruangan inilah yang paling sering ku bersihkan, merawat tanaman yang di tanam sendiri oleh Pak Burhan, aku paling senang ketika dia menyuruhku naik ke atap dan bisa melihat bunga-bunga yang sedang mekar dengan berbagai macam warna yang berbeda, kupu-kupu yang beterbangan hinggap menghisap sari manisnya, aku bisa mencium udara segar dari daun-daun dan dahan kecil yang mengeluarkan kuncupnya, bau tanah subur yang menumbuhkan tanaman-tanaman ini. Aku masih begitu ingat saat itu saat Pak Burhan di vonis kanker dan akhirnya meninggal. Tempat ini tidak pernah di buka lagi, tapi kali aku diminta untuk membersihkannya, merevonasi dan menata ulang ruangan ini, mengganti tempat tidur, kursi, sofa sesuai dengan apa yang diperintahkan Pak Gani.
Selama seminggu ruangan ini menjadi lebih hidup, semuanya begitu rapi dan terakhir aku naik ke atap membersihkan taman rumah kaca, mengganti bunga yang sudah mati dengan tanaman baru. Itu membutuhkan waktu seharian mengerjakan semua ini, tapi aku tidak sendiri, Handi dan Jena membantuku.
’’Aku dengar, anak dari Pak Burhan yang akan tinggal di sini, dia direktur baru di hotel kita!’’ ujar Handi sambil terus menggali tanah yang ada di pot.
’’Aku dengar dia juga belum menikah sampai saat ini’’, sambung Handi.
’’benarkah…?’’ ujar Jena.
’’Saat ini di aula hotel sedang di adakan penyambutan, dia terlihat keren, ganteng dan tinggi, kenapa dia belum menikah yah…?’’ lanjutnya, aku hanya diam mendengarkan mereka. Setelah selesai dan menyuruh mereka kembali kekerjaannya. Tidak menunggu begitu lama setelah acara penyambutan selesai, aku hanya perlu menunggu direktur baru dan memperkenalkan diri, karena selama dia berada di sini aku yang akan melayani semua keperluannya, untuk itulah Pak Gani memilihku, karena aku termasuk orang yang teliti dan cepat dalam melakukan pekerjaanku, apalagi setelah mendengar sifat anak tunggal Pak Burhan yang pemilih dalam segala hal dan setiap pagi aku harus menyuruh koki dan chef menyiapkan sarapannya, jus tomat dan roti. Dia sangat memperhatikan kesehatannya dan jarang mengkomsumsi nasi putih, makan malamnya biasanya ia hanya makan sushi, spaghetti dan makan buah, dia tidak suka orang lain menyentuh barang-barangnya dan Dia juga tidak begitu banyak bicara tetapi tegas dalam melakukan pekerjaanya. Sebelum ia di pindahkan dari Surabaya, ia bahkan pernah memecat beberapa karyawannya hanya gara-gara protes dari seorang tamu hotel yang tidak melayani tamunya dengan benar. Dari segala pertimbangan dan spesifikasi hanya aku yang memenuhi persyaratan untuk melayaninya dengan persyaratan,pak Gani akan menaikkan 30 persen gajiku di tambah bonus 50 persen. Tentu saja aku menerimanya. Ini akan menjadi tantanganku sendiri bagaimana menghadapi orang-orang yang memiliki kekuasaan dan yang akan menjadi atasanku.
Setelah merapikan pakaian dan menyusunnya di ruang pakaian, aku berdiri sejenak memperhatikan pakaian-pakaian itu yang berjejer begitu rapi, dasi dan sepatu, aku tidak ingin melakukan kesalahan hanya karena menempatkan barang yang salah pada tempatnya. Aku keluar dari ruangan itu setelah mendengar seseorang masuk.
’’Selamat siang…!!’’sapaku.
’’Dia Raya…selama anda di sini, dia akan melayani keperluan anda…!’’ jelas pak Gani memperkenalkanku lalu pergi.
’’Jika anda butuh sesuatu, silahkan menghubungi saya…aku akan pergi agar anda bisa bisa istirahat’’ kataku. Dia hanya diam sejenak membuka jasnya, menaruh tasnya di kursi.
’’Aku akan istirahat sebentar, setelah itu bawakan aku green tea dingin’’ ujarnya menyuruhku keluar.Mungkin karena sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini, jarang sekali aku merasakan kelelahan. Justru berdiam diri hanya membuat kepala dan tubuhku sakit.
’’Selamat sore Pak…!!’’ aku meletakkan minuman dan beberapa potong buah di mejanya, saat itu dia duduk menghadap keluar jendela.
’’Untuk makan malam, anda ingin apa?’’ tanyaku. Dia lalu berdiri.
’’Aku tidak lapar, bawakan saja jus apel!!’’ singkatnya masuk ke kamar mandi. Aku menarik nafas, aku kira melayani orang ini tidak semudah apa yang di katakan oleh Pak Gani, sejauh ini dia bersikap normal, aku juga heran karena dia termasuk orang yang jarang makan nasi tetapi dia terlihat begitu sehat, tubuhnya yang tinggi dan ototnya terbentuk menandakan dia sering berolahraga berat. Aku melangkah keluar, menuju lantai 12, memeriksa kamar yang baru di tinggalkan oleh tamu, aku ingin memastikan semua kamar di bersihkan segera, sprei dan handuk di ganti.
Sky Hotel merupakan salah satu hotel bintang lima dan elit, hotel ini cukup mewah dan selalu mengadakan event setiap tahunnya agar dapat menarik para tamu untuk menginap dan menikmati pelayanan serta pemandangan yang di sajikan di sekitar lokasi hotel, yang letaknya sangat strategis, bersebelahan dengan pemandangan laut. Hotel yang terdiri dari 25 lantai dan di setiap lantai terdiri atas 8 kamar untuk kamar VVIP dan VIP. Sedangkan untuk kamar biasa setiap lantainya ada 10 kamar, lantai 25 di jadikan restoran, café dan bar. Lantai 24 terdapat sauna dan ruangan fitness, tak ketinggalanPusat perbelanjaan dan toko-toko berjajar di tepi jalan, jajanan makanan dan kerajinan tangan selalu menjadi buruan pelancong dan turis datang ke tempat ini. Tidak jauh dari hotel pengunjung bisa menikmati berbagai macam permainan. Di tanah seluas 200 hektare itu di jadikan wahana bermain, selama 25 tahun menjabat sebagai direktur, pak Burhan menginventasikan dan menarik investor untuk membangun semua ini.
’’Ray…!’’ panggil seseorang saat aku ingin membuka pintu ruang istirahat.
’’kamu masih di sini?’’.
’’Aku ingin bicara denganmu!’’.
’’kita sudah bicara kemarin, aku harus kembali kerja!’’ jelasku.
’’Kerja…kerja…kerja…apa yang ada dipikiranmu hanya kerja!’’.
’’Angga…!oke…baik kita bicara di tempat lain…’’.
’’ Di restoran, aku tunggu…!’’.
’’Tidak, di sana terlalu ramai, aku akan datang di kamarmu, aku harus kembali kerja’’ ujarku menutup pintu, Angga tersenyum senang saat itu. Waktu menunjukkan pukul delapan malam aku segera membawakan pesanan Pak Alfar, saat membuka pintu dia tidak terlihat, dan suara air mengalir di kamar mandi, dia pasti sedang mandi, aku meletakkan makanannya di meja, membuka kulkas memasukkan beberapa botol minuman. Mengambil pakaian kotor yang sudah di taruhnya. Menaruh handuk baru di samping kamar mandi dan merapikan ruang baju.
’’Kau sudah di sini?’’ sahutnya masuk, aku  terkejut saat melihatnya, rambut dan tubuhnya basah dan hanya mengenakan handuk. Aku cepat-cepat keluar dari ruangan itu dan menunggunya di luar.
’’Duduklah…!!’’ katanya ikut duduk sambil sibuk membolak kertas-kertas dan membaca laporan manajemen keuangan, pelayanan dan profil staff.
’’Besok pagi, kumpulkan semua karyawan tanpa terkecuali’’ singkatnya.
’’Baik…!’’ kataku berdiri, belum sampai di pintu dia kembali memanggilku.
’’Ikut aku…!!’’ujarnya berdiri menaiki tangga menuju lantai atas. Dia menyuruhku menanam beberapa bibit bunga mawar yang di bawanya sendiri. Sepertinya Alfar memiliki hobi yang sama dengan Ayahnya, aku tahu saat dia  berterima kasih karena telah membuat taman kecil yang ada di rumah kaca ini kembali seperti dulu saat Ayahnya masih hidup.
’’Alfarrr…!’’ teriak seseorang dari bawah, Alfar menyuruhku berhenti dan mengikutinya turun.
’’Yuan…!!’’ ujar Alfar menyuruhku membawakan beberapa minuman setelah itu aku pergi meninggalkan mereka.
’’sepertinya aku pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya…!’’ ujar Yuan sambil berpikir mengingat sesuatu.
’’kamu baru saja tiba di sini, nggak mungkin kalian pernah bertemu!’’. Lanjut Alfar.
’’Aku serius Al…kau tahu kan ! aku adalah pria yang ingatannya kuat kalau mengenai seorang wanita’’. Masih mengingat tiba-tiba ia memukul meja.
’’Tiga tahun yang lalu…wanita yang kau tolong itu…!’’ ujar Yuan, dari wajahnya ia tidak percaya apa yang didengarnya, Yuan mengingatkanya pada wanita yang menangis setiap kali mereka tanpa sengaja bertemu.
’’Wah…kebetulan banget kalian bertemu di tempat ini, bahkan dia tidak ingat denganmu!’’. Ujar Yuan menambahkan. Alfar tersenyum sesekali menarik nafas. Dia tidak percaya bertemu lagi dengan Raya, wanita yang melayaninya selama ini adalah dia, bahkan dia tidak ingat lagi wajah sedih yang membayangi pikirannya, pertemuan singkat dengan Raya membuat ia lupa, rasa kasihan membuat Alfar ingin tahu tentang Raya. Setelah malam itu, terakhir ia bertemu lagi dengannya, selama beberapa hari Alfar mencari tahu tentang Raya, tetapi tak satupun yang tahu, karena hari itu Raya pergi tanpa izin dari manajernya. Alfar akhirnya mengubur dalam-dalam rasa simpatinya kepada Raya. Tetapi sampai saat ini Alfar masih menyimpan pakaian milik Raya. Waktu itu ia tidak tega melihat wanita yang di bawanya pingsan dalam keadaan basah, akhirnya Alfar meminta tolong kepada karyawan wanita untuk membawakan baju dan menggantinya. Baju itu masih tersimpan rapi dalam sebuah kardus kecil yang ikut di bawanya.
Sudah hampir siang, setelah di berikan arahan langsung untuk lebih meningkatkan kinerja kerja dan mengupgrade beberapa item pelayanan agar tamu tidak merasa bosan. Dari kejauhan Alfar terus memperhatikan Raya, ia lalu menyuruhnya membawakan roti untuk makan siangnya, Alfar menyuruhnya merapikan kertas-kertas yang berantakan di atas mejanya, ia sengaja melakukan itu agar Raya ia bisa lebih lama berada di hadapanya, ia ingin memperhatikan wajahnya baik-baik. Raya bahkan tidak sadar bahwa dirinya saat ini di perhatikan oleh tatapan Alfar yang sejak tadi tersenyum melihatnya merapikan meja Alfar. Sudah berapa lama ia tidak pernah senyum sebahagia ini.
’’Sebelumnya kamu kerja di mana?’’ Tanya Alfar.
’’Di Surabaya…!!’’ singkatku hampir selesai merapikan mejanya, setelah itu ia menyuruhku naik ke atap membantunya merapikan tanaman-tanamanya sedangkan ia sibuk memindahkan pot dan menata ulang tempatnya. saat aku mengambil kursi sebagai pijakan untuk meraih selang air yang bergantung di atas pintu, aku tidak tahu kalau kursi yang kupakai saat ini sudah rapuh, tiba-tiba saja kursinya bergoyang dan tubuhku ikut terjatuh. Aku berteriak kecil karena saat itu lenganku tergores patahan kayu, bagian belakangku begitu sakit karena mendarat di lantai. Mendengar seuatu jatuh, Alfar menghamipiriku. Ia mengangkatku dan mengendongku, aku sangat terkejut dengan apa yang dilakukannya saat ini. Beberapa kali aku memintanya menurunkanku, karena hanya tangan dan punggungku yang sakit sedangkan kakiku masih bisa berjalan.
’’Aku masih bisa jalan…!!’’ kataku berusaha lepas dari Alfar, tetapi dia tidak menghiraukanku dan terus membawaku menuruni tangga.
’’Lukamu sepertinya parah…!!’’katanya menyuruhku duduk dan dia mengambil kotak obat yang berada di laci meja samping tempat tidurnya. Dia membersihkan lukaku, mengoles obat luka dan menutupinya dengan perban. Aku meringis kesakitan saat Alfar menutupi dengan perlahan lukaku. Aku merasa tidak enak padanya, tentu saja karena dia adalah atasanku orang yang memiliki jabatan tertinggi dan saat ini dia mengobatiku langsung. Walaupun aku menolak tetapi dia terus memaksaku untuk diam. Aku hanya merasa tidak  nyaman, karena perkiraanku tentang sikapnya selama tidak sesuai dengan apa yang aku bayangkan. Dia laki-laki yang sangat baik dan perhatian kepada siapapun.
’’Dulu aku sempat kuliah dan mengambil jurusan kedokteran, jadi aku tahu cara mengobati luka kecil seperti ini’’ jelasnya menyelesaikan balutan terakhirnya. Ia lalu menatapku tersenyum, pertama kalinya aku bisa melihat dia tersenyum dan dia berada tidak jauh dari hadapanku.
’’Kenapa wajahmu selalu khawatir seperti ini dan kau tidak begitu banyak bicara…!’’ mengangkat tangannya, menyentuh kepalaku sambil tersenyum dia merapikan rambutku yang berantakan, tiba-tiba aku menepis tangannya karena terkejut aku segera pamit keluar. Alfar tersenyum melihat tingkahku yang sudah menghilang dari balik pintu.
Aku melangkahkan kakiku begitu cepat, mengambil beberapa barang dan hari ini rencananya aku akan kembali ke kontrakanku. Membersihkan tubuhku dan mengambil beberapa pakaian ganti. Aku merebahkan tubuhku di kasur menutup kedua mataku, entah mengapa Alfar berada dipikiranku saat ini, dan mengapa tiba-tiba ia memperlakukanku seperti itu, atau aku yang menganggapnya terlalu serius, mungkin karena dia memang baik. Hpku berbunyi aku segera bangkit dari tempat tidur, satu pesan singkat dari Alfar dia memintaku untuk menyediakan makan malamnya dan membawakannya ke kamarnya. Aku segera kembali ke hotel dengan berjalan kaki sambil menikmati sore hari yang menghangatkan kulitku dan menyaksikan keramaian pejalan kaki.
Aku segera menuju ke dapur meminta koki untuk menyediakan pesanan dan meminta pelayan lain membawakan ke kamarnya, aku juga harus mengambil pakaian Alfar di ruang laundry. Ternyata sejak tadi seseorang sudah menungguku di depan kamar hotel, Angga tahu kalau aku sering melewati tempat ini.
’’Raya…!!’’ panggilnya.
’’Kamu dari mana aja sih,,kemarin aku menunggumu. Apa kamu lupa kalau kalau kita akan bertemu…!!’’ lanjutnya, aku langsung ingat, mengapa aku bisa lupa tentang janjiku kepada Angga.
’’Maaf…!!’’ kataku. ia kembali menarik lenganku masuk ke kamarnya.
’’aku tidak suka saat kau menarikku seperti ini !’’ kataku menahan sakit.
’’Tanganmu kenapa?’’dia kembali meraih tanganku, tapi kembali aku menepisnya.
’’Aku masih mencintaimu Ray…!’’ ucapnya tiba-tiba, tapi aku hanya tersenyum sinis.
’’Aku ingin memulainya dari awal bersamamu…!’’ sambungnya menatapku.
