My Boss Love
Saat khayalanku terhalang oleh
pengkhianatan waktu, cinta dan dirimu yang menjebakku dalam perasaan semumu
bahwa ku tahu dulu aku pernah merasakan indahnya perasaan di cintai, di sayangi
dan di jadikan wanita yang berharga dalam hatimu. Itu dulu saat kau masih
menjadi milikmu dan saat ini tiga tahun berlalu perasaanku pun ikut perlahan
menghilang, butuh berbulan-bulan bagiku untuk melepasnya, merelakannya untuk
orang lain yang begitu dekatku, mengkhianatiku tanpa rasa bersalah.
Pagi begitu hangat saat matahari
sedikit menyapaku dari singgasananya, hari ini tepat ulang tahunku yang ke 28
tapi tak yang ada yang special kecuali ucapan kecil dari keluarga dan
teman-teman kerjaku di hotel. Sudah setahun lebih aku bekerja di hotel
berbintang lima ini, dan tidak lama bagiku untuk beradaptasi dengan mereka
setelah kepindahanku dari Surabaya selama dua tahun aku bekerja di sebuah
resort sebagai pelayan. Tidak lama
setelah itu tante Yuni menyuruhku
mengisi lowongan staff hotel di tempatnya, ia bekerja sebagai manajer
perhotelan dan begitu mudah bagiku untuk mengisi pekerjaan yang kosong
itu.Hanya beberapa bulan setelah itu aku di percaya oleh tante Yuni untuk
mengurusi pelayanan kamar tamu VVIP sebagai ketua manajamen pelayanan tamu,
sebanyak 50 lebih pegawai berada dalam pengawasanku, dengan sikap tegas dan
teliti yang ku miliki membuat teman-teman yang lain tanpa ragu memilihku
bertanggung jawab kepada tamu VVIP yang kadang menjengkelkan harus menuruti
kemauan mereka. Bagiku butuh kesabaran yang lebih untuk menghadapi orang-orang
seperti itu, karena kebersihan dan memperlakukan mereka seperti raja adalah hal
yang paling berharga dalam kamus pekerjaanku dan beginilah caraku untuk
mencintai pekerjaanku.Waktu menunjukkan pukul 11 malam, setelah pegawai lain
selesai melakukan pekerjaannya, aku beranjak menuju keruangan pegawai
beristirahat, setiap hari minggu aku bisa pulang kerumah, tetapi karena jarak
begitu jauh dari tempatku bekerja, aku memutuskan untuk menyewa kamar kecil
yang jaraknya tak begitu jauh dari hotel karena aku tidak lebih banyak
menghabiskan waktuku di tempat kerja dan sisanya aku diizinkan tinggal di ruang
istirahat pegawai, sangat jarang dan hanya beberapa orang yang menggunakan
ruangan ini sehingga leluasa bagiku menempati tempat ini.
Sebelum merebahkan tubuhku, aku
menarik gorden yang berada tepat di sampingku, pemandangan terpampang indah di
depanku, seperti sebuah lukisan besar yang hidup. Aku duduk di tepi tempat
tidur bersila, menarik nafas begitu dalam. Laut malam serta cahaya memenuhi
tempat itu, terlihat ombak saling berkejaran, dan orang-orang menikmati
malamnya dengan bergandengan tangan menyusuri pantai, suasana yang begitu ramai
terlihat dengan jelas di bawah sana. Salah satu penyebab aku begitu suka dengan
tempat bekerjaku adalah bisa melihat pemandangan mewah dan indah seperti ini.
‘’Raya…!!’’ Panggil seseorang di balik pintu.
‘’Ada apa?’’ tanyaku membuka
pintu.
‘’para tamu sudah hampir tiba di
lantai 5’’ ujarnya pergi, aku mengikutinya tepat di depan lift menunggu tamu
yang sejak kemarin sudah di beritahukan oleh Pak Gani tentang kedatangannya.
Mereka adalah pemimpin partai, sekitar ada 15 pejabat yang akan menginap selama
dua hari di hotel ini. Setelah membawa mereka ke kamar masing-masing, aku
mengecek makanan yang akan di sajikan saat makan siang nanti, menyiapkan
ruangan rapat yang berada di lantai enam.
‘’Hei..!’’ sapa seseorang dari
belakang menghampiri dan menepuk pundakku dan segera aku menghentikan
pekerjaanku saat merapikan ruang rapat yang baru saja selesai di gunakan.
‘’Iya…Bapak butuh sesuatu !’’
ujarku berbalik.
‘’Ray…!’’ ucapnya pelan, aku
mengangkat kepalaku agar bisa melihatnya dengan jelas, aku terperanjat kaget,
mendorong tubuhku beberapa langkah kebelakang. Seseorang yang tidak asing
bagiku, tubuhnya yang tinggi dan wajahnya begitu ramah tersenyum padaku.
‘’bagaimana kabarmu?’’ tanyanya
lagi.
‘’Angga…!!’’ seruku setelah sadar
dengan apa yang berada di hadapanku, aku berharap ini hanya mimpi, aku tidak
percaya dengan apa yang berdiri di hadapanku. Sosok tiga tahun yang lalu pernah
mengisi ruang di hatiku. Sosok yang juga akhirnya menyakiti begitu dalam hingga
butuh setahun untuk melepaskan sakit hatiku dan melupakannya. Tapi kini dia
berada di depanku seolah menggali semua ingatan burukku tentang dirinya.
Kenangan tiga tahun yang lalu…..