’’Memulai…?? bagaimana dengan Deana? Kau tidak tahu mengapa aku tiba-tiba menghilang dari kehidupan kalian yang mengkhianatiku, kau kira aku tidak tahu hubungan kalian. Nga…apa kau tahu betapa sakitnya aku saat harus berpura-pura tidak tahu, dan dengan mata kepalaku sendiri kalian….??’’ Ucapku terhenti, aku tidak melanjutkan ucapanku, ini begitu menyakitkan, dulu aku ingin mengatakan semuanya ini, tetapi aku tidak bisa, saat aku sudah lupa akan semuanya, dia tiba-tiba datang menggali ingatanku. Saat itu Angga terdiam sambil menundukkan kepalanya, ia menjatuhkan tubuhnya berlutut di hadapanku.
’’Deana mengandung anakmu, jika kupikir saat ini dia pasti sudah besar, aku tidak ingin tahu mengapa kalian melakukan ini padaku, sekarang kau sudah taukan, mengapa aku tiba-tiba pergi’’ lanjutku, aku masih berdiri sambil memegang gagang pintu.
’’Aku minta maaf Ra…saat ini aku ingin memulainya, aku ingin kembali padamu, izinkan aku memperbaiki kesalahanku, meski kau benci padaku, aku tahu di dalam hatimu aku masih di hatimu meski begitu kecil’’ Ucap Angga lagi, dia menatapku dengan tulus, hatiku perlahan berdetak seakan sesuatu dalam hatiku terus ingin mendengarnya tetapi di lain sisi aku mengingat bagaimana sakitnya saat mengetahui hubungan mereka, butuh waktu setahun melewati keterpurukanku melupakan semuanya.
’’Jadi kamu mau ninggalin Deana dan anakmu ? jangan bodoh Angga…jangan mengulang kesalahan yang sama’’ kataku lebih berani mengutarakan semua yang ada di pikiranku.
’’Aku dan Deana sudah bercerai setahun yang lalu’’ Angga meraih tanganku, mengenggamnya. Kali ini aku tidak tahu harus mengatakan apa.
’’Ra…aku mohon beri aku kesempatan!’’ mohonnya berdiri memelukku. Aku langsung melepaskannya, membuka pintu. Tiba-tiba seseorang sudah berdiri di depan kamar, aku tersentak melihat Alfar. Aku tidak tahu berapa lama ia berdiri di sini, aku tidak memikirkan apa-apa saat berbicara dengan Angga di dekat pintu tanpa menutupnya, mungkin  saja orang lain sudah mendengar kami bertengkar termasuk Alfar.
’’Maaf Pak…apa anda butuh sesuatu!’’ kataku mengalihkan suasana tetapi dia langsung menarik lenganku tanpa mengatakan apa-apa masuk ke kamarnya langsung menyuruhku merapikan baju-bajunya. Entah apa yang di pikirkan Alfar saat itu, dan aku sendiri terus memikirkan apakah Alfar mendengarkan pembicaraanku, jika ia mendengarnya mengapa sampai saat ini dia belum mengatakan apa-apa. Dia adalah  pemimpin di hotel ini, orang yang sangat berpengaruh, orang yang memiliki kekuasaan dan aku hanya karyawannya, tidak seharusnya aku memberikan kesan yang buruk.
Meski malam semakin larut, mataku susah terpejam, kata-kata Angga terus terngiang di pikiranku, aku tidak boleh goyah sedikitpun karena dia tidak tahu betapa susahnya lari dari kenyataan hidupku, apalagi setelah kutahu bahwa dia di mutasi dari Surabaya baru-baru ini dan beberapa hari dia juga sengaja menginap di hotel hanya untuk bertemu denganku, itulah yang membuatku menyukainya, Angga adalah sosok pria yang begitu perhatian dan rela melakukan apapun untuk melindungi orang yang di cintainya.
Pagi menjelang...
Selama dua hari ini Alfar akan mengadakan perjalanan keluar kota, dia akan menemui investor asing dari Australia dan pagi ini di kantin khusus karyawan begitu ramai dengan antrian sarapan pagi. Di jam seperti ini kami bisa bertemu satu sama lain, bercerita mengenai pekerjaan masing-masing, mengosipkan tamu-tamu yang datang sesekali bercanda. Berkumpul seperti ini berbagi cerita memompa semangat mereka. Bekerja di hotel elit seperti ini apalagi karyawan seperti diriku yang dikontrak selama lima tahun harus menghabiskan banyak waktu dan mengabdikan diri di Sky Hotel, kami tidak punya waktu berlibur dan kebijakan libur selama 3 kali dalam sebulan juga sangat cukup untuk kami.
’’Raya enak banget yah…dia bisa kerja di ruangannya Pak Alfar!’’ sahut Berna yang duduk di depanku. Jarang-jarang kami berbicara santai seperti ini.
’’Biasa aja kok…!’’ singkatku menyuap beberapa makanan sambil mendengarkan cerita mereka.
’’Pak Alfar nggak suka menyuruh kamu sana sini kan? Biasanya sih bos yang seperti itu suka ngerepotin kita…!’’ Tambah Wahyu yang duduk di sampingku.
’’Yah nggak lah…dia itu baik kok, nggak ngerepotin, nggak banyak bicara dan nggak nyuruh yang aneh-aneh !’’ jelasku, meski ku pikir aku sudah sedikit berbohong terkadang dia menyuruhku untuk sesuatu yang bisa dilakukannya sendiri.
’’Senangnya bisa selalu bertemu dengan Pak Alfar, aku yakin kamu pasti sudah jatuh hati padanya kan…!’’ tambah Berna menunjukku.
’’Yaaa…aku nggak pernah mikirin itu’’ kataku. berdiri meninggalkan mereka.
’’Hei Raya….!’’panggilnya,berlari menghampiriku.
’’Besok jalan yuk…’’ ajak Fatar, mengingat besok adalah hari minggu dan kebetulan saat itu aku tidak bekerja di siang hari dan ia bekerja di restoran hotel ini sebagai koki.
’’Kamu nggak kerja?’’ tanyaku.
’’Nggak…maka dari itu aku ngajakin kamu jalan…’’.
’’Pergi aja Ra…jangan buat dia kecewa karena terlalu sering nolak ajakan si Fatar…’’ sahut Berna yang muncul entah dari mana. Aku hanya mengiyakan ajakannya.
’’Dia sepertinya suka sama kamu…’’ kali ini Berna menyenggolku.
’’jangan sembarang ngomong…!’’.
’’Terus ngapaian dia bela-belain hampir setiap nyariin kamu, kamu nggak ngerti  kode sih…!!’’
’’Kalau aku jadi kamu, aku sudah nerima dia, yaa…dia itu ganteng, baik, pintar masak dan kalian juga kerja di tempat yang sama’’ sambung Berna pergi setelah aku menyuruhnya mengambil cucian di ruang laundry.
Selama ini aku benar-benar tidak menyadari bahwa Fatar yang kukenal baru beberapa bulan ini sering memperhatikanku, meski aku hanya menganggapnya perhatian biasa, meski dia lebih sibuk daripada aku, dia kadang menyempatkan waktunya mengunjungiku, menemaniku ngobrol dan terkadang dia membawakanku makanan yang di masaknya, dia selalu menyuruhku mencoba makanan yang di buatnya sendiri, mungkin apa yang dikatakan Berna memang ada benarnya, sebaiknya aku mencoba dekat dengan seseorang agar mengalihkan sedikit perasaan bimbangku terhadap Angga, dan dengan cara ini aku bisa tahu hatiku sendiri, apakah Angga masih benar-benar di hatiku, dan apakah aku bisa memasukkan hati yang baru dalam perasaanku.
Hari ini Alfar sudah datang, tetapi dia masih sibuk di ruang kerjanya, aku hanya mengantar makanannya lalu pergi. Selama seminggu ia benar-benar fokus kepada pekerjaannya, saat aku datang membersihkan kamarnya, merapikan baju-bajunya dia hanya duduk di depan mejanya, mengurusi kertas-kertas yang menumpuk. Dia hanya menyuruhku menyiapkan pakaiannya untuk malam ini.
Karena malam ini pekerjaan selesai lebih cepat dan Fatar menyuruhku datang ke restoran hotel, aku segera mengganti pakaianku dan masuk ke lift, bersamaan itu pula Alfar masuk dan hanya kami berdua di dalam lift.
’’Pekerjaanmu sudah selesai…?’’ Tanya Alfar berdiri di sampingku.
’’Iya…!!’’ singkatku.
’’Kamu mau kemana?’’ tanyanya.
’’Aku ingin bertemu dengan temanku di restoran…!’’ jawabku dan tak lama pintu lift terbuka, Alfar pergi lebih dulu dan aku menuju ke dapur tempat Fatar bekerja.
’’Bentar lagi aku selesai…?’’ ucapnya dari jauh, aku menunggunya di restoran mencari meja yang kosong dekat dari jendela, agar aku bisa menikmati pemandangan malam dari lantai ini, aku bisa menyaksikan lampu kota di malam hari dan menikmati keindahannya. Tidak begitu jauh aku melihat Alfar duduk bersama dengan seorang wanita, walau hanya melihat punggung wanita itu, aku bisa tahu kalau dia adalah wanita yang cantik dengan rambut lurus terurai.
’’Maaf yah…!’’ ujar Fatar datang mengejutkanku, dia membawa minuman dan beberapa makanan.
’’Steak daging ayam, sushi dan pasta salad…!’’ ujarnya meletakkan di depanku.
’’Dan ini…!’’ terakhir dia meletakkan coklat dengan berbagai bentuk, melihat semua ini aku tidak sanggup untuk memakannya.
’’Wah…kamu yang buat semua ini’’ kataku kagum, tanpa berlama-lama  aku mencoba satu persatu masakannya.
’’Gimana…?’’ tanyanya.
’’Emm…ini enak…!’’ kataku memujinya.
’’Besok kita ketemu di mana?’’ tanyanya lagi.
’’Di depan hotel…’’ singkatku melanjutkan makanku. Tak lama kemudian seseorang menghampiri kami, Alfar menepuk pundak Fatar.
’’Ngapain kamu di sini?’’ Tanya Alfar duduk di samping Fatar, ia sepertinya sangat kenal dengannya.
’’Hanya makan malam…!’’ ujar Fatar tersenyum padaku.
’’Selamat malam Pak…!’’ sapaku berdiri lalu kembali duduk, wanita yang tadi bersama Alfar sudah tidak terlihat lagi, dari kejauhan Yuan juga menghampiri meja kami.
’’Yah kamu kan……!’’ sahut Yuan menunjukku, ucapannya terpotong saat Alfar mengalihkan pembicaraan. Ternyata Fatar adalah adik dari Yuan sepupu Alfar. Mereka  bertiga sejak kecil sangat akrab dan semenjak kedua orang tua Alfar meninggal, Alfar selalu menghabiskan waktunya bersama keluarga dari kakak Ayahnya. Aku merasa tidak begitu nyaman berada di antara mereka, rasanya aneh jadi aku memutuskan pergi.
’’Kamu di sini aja…!’’ Fatar menarikku kembali duduk.
’’Dia harus kembali kerja, oh iya…dan ganti semua selimut dan sprei di kamarku…’’tegas Alfar menatapku sebentar.
’’Yaa…dia bukan pembantu…!’’ bela Fatar.
’’Tapi itu sudah pekerjaannya, pergilah…!’’ katanya lagi.
’’Kalian dekat…?’’ Tanya Yuan, Fatar hanya mengangguk sambil tersenyum. Terlihat dari wajahnya ia menyukai Raya.
’’Jangan terlalu berharap, kalian berdua tidak cocok…!’’ sahut Alfar.
’’Bagaimana pertemuanmu dengan Leni?’’ Tanya Yuan mengalihkan pembicaraan.
’’Aku tidak menyukainya…jadi suruh Ayahmu untuk tidak menjodohkanku lagi’.
’’kok nggak suka, Leni itu cantik, seksi dan baik, dia juga pintar dalam segala hal, dia bisa saja membantumu mengelola hotel ini’’. Kini Fatar yang angkat bicara.
’’kalian berdua harus cepat menikah…ingat umur’’. sambung Fatar melihat Yuan dan Alfar bergantian lalu meninggalkan mereka berdua.
’’Haa…dasar anak itu…!’’ Yuan terlihat jengkel dengan perkataan adiknya.
’’Kamu kan juga suka sama Raya…? Terus gimana?’’.
’’Aku belum mengatakan apa-apa, akhir-akhir ini aku sibuk dengan pekerjaanku!’’.
’’Jangan terlalu fokus dengan pekerjaanmu, sebelum Raya menetapkan perasaannya, kau harus menumbuhkan perasaan di hatinya dulu, lihat Fatar ketika dia menyukai seorang wanita, maka dia akan fokus untuk mendapatkan…’’ jelasnya menasehati Alfar.
’’Jadi kau mendukungku daripada adikmu itu…!’’.
’’Hahaha tentu saja…kau tau dia kan! Fatar itu playboy, jangan sampai Raya jatuh hati padanya’’.
’’Aku tidak tahu harus melakukan apa, agar bisa lebih dekat dengan Raya…apalagi saat ini aku tahu dia sedikit bingung dengan perasaanya, minggu lalu aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Raya dengan mantan kekasihnya, sepertinya lelaki itu yang membuat Raya menangis tiga tahun yang lalu’’ jelas Alfar.
’’ikuti kata hatimu, dekati dia perlahan, buat dia terkesan padamu, wanita itu selalu peka dengan perasaan seorang pria, gunakan kesempatan ini karena kamu adalah atasannya, tetapi…!’’ Yuan berhenti sejenak memperhatikan wajah serius Alfar yang mendengarnya.
’’Tapi jika kamu tidak yakin menyukainya, hanya karena perasaan sesaatmu, rasa simpati yang masih ada dalam hatiku, jauhi dia jangan buat wanita itu berharap, Raya wanita yang baik, aku saja kagum padanya karena dia wanita yang hebat’’ Yuan memukul pundak Alfar, ia merasa bangga menasehati sepupu dan sahabatnya itu.
’’Wah…kamu berubah jadi bijak seperti ini’’ puji Alfar pergi menuju ke kamarnya.
Saat itu aku masih mengganti sprei kasur Alfar dan ia masuk dan langsung menghabiskan minumannya, aku mengintip sedikit, dia memakan coklat yang aku bawa yang di buat Fatar dan di berikan padaku. Dia tiba-tiba batuk dan berlari ke kamar mandi, aku mengikutinya untuk memeriksa apa dia baik-baik saja.
’’Anda tidak apa-apa?’’tanyaku berdiri di belakangnya.
’’Coklat itu dari mana?’’ teriaknya.
’’Restoran…itu dari Fatar’’. Alfar menyuruhku menghubungi Fatar menanyakan coklat yang di makannya. Setelah mendengar apa yang dikatakan Fatar, aku segera berlari menghampiri Alfar yang masih mencoba memuntahkan makanan yang baru saja di makannya. aku tidak tahu kalau ternyata Alfar alergi dengan kacang-kacangan, dia tidak pernah menceritakan ini.
Sekujur tubuh Alfar berkeringat, wajahnya pucat dan nafasnya sesak, aku membantunya berdiri. Tubuhnya yang berat membuatku kesusahan membawanya ketempat tidur, untung saja waktu ia masih sadar, aku merangkulnya dengan susah payah dan membaringkannya. Dia menyuruhku mencarikan obat pereda sakit, karena begitu khawatir dengan keadaan Alfar dan tidak mungkin aku keluar meninggalkannya untuk membelikan obat, aku meminta tolong kepada Handi.
aku merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan Alfar saat ini, karena aku dia sakit, perlahan aku melap keringat yang ada di kepalanya, demannya sangat tinggi. Ia terus mendesah dalam tidurnya, baru setelah memberikan obat yang di bawah Handi perlahan keadaan Alfar membaik, yang mengejutkanku tiba-tiba Alfar menggengam tanganku.
’’jangan pergi…!’’ bisiknya setengah sadar, ia membuka matanya menatapku, aku langsung duduk kembali di tepi kasur, menunggunya sampai tertidur dan beberapa kali mengganti air kompresnya, waktu menunjukkan pukul dua malam, perlahan aku melepas tangan Alfar menarik kursi dan membaringkan tubuhku agar aku tetap di dekatnya. Aku khawatir kalau demannya akan bertambah parah, aku memperhatikan wajah Alfar yang sedang tertidur, baru kali ini aku  bisa melihatnya dengan jelas, entah mengapa dia tidak asing bagiku, apakah sebelumnya aku pernah bertemu dengannya di dunia nyata ataukah di dalam mimpiku sendiri.
Pukul tujuh pagi, Alfar terbangun dari tidurnya, tubuhnya masih terasa sakit, Dan Raya masih dengan posisi duduk sambil tertidur menyandarkan kepalanya di bantal. Alfar mendekati wanita itu menatap wajahnya lalu tersenyum. Ia mengangkat Raya dengan hati-hati agar tidak terbangun, ia membaringkan Raya di tempat tidurnya.