Tidak ada angin yang berhembus,
tak ada awan hitam yang menutupi langit biru yang cerah hari ini, entah mengapa
perasaanku begitu aneh semua yang ku lakukan tidak ada yang beres satupun,
bahkan untuk melayani tamu hari ini, sering sekali aku membuat kesalahan,
menjatuhkan minuman pesanan pelanggan, terjatuh saat menuruni tangga, dan yang
lebih parah saat lenganku terkena panci panas di dapur. Semua itu terjadi pada
hari yang sama. Aku menatap layar hpku, sudah tiga hari aku Angga tidak
menghubungiku, bahkan sms dan panggilanku diabaikannya. Aku tidak tahu mengapa,
yang ada dalam pikiranku saat ini, dia begitu sibuk bekerja di minggu
pertamanya, setelah di terima di sebuah perusahaan, kami sudah jarang bertemu,
bahkan untuk menghubungiku sudah jarang dan sesekali ia mengirim pesan lalu
tidak membalasnya lagi. Aku tidak begitu khawatir tentang Angga karena
kesibukannya, asalkan ia baik-baik saja. Aku hanya perlu bersabar, bulan depan
aku dan dia akan segera menikah, pasti aku punya waktu banyak untuk bertemu
dengannya, bahkan aku akan mengurangi jam kerjaku di resort meski gajiku
dipotong, semua itu tidak apa-apa bagiku.
‘’Bagaimana lenganmu?’’ sahut
Deana masuk ke kamar duduk tepat di sampingku. Deani adalah teman sekamarku dan
juga teman saat kami kuliah, karena kami begitu dekat dan melakukan segalanya
bersama, hanya saja kami bekerja di tempat yang berbeda, Deana bekerja di
sebuah perusahaan yang sama dengan Angga, tapi dia lebih lama setahun bekerja
di sana, sedangkan aku sudah bekerja di sebuah resort perhotelan sebagai
pelayan di malam hari dan siangnya aku membersihkan kamar dan melayani tamu.
‘’ini hanya luka kecil’’ kataku
menarik selimut dan meraih hp mencoba terus menghubungi Angga.
‘’Angga belum menghubungimu?’’
Tanya Deana merapikan bajuku yang berantakan. Tanpa menjawab pertanyaannya. Aku
menutupi diriku selimut.
‘’Ray, besok aku akan pindah,
tempatnya tidak begitu jauh dari tempatku bekerja’’ lanjut Deana.
‘’kok tiba-tiba..!’’ ujarku duduk
melihatnya membuka lemari merapikan pakaiannya. Wajahnya begitu lelah dan
terlihat ia begitu buru-buru seolah-olah menyembunyikan sesuatu dariku.
‘’ceritanya panjang Ray, nanti
akan aku jelaskan ‘’ singkatnya mengganti pakaian lalu pergi, sepertinya dia
akan menemui seseorang.
Masalah Deana tidak begitu
merisaukanku, ku tahu dia akan baik-baik saja, dia adalah wanita yang begitu
kuat dan tegar, apalagi ketika berhubungan dengan cinta, putus nyambung adalah
hal yang biasa baginya, Deana adalah wanita yang mudah tersenyum dan ceria. Aku
begitu menyukai sikapnya apalagi ketika memberikan saran kencan romantis
bersama Angga.
Malam ini setelah meminta izin
dari manajer aku memutuskan untuk mengunjungi Angga di rumahnya dan yang
membukakan pintu adalah adik laki-lakinya Toni.
‘’Tadi dia keluar, katanya akan
menemuimu !’’ ucapnya menyuruhku duduk, tiba-tiba perasaanku tidak enak..
‘’Tapi sudah tiga hari ini kami
belum pernah berkomunikasi ‘’. kataku dengan wajah bingung aku menatap Toni
‘’ Aku mendengarnya di telepon
saat dia menyebutkan tempatnya, CafĂ© Light !’’ katanya, setelah pamit aku
langsung menuju tempat itu. Entah mengapa perasaanku saat ini kacau, deg-degan
tanpa sebab, jari-jariku terus ku genggam, nafasku terasa sesak sesekali aku
menghembuskan nafas begitu dalam, supir taksi yang juga sesekali menanyakan
apakah aku baik-baik saja melihatku terus khawatir.
Hanya beberapa menit, aku sudah
tiba tepat di Cafe, penglihatanku terus memutar di tempat parkir dan benar
saja, di sana aku mekihat mobil hitam dengan plat yang begitu ku kenal, aku yakin
itu milik Angga. Aku tidak tahu mengapa hatiku tidak tenang, lenganku yang
masih kesakitan terus ku tahan, pergelangan kakiku masih sakit sedikit pincang
masih bisa ku tahan untuk menemui Angga. Suasana malam ini tidak begitu ramai
sehingga memudahkan untuk mencarinya. Tepat di meja pojok aku menemukan Angga
dia tidak sendiri, bersama seorang wanita. Aku menghampiri mereka tanpa rasa
curiga sedikitpun.
‘’Raya…!’’ sapa Angga berdiri
tiba-tiba, lalu wanita yang membelakangiku ikut berdiri.
‘’Deana…!!’’ ujarku terkejut saat
melihat wanita yang di ajak bicara oleh Angga adalah Deana.
‘’Apa yang kalian lakukan di
sini?’’ tanyaku ikut duduk di samping Angga.
‘’kami kebetulan bertemu, aku
menunggu seseorang di sini, dan aku menghampiri Angga saat melihatnya !’’
jelasnya terlihat gugup.
‘’aku pergi dulu’’ Deana langsung
pergi dengan langkah terburu-buru, matanya sembab, aku bisa tahu dari suaranya
yang sedikit tertekan, ia baru saja menangis.
‘’Aku baru mau menghubungimu,
kamu tahu dari mana aku ada di sini?’’ Tanya Angga meraih lenganku.
‘’Deana bilang tanganmu terluka
!’’ ujarnya khawatir, aku hanya tersenyum dan begitu bahagianya karena bisa
bertemu dengannya hari ini, meski secara mendadak.
‘’Maaf Ray, malam ini aku tidak
bisa mengantarmu, aku harus kembali ke kantor’’ ujarnya mengantarku mencarikan
taksi.
‘’kerja semalam ini?’’ kataku
sedikit protes.
‘’Aku karyawan baru, kau tahukan,
bagaimana sulitnya kerja di perusahaan besar itu, dan betapa sulitnya masuk
sebagai karyawan di sana’’ jelasnya menyakinkanku.
‘’Baiklah !’’ ujarku masuk.
‘’Bentar yah Mbak, saya kebelet
mau ke wc !’’ supir taksi itu segera berlari, aku menunggu sambil menatap
keluar jendela, dari kejauhan Angga masuk ke mobilnya, tak lama setelah itu
seorang wanita berlari menuju ke mobil Angga, aku terkejut tidak percaya,
wanita itu adalah Deana. Tiba-tiba sesuatu kembali merasuk ke hatiku, sebuah
perasaan menakutkan yang akan aku alami. Rasa penasaran terus membayangi
pikiranku, beribu pertanyaan terus menyerangku. Apa yang sebenarnya terjadi ?
apa hubungan mereka berdua?.
‘’ikuti mobil itu!’’ perintahku
cepat, tanpa berkata apa-apa supir itu terus mengikuti mobil Angga. Mereka
berhenti di apotek, Deana dengan berlari kecil masuk dan tak lama keluar
kembali masuk ke mobil Angga. aku masih mengikuti mereka selama setengah jam
dan mereka berhenti di sebuah hotel.
Tubuhku tiba-tiba begitu lemah,
kakiku dengan paksa ku langkahkan mengikuti mereka, sampai di depan kamar
hotel, wajah mereka terlihat begitu khawatir, meski tidak jelas apa yang mereka
katakan dari jarak seperti ini, aku tahu ada sesuatu yang mereka sembunyikan
dariku. Aku menjatuhkan tubuhku di lantai, saat mereka berdua masuk, aku tak
bisa lagi menahan air mataku, begitu sakit menusuk masuk ke dalam hatiku,
terasa sakit di khianati oleh orang-orang yang ku percayai.
‘’kamu nggak apa-apa kan?’’ sahut
seseorang menepuk pundakku.
‘’ini kamarku!’’ katanya
menyuruhku pindah, aku segera berdiri memegang gagang pintu dengan tangan
gemetaran aku berusaha berjalan membawa tubuhku menjauh, kedua kakiku ikut
gemetaran, aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan tubuh seperti ini, aku
seperti cangkang kosong yang jiwanya pergi, beberapa kali aku harus terjatuh.
‘’biar ku bantu!’’ seseorang
menghampiriku, laki-laki yang tadi melihatku menangis di depan kamarnya, ia
membantuku berdiri dan memapahku sampai ke lift. Dia menatapku sejenak lalu
ikut masuk ke lift.
‘’aku akan mengantarmu turun,
keadaanmu sepertinya tidak baik!’’ lanjutnya berdiri di sampingku. Aku belum
mengatakan apapun selain mengeluarkan air mata, laki-laki yang berada di
sampingku hanya diam, sesekali memperhatikanku.
‘’Terima kasih!’’ kataku pergi.
Malam semakin larut menunjukkan
pukul 11 malam, aku sendiri tidak percaya dengan apa yang ku lakukan saat ini,
berdiri di samping mobil Angga menunggunya, berharap dia akan segera turun, aku
tahu menunggu seperti ini hanya sia-sia, tapi aku tak berpikir apa-apa lagi
kecuali apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Udara semakin dingin,
hujan rintik perlahan turun dan aku dengan bodohnya masih menunggu Angga turun,
duduk bersandar di samping mobilnya, aku memeluk lututku, dingin yang merasuk
dalam rongga dadaku tak lagi kuhiraukan. Entah berapa jam aku duduk dengan
dingin yang menyelimutiku, rintik hujan yang membasahi tubuhku, saat ini waktu
menunjukkan pukul satu. Tiba-tiba seseorang datang membuka pintu mobil, aku
mengangkat kepalaku berharap yang datang adalah Angga.
‘’Yah…kamu masih di sini?’’
tanyanya menghampiriku, laki-laki yang tadi menolongku, ternyata mobilnya
bersebelahan dengan mobil Angga. Dia berjongkok di hadapanku dan memeriksa
keadaanku yang begitu lemas, hampir tak sadarkan diri. Aku menatapnya dia
membantuku berdiri.
‘’kamu kehujanan? Berapa lama
kamu di sini?’’ tanyanya lagi, setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang dikatakanya,
kesadaranku perlahan mulai hilang, tidak begitu jelas yang ku ingat dia
mengendongku, masuk ke sebuah ruangan yang entah di mana dan menyelimutiku.
‘’Al…siapa wanita ini?’’ tunjuk
Yuan duduk di sebelah Alfar yang sejak tadi memperhatikan gadis yang terbaring
dengan wajah pucat dan keringat. Alfar mengelengkan kepalanya.
‘’Yaaa…kamu tidak mengenalnya dan
membawanya masuk begitu saja’’.
‘’mau bagaimana lagi, dia pingsan
di depanku, nggak mungkin aku ninggalin dia begitu saja’’ ujar Alfar meneguk
kopinya.
‘’untung saja tidak ada yang
melihat kita membawanya ke hotel, orang-orang akan melihatmu membawa seorang
wanita’’.
‘’Maka dari itu aku menghubungimu
dan minta tolong!’’ Ujarnya berdiri mendekati gadis yang begitu menyedihkan,
gadis yang belum dikenalnya, ia tolong begitu saja. Ia juga tidak tahu mengapa
ia menolongnya, hatinya tiba-tiba goyah, dari kejauhan ia melihat wanita itu
mengikuti dua orang yang masuk ke kamar hotel. Wanita itu hanya berdiri
mematung, lalu menjatuhkan tubuhnya tepat di pintu kamar. Ia mendekatinya tanpa
suara, beberapa menit ia berdiri menyaksikan wanita itu menangis dengan suara
yang di tahannya, menangis begitu pilu, nafasnya begitu berat.
Waktu menunjukkan pukul delapan
agi, aku membuka mata melihat suasana yang begitu asing di sekitarku, ini kamar
hotel, aku membangunkan tubuhku, kembali melihat sekitarku. Baju yang kugunakan
semalam sudah berganti dengan pakaian baru. Aku meraih tasku, melangkah pelan
agar laki-laki yang sedang berbaring di sofa tidak terbangun, dalam hati yang
begitu dalam aku mengucapkan terima kasih padanya yang sudah menolongku, aku
tidak ingin membuat diriku terlihat lebih memalukan. Perlahan aku membuka pintu
dan tiba-tiba seseorang sudah berdiri di depan kamar.
‘’kamu udah baikan?’’ tanyanya,
dia adalah laki-laki yang mengangkatku.