’’Terima kasih sudah merawatku’’ bisik Alfar menyelimutinya, lalu pergi keluar kamar. Ia tidak ingin membangunkan Raya hanya untuk menyuruhnya membawakan sarapan paginya, ia menuju ke dapur sendiri.
’’Selamat pagi Pak…!’’ Sapa Handi buru-buru membuka pintu, tempat itu terlihat sibuk menyiapkan sarapan untuk tamu yang lain.
’’Dimana chef Bambang…!’’ cari Alfar, chef Bambang adalah orang yang bertugas menyiapkan makanan untuknya, dia memintanya untuk membawakan beberapa makanan dan minuman di kamarnya.
’’Ngapain kamu disini?’’ sahut Fatar yang berpapasan dengannya di lobi.
’’Oh iya Fat…hari ini Raya nggak bisa nemenin kamu jalan-jalan…!’’
’’Kok bisa sih…kamu sengaja yah kasih dia kerjaan!’’ protes Fatar.
’’karena dia milikku…!’’ Ujarnya pergi meninggalkan Fatar yang kebingungan mendengar Alfar mengatakan itu.
Raya masih tertidur saat Alfar datang, ia tahu wanita itu kelelahan saat menjaganya semalam, ia mendekatinya pelan duduk di sampingnya, dia ingat wajah itu, wajah seorang wanita yang menangis begitu sakit saat melihat orang yang dicintainya mengkhianatinya dia tidak pernah berpikir sedikitpun untuk bertemu lagi dengannya, tetapi takdir berkata lain mereka bertemu di tempat yang tak terduga. Cukup lama Alfar memandangi wanita itu, sampai-sampai ia sendiri tidak sadar kalau hatinya saat ini menyukai wanita itu
Aku membuka mataku tersadar dari mimpi aneh, cukup lama saat aku tersentak dari tempat tidurku melihat Alfar yang cukup dekat berada di sampingku.
’’Anda sudah baikan…!?’’tanyaku beranjak dari tempat tidur. Tiba-tiba Alfar tertawa saat melihat rambutku yang berantakan.
’’Ayo…!’’ tariknya menyuruhku duduk, aku sangat terkejut saat dia mencoba merapikan rambutku.
’’Nggak usah…!’’ ucapku dengan suara tinggi bercampur malu, aku melangkah keluar tetapi Alfar dengan cepat mengejarku, menarik tangan dan tubuhku tepat di hadapannya, mendadak seperti setruman listrik mengejutkan debaran jantungku, berdetak lebih cepat dari biasanya, entah mengapa saat itu aku tidak bisa menggerakkan badanku menjauh darinya, aku menatapnya, menelusuri wajahnya yang sedikit menunduk menatapku.
’’Kau harus ingat kapan kita bertemu pertama kalinya dan bagaimana kita bertemu ? kau harus cari tahu…!’’ ujarnya, melepaskan tangannya, aku terdiam sejenak memikirkan ucapannya yang membuatku bingung.
’’Hari ini kamu nggak kerja kan ? baiknya kamu istirahat dulu siang ini, dan Fatar juga punya urusan, jadi hari ini kamu nggak usah kemana-mana…!’’ ujarnya lagi membuyarkan lamunanku, aku pergi tanpa mengatakan apa-apa.
’’Dia terlalu banyak diam…!’’ ucapnya dalam hati.
Siang ini aku memutuskan untuk menghabiskan waktuku sendiri, meski panas matahari begitu menyengat, tidak membuat ayunan kakiku berhenti, tidak seperti orang lain yang menghabiskan liburannya bersama, aku masih di tempat ini dengan kesendirianku. Aku takut di kecewakan, meski sudah berlalu tetapi kenangan itu berbalik menyerangku. Apalagi akhir-akhir ini Angga perlahan ingin memasukkanku lagi dalam kehidupannya, dia selalu datang ke tempat kerjaku hanya sekedar menyapa.
Sambil menikmati sejuknya pasir, aku melangkah tanpa beralaskan kaki merasakan pasir-pasir yang begitu lembut menyentuh kakiku, tiba-tiba seorang anak kecil berlari kecil sambil menangis, aku mendekatinya sepertinya ia kehilangan ibunya, aku mengendongnya dan mencari apabila ada yang mengenal anak itu, tetapi hampir setengah jam menelusuri sekitar pantai dan hotel, tak satupun orang yang mengenal anak yang umurnya sekitar tiga tahun lebih itu.
’’Kamu ikut aku yah…!’’ kataku, masih mengendongnya, ia baru berhenti menangis saat aku membelikan es kream, anak itu tanpa takut terus mengikutiku sambil tangan kecilnya kugenggam agar ia tidak terlepas. Aku menuju ke pusat informasi sekitar pantai agar memberi tahu apabila ada yang mencari anak itu nantinya, dan meminta mereka mengumumkannya kepada orang-orang yang datang, agar mencari anak ini di hotel tempatku bekerja. Aku tidak tega meninggalkannya di sini, setelah meninggalkan nomorku aku membawa anak itu pergi.
’’Siapa anak ini?’’ Tanya Berna buru-buru menghampiriku. Ia begitu terkejut saat aku menjelaskannya.
’’Sampai saat ini belum ada yang meneleponku…mungkin orang tuanya sedang mencarinya…!’’ ujarku.
’’Ber…aku titip dia dulu yah…soalnya Pak Alfar menyuruhku membawakan bajunya, dia tidak ingin orang lain membawanya kecuali aku..’’ jelasku menyerahkan anak itu tetapi anak itu tidak ingin melepaskan tangannya dan langsung menangis.
’’Yang lain lagi sibuk, kamu bawa aja dia, Pak Alfar nggak akan marah kok, lagian Cuma ngantarin baju doing…!’’Ujar Berna pergi. Aku memperhatikan anak laki-laki itu sambil tersenyum aku menanyakan namanya dan dengan lucunya dia menjawabnya Vino.
Waktu menunjukkan pukul tiga sore, dua jam berlalu tapi hpku belum berbunyi, aku berdiri sejenak di depan pintu kamar hotel Alfar, Vino terlihat lelah, beberapa kali kali ia menguap mengucek matanya. Aku membuka pintu, di ruang tamu Alfar tidak terlihat, anak itu melepaskan tangannya berlari ke sofa dan duduk, aku menyuruhnya menunggu sebentar.
’’Kok lama…?’’ tiba-tiba muncul di balik pintu kamarnya, aku terkejut melihatnya hanya menggunakan handuk bertelanjang dada tepat di hadapanku. Aku langsung mundur beberapa langkah tak menyadari tangga kecil di belakangku, saat itu juga Alfar menarikku cepat memegangi pinggangku, menahan tubuhku yang hampir terjatuh kebelakang. Aku melepaskan diriku dari Alfar yang tiba-tiba memelukku. Aku terkejut saat itu, dan pikiranku berpikir aneh tentangnya, karena saat itu ia menggunakan handuk, aku berontak dan berusaha melepaskan pelukanku.
’’jangan berpikir aneh-aneh..’’ ujarnya melepasku saat aku menatapnya berusaha berteriak.
’’Om Al…’’ Sahut anak itu menghampiri Alfar. Aku terkejut langsung mengendongnya.
’’Mana ibunya…?’’ Tanya Alfar, dia sepertinya mengenal anak laki-laki itu. aku kembali menceritakan bagaimana Vino bersamaku.
’’Dia anak dari temanku…’’singkatnya membaringkan anak itu di sofa, dia menghubungi seseorang dan sepertinya yang dihubungi oleh Alfar adalah ibunya. Vino tertidur di pangkuanku, lalu Alfar setelah berganti pakaian dia duduk tepat di sampingku, aku sendiri tidak tahu mengapa akhir-akhir ini dia memperlakukan aku seperti itu, sikapnya berubah dan aku sendiri tidak tahu harus mengatakan apa-apa, kecuali bersikap sewajarnya sebagai karyawannya. Selama beberapa menit aku terus diam dan canggung sedikit tidak nyaman berada dekatnya, mungkin karena di ruangan itu kami hanya berdua.
’’Malam ini aku akan makan malam di luar, aku ingin kau ikut !’’ sahutnya memecahkan keheningan, aku hanya mengangguk.
’’Kamu terlalu banyak diam Ra…!!’’ ujarnya lagi mengarahkan perhatiannya kepadaku.
’’jangan anggap aku atasanmu jika hanya ada kita berdua, aku hanya ingin mengenalmu !’’ ucapnya, dan lagi aku tidak bisa mengatakan apa-apa hanya membalas tatapannya. Aku ingat saat sebagian staff membicarakan tentang dirinya, bagaimana dia menolak beberapa wanita yang dijodohkan kepadanya, membatalkan pernikahannya sendiri dan ia tidak begitu suka dengan keramaian. Aku juga tidak tahu alasan apa ia mengajakku bersamanya malam ini. Dia langsung menjentikkan jemarinya di hidungku.
’’Jangan diam aja…katakan sesuatu?’’ lanjutnya.
’’Kapan ibunya datang…!’’ kataku mengalihkan pembicaraan, karena saat itu tiba-tiba jantungku berdetak tidak biasanya. Aku memindahkan Vino dari pangkuanku segera berdiri menjauh membuka pintu, saat itu seseorang berlari masuk ke dalam menghampiri Vino langsung memeluk Vino yang tertidur.
’’Thanks banget yah Al…’’ ujarnya, Alfar menunjukku.
’’Dia yang menemukan Vino…!’’.
Wanita itu berbalik dan membuatku terkejut saat memperhatikannya baik-baik.
’’Deana…!’’ kataku mendekatinya, aku tidak percaya bertemu lagi dengan Deana.
’’Raya…kamu kerja di sini’’ ujarnya memperhatikan aku sekilas dengan pakaian staf hotel.
’’Thanks Ra…aku harus kembali…!’’ ujarnya lagi tiba-tiba pergi begitu saja, seolah-olah ia tidak ingin bertemu denganku, aku mengejar Deana dan saat itu juga Angga datang.
’’Kamu nggak becus jagain Vino!’’ Bentak Angga, Deana dari kejauhan melihatku segera pergi saat aku menghampiri mereka.
’’Vino baik-baik aja…jadi kamu nggak usah khawatir!’’ jelasku.
’’Makasih yah…Deana bilang kamu yang nemuin Vino…!’’
’’Oh iya malam ini kamu ada waktu…?’’ Tanya Angga lega setelah tadi ia terlihat khawatir dan marah kepada Deana.
’’waktunya ada, tapi untukku…’’ Tiba-tiba muncul, Alfar memegang tanganku dan mengangkatnya, memperlihatkannya kepada Angga, aku terkejut saat itu.
’’Dia Pak Alfar, Direktur dan pemilik hotel…’’ kataku memperkenalkannya.
’’Oh…! aku Angga Manajer Pariwisata dari perusahaan di Surabaya” katanya mengulurkan tangannya, tetapi Alfar dengan tatapan tidak suka mengabaikan tangan Angga, ia menarikku pergi tanpa mengucapkan apa-apa.
Setelah berganti pakaian aku berlari kecil menuju parkiran tempat Alfar menunggu, aku menyesal mengiyakan ajakannya. Aku tidak ingin orang lain salah paham tentangku karena akhir-akhir aku dan Alfar sering keluar bersama dan itu semuanya membuat staf hotel yang mengenalku sering membicarakanku.
“Kita mau kemana?” tanyaku sebelum naik ke mobil, Alfar hanya diam dan mengangkat hpnya yang sejak tadi berdering. Wajahnya terlihat kesal setelah menerima panggilan itu, ia menatapku sebentar lalu tersenyum menghampiriku.
“Ada apa?’’ tanyaku lagi, Alfar membuka pintu mobil dan menyuruhku masuk. Selama perjalanan Alfar tak banyak bicara, sesekali ia menatapku sebentar lalu tersenyum kembali menyetir mobilnya. Hampir setengah jam berkendara dan aku belum berani menanyakan kemana kami akan pergi. Alfar berbelok masuk ke arah bandara.
“Ngapain kita disini?” tanyaku heran, mengikutinya turun dari mobil.
“Ibuku menyuruhku menjemput seseorang!” singkatnya. Tidak begitu lama menunggu, aku yang sejak tadi berdiri di belakang Alfar di kejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba memeluk dan mencium pipinya. Alfar langsung mendorong tubuh wanita itu dengan pelan. Sepertinya wanita ini yang membuat Alfar sejak tadi kesal karena ibunya yang menyuruhnya langsung menjemputnya, aku tidak tahu apa hubungan mereka tetapi yang aku tahu saat ini wanita ini baru saja tiba dari luar negeri setelah menyelesaikan kuliahnya, terlihat dari penampilannya yang terlihat mencolok tetapi tetap terlihat mewah dan elegan, warna yang rambutnya yang agak kemerahan sangat cocok dengan wajah kecilnya, tingginya bak model dan harus aku akui dia begitu cantik. Aku menarik nafas dalam-dalam menyadarkan diriku sendiri.
“siapa dia?” Tanya wanita itu, ia mendekatiku memperhatikan penampilanku yang sedikit berantakan, yah wajar saja sejak tadi sore aku belum mandi. Tiba-tiba dia menyerahkan kopernya padaku.
“Dia sekretarismu yah…!?” lanjut wanita itu, tetapi Alfar langsung meraih kembali koper yang sudah berada di tanganku, menyerahkan kembali kepada Monica.
“Dia bukan seseorang yang seenaknya kamu suruh!” Ujar Alfar menarik lenganku menjauh di ikuti Monica yang terlihat kesal dan mengikuti kami ke mobil.
“Kamu naik taksi aja, aku harus ke suatu tempat denganya…!” tambah Alfar.
“Kok kamu gitu sih Al…kamu harus ngantarin aku ke hotel, aku nggak tahu jalannya kemana, aku juga nggak berani naik taksi sendiri…” Monica terus memaksa.
“Dia aja yang kamu suruh naik taksi!?” Tunjuk monica padaku. Aku lalu turun dari mobil karena merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Monica langsung masuk ke mobil setelah aku turun. Aku memutuskan untuk mengalah dan mencari taksi kembali ke hotel, tetapi Alfar menarikku kembali duduk di kursi belakang.dia memegang kedua pundakku menatapku begitu dekat, tatapannya yang menyiratkan bahwa dia ingin aku tetap bersamanya. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, hanya wanita ini yang masih terus bicara kepada Alfar, dari wajahnya aku bisa tahu bahwa Alfar tidak begitu suka dengan wanita ini, dia terlihat begitu agresif karena wanita itu terus merangkulkan tangannya pada Alfar yang selalu menepisnya.
Aku begitu lega saat tiba di hotel, karena aku tidak ingin berlama-lama dengan mereka. Kekagumanku pada Monica sirna begitu saja setelah melihat sikapnya sedikit angkuh dan tak tahu diri. Alfar langsung menghentikan langkahku saat turun dari mobil, Monica sudah tidak terlihat lagi setelah beberapa staf datang membawakan barangnya dan mengantarkannya masuk ke hotel.
“Aku minta maaf soal yang tadi…!? “ ujar Alfar kembali menarikku masuk, tetapi aku langsung menepis tangannya karena  takut ada yang melihat kami.
“Maaf!!” kataku, Alfar tersenyum dia sepertinya tahu apa yang aku khawatirkan.
“Aku belum makan sejak tadi, kau harus menemaniku makan malam” katanya melihat sebentar jam tanganya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sudah agak larut tapi tidak bisa membohongiku perutku yang sejak tadi siang belum makan apapun. Aku mengikuti Alfar ke lantai atas, restoran hotel memang sudah tutup, dan agak gelap tetapi agak terang dengan cahaya lilin yang menyala di di meja dekat dari jendela kaca, beberapa makanan dan minuman sudah tersaji di meja itu. Ternyata sejak tadi Alfar sudah merencanakan ini saat kami di bandara, ia sedikit kecewa karena makan malam kami harus gagal dan untuk itu Alfar menghubungi chef Bambang dan Fatar untuk  menyediakan semua ini.
“Bagaimana?” sahut seseorang tiba-tiba, Fatar dan Yuan muncul entah dari mana.
“Awalnya Fatar tidak ingin membuatkan semua ini. Tapi….!”