‘’Aku Yuan…!’’.
‘’Aku minta maaf dan sampaikan terima kasihku padanya’’ ujarku
buru-buru pergi.
Meski perasaan yang begitu dalam
menancap dalam hatiku, kejadian yang begitu jelas masih terus membayangi
pikiranku. Aku menarik nafas lebih dalam, aku tidak ingin seperti ini terus
terpuruk sendiri tanpa ada yang tahu apa yang kualami, tersenyum di balik
kesedihanku, sedangkan Angga sendiri sudah seminggu ini jarang menghubungiku
dan Deana, aku mengabaikan semua telpon dan smsnya. Aku tidak ingin mencari
tahu lagi, karena semakin aku ingin tahu akan semakin membuatku sakit hati,
biarlah semuanya berlalu karena hanya dengan seperti ini aku akan baik-baik
saja, selama aku diam dan berpura-pura dan perlahan menjauh akan membuatku lupa
apa yang telah terjadi.
Hari ini aku sedikit di sibukkan
dengan Wedding Party yang akan di adakan malam ini di aula hotel, mengatur meja
undangan dan membantu menyiapkan sajian makan malam. Tak lama kemudian satu
persatu tamu undangan memenuhi aula. Aku berdiri dari kejauhan berjaga-jaga
agar para tamu merasa nyaman dengan pelayan dan jamuan yang di sediakan.
‘’Hei…Ray…!’’ sapa seorang wanita
yang sudah berdiri di sampingku.
‘’Deana…!’’. Kataku.
‘’Yaa..kamu kok nggak pernah
angkat telpon dan balas sms aku..!’’ ujarnya tersenyum, dia menghilangkan
moodku malam ini, melihatnya saja sudah membuatku cepat-cepat ingin pergi.
‘’Ahh…kamu belum ketemu Angga?
katanya dia juga akan hadir…!’’ lanjut Deana, tak lama Angga menghampiri kami
setelah Deana melambaikan tangan padanya. Kali ini mereka berdua berada di
hadapanku. Aku bisa membaca ekspresi dari mereka berdua begitu alami memainkan
sebuah drama di depan mataku.
‘’Ray…aku pergi dulu…! Aku akan
membiarkan kalian mengobrol’’ tambah Deana pergi, aku juga melangkah pergi di
ikuti Angga.
‘’Kamu marah yah…? Maaf
akhir-akhir ini aku sibuk’’ ujarnya menarik tanganku. Aku masih diam, berusaha
menahan semua yang ada dalam hatiku saat ini.
‘’Aku juga sibuk, jadi kembalilah
ke aula…!’’.
‘’Kamu kenapa sih? Sebentar lagi
kita nikah loh…! Aku juga sibuk demi masa depan kita’’ jelasnya masih
mengenggam lenganku.
‘’Aku tahu kamu sibuk…nanti kita
bicara lagi, aku harus kerja!’’ lanjutku, dia melepas genggamanya.
‘’Baiklah, biar aku yang
ngantarin kamu pulang, aku tunggu yah’’ lanjutnya tersenyum lalu pergi.
Kembali air mataku tumpah, aku
tidak bisa mengatakan apa-apa di depan Angga, begitu banyak hal yang ingin aku
tanyakan padanya, apa hubungan mereka berdua, sesuatu yang aneh terus merayap
ke pikiranku, mengerogoti hatiku. Sepanjang acara berlangsung aku terus
memperhatikan mereka dari kejauhan. Deana tersenyum lepas, tanpa kekhawatiran
di wajahnya, terus berada di samping Angga.
Dalam pikiranku saat ini aku
terus membayangkan diriku yang berani tanpa malu sedikitpun, menghampiri mereka
berdua, mencaci mereka dan mendaratkan tamparan di wajahnya. Aku ingin
orang-orang yang ada di acara ini melihat kebusukan mereka. Meski harus merusak
pesta pernikahan orang yang sedang berlangsung. Aku ingin sekali meneriaki
mereka dan bertanya apa alasan mereka melakukan hal ini kepadaku. Tapi ini
hanya ada dalam bayanganku saja. Berdiri sekaku ini tanpa bisa berbuat apa-apa.
Tubuhku begitu lelah aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dari kejauhan
aku kembali melihat Deana, ia tidak sendiri. Apa yang dilakukannya di tempat
sepi seperti ini di depan ruang istriahat para karyawan hotel. Rasa penasaran
membuatku semakin dekat melangkah. Suara Deana semakin jelas. Meski tatapannya
sesekali waspada orang-orang akan mendengarnya.
‘’Apa yang harus kita lakukan…?’’
Tanya Deana menunggu jawabanya orang
yang sedang di ajaknya bicara. Aku masih mengintip berusaha melihat orang yang
sedang bersamanya.
‘’Beri aku waktu…aku nggak bisa
bilang langsung ke dia…!!’’ ujarnya, dari suaranya aku bisa tahu pria yang sedang
bersamanya adalah Angga.
‘’waktu…!! Sampai kapan Angga…!!
sampai perutku mulai membesar…!’’ bentak Deana. Aku yang mendengar mereka
semakin terpukul. Ternyata Deana dan Angga selama ini di belakangku sudah
mengkhianati begitu lama. Deana hamil dan Angga adalah Ayah dari anak itu.
Tangis yang ku pendam memecah
kesunyian, di ruangan yang begitu sepi dan cahaya yang agak gelap menemani
tangisku. Aku terus memukuli dadaku bahkan rasa sakit di tubuhku kalah dengan
rasa sakit hatiku saat ini, begitu sakitnya hingga aku tidak lagi memikirkan
orang-orang yang memandangku dengan derai air mata yang tidak terbendung. Aku
terus melangkahkan kakiku menuruni lantai satu demi satu, tiba di lantai dasar
dan terus berjalan sampai di depan hotel, di sana terdapat taman kecil dan
kolam ikan yang cukup luas. Di temani cahaya taman yang redup aku duduk memeluk
lututku, menangis sejadi-jadinya, di tempat ini sangat sepi sehingga tidak akan
ada orang yang datang dan aku bisa sendiri meratapi kebodohanku yang hanya diam
dan tak bisa melakukan apa-apa.
Dari kejauhan tampak seseorang
laki-laki berjalan sambil menendang kerikil yang di laluinya, wajahnya tampak
kesal.
‘’Membosankan…!!’’ ujarnya
memasukkan kedua tangannya di saku celana. Hpnya sejak tadi berdering dan itu
dari Yuan. Alfar tidak memedulikan panggilan itu. Ia hanya kesal pada Yuan yang
memaksanya ikut ke pesta. Ia tidak begitu suka dengan suasana ramai, terutama
pesta seperti ini, baginya itu hanya membuang waktunya dan tidak menyenangkan.
Alfar adalah anak tunggal dan ia adalah anak dari pemilik resort dan perhotelan
tempat Raya bekerja, Alfar terbiasa melakukan semuanya sendiri sejak kecil ia
tidak begitu dekat dengan beberapa orang, kecuali Yuan dan Akbar, sepupunya
sendiri. Berbeda dengan Yuan yang senang menghabiskan waktunya bersenang-senang
dan Akbar yang saat ini berada di Eropa menyelesaikan kuliahnya dan hanya Yuan
yang selalu menemaninya. Di usianya yang ke 30, Alfar yang tidak begitu
tertarik dengan manajemen perhotelan terpaksa harus mengikuti keinginan Ayahnya
untuk terjun langsung sebelum dia mendapatkan jabatan direktur menggantikan
posisi Ayahnya. Ia patuh dengan perintah Ayahnya karena sebelumnya dia telah
membatalkan pernikahannya. Ia tidak ingin menikah dengan orang yang tidak di
cintainya, apalagi menyangkut pilihannya Ayahnya sudah memperkenalkan dirinya
dengan beberapa wanita tapi tak satupun yang membuatnya tertarik.
Alfar menarik nafas, angin
bertiup hangat di telinganya, irama dedaunan yang begitu indah bergesekan
seirama angin yang meniupnya. Ia bisa bernafas lega bisa keluar dari keramaian
yang ada di dalam, tanpa sepengetahuan Yuan dia pergi begitu saja. Tiba-tiba
langkahnya terhenti saat mendengar sesuatu, memastikan suara yang di dengarnya.
Ia merinding ketakutan tetapi rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Ia
mendekati arah suara itu, semakin mendekat dan terdengar begitu jelas, suara
wanita yang sedang menangis. Di tepi kolam tepat di bawah lampu, seorang wanita
menangis dengan suara serak. Ia teringat dengan wanita yang menangis di depan
kamar hotel dan samping mobilnya, kali ini tanpa sengaja lagi-lagi ia bertemu
wanita yang sedang menangis. Alfar menghampirinya.
‘’kamu baik-baik aja kan!! Ini
sudah larut malam…!’’ sahut Alfar, membuatku terkejut, cepat-cepat aku
menghapus air mataku. Aku berdiri teringat pekerjaan yang kutinggalkan.
‘’Kamu…!!! Bukankah kamu yang
menangis di hotel dan pingsan di samping mobilku’’ lanjutnya, aku berbalik
memastikan wajah laki-laki yang menolongku meski aku tidak begitu ingat.
‘’Maafkan aku dan terima kasih,
aku harus kembali kerja’’ ujarku berlalu begitu saja, tetapi dia dengan cepat
menghadang langkahku.
‘’Hanya itu…??’’ katanya
memperhatikan raut wajahku yang masih basah dengan air mata.
‘’ Yaaa…ini ketiga kalinya kita
bertemu dan setiap bertemu denganmu tanpa sengaja, aku melihatmu menangis…’’
sambungnya, tapi aku tidak punya semangat untuk bicara lebih banyak saat ini.
Aku hanya mengucapkan kata yang sama, maaf dan terima kasih, tetapi dia tidak
membiarkanku pergi.
‘’Sepertinya kamu karyawan di
sini yah…!!’’ tanyanya memperhatikan pakaian yang kupakai.
‘’Raya…!!’’ ujarnya memperhatikan
namaku yang tertulis.
‘’Oke…sampai ketemu besok !!’’
ujarnya membiarkan aku pergi meski tidak mengatakan apa-apa, aku tahu saat ini
diriku begitu memalukan, ini ketiga kalinya tanpa sengaja dia mendapati diriku
menangis.
Pagi menjelang dan aku masih
berbaring di kasur kecilku, di bawah selimut kesedihanku masih berlanjut meski
tak ada lagi air mata tetapi perasaan itu terus menyakitiku. Hari ini aku tidak
ingin melakukan apa-apa, maka dari aku meminta izin tidak masuk kerja hari ini.
Hari semakin siang dan aku masih berbaring, tak lama hpku berbunyi, dan
panggilan itu berasal dari Tante Yuni. Dia memintaku untuk menemuinya karena ia
baru saja tiba dari Kediri.
‘’Oh iya Tante Yuni…ada yang
ingin kukatakan!!’’ kataku setelah cukup lama mengobrol.
‘’Aku ingin membatalkan
pernikahanku…!’’ kataku tiba-tiba membuat Tante Yuni terkejut.
‘’Apa??’’ sentaknya, aku
berbohong dan menceritakan alasanku yang belum siap untuk menikah.
‘’Kok tiba-tiba, apa harus
kukatakan dengan kepada ibumu dan keluarga Angga nantinya..!!!’’
‘’Aku mohon tante…!!’’ ujarku
memohon, Tante Yuni menatapku dia tahu saat ini aku punya sesuatu yang tidak
bisa kuceritakan kepadanya, karena aku adalah keponakan satu-satunya yang sudah
dianggapnya seperti anaknya sendiri, Tante Yuni tahu aku menyimpan masalahku
sendiri maka dari itu dia tidak banyak bertanya apa yang aku alami.