“Sebaiknya kita pergi saja…!” Ujar Fatar menarik Yuan pergi.

 Setelah mereka pergi, aku memperhatikan Alfar yang sudah duduk di hadapanku, beberapa hari ini harus aku akui bahwa ada perasaan yang aku harapkan padanya atas sikapnya selama ini padaku, aku sendiri tidak bisa menebak bagaimana sikap yang ditunjukkan kepada orang lain dan sikap yang ditunjukkan padaku agak berbeda. Apa yang dibicarakan orang tentangnya tidak sama seperti apa yang aku hadapi sendiri. Alfar bersikap sangat dingin dan angkuh kepada orang-orang yang berada di sekitarnya, tak terkecuali wanita, siapapun yang mendekatinya, Alfar akan terlihat lebih kasar dan suka membentak. Kadang aku sedikit takut dengannya. Tetapi entah mengapa hal itu tidak terjadi padaku, dia lebih cenderung begitu lemah. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk memberanikan diri mengatakan apa yang ingin aku katakan.

“Mungkin sebaiknya pak Alfar tidak memperlakukanku seperti ini lagi, aku takut staf dan karyawan lain akan membicarakan hal aneh yang tentang kita berdua!” ucapku, Alfar langsung menghentikan makannya dan meminum segelas air dalam sekali teguk. Dia menatapku sambil menopang dagunya dengan kanannya.

“Apa kamu benar-benar tidak ingat kita pernah bertemu sebelumnya…!” Ujar Alfar, ini ketiga kalinya pertanyaan aneh ini ku dengar. Aku memperhatikan wajah Alfar mencoba mengingat kapan kami pernah bertemu! Meski mencoba mengingat begitu keras, tetap saja tak ada ingatanku tentang dia. Alfar masih tersenyum meraih sesuatu di bawah meja. Mengeluarkan kotak ukuran sedang menaruhnya dihadapanku.
“Mungkin dengan melihat ini kamu akan ingat denganku…!” Lanjut Alfar, aku sedikit gugup saat melihat kotak itu, entah apa yang ada di dalamnya yang membuatku benar-benar lupa, dengan hati-hati aku membuka kotak itu, sebuah baju kemeja kotak-kotak abu-abu dengan pita berwarna hitam putih di sekitar kerah, melihatnya saja aku sudah ingat baju ini, baju yang aku kenakan saat menangis begitu bodohnya mendapati Angga berselingkuh dengan Deana. Entah kenapa perasaanku kembali mengingat kejadian itu, aku memperhatikan wajah Alfar, Yah aku sudah ingat orang ini, dia yang membantuku saat itu.