Hari itu juga, aku ikut bersama
Tante Yuni, karena dia bekerja sebagai manajer hotel dan kebetulan sedang
merekrut karyawan, aku meninggalkan kota ini dan bekerja di hotel yang
terbilang mewah di kota ini, suasana kota yang begitu ramai, dekat dari laut
yang sering di kunjungi oleh orang-orang dari luar negeri menjadikan tempat ini
di minati oleh banyak orang. Untuk menjauh dari rasa sakitku aku mengganti
nomorku dan semua akun sosial media ku non aktifkan. Sampai saat ini aku
baik-baik saja, aku menjadi sosok wanita yang begitu kuat dan tegar, pengalaman
masa lalu banyak menempaku jadi lebih baik. Saat ini aku benar-benar menikmati
hidupku, dengan teman-teman yang bisa membuatku begitu semangat bekerja,
orang-orang yang berada dalam tanggung jawabku dan posisi yang kumiliki
membuatku semakin jatuh cinta dengan pekerjaanku.
Tapi hari ini tiba-tiba ingatan
itu seperti terulang lagi, kejadian tiga tahun lalu bertebaran dalam pikiranku,
tapi semuanya itu tidak menyentuh dan mengubah perasaanku saat ini. Laki-laki
yang berdiri di hadapanku, dia benar-benar Angga.
‘’Hei..!’’ Balasku tersenyum
sedikit canggung.
‘’ Kamu kemana selama ini? ‘’
tanyanya, wajahnya berubah tajam menatapku. Wajar saja karena waktu itu aku
pergi tanpa pamit padanya, tanpa memberitahukan sakit hati yang aku alami.
Membatalkan pernikahanku secara sepihak, ibuku yang terus menerus mendesakku
untuk memberitahukan alasannya, selama setahun aku tidak memberi kabar kepada
orang tuaku, dan hanya mengiriminya uang karena aku tidak ingin mereka bertanya
lebih banyak.
‘’Aku harus kembali kerja!’’
kataku pergi.
’’RAYA…!!’’ bentak Angga memukul
meja dengan keras. Langkahku terhenti. Dia menghampiriku dan menarik lenganku
masuk ke lift.
’’Lepas nggak!!’’ kataku memaksa,
tetapi dia semakin menggenggam lenganku, menarikku masuk ke kamar hotel.
’’Kamu gila yah…? ’’ Angga
melepas tangannya setelah menutup pintu dan menguncinya
’’Aku hanya ingin bicara…’’.
’’saat ini aku sedang kerja, aku
tidak punya waktu bicara denganmu!’’.
’’kenapa kamu tiba-tiba
menghilang, tanpa memberitahuku dan membatalkan pernikahan kita, selama ini
kamu di mana? Apa alasanmu meninggalkanku’’. Tanyanya, aku masih diam
memikirkan apa yang seharusnya aku katakan.
’’Jawab Ra…!’’ katanya begitu
marah.
’’Aku tidak ingin membahasnya’’.
Kali ini Angga terlihat begitu marah, dia melempar hpnya dan memegang kedua
pundakku.
’’Apa karena aku sering
mengabaikanmu…!!’’ lanjutnya.
’’Apa kamu masih belum jujur,
tidak ada yang ingin kamu katakan?’’.
’’Apa maksudmu..!’’.
’’Aku hanya ingin kamu jujur!’’.
’’Jujur…!’’.
’’Iya jujur, kamu kira aku bodoh
Angga…!!’’ aku melepas paksa kedua tangannya.
’’Jangan pura-pura tidak tahu,
aku melakukan ini karena kebodohanku yang percaya padamu, aku harus
meninggalkan semua sakit hatiku, dengan cara ini aku tidak ingin menyakiti
siapa-siapa’’.
’’Ada yang ingin kukatakan
padamu, ini tentang Deana…!!’’ ujarnya, tetapi aku cepat memotong
pembicaraannya.
’’Aku harap kalian berdua
bahagia…!!’’ kataku pergi meninggalkan Angga yang pikirannya penuh dengan
teka-teki mengenai semua ucapanku padanya.
Seseorang mengetuk pintu,
buru-buru aku mengganti pakaianku dan membuka pintu.
’’Pak Gani menyuruh anda
menemuinya di ruangannya’’ katanya lalu pergi, aku segera turun kelantai dasar.
Pak Gani menyuruhku membersihkan kamar hotel yang berada di lantai 10, kamar
yang berada di ujung tengah menghadap lift dan satu-satunya kamar yang sangat
luas dan memiliki lantai atas yang menghubungkan atap dan rumah kaca. Aku masih
sangat ingat dengan ruangan ini, waktu itu Pak Burhan direktur utama dan
pemilik saham hotel terbesar sesekali datang menginap, dan ruangan ini sengaja
di rancangnya sendiri. Saat pertama kali bekerja di hotel ini, ruangan inilah
yang paling sering ku bersihkan, merawat tanaman yang di tanam sendiri oleh Pak
Burhan, aku paling senang ketika dia menyuruhku naik ke atap dan bisa melihat
bunga-bunga yang sedang mekar dengan berbagai macam warna yang berbeda,
kupu-kupu yang beterbangan hinggap menghisap sari manisnya, aku bisa mencium
udara segar dari daun-daun dan dahan kecil yang mengeluarkan kuncupnya, bau
tanah subur yang menumbuhkan tanaman-tanaman ini. Aku masih begitu ingat saat
itu saat Pak Burhan di vonis kanker dan akhirnya meninggal. Tempat ini tidak
pernah di buka lagi, tapi kali aku diminta untuk membersihkannya, merevonasi
dan menata ulang ruangan ini, mengganti tempat tidur, kursi, sofa sesuai dengan
apa yang diperintahkan Pak Gani.
Selama seminggu ruangan ini
menjadi lebih hidup, semuanya begitu rapi dan terakhir aku naik ke atap
membersihkan taman rumah kaca, mengganti bunga yang sudah mati dengan tanaman
baru. Itu membutuhkan waktu seharian mengerjakan semua ini, tapi aku tidak
sendiri, Handi dan Jena membantuku.
’’Aku dengar, anak dari Pak
Burhan yang akan tinggal di sini, dia direktur baru di hotel kita!’’ ujar Handi
sambil terus menggali tanah yang ada di pot.
’’Aku dengar dia juga belum
menikah sampai saat ini’’, sambung Handi.
’’benarkah…?’’ ujar Jena.