“Waktu itu aku begitu malu dan pergi begitu saja tanpa berterima kasih pada anda, aku minta maaf karena tidak mengingatnya…!” kataku lalu terdiam sejenak menatap baju itu, tentu saja baju itu membuat kenangan pahitku kembali, karena baju itu juga adalah hadiah pertama yang diberikan Angga padaku. Tiba-tiba aku menangis, aku tak  bisa membendung perasaanku sehingga di depan Alfar aku kembali menumpahkan air mataku, aku tidak tahu harus bagaimana karena perasaanku yang terlalu kuat pada Angga dan sampai saat ini kejadian itu masih tertanam kuat dalam hatiku. aku bisa membohongi orang-orang betapa kuatnya diriku, betapa tegarnya perasaanku, meski berlalu cukup lama tapi masih ada duri yang sering kali menganggu.
“Ra…kamu tidak apa-apa?” Alfar langsung berdiri menghampiriku. Dia langsung meraih baju itu dan membuangnya di tempat sampah, dia merasa bersalah karena memberikan kotak itu padaku.
“Aku minta maaf Ra…aku tidak tahu kalau…!!!? Alfar langsung memelukku, Ia tak tahu harus mengatakan apa untuk membuatku berhenti menangis. Aku menyandarkan kepalaku di perut Alfar, ia dengan sabar berdiri sampai menunggu tangisku berhenti.
“Ini yang terakhir kalinya kamu menangis untuk laki-laki seperti Angga itu, mulai sekarang aku akan ikut campur dalam setiap apa yang kamu lakukan dan kamu akan menjadi tanggung jawabku…!!” bisik Alfar, aku lalu berdiri tidak seharusnya aku seperti ini di depan Alfar tapi entah mengapa kesedihanku tiba-tiba menghilang begitu saja, ada perasaan nyaman dan hangat saat dia memelukku. Aku menatap matanya lalu menyentuh pipi Alfar, cukup lama sampai aku terperanjat kaget saat sadar apa yang aku lakukan. Aku segera pergi dari hadapan Alfar kembali menuruni tangga agar lebih cepat menghilang darinya. aku berlari menuju ruang karyawan ,menutup pintu. Aku begitu malu saat mengingat apa yang baru saja terjadi dan bagaimana harus menghadapinya besok.
***
Sudah dua hari berlalu, dan aku belum pernah bertemu dengan Alfar dan itu sengaja kulakukan untuk menghindarinya. Aku hanya menyuruh pelayan mengantar  sarapan dan makan siangnya dengan alasan ada hal yang kukerjakan. Biasanya dia menghubungiku kalau bukan aku sendiri yang membawanya, tetapi kali ini tidak bahkan sejak kejadian itu dia bahkan tidak pernah menghubungiku atau mengirim pesan kepadaku. Aku mencoba untuk tidak memikirkanya tetapi itu sedikit mengangguku dan Alfar terus berada dipikiranku. Untuk mengobati rasa penasaranku, aku mengambil sendiri pakaian Alfar yang telah yang di cuci dan membawakannya sendiri di kamarnya. Aku terkejut saat Monica buru-buru mematikan rokok yang di hisapnya, menyembunyikannya dalam tas lalu menyemprotkan parfum di sekitarnya, mengira Alfar yang datang membuka pintu. Wajah Monica berubah saat melihatku, rasa lega terlihat jelas di raut wajahnya . tanpa menghiraukannya, aku masuk ke dalam ruang pakaian Alfar menaruh baju-bajunya lalu membersihkan dapur yang berantakan, memeriksa kulkas dan terakhir membersihkan kamar tidurnya. Monica masih berada di ruang tamu berbaring di sofa sambil membaca beberapa majalah yang berantakan di atas meja, tidak lama kemudian Alfar datang dan terkejut dengan kedatangan Monica. Aku masih merapikan meja kerja Alfar saat mendengar suaranya, menyuruh Monica pergi.
“Aku bosan di kamar terus, nggak ada teman jalan karena kamu sibuk kerja…!” ujar Monica.
“Kamu kan bisa ngajak Yuan atau Fatar…!” singkat Alfar dari suaranya ia terdengar begitu lelah.
“Aku mau jalannya sama kamu…!!kamu ngerti nggak sih perasaan aku? Ibu kamu juga setuju sama hubungan kita!” jelas Monica terdengar kesal.
“Hubungan? Sejak kapan aku setuju dengan hubungan yang disetujui oleh ibuku…!” bentak Alfar menyuruh Monica keluar.
“Raya…!! “ Ujar Alfar terkejut saat melihatku sedang merapikan tempat tidurnya. Aku pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka.
“Aku minta maaf karena baru datang membersihkan ruangan anda” kataku bersiap-siap keluar. Terdengar suara Alfar yang menarik nafas, ia terlihat begitu lelah menjatuhkan tubuhnya di kursi, menyandarkan kepala sambil menutup matanya. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untukku, meski hanya melihatnya sebentar aku cukup merasa senang dia baik-baik saja.
“Ra…!” panggil Alfar saat aku membalikkan badan ingin pergi. Dia membuka matanya sambil tersenyum melihatku, lalu berdiri menghampiriku.
“Aku benar-benar merindukanmu…!” bisiknya memelukku. Harus aku akui bahwa saat ini aku benar-benar bahagia, meski aku belum yakin sepenuhnya tenang perasaanya tetapi saat saat kebahagian yang hilang kini perlahan kembali. Aku membiarkan Alfar memelukku sebentar dan Monica yang saat itu belum pergi tiba-tiba masuk.
“Dasar sekeretaris murahan…! Begini caramu menarik Alfar…?karena dia laki-laki kaya dan kamu terus menggodanya…!? “ teriak Monica menarikku dari Alfar dan mendorongku dengan kuat hingga lenganku terbentur tembuk. Aku menjerit kesakitan.
“Apa yang kamu lakukan…keluar dari sini…!!” bentak Alfar menarik Monica keluar.“Aku tidak akan membiarkan wanitu itu…!” ancamnya dengan wajah yang memerah. Setelah menutup pintu  Alfar menghampiriku.
“Aku tidak apa-apa…!” kataku sambil tersenyum berusaha menahan sakit akibat dorongan Monica.
“Aku minta maaf…!” ujar Alfar meraih tanganku mengenggamnya sambil tertunduk.
“Aku nggak apa-apa kok…lagian aku yang salah datang saat yang tidak tepat…!” tambahku melepas tangan Alfar perlahan. Aku pamit pergi meninggalkan Alfar membiarkan beristirahat. Pikiranku begitu kacau dan takut terlalu, banyak halangan yang membawa pengharapanku tiba-tiba sirna, semangatku yang ingin merasakan jatuh cinta sepertinya harus aku hilangkan. aku tidak pandai memperjuangkan hubunganku, mengalah jalan satuya-satunya. Aku tidak ingin mengacaukan dan membuat orang lain kesusahan karenaku, mungkin sebisanya aku membiarkan perasaanku. Yah…mungkin aku bisa!. Saat ini hanya itu yang bisa menjernihkan pikiranku.
***
Suara ketukan pintu yang begitu keras tiba-tiba membuat staf yang berganti pakaian terkejut, aku buru-buru membuka pintu, Monica dengan melipat kedua tangannya berdiri sambil menatap tajam melayangkan tamparannya.
“Apa yang kamu lakukan?” Berna menarikku menjauh. Orang-orang yang berada di sekitar tempat itu dengan cepat berkumpul karena penasaran dengan apa yang terjadi.
“Kita bicara di tempat lain…!” ajakku pergi, meski sangat kesal Monica mengikutiku menuju ke pintu masuk tangga darurat.
“Apa hubunganmu dengan Alfar, kamu sengaja menggodanya…!!” .
“Hubungan kami hanya sebatas pekerjaan, tidak lebih dari itu…!” jelasku, meski sedikit tidak masuk akal, tapi aku tahu Monica tidak akan percaya dengan begitu mudah hanya karena alasan itu.
“Alfar akan menikah denganku, setuju atau tidak setuju. Aku tidak ingin orang lain mengacaukan apa yang kupertahankan selama ini…!” gertak Monica pergi. Aku mendudukkan tubuhku di tangga, memegangi kepalaku yang tiba-tiba sakit. Aku tidak tahu mengapa selemah ini diriku, tidak bisa membelaku diriku sendiri, membiarkan diriku di bentak tanpa bisa melakukan apa-apa, tanpa bisa mengatakan apa-apa. Padahal begitu banyak yang ingin aku katakan, saat itu ingin sekali aku mengatakan bahwa aku juga menyukai Alfar, dia tidak berhak menentukan pilihan sepihak. Alfar berhak menentukan sendiri pilihannya. Jika memikirkan itu hanya membuat diriku merasa bodoh. Buat apa jika itu semua tidak bisa aku katakan langsung. Di lain sisi aku memikirkan sikap Alfar selama ini padaku, aku takut jika sikapnya selama ini hanya bentuk simpati

Kehidupan Monica memang terbilang cukup bebas dan suka menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang. Saat di luar negeri ia pernah tertangkap dengan rekan-rekannya mengadakan pesta narkoba dan miras. Kedua orang tuanya tak pernah tahu apa yang di jalani putri satu-satunya itu. Alfar dan Monica sudah kenal dan berteman sejak kecil karena kedua orang tua mereka dulunya sangat dekat. Monica sangat menyukai Alfar saat itu meski beberapa kali Alfar menolaknya. Berbagai macam cara ia lakukan untuk mendekati Alfar bahkan sampai ke Eropa mengikutinya. Sikapnya yang keras dan selalu bertindak semaunya terkadang membuat pikirannya kacau dan melampiaskannya pada minuman keras. Alfar beberapa kali menasehatinya tetapi dia hanya akan berhenti melakukan itu jika Alfar bersedia menikahinya. Saat itu menjelang beberapa minggu Alfar berusaha untuk dekat dengan Monica agar bisa melihat dirinya tidak melakukan hal yang bisa merusak dirinya sendiri. Itu hanya berlangsung sebulan saat Monica tertangkap melakukan pesta narkoba bersama teman-teman kuliahnya, selama 3 bulan Monica di rehabilitasi tanpa sepengetahuan orang tuanya, hanya Alfar yang mendampinginya saat itu. Setelah menyelesaikan kuliahnya dan bekerja selama setahun di di Eropa, Alfar tidak pernah lagi menemui Monica bahkan saat menghubunginya, Alfar hanya mengabaikan semuanya. Sejak kedua orang tua bercerai, Monica sudah jarang mendapatkan kasih sayang dari keduanya. Hanya Ibu Alfar satu-satunya yang sering menanyakan kabar Monica, dia sudah menganggap Monica anak perempuannya. Saat ibunya tahu Monica ke Indonesia, ia meghubungi Alfar segera menjemput dan membawanya ke hotel. Kemarin ibunya datang ke hotel mengunjungi Monica sebentar lalu menemui Alfar membicarakan tentang Monica, ia ingin kalau anaknya itu segera menikahi Monica. Meski Alfar beberapa kali menolak ibunya tidak ingin memaksakan kehendak anaknya itu. Ia hanya khawatir karena umur Alfar yang seharusnya menikah, ia tidak ingin melihatnya anaknya sibuk bekerja dan lupa kalau saat ini bahwa ibunya sudah sering sakit-sakitan dan ingin melihat Alfar segera menikah.
***
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi, cuacanya sedikit mendung. Aku beranjak dari tempat tidur berdiri sejenak memperhatikan pakaian kotor yang menumpuk. Biasanya aku tidak pernah menggunakan jasa laundry tapi kali ini karena pakaiannya sebanyak ini aku menelpon jasa penjemputan yang tidak begitu jauh untuk membawa semua pakaianku. Aku benar-benar menggunakan hari liburku dengan baik dengan bersantai seharian di depan TV di tambah hujan deras. Dua jam sebelum aku kembali ke hotel di luar hujan semakin deras, aku memperhatikan dari luar jendela hujan kali ini spertinya akan lama. hpku berdering dan itu dari Alfar, aku langsung mengangkatnya tanpa ragu. Aku terkejut saat dia menyuruhku keluar, mobilnya sudah berada di depan rumah. Aku tidak menyangka Alfar akan datang. Dia berlari masuk di tengah hujan yang begitu deras.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku terkejut tidak percaya.
“Aku kira kamu keluar kota?” lanjutku menyuruhnya duduk.
“Aku membatalkannya, mungkin karena kelelahan…!” jelasnya.,
“Terus apa yang membuatmu tiba-tiba ke sini!” tanyaku lagi.
“Karena aku ingin bertemu denganmu, aku lupa kalau hari ini kamu libur…!maka dari itu aku kesini” katanya.
“setidaknya anda menghubungi saya dulu…!” kataku menatapnya.
“Ayo…!” Alfar berdiri dan mengambil koper kecil yang akan kubawa ke hotel, menyuruhku berganti pakaian dan menunggu di mobil. Alfar melajukan mobilnya dan berhenti di sebuah cafĂ©, di saat seperti ini paling tepat menikmati minuman panas. Sambil menunggu pesanan kami berdua datang, aku menikmati suasana hujan yang membasahi kaca jendela, airnya membasahi kaca jendela dan sedikit berembun, aku menempelkan tanganku merasakan dinginnya yang menembus kaca, entahlah ini memang terlihat biasa tetapi bagiku ada perasaan luar biasa sedang berada di hadapanku, tanpa sadar aku memperhatikan wajahnya yang begitu serius membaca buku yang terletak di rak buku cafĂ©. Mungkin sedikit terlihat bodoh, aku menatapnya sambil tersenyum sendiri, terbawa suasana dengan suguhan romantis musik yang di putar,
Tiba-tiba tatapanku tertangkap basah oleh Alfar yang langsung menutup buku yang dibacanya. Aku cepat-cepat berpura-pura melihat keluar, ia tersenyum meraih tanganku, menggenggamnya erat sambil menatapku dalam seolah ada yang ingin diucapkannya tetapi sulit di sampaikan.
“Aku dengar, kemarin Monica menghampirimu?” Tanya Alfar menatapku yang tertunduk karena tidak harus mengatakan apa.
“Mungkin Monica akan sedikit menganggumu, apalagi kalau sudah tahu hubungan kita…!” ucap Alfar menyakinkan bahwa sudah ada hubungan diantara kami berdua meski ia tidak pernah mengucapkan kata suka atau mencintaiku, tetapi dari caranya yang ingin menjagaku menjadi kesimpulan untuk perasaanku yang memang saat ini jatuh cinta dengannya. Walau terkadang masih ada perasaan takut karena ada halangan yang harus aku hadapi.
“Aku harus kembali bekerja…!” kataku langsung berdiri mengalihkan suasana yang membuatku sedikit canggung.
“Aku sudah memberi tahu Berna dan Hendra untuk menggantikanmu sampai malam ini…!” jelas Alfar ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk lebih dekat denganku. Aku kembali duduk meminum kembali minumanku.
“Aku ingin mengajakmu ke banyak tempat hari ini, tetapi aktifitas kita sedikit terganggu karena hujannya semakin deras…”ujarnya sesekali melihat keluar jendela. Setelah menghabiskan waktu satu setengah jam di cafĂ©, Alfar mengajakku kembali ke mobil.
“sebaiknya kita kembali saja, hujan seperti ini kita mau ke mana?” tanyaku kebingungan, Alfar yang sedang menyetir terlihat kebingunan mencari tempat yang akan di tuju. Alfar lalu berhenti di sebuah toko persiapan.
“Hari ini Ibuku ulang tahun, aku tidak tahu harus membelikannya apa?” Katanya menyuruhku masuk membatunya memilihkan sesuatu sambil mendengarkan cerita mengenai ibunya, aku langsung menunjuk kalung yang menurutku sangat cocok dengan kpribadian ibunya hanya dengan mendengarkan ceritanya. Setelah membelikan hadiah buat ibunya, Alfar kembali mengajakku ke sebuah restoran Jepang yang jaraknya tidak begitu jauh dari hotel.
“Restoran ini di kelola oleh oleh keluarga Yuan dan Fatar…!” katanya, kini Alfar mengenggam tanganku masuk ke tempat itu. Aku berusaha melepas tangannya tapi Alfar bersikeras tidak ingin melepaskannya, ia menarikku masuk ke dalam. Restoran itu hanya buka pada pukul 5 sore.
Terdengar suara tawa saat kami masuk, dari jauh beberapa orang sedang mengobrol tidak lain mereka adalah keluarga Alfar. Yuan dan Fatar yang melihat kami masuk terkejut saat Alfar membawa seorang wanita bersamanya.
“Raya…!!” Ujar Fatar mendekatiku, aku masih berusaha melepaskan tanganku dan berlindung di balik tubuh Alfar.
Semuanya keluarga Alfar berada di situ, tak terkecuali ibunya. Alfar menyuruhku duduk, bergabung dengan mereka. Aku tidak menyangka akan seperti ini. merasakan kecanggungan yang luar biasa. Untung saja keluarga Alfar tidak seperti apa yang aku perkirakan, apalagi mengobrol banyak dengan Ibunya yang sudah setahun ini sudah tidak bisa berjalan lagi dan hanya menggunakan kursi roda, saat berbicara dengannya terkadang dia harus berhenti mengatur nafasnya lalu kembali bercerita mengenai Alfar.
“Ini pertama kalinya dia membawa wanita menemuiku…!”Katanya pelan, sambil memperhatikan Alfar dari kejauhan.
“Dan ini pertama kalinya juga, ia terlihat bebas tersenyum dan menikmatinya kehidupannya, dulu ia begitu sibuk bekerja dan menghabiskan waktunya hanya bekerja. Sebagai ibu aku tidak ingin mengekang pilihannya mencari wanita di cintainya…!!” ujar Ibunya menatapku dengan harapan mungkin akulah satu-satunya wanita yang bisa berada di sisinya.
“Jadi kalian benar-benar udah pacaran…!!” Sahut Yuan menghampiri. Ia duduk di dekatku memperhatikan dengan seksama.
“Aku tidak menyangka Alfar menyimpan perasaannya begitu lama untuk wanita yang baru di temuinya 3 tahun lalu” ujar Yuan membuatnya orang yang berada di sekitarnya kebingungan, dengan semangatnya Yuan menceritakan kejadian pertama kali kami bertemu tanpa memasukkan hal yang paling memalukan yang pernah terjadi padaku.
“Al…!!” ucapku sebelum turun dari mobil. Ini pertama kalinya aku memanggil namanya langsung. Kami sudah berada di parkiran hotel, Alfar mematikan mesin mobilnya. Dia begitu senang saat aku memanggil namanya.
“Aku ingin sekali mendengar kamu memanggilku seperti itu…!”  Alfar kembali meraih tangan kananku, memperhatikan jari-jariku yang pucat karena kedinginan.
“Mungkin ini terlalu cepat bagimu…tapi saat ini aku ingin serius, usia kita berdua bukan lagi saatnya untuk pacaran atau menunggu sampai kita benar-benar cocok tetapi sekarang ini kamu satu-satunya wanita yang ingin nikahi…!” Alfar meraih sesuatu dari kotak yang sejak tadi di bawanya, mengeluarkan sebuah cincin dan memasangkan di jariku. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, begitu tiba-tiba dan tanpa sadar air mataku menetes.
“Saat ini aku melamarmu, meski waktunya tidak tepat dan aku tidak tahu kamu akan menerimanya atau tidak…!” Alfar menghentikan ucapannya saat melihatku air mata membasahi pipiku. Tidak bisa ku pungkiri saat ini aku benar-benar bahagia, aku tidak sempat lagi memikirkan apa yang akan terjadi. Alfar langsung memelukku dengan bahagia yang begitu tampak di wajahnya, meski tidak mengatakan apa-apa ia bisa tahu perasaanku padanya.
“Kamu hanya boleh menangis untukku, takkan kubiarkan kamu menangis untuk orang lain lagi…!!” bisiknya menenangkanku.
Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum masuk ke hotel, berjalan lebih dulu sebelum Alfar masuk. Aku segera menuju ke ruang karyawan, di waktu seperti ini semua staf pasti sedang beres-beres dan bersiap untuk pulang.
“Kamu dari mana aja sih…?” Sambut Berna terlihat begitu lelah setelah menggantikan aku mengerjakan semua pekerjaan hari ini.
“Aku minta maaf, Pak Alfar menyuruhku menemaninya…!” kataku berbohong menggunakan hujan sebagai alasannya. Tapi sebagian dari mereka tidak percaya. Saat yang lain sudah pergi dan hanya beberapa orang yang tinggal yang dekat denganku, dengan rasa penasaran yang tertinggal, tidak lama kemudian Hendra dan Handi juga bergabung. Berna yang dipenuhi rasa penasaran langsung menyuruhku duduk. Masalah seperti ini Berna satu-satunya yang tajam dan tak bisa di bohongi.
“Kalian berdua lagi pacaran kan…!” Tanya Berna langsung tanpa berbelit.
“Jawab aja…kami nggak akan bilang ke lain…!” sahut Jena, ia langsung duduk di sampingku.
“Saat ini, orang-orang sedang membicarakan siapa staf hotel yang sedang dekat dengan Pak Alfar…!!” lanjut Berna duduk tepat di hadapanku.
“Ini Cuma urusan pekerjaan, kalian tahu kan bagaimana sikap pak Alfar! Dia tidak suka jika orang lain mencampuri urusannya…!” jelasku dengan alasan yang kuat.
“Kalian sebaiknya pulang…sebelum hujan semakin deras lagi…!” tambahku, tetapi jawabanku tidak membuat mereka lepas dari rasa penasaran.
“Kalian liatkan…? saat pak Alfar langsung mendatangi kami berdua meminta tolong. Sikapnya tidak seperti yang kita saksikan selama ini, sikap dinginnya itu…!” Tambah Hendra.
“Hari ini hari ulang tahun ibunya…aku di suruh memilihkan hadiah yang tepat” tambahku lagi berdiri meninggalkan mereka.
“Kenapa aku tidak percaya yah…!” timpal Jena berdiri, bersiap untuk pergi.
“Aku minta tolong untuk tidak membicarakan ini saat jam kerja, kalian tahu bagaimana pengaruhnya kepada pak Alfar dan hotel kita” aku menutup pintu kamar, satu persatu sudah pergi meninggalkan ruangan itu. Aku sudah membicarakan masalah ini dengan Alfar dan dia berjanji akan berhati-hati saat bertemu denganku. Kali ini Hendra yang mengambil alih untuk mengurusi keperluan Alfar. Aku hanya bisa melihat Alfar dari kejauhan, seperti saat ini Monica sedang bersamanya, dan kabar yang ramai dibicarakan berubah dengan konsep yang berbeda, kali ini Monica yang jadi pembicaraan mereka. Wanita yang di kabarkan akan menikah dengan Alfar. Kabar seperti itu tidak membuatku goyah dan membuat pikiranku terganggu, hanya saja aku takut semuanya akan berjalan tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Aku terus memegangi jariku melihat cincin yang di berikan Alfar padaku. Semuanya berlalu begitu cepat sembari mengingat kapan perasaan ini mulai tumbuh, kapan aku jatuh cinta dengannya.
“Apa yang kau lakukan?” sahut Alfar tiba-tiba muncul, saat itu aku berada di aula hotel, mengecek kembali persiapan seminar yang akan diadakan.
“Kamu ngapain di sini?” tanyaku terkejut, melihat sekelilingku.
“Aku Cuma sebentar, jangan khawatir…!” katanya meraih tanganku.
“Hari ini aku akan keluar kota selama tiga hari, tadi aku ingin menghubungimu tapi kamu pasti sangat sibuk karena kegiatan yang diadakan di hotel, jadi aku menemuimu langsung” jelas Alfar tersenyum.
“Sebaiknya kamu pergi, nanti ada yang melihat kita…!” kataku khawatir
“Cepat atau lambat mereka juga akan tahu…aku ingin segera melamarmu dengan resmi di depan kedua orang tuamu…!” ujar Alfar duduk di tepi panggung, ia menarikku lebih dekat dengannya.
“Katakan sesuatu Ra…!!jangan membuatku jadi canggung seperti ini” dia menatapku yang sejak tadi gelisah.
“Kita bicarakan ini setelah kamu pulang…!” kataku.
“Hmmm…baiklah!!”Alfar berdiri langsung memelukku.
“Aku akan sering menghubungimu…!” lanjutnya pergi, aku bernafas lega kembali menata meja.

Saat itu Alfar yang baru saja keluar dari ruangan berpapasan dengan Angga yang terlihat terburu-buru mencari seseorang. Ia melihat Angga masuk ke aula dan mengikutinya masuk.
“Ra…” panggil Angga menghampiriku terburu-buru. Ia mengatur nafasnya sebelum bicara.
“Hari ini kamu harus pulang ke Bandung, Riki tadi menghubungimu tapi kamu tidak mengangkatnya…!” Ujar Angga. Riki adalah adik laki-lakiku.
“Ibumu masuk rumah sakit dan ia menyuruhmu datang secepatnya…!” tambahnya langsung membuat tubuhku lemas. Padahal baru kemarin aku dan ibuku mengobrol lewat telepon.
“Aku akan mengantarmu…!” Angga  membantuku berdiri, seolah-olah tubuhku begitu sulit di gerakkan. Entah mengapa perasaan aneh tiba-tiba  menyelimutiku. Selama tiga tahun ini aku memang tidak begitu akrab dengan ibuku sejak aku memutuskan untuk membatalkan pernikahanku dengan Angga.
“Aku yang akan mengantarnya…!” Alfar meraih tanganku menggantikan Angga.
“Ini tidak ada urusannya denganmu…!” Angga menepis tangan Alfar.
“Aku harus pulang sekarang…!” kataku melepaskan tangan mereka.
“Aku pacarnya…!” Alfar mengejar menemaniku mengambil barang-barangku sedangkan Angga yang tidak bisa melakukan apa-apa menunggu kami turun. Alfar yang hari itu akan keluar kota terpaksa menyuruh pak Gani menggantikannya dan ikut menemaniku.  Selama satu jam menempuh perjalanan dengan pesawat dan setengah jam menggunakan mobil kami sudah tiba di rumah orang tuaku. Saat aku turun dari mobil keadaan rumah begitu ramai, kain putih terpasang tepat di depan gerbang. Ayahku yang sejak tadi menunggu di pintu menyambutku dengan wajah kesedihan dan air mata. Ibuku telah meninggal sebelum aku sempat melihatnya, sebelum dia memberikan maafnya padaku. Hanya perasaan menyesal yang ditinggalkannya padaku, rasa bersalah yang begitu besar. Aku menatap jasad ibuku yang terbaring kaku tertutup kain putih, memperhatikan wajahnya yang pucat. Kemarin baru saja ia meneleponku menyuruhku datang menghadiri wisuda Riki. Tapi setelah aku datang kenapa hanya tubuhnya yang tak bernyawa menyambutku. Aku menumpahkan air mataku dengan diam terus meminta maaf di depan jasad ibuku, bahkan setelah dikuburkan aku masih terus diam dengan tatapan kosong tanpa menyentuh makananku.
“Sebelum ibu meninggal dia terus menyebut namamu dan ingin meminta maaf padamu…!” Sahut Riki menghampiriku, ia memegangi pundakku menepuknya berulang kali.
“Ayah juga akan sedih melihatmu seperti ini…!!” hiburnya, aku melihat ayah dari kejauhan yang sedang berbicara dengan Angga dan Alfar. Wajahnya yang sudah menua terlihat sedih tersembunyi di balik senyumnya.
“Seharian ini kamu belum pernah makan sesuatu…!” Alfar menghampiriku dengan membawa  beberapa makanan, aku hampir lupa dengan keberadaan mereka berdua. Alfar dan Angga yang ngotot menemaniku.
“sebaiknya kalian berdua kembali…!” kataku.
“Aku akan menemanimu di sini…!” Ujar Alfar duduk di sampingku sambil menyuapiku.
“Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu…!”.
“Aku sudah menyerahkan kepada pak Gani…!” Singkatnya. Angga sejak tadi sudah pergi karena ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
Pagi menjelang, tidak seperti biasanya aku bangun di saat matahari semakin tinggi, aku memperhatikan foto ibuku yang terpajang di ruang tamu, mataku mengitari semua ruangan mengingat banyak kenangan yang terjadi di rumah kecil kami. Tempat tinggal keluargaku memang jauh dari kota, jalananya masih sangat berbatu dan persawahan menyambut kami saat datang ke kampung halamanku.
“Kapan kalian akan menikah?” Tanya Ayahku, aku langsung duduk di dekatnya, Riki dan Alfar sedang mengobrol di teras depan.
“Menikah?” kataku terkejut saat kata-kata itu terlontar dari mulut Ayah.
“Semalam saat kamu sudah tidur, Alfar mengatakan semuanya padaku. Dia ingin segera menikah denganmu dan meminta izin pada Ayah…!”
“Awalnya Ayah terkejut saat mendengarnya langsung, meski belum begitu mengenalnya, Ayah bisa tahu kalau pria itu benar-benar mencintaimu..!” Ayah langsung memegang tanganku.
“Ayah hanya ingin kamu dan Riki bahagia, Ayah sudah tua untuk mengatur kehidupan kalian, jadi untuk itu, ayah akan sangat bahagia bisa melihatmu segera menikah…!” jelas Ayah.
“Kalian bisa menikah saat wisudaku minggu depan…!” tambah Riki datang bersama dengan Alfar. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, meski waktunya yang kurang tepat aku bisa memahami kekhawatiran Ayahku. Sore ini aku juga harus kembali bersama Alfar. Riki dan Ayah akan menyusulku beberapa hari kemudian. Hari itu kami tidak langsung ke hotel, Alfar mengajakku ke rumahnya.
“Kenapa bukan besok aja…!” kataku turun dari mobil.
“Ibuku mintanya hari ini…!” katanya menuntunku masuk, kali ini Alfar memperkenalkanku kepada seluruh keluarganya, aku tidak menyangka mereka begitu baik dan tidak memandangku dari segi pekerjaanku yang hanya bekerja sebagai staf hotel. Awalnya aku berpikir keluarga Alfar akan memandangku sebelah mata tetapi itu tidak seperti apa yang aku bayangkan, mereka begitu terbuka menerima kehadiranku.
Dari balik pintu Monica yang tidak tahu apa-apa menghampiri Alfar yang sedang duduk bersamaku. Ia begitu marah saat tahu Alfar akan segera menikah.
“Dengan wanita ini…?” tunjuk Monica.
“Tante sudah berjanji kalau Alfar yang akan menikah denganku…!” Kini kemarahan Monica mengarah kepada ibu Alfar.
“Sebaiknya kita berjalan di luar…!”.
“Tante sudah bilang, ini bukan keputusan yang harus kita buat secara sepihak…!” ujar Ibu Alfar berusaha menjelaskan. Monica tidak bisa lagi menahan dirinya.
“Tante berjanji akan mengusahakannya kan…! Aku tidak akan mengizinkan mereka berdua menikah…!” Monica menghampiriku menarik tangan menyuruhku pergi.
“Kamu gila yah…!” Ibu Alfar berusaha menenangkan Monica tetapi dia tidak bisa mengendalikan kemarahannya.
“ Aku tidak akan membiarkan kalian berdua bahagia…!” dengan kemarahannya, Monica memecahkan vas bunga menutup pintu dengan keras lalu pergi.
“Gadis itu tidak pernah berubah…kami sangat bersyukur karena kami tidak memilih wanita itu” Sahut salah satu keluarga Alfar. Setelah pertemuan hari itu aku lebih banyak diam, aku khawatir Monica akan berbuat macam-macam. Meski Alfar terus menasehatiku untuk tidak mengkhawatirkannya, tetapi entah mengapa ada perasaan yang terus mengangguku.