’’Saat ini di aula hotel sedang
di adakan penyambutan, dia terlihat keren, ganteng dan tinggi, kenapa dia belum
menikah yah…?’’ lanjutnya, aku hanya diam mendengarkan mereka. Setelah selesai
dan menyuruh mereka kembali kekerjaannya. Tidak menunggu begitu lama setelah
acara penyambutan selesai, aku hanya perlu menunggu direktur baru dan
memperkenalkan diri, karena selama dia berada di sini aku yang akan melayani
semua keperluannya, untuk itulah Pak Gani memilihku, karena aku termasuk orang
yang teliti dan cepat dalam melakukan pekerjaanku, apalagi setelah mendengar
sifat anak tunggal Pak Burhan yang pemilih dalam segala hal dan setiap pagi aku
harus menyuruh koki dan chef menyiapkan sarapannya, jus tomat dan roti. Dia
sangat memperhatikan kesehatannya dan jarang mengkomsumsi nasi putih, makan
malamnya biasanya ia hanya makan sushi, spaghetti dan makan buah, dia tidak
suka orang lain menyentuh barang-barangnya dan Dia juga tidak begitu banyak
bicara tetapi tegas dalam melakukan pekerjaanya. Sebelum ia di pindahkan dari
Surabaya, ia bahkan pernah memecat beberapa karyawannya hanya gara-gara protes
dari seorang tamu hotel yang tidak melayani tamunya dengan benar. Dari segala
pertimbangan dan spesifikasi hanya aku yang memenuhi persyaratan untuk
melayaninya dengan persyaratan,pak Gani akan menaikkan 30 persen gajiku di
tambah bonus 50 persen. Tentu saja aku menerimanya. Ini akan menjadi
tantanganku sendiri bagaimana menghadapi orang-orang yang memiliki kekuasaan dan
yang akan menjadi atasanku.
Setelah merapikan pakaian dan
menyusunnya di ruang pakaian, aku berdiri sejenak memperhatikan pakaian-pakaian
itu yang berjejer begitu rapi, dasi dan sepatu, aku tidak ingin melakukan
kesalahan hanya karena menempatkan barang yang salah pada tempatnya. Aku keluar
dari ruangan itu setelah mendengar seseorang masuk.
’’Selamat siang…!!’’sapaku.
’’Dia Raya…selama anda di sini,
dia akan melayani keperluan anda…!’’ jelas pak Gani memperkenalkanku lalu
pergi.
’’Jika anda butuh sesuatu,
silahkan menghubungi saya…aku akan pergi agar anda bisa bisa istirahat’’
kataku. Dia hanya diam sejenak membuka jasnya, menaruh tasnya di kursi.
’’Aku akan istirahat sebentar,
setelah itu bawakan aku green tea dingin’’ ujarnya menyuruhku keluar.Mungkin karena
sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini, jarang sekali aku merasakan
kelelahan. Justru berdiam diri hanya membuat kepala dan tubuhku sakit.
’’Selamat sore Pak…!!’’ aku
meletakkan minuman dan beberapa potong buah di mejanya, saat itu dia duduk menghadap
keluar jendela.
’’Untuk makan malam, anda ingin
apa?’’ tanyaku. Dia lalu berdiri.
’’Aku tidak lapar, bawakan saja
jus apel!!’’ singkatnya masuk ke kamar mandi. Aku menarik nafas, aku kira
melayani orang ini tidak semudah apa yang di katakan oleh Pak Gani, sejauh ini
dia bersikap normal, aku juga heran karena dia termasuk orang yang jarang makan
nasi tetapi dia terlihat begitu sehat, tubuhnya yang tinggi dan ototnya
terbentuk menandakan dia sering berolahraga berat. Aku melangkah keluar, menuju
lantai 12, memeriksa kamar yang baru di tinggalkan oleh tamu, aku ingin
memastikan semua kamar di bersihkan segera, sprei dan handuk di ganti.
Sky Hotel merupakan salah satu
hotel bintang lima dan elit, hotel ini cukup mewah dan selalu mengadakan event
setiap tahunnya agar dapat menarik para tamu untuk menginap dan menikmati
pelayanan serta pemandangan yang di sajikan di sekitar lokasi hotel, yang
letaknya sangat strategis, bersebelahan dengan pemandangan laut. Hotel yang
terdiri dari 25 lantai dan di setiap lantai terdiri atas 8 kamar untuk kamar
VVIP dan VIP. Sedangkan untuk kamar biasa setiap lantainya ada 10 kamar, lantai
25 di jadikan restoran, café dan bar. Lantai 24 terdapat sauna dan ruangan
fitness, tak ketinggalanPusat perbelanjaan dan toko-toko berjajar di tepi
jalan, jajanan makanan dan kerajinan tangan selalu menjadi buruan pelancong dan
turis datang ke tempat ini. Tidak jauh dari hotel pengunjung bisa menikmati
berbagai macam permainan. Di tanah seluas 200 hektare itu di jadikan wahana
bermain, selama 25 tahun menjabat sebagai direktur, pak Burhan menginventasikan
dan menarik investor untuk membangun semua ini.
’’Ray…!’’ panggil seseorang saat
aku ingin membuka pintu ruang istirahat.
’’kamu masih di sini?’’.
’’Aku ingin bicara denganmu!’’.
’’kita sudah bicara kemarin, aku
harus kembali kerja!’’ jelasku.
’’Kerja…kerja…kerja…apa yang ada
dipikiranmu hanya kerja!’’.
’’Angga…!oke…baik kita bicara di
tempat lain…’’.
’’ Di restoran, aku tunggu…!’’.
’’Tidak, di sana terlalu ramai,
aku akan datang di kamarmu, aku harus kembali kerja’’ ujarku menutup pintu,
Angga tersenyum senang saat itu. Waktu menunjukkan pukul delapan malam aku
segera membawakan pesanan Pak Alfar, saat membuka pintu dia tidak terlihat, dan
suara air mengalir di kamar mandi, dia pasti sedang mandi, aku meletakkan
makanannya di meja, membuka kulkas memasukkan beberapa botol minuman. Mengambil
pakaian kotor yang sudah di taruhnya. Menaruh handuk baru di samping kamar
mandi dan merapikan ruang baju.