Berita tentang pernikahan Alfar menjadi bahan perguncingan di antara staf dan karyawan hotel. Mereka sibuk membicarakan siapa wanita yang akan beruntung menjadi pendampingnya, sebagian dari mereka malah menjadikan harinya sebagai hari patah hati. Aku sedikit merasa bersalah dengan mereka yang dekat dengan denganku selama tiga tahun ini. Saat mereka semua berkumpul di ruang ganti.
“Ada yang ingin aku katakan kepada kalian…!” kataku membuat mereka semuanya terdiam.
“Aku yakin kamu satu-satunya tahu siapa yang akan menikah dengan Alfar kan…!!” Berna menimpali. Aku terdiam sebelum melanjutkan pembicaraanku. Aku tidak tahu harus memulai dari mana mengatakannya.
“Kamu…??” sahut Jena tidak percaya. Aku menggangguk menundukkan kepalaku, Berna merangkulku memberikan selamat berulang kali.
Berita itu dengan cepat tersebar, aku lebih banyak menghabiskan waktuku di ruang kerja membantu pak Gani, itu sengaja aku lakukan untuk menghindari membicaraan mereka. Kontrakku yang selama lima tahun terpaksa aku percepat sampai bulan depan.

15 Desember 2017 dan itu tiga hari lagi sebelum pernikahan kami dilaksanakan. Aku tidak begitu sibuk mengurus semuanya, karena keluarga Alfarlah yang mengurus semuanya. Terutama ibunya. Dia yang memilihkan gaun yang akan aku kenakan saat pesta nanti. Pesta pernikahan akan diadakan di hotel. Satu persatu keluarga Alfar meninggalkan kamar hotel, sejak pagi sampai sore ini ruangan yang biasa di gunakan oleh Alfar menjadi begitu ramai. Aku merapikan ruangan Alfar yang begitu berantakan.
“Seharusnya kamu memanggil Hendra atau Jena yang membersihkannya…!” ujar Alfar yang baru tiba, ia menghampiriku di dapur.
“Ini nggak banyak kok..!” kataku. Tiba-tiba Alfar dari belakang memelukku, melingkarkan kedua tangannya menaruh dagunya di bahuku.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku mencintaimu…!! Aku minta maaf baru mengatakannya sekarang…!” ujar Alfar
“Kau sudah melihat gaun yang di bawa ibu…!!” Aku berjalan menuju kamar, memperlihatkannya pada Alfar.
“Ini sangat cantik…!” Alfar kembali memelukku.
“Kamu kenapa sih?” tanyaku heran, tidak seperti biasanya Alfar bersikap seperti ini padaku.
“Emang nggak boleh yah…!” Alfar memegangi kedua pipiku, tersenyum lalu mencium keningku begitu lama.
“Aku mandi dulu…!” katanya, ia menyuruhku menunggunya di luar.
Beberapa menit kemudian, Alfar keluar dengan hanya menggunakan celana pendek dan kaos tanpa lengan, rambutnya masih basah. Entah mengapa melihat Alfar seperti itu membuatku jantungku berdetak tidak karuan.
“Malam ini kamu nginap di sini aja…!” Alfar menatapku serius.
“Menginap… Kita berdua!!” ucapku terkejut.
“Iya…jangan pikir macam-macam…aku akan tidur di sini dan kamu di kamar” lanjut Alfar membaca raut wajahku. Kami banyak menghabiskan waktu mengobrol sambil menonton tv, banyak hal yang belum aku ketahui tentangnya begitupun sebaliknya. Kami banyak berbagi cerita sampai kami tak sadar jam telah menunjukkan pukul 10 malam.
“Kamu nggak ngantuk?” Tanya Alfar yang berbaring di sampingku melihatku beberapa kali menguap. Alfar lalu membantuku berdiri mendorong pelan punggungku masuk ke kamar menyelimutiku dengan selimut.
“Al…!” Panggilku.
“Ada apa?” Alfar duduk di samping tempat tidur mengusap rambut dan pipiku bergantian. Aku tidak tahu mengapa perasaanku saat itu tidak ingin berada jauh dari Alfar, antara sadar dan mengantuk, aku meminta Alfar berbaring di sampingku. Aku menutup kedua mataku sambil terus memegangi tangan Alfar, wajah kami begitu berdekatan hingga nafasnya kurasakan di pipiku.
“Ra…!” bisik Alfar, aku membuka mataku. Mataku sedikit berat menahan kantuk tapi aku juga tidak bisa tidur memikirkan Alfar yang berada di sampingku. Alfar menatapku begitu dekat perlahan mendekatkan wajahnya. Jantungku berdetak lebih kencang, darahku seolah mengalir lebih deras dan siap meledak. Aku menutup mataku saat Alfar menciumku, cukup lama sampai akhirnya Alfar melepaskan pelukannya.
“Aku tidak akan melakukannya sebelum kita menikah…!” bisik Alfar melap bibirku yang basah.
“Tidurlah…!” katanya lagi menyelimutiku dan keluar kamar menutup pintu. Alfar menarik nafas menenangkan dirinya, ia kembali memakainya bajunya sambil tersenyum sendiri mengingat apa yang baru saja terjadi.

Pagi menjelang begitu cepat, jam 10 kami akan berdua akan berangkat ke sebuah mesjid besar yang berada tidak jauh dari hotel, di sana Ijab Qabul akan di laksanakan dan malam ini resepsi pernikahan akan di adakan di hotel. Waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi, aku terbangun seolah-olah mimpi buruk membangunkanku. Aku melangkah keluar kamar  mendapat Alfar yang masih tertidur. Mengingat kejadian tadi malam membuatku begitu malu. Aku menghampiri Alfar, menatap wajahnya yang  tertidur. Entah mengapa aku masih merindukannya meski dia begitu dekat denganku.
“Kamu sudah bangun…!” Sahut Alfar membuka matanya, ia menarik tanganku duduk di sampingnya.
“Berbaringlah…!” lanjut Alfar merenggankannya lengannya agar aku bisa berbaring.
“Aku minta maaf soal apa yang terjadi tadi malam…!” ucap Alfar sedikit membuatku malu.
“Nggak usah di bahas…!” kataku, Alfar sedikit menyembunyikan tawanya.
Setelah semuanya siap Alfar bersama Ayah dan Riki berangkat lebih dulu, sedangkan aku masih menunggu di kamar di temani oleh teman-teman staf.
Selama di mobil aku terus gelisah menggenggam tanganku. Berna terus menghiburku dengan candaannya. Setibanya di sana, Ibu Alfar menyambutku lebih dulu, ia memelukku dan mencium kedua pipiku. Alfar sejak tadi gugup menungguku. Ia duduk tepat di hadapan penghulu. Ia bertambah gugup saat melihatku datang.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, saat semuanya berkata sah, Alfar bisa bernafas lega saat semuanya selesai. Ayahku tersenyum begitu bahagia melihat putri satu-satunya menikah.
“Kalian sebaiknya kembali ke hotel beristirahat…!Ayahmu dan Riki akan pulang bersama kami…!” ujar Ibu Alfar.
“Kalian harus beristirahat sebelum pesta nanti malam…!” Tambah Yuan membuka pintu mobil, dia dan Fatar yang akan membawa kami kembali ke hotel. Aku begitu terkejut saat tiba di hotel, semua karyawan dan staf menyambut kedatangan kami, memberikan selamat  dan hadiah. Sampai di kamar hotel tempat Alfar, Berna dan yang lainnya memberikan kami kejutan berupa kue yang cukup besar. Saat kami masuk ke kamar tanpa sepengetahuan kami, mereka merenovasi kamar dan merubahnya menjadi kamar pengantin.
“Kapan mereka melakukan ini?” kataku, entah ada berapa bunga yang ada di kamar ini, dan semuanya hampir bunga asli, sehingga baunya begitu wangi.
Setelah mengganti pakaianku, aku duduk di sofa rasanya sedikit canggung bersama Alfar meski kami berdua telah menikah.
“Tadi aku memesan makan siang, sebentar lagi Hendra datang membawanya…!” sahut Alfar yang juga sudah berganti pakaian. Tapi kali ini Alfar hanya menggunakan celana panjang tanpa memakai baju. Ia menghampiriku membawa segelas jus apel yang baru saja di buatnya.
“Minumlah…!” katanya duduk di sampingku. Setelah meminumnya Alfar menatapku lebih dekat menanyakan bagaimana rasa jus apel buatannya sendiri.
“Ini enak…cobalah!!” ujarku meminumnya sekali lagi lalu memberikan kepada Alfar. Ia mengambilnya dari tanganku dan masih terus menatapku, Alfar meletakkannya di meja. Alfar mendekatkan wajahnya menciumku secara tiba-tiba.
“Rasanya manis…!” bisik Alfar kembali menciumku, begitu lama hingga perasaanku berbaur dengan perasaannya.
Suara bel membangunkan Alfar, dan aku masih tertidur saat itu. Yuan dan Fatar masuk.
“Yah…! Kalian melakukannya di siang hari…!” oceh Yuan saat melihat Alfar hanya menggunakan handuk.
“Padahal kami ingin memberikan tiket perjalanan bulan madu untuk kalian berdua…” ujar Fatar menaruhnya di meja lalu pergi.
“Bagaimana…?” goda Yuan
“Bagaimana apa sih?”
“Nggak usah pura-pura nggak ngerti deh…!kalian melakukannya di siang hari dan itu sedikit tidak menyenangkan…!! Ini buatmu…!” Tambah yuan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Yuan tertawa melihat raut Alfar saat mengetahui pil yang diberikan Yuan padanya. Ia cepat-cepat keluar dari kamar dan menutupnya.
Pesta sudah hampir di mulai, tamu mulai berdatangan dan aku sedikit kelelahan dengan gaun yang terasa berat dan ketat di tubuhku di tambah lagi kakiku mulai kesakitan karena sejak tadi memakai high heels. Aku pamit sebentar ke Wc, untung saja Berna datang melihatku yang sejak tadi gelisah. Dia membantuku ke kamar mandi dan mengganti sepatu yang aku gunakan. Hpku tiba-tiba berdering, satu panggilan dari nomor yang tidak ku kenal, aku langsung mengangkatnya. Aku terkejut saat mengetahui orang yang menghubungiku adalah Monica.
“Ada apa?” Tanya Berna.
“Monica…! Sepertinya dia mau minta maaf dan ingin bicara sesuatu padaku…!” jelasku, Berna buru-buru kembali ke aula. Aku masih berbicara dengan Monica. Dia memintaku menemuinya di lobi. Awalnya aku menolak tetapi karena mendengar nada suaranya yang begitu tulus memohon untuk menemuinya. Aku segera menuju lift sambil mengangkat gaunku yang agak panjang. Aku mencari Monica yang katanya menungguku di lobi, tapi sejak tadi aku tidak melihat Monica, tidak lama hpku kembali berdering, ia menyuruhku ke parkiran menemuinya. Tidak begitu jauh Monica melambaikan tangan padaku. Aku segera menghampirinya tanpa curiga sedikitpun, setelah memastikkan tak ada satupun yang melihat kami, tiba-tiba dua orang laki-laki mendorong tubuhku masuk ke dalam mobil. Aku meronta sekuatnya dan berusaha berteriak tapi dengan cepat kedua laki-laki itu menutup mulutku dengan kain, mengikat kedua tangan dan kakiku.
“Dasar wanita bodoh…!” gertak Monica yang duduk di depan, dia terlihat aneh dengan penampilannya yang agak  berantakan, bau aneh begitu menyengat masuk ke hidungku, aku tidak tahu harus melakukan apa, aku tidak cukup kuat meronta meski beberapa kali aku berusaha untuk melawan. Aku bisa melihat bahwa saat ini Monica sedang mabuk, dan di bawah pengaruh obat-obatan.
Aku terus menangis, tubuhku begitu lelah karena sejak tadi terus melawan, tapi ada yang bisa aku lakukan. Kedua laki-laki itu membawaku ke suatu tempat yang agak jauh dari keramaian, sebuah gedung tua berlantai tiga. Mereka melempar tubuhku tepat di pinggir gedung. Aku tidak bisa melihat apa yang ada di bawah sana, semuanya terlihat begitu gelap, aku menangis sejadi-jadinya, berpikir bahwa ini adalah akhir dari hidupku. Monica menyuruh kedua laki-laki itu pergi dan hanya kami berdua di atap gedung, suara angin  berhembus begitu dingin menusuk sampai ketulang. Bunyi gesekan ranting yang tertiup angin menutupi suara tangisku, gaun putih yang kugunakan terlihat begitu kotor dan sobek. Monica tertawa keras diiringi gerimis yang menimpa wajahnya yang terlihat begitu menakutkan. Ia menghampiriku melihat kasihan dengan tertawa.
“Aku sudah bilang, Alfar itu milikku, tidak ada yang bisa memilikinya kecuali aku, untuk itu aku akan menyingkirkanmu dari kehidupannya…!” Monica berjongkok di hadapanku, mengeluarkan beberapa obat, membuka penutup mulutku, aku semakin meronta berusaha melepaskan diri, Monica membuka paksa mulutku, ia memasukkan beberapa obat ke dalam tenggorokanku dengan paksa, lalu kembali menutup mulutku.
“Itu sejenis obat yang akan membuatmu melayang…!!” Monica kembali tertawa sambil melepas ikatan yang ada di kakiku, obat itu tiba-tiba membuat kepalaku pusing, aku berusaha melarikan diri tetapi tangan Monica menarikku. Angin bertiup begitu kencang saat aku berusaha melepas tangannya, tetapi pengaruh obat yang diberikan Monica membuat sekujur tubuhku panas, tanpa sadar kakiku terus melangkah  mundur, tanpa tahu apa yang ada di belakangku. Tiba-tiba pijakan kaki begitu ringan, saat itu dengan kedua tangan terikat dan mulut tertutup aku jatuh dari atap gedung yang tingginya hampir 50 meter. Aku tidak merasakan apa-apa lagi, sekujur tubuhku begitu dingin. Aku sudah melupakan semuanya, bahkan diriku, aku tidak ingin siapa aku dan apa yang aku lakukan, hanya kegelapan yang aku lihat sampai kedua mataku tertutup.
Monica sangat terkejut saat melihat tubuh Raya jatuh, ia tidak bisa melihat tubuh dari atap gedung, ia tidak pernah bermaksud untuk membunuhnya, Monica hanya menaku-nakuti gadis itu, Monica berlari ketakutan menuju kemobil, ia melajukan mobilnya pulang, membereskan semua barangnya dan membeli tiket penerbangan ke Eropa. Ia berusaha melarikan diri karena ketakutannya.

Sementara itu di hotel, pesta hampir selesai dan tamu satu-persatu meninggalkan acara itu, sejak tadi Alfar merasa gelisah karena belum mendapat kabar dari Raya, hampir semua staf yang ada di hotel mencari keberadaan Raya yang tiba-tiba menghilang, bahkan hpnya tidak di angkat. Setelah semua tamu pergi, Alfar menghampiri Yuan.
“Dia tidak mengangkatnya…!!” Yuan masih terus menghubungi Raya.
“Berna mana?” ujar Alfar berusaha menenangkan dirinya yang begitu khawatir.
“Aku meninggalkannya di kamar mandi saat dia menerima telepon…!” Ujar Berna mencoba mengingat, karena dialah yang terakhir bersamanya. Angga yang juga berada di pesta itu menghampiri Alfar yang terlihat aneh.
“Apa yang terjadi?” Tanyanya, Fatar menjelaskannya dengan singkat.
“Aku melihatnya di lobi beberapa saat yang lalu, kami berpapasan di lift, aku baru ingin menyapanya tapi dia terlihat begitu terburu-buru…!” pernyataan Angga menambah kekhawatiran Alfar.
“Karena hpnya masih menyala, kita bisa melacaknya lokasi keberadaan Raya…!” pikir Fatar, Yuan mengaktifkan lokasinya dan mencari keberadaan Raya dengan melacak hpnya. Hanya beberapa menit Yuan mendapatkan lokasinya. Ia terkejut saat melihat lokasi yang di dapatkannya, jaraknya sekitar tujuh kilometer dan itu berada di daerah hutan lindung.
“Mengapa dia bisa sampai di tempat sejauh itu…!” ujar Yuan, Alfar tanpa berpikir lagi ia segera ke mobil di ikuti oleh beberapa orang, Yuan juga sudah meminta tolong kepada temannya yang bekerja di kepolisian untuk membantu mereka, hanya berjaga-jaga apabila sesuatu terjadi. Untung saja kendaraan malam itu tidak begitu ramai, Alfar melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia juga harus hati-hati karena gerimis sedikit membuat jalanan agak basah dan licin.
Mereka juga meminta polisi kehutanan yang bertugas membantu mereka mencari, cukup sulit menemukannya jika hutannya seluas ini. Alfar berlari masuk di susul beberapa orang mengikutinya, pikirannya begitu kacau ia tidak memikirkan apa-apa lagi kecuali bisa menemukan keberadaan Raya. Hampir setengah jam mencari, Angga yang memiliki insting yang tajam menyuruh semuanya diam, ia meminta Yuan untuk terus menghubungi hp Raya, ia melangkah pelan mencari asal suara yang sejak tadi di dengarnya begitu samar, perlahan mendekat sampai akhirnya suara itu semakin  jelas.
“Ini hp Raya…mungkin ia tidak jauh dari sini…!” Alfar memungut hp itu,tepat di depan gerbang gedung yang tidak terpakai. Mereka semuanya mencari dan menelusuri semua gedung. Tidak begitu lama seseorang berteriak menemukan seseorang, mereka semua berlari menghampiri asal suara itu. Yuan langsung menarik Alfar untuk tidak mendekat, Fatar langsung menghubungi rumah sakit dan ambulans.
“Alfar menjerit saat melihat tubuh Raya terbaring mengenaskan dengan kondisi yang begitu parah, ia berusaha mendekati Raya tetapi Yuan dan Angga menahannya. Ia menjerit dengan tangisan kemarahannya, tapi ia tidak punya kekuatan lagi saat melihat kondisi tubuh istrinya.
“Ambulans sedang dalam perjalanan, Raya…masih hidup tetapi denyut nadinya makin melemah, jika kita terlambat sedikit saja…!” Fatar tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Beberapa saat kemudian mobil ambulans membawa Raya, Alfar masih belum bisa melihat wajah istrinya meski ia ingin sekali melihatnya sebentar. Yuan mengikuti mobil Ambulans melaju begitu cepat. Meja operasi sudah di siapkan saat beberapa dokter menunggu di UGD. Entah beberapa jam telah berlalu, Alfar masih duduk menunggu di depan ruang operasi. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul 7 pagi, ia langsung berdiri saat seorang dokter menggeser pintu. Lampu peringatan operasi telah selesai di matikan, tidak lama kemudian beberapa dokter ikut menyusul  dan perawat mendorong pasien keluar dari ruang operasi membawanya kembali ke UGD.
“Aku ingin bicara dengan keluarganya…!” ujar dokter yang baru saja menangani Raya.
“Aku suaminya…!” Alfar akhirnya mengikuti dokter itu masuk keruangannya.
“Dia baik-baik saja kan dok…!”tanyaku.
Dokter itu menjelaskan semua apa yang terjadi pada Raya, kemungkinan selamat dan hidup Raya hanya 20%, kepalanya terbentur cukup keras sehingga perlu di operasi dan untung saja saat Raya jatuh, gaunnya tersangkut di pohon dan itu sedikit mengurangi resiko jatuhnya semakin keras saat membentur tembok. Tulang lengan kirinya agak bergeser keluar, sedangkan kaki kirinya patah sehingga kemungkinan besar harus menjalankan terapi pemulihan tulang agar bisa berjalan normal kembali. Kemungkinan besar pasien juga akan sedikit mengalami trauma. Satu hal lagi yang membuat Alfar terkejut, saat mendengar dokter menemukan sepuluh butir obat penenang yang membuatnya overdosis. Mendengar semua penjelasan dokter, Alfar keluar dari ruangan, semua keluarganya menunggu Alfar mereka ingin mendengar bagaimana kondisi Raya. Ayahnya hanya bisa pasrah dan berdoa saat mendengar kondisi putrinya. Setelah tiga jam, Raya akhirnya di pindahkan.
Sementara itu di luar kamar rumah sakit, semua teman-teman Raya dan keluarganya masih berkumpul di luar, meski mereka tidak perbolehkan masuk. Pihak dari kepolisian sementara ini mencari orang yang menjadi dalang semuanya, untuk sementara ini Monica adalah satu-satunya orang yang di curigai karena kesaksian Berna yang sempat mendengar Raya di hubungi oleh seseorang bernama Monica meminta Raya menemuinya malam itu juga.
“Monica menghilang, bahkan orang tuanya tidak tahu ia di mana…!” kata polisi yang baru saja tiba. Mereka tinggal menunggu orang tua Monica menghubungi. Setelah beberapa hari mencari keberadaan Monica yang ternyata saat ini berada di Jepang. Awalnya Monica terbang ke Eropa lalu dua hari kemudian ia mengambil penerbangan ke Jepang bersembunyi di rumah adik tirinya.
Untuk memancing Monica kembali ke Indonesia kedua orang tuanya sengaja membohonginya melalui Alfar. Mendengar nama Monica membuat Alfar semakin geram. Kenapa tidak gara-gara kelakuan Monica ia hampir membunuh seseorang yang sangat dicintainya. Saat itu Alfar sendiri yang datang menjemput Monica di bandara, ia menahan kemarahanya melihat Monica dari kejauhan tersenyum melambai tanpa berdosa.
“Aku turut berduka…!” Ujar Monica saat mendengar Alfar berbohong mengatakan Raya telah meninggal. Ia lega mendengar kabar itu, karena dengan begitu takkan ada yang tahu. Ia bisa memiliki Alfar tanpa ada yang menghalanginya.
“Kita mau kemana?” Tanya Monica saat mereka melewati hotel, Alfar sejak tadi diam. Ia merasa ada yang aneh saat mobil Alfar menuju masuk ke rumah sakit, Alfar menarik paksa Monica turun dari mobil dan membawanya masuk.
“Kamu kenapa sih?” Tanya Monica, mencoba menahan Alfar. Ketika mereka tiba di depan kamar tempat Raya. Orang tuanya menunggu tidak percaya dengan kelakukan berani putrinya, dari kejauhan Monica menahan tubuhnya dari Alfar yang berusaha menariknya. Ia langsung ketakutan saat melihat dua orang polisi berdiri.
“Aku tidak bermaksud membunuhnya…dia sendiri yang menjatuhkan tubuhnya di gedung itu…!” tanpa sadar Monica mengatakan semuanya, Alfar memperlihatkan kondisi Raya langsung di depan matanya.
“Lihat apa yang kamu lakukan…!” Alfar dengan penuh kemarahan berusaha menahan gejolak amarahnya. Monica menangis menjerit meminta maaf kepada Raya dan Alfar tetapi semuanya sudah terjadi. Polisi langsung membawa Monica ke kantor polisi diikuti kedua orang tuanya yang juga sangat bersalah kepada keluarga Alfar. Sudah tiga hari berlalu kondisi Raya belum stabil, Alfar hampir tidak pernah meninggalkan Raya sendirian. Dokter kembali memeriksa keadaan Raya, kini jawaban mengejutkan dari beberapa dokter yang memeriksanya membuat Alfar begitu sulit bernafas.
“Saat ini kondisi tubuhnya mulai membaik, detak jantungnya kembali normal dan saraf di otaknya sudah mulai merespon, hanya saja…!” Ucapan dokter Kelvin terputus saat dokter Fera yang merupakan dokter psikolog melanjutkan penjelasan dokter Kelvin. Dokter fera salah satu dokter wanita satu-satunya di Indonesia yang merupakan ahli dalam memeriksa statistik denyut membaca perkembangan otak, hati dan jantungya saat pasien mengalami koma yang cukup lama.
“Kondisi pasien secara fisik cukup baik, tapi pasien saat ini berusaha melawan kejadian buruk yang menimpanya, saat sebelum kejadian dia jatuh, pasien sudah menghapus semua kenangan di hidupnya. Ia tidak lagi ingat siapa dan di mana dirinya berada, pasien saat ini mengalami trauma berat, dalam pikirannya ia mengganggap dirinya sudah mati. Pasien tidak punya kekuatan untuk kembali ke kehidupannya…!” jelasnya.
“Mungkin bagi sebagian orang tidak akan percaya dengan apa yang kukatakan, ini masalah jiwa seseorang yang sedang terperangkap dalam mimpinya. Sehingga kecil kemungkinan dia saat ini berusaha pergi, dengan kata lain meninggal, tapi…!!” putus dokter Fera sebelum mengakhiri penjelasannya, ia memberikan solusi terbaik kepada Alfar.
“Jangan pernah putus asa dan bosan berada di sampingnya, terus ajak dia bicara ceitakan banyak hal padanya, aku yakin meski ia tidak sadar. Ia pasti mendengar orang-orang yang mencintainya sedang menunggunya kembali dan jangan tunjukkan kesedihan di dekatnya karena itu tidak baik untuk kondisi pasien” Jelas dokter Fera pergi. Alfar melangkah masuk kembali ke kamar tempat Raya, semangatnya seperti menghilang begitu saja, tubuhnya seolah terseret tanpa daya dan begitu berat. Mengapa ia harus mengalami kejadian seperti ini saat sudah menemukan kebahagian dalam hidupnya. Ia tidak tahu harus menyalakan siapa, ia hanya bisa pasrah dan berdoa, ia yakin bahwa Allah sedang mengujinya, bukti jika Allah menyayanginya.
Alfar kembali ke aktifitasnya seperti biasa, bekerja menyibukkan dirinya, usai bekerja ia selalu ke rumah sakit menjaga istrinya tanpa lelah, Alfar mendapatkan begitu banyak semangat dari orang-orang yang berada di sekitarnya.
Sudah dua bulan berlalu, selang oksigen masih membantu pernafasan Raya, Alfar yang saat itu berbaring di samping Raya, terkejut saat melihat jari-jarinya bergerak perlahan, ia bisa merasakan nafas Raya berhembus kuat. Ia segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisinya. Dokter yang merawat Raya merasa senang saat mengetahui kondisi pasiennya membaik, dia terbangun dari tidur panjangnya selama dua bulan, Raya membuka matanya meski belum bisa berbicara.
“Aku punya kabar baik buat kalian…!!” kata salah satu dokter yang memeriksa Raya. Ia keluar dengan dua orang perawat, ini pertama kalinya dokter itu datang memeriksa kondisi Raya atas permintaan dokter Kelvin.
“Awalnya aku sedikit tidak yakin, dan meminta tolong kepada dokter Fausiah yang merupakan dokter kandungan dan memeriksa detak jantungnya kembali…!” ujar dokter Kelvin.
“Dia sedang hamil, janinnya berumur 3 minggu…!” Ucapan dokter Fausiah membuat semuanya terkejut.
“Wah…kalian hanya melakukan sekali dan berhasil…!” kini Yuan setengah mengejek pada Alfar yang terlihat salah tingkah dan langsung masuk menemui Raya.
“Apa maksudmu?” tiba-tiba Riki yang tidak tahu apa-apa menimpali.
“Kamu tidak perlu tahu…!” Yuan langsung pergi menyusul Alfar masuk. tak terkecuali ibunya yang begitu bahagia melihat kondisi Raya yang semakin hari semakin membaik, bahkan ia sudah bisa menggerakkan tubuhnya dan duduk di kursi roda. Sedikit demi sedikit Raya mulai berbicara sambil menjalankan terapi pemulihan tulang selama sebulan.

Hari ini aku bisa keluar dan kembali ke rumah, meski harus rutin memeriksakan keadaanku, aku begitu senang karena bisa bisa menghirup udara selain udara rumah sakit. Aku memegangi perutku, kebahagianku bertambah saat tahu aku sedang hamil. Begitu pula dengan Alfar ia tidak berhenti memastikan kondisiku. Bahkan ia selalu berusaha untuk membuatku lupa apa yang terjadi.
Seiring waktu berlalu begitu cepat, mungkin bagiku masa lalu yang telah berlalu menjadi pelajaran bagi semua orang, tetapi bagiku itu semua adalah kenangan yang ingin kupotong dan kuhilangkan. Aku tidak ingin menaruh dendam karena itu akan membuatku sama seperti mereka. Biarkan semuanya kembali kepada tempatnya, karena tidak mungkin kebahagian kita di miliki orang lain.

THE END
11 Oktober 2017







Tidak ada komentar:

Posting Komentar