’’Kau sudah di sini?’’ sahutnya
masuk, aku terkejut saat melihatnya,
rambut dan tubuhnya basah dan hanya mengenakan handuk. Aku cepat-cepat keluar
dari ruangan itu dan menunggunya di luar.
’’Duduklah…!!’’ katanya ikut
duduk sambil sibuk membolak kertas-kertas dan membaca laporan manajemen
keuangan, pelayanan dan profil staff.
’’Besok pagi, kumpulkan semua
karyawan tanpa terkecuali’’ singkatnya.
’’Baik…!’’ kataku berdiri, belum
sampai di pintu dia kembali memanggilku.
’’Ikut aku…!!’’ujarnya berdiri
menaiki tangga menuju lantai atas. Dia menyuruhku menanam beberapa bibit bunga
mawar yang di bawanya sendiri. Sepertinya Alfar memiliki hobi yang sama dengan
Ayahnya, aku tahu saat dia berterima
kasih karena telah membuat taman kecil yang ada di rumah kaca ini kembali
seperti dulu saat Ayahnya masih hidup.
’’Alfarrr…!’’ teriak seseorang
dari bawah, Alfar menyuruhku berhenti dan mengikutinya turun.
’’Yuan…!!’’ ujar Alfar menyuruhku
membawakan beberapa minuman setelah itu aku pergi meninggalkan mereka.
’’sepertinya aku pernah bertemu
dengan wanita itu sebelumnya…!’’ ujar Yuan sambil berpikir mengingat sesuatu.
’’kamu baru saja tiba di sini,
nggak mungkin kalian pernah bertemu!’’. Lanjut Alfar.
’’Aku serius Al…kau tahu kan !
aku adalah pria yang ingatannya kuat kalau mengenai seorang wanita’’. Masih
mengingat tiba-tiba ia memukul meja.
’’Tiga tahun yang lalu…wanita
yang kau tolong itu…!’’ ujar Yuan, dari wajahnya ia tidak percaya apa yang
didengarnya, Yuan mengingatkanya pada wanita yang menangis setiap kali mereka
tanpa sengaja bertemu.
’’Wah…kebetulan banget kalian
bertemu di tempat ini, bahkan dia tidak ingat denganmu!’’. Ujar Yuan
menambahkan. Alfar tersenyum sesekali menarik nafas. Dia tidak percaya bertemu
lagi dengan Raya, wanita yang melayaninya selama ini adalah dia, bahkan dia
tidak ingat lagi wajah sedih yang membayangi pikirannya, pertemuan singkat
dengan Raya membuat ia lupa, rasa kasihan membuat Alfar ingin tahu tentang
Raya. Setelah malam itu, terakhir ia bertemu lagi dengannya, selama beberapa
hari Alfar mencari tahu tentang Raya, tetapi tak satupun yang tahu, karena hari
itu Raya pergi tanpa izin dari manajernya. Alfar akhirnya mengubur dalam-dalam
rasa simpatinya kepada Raya. Tetapi sampai saat ini Alfar masih menyimpan
pakaian milik Raya. Waktu itu ia tidak tega melihat wanita yang di bawanya pingsan
dalam keadaan basah, akhirnya Alfar meminta tolong kepada karyawan wanita untuk
membawakan baju dan menggantinya. Baju itu masih tersimpan rapi dalam sebuah
kardus kecil yang ikut di bawanya.
Sudah hampir siang, setelah di
berikan arahan langsung untuk lebih meningkatkan kinerja kerja dan mengupgrade
beberapa item pelayanan agar tamu tidak merasa bosan. Dari kejauhan Alfar terus
memperhatikan Raya, ia lalu menyuruhnya membawakan roti untuk makan siangnya,
Alfar menyuruhnya merapikan kertas-kertas yang berantakan di atas mejanya, ia
sengaja melakukan itu agar Raya ia bisa lebih lama berada di hadapanya, ia
ingin memperhatikan wajahnya baik-baik. Raya bahkan tidak sadar bahwa dirinya
saat ini di perhatikan oleh tatapan Alfar yang sejak tadi tersenyum melihatnya
merapikan meja Alfar. Sudah berapa lama ia tidak pernah senyum sebahagia ini.
’’Sebelumnya kamu kerja di
mana?’’ Tanya Alfar.
’’Di Surabaya…!!’’ singkatku
hampir selesai merapikan mejanya, setelah itu ia menyuruhku naik ke atap
membantunya merapikan tanaman-tanamanya sedangkan ia sibuk memindahkan pot dan
menata ulang tempatnya. saat aku mengambil kursi sebagai pijakan untuk meraih
selang air yang bergantung di atas pintu, aku tidak tahu kalau kursi yang
kupakai saat ini sudah rapuh, tiba-tiba saja kursinya bergoyang dan tubuhku
ikut terjatuh. Aku berteriak kecil karena saat itu lenganku tergores patahan
kayu, bagian belakangku begitu sakit karena mendarat di lantai. Mendengar
seuatu jatuh, Alfar menghamipiriku. Ia mengangkatku dan mengendongku, aku sangat
terkejut dengan apa yang dilakukannya saat ini. Beberapa kali aku memintanya
menurunkanku, karena hanya tangan dan punggungku yang sakit sedangkan kakiku
masih bisa berjalan.
’’Aku masih bisa jalan…!!’’
kataku berusaha lepas dari Alfar, tetapi dia tidak menghiraukanku dan terus
membawaku menuruni tangga.
’’Lukamu sepertinya
parah…!!’’katanya menyuruhku duduk dan dia mengambil kotak obat yang berada di
laci meja samping tempat tidurnya. Dia membersihkan lukaku, mengoles obat luka
dan menutupinya dengan perban. Aku meringis kesakitan saat Alfar menutupi
dengan perlahan lukaku. Aku merasa tidak enak padanya, tentu saja karena dia
adalah atasanku orang yang memiliki jabatan tertinggi dan saat ini dia
mengobatiku langsung. Walaupun aku menolak tetapi dia terus memaksaku untuk
diam. Aku hanya merasa tidak nyaman,
karena perkiraanku tentang sikapnya selama tidak sesuai dengan apa yang aku
bayangkan. Dia laki-laki yang sangat baik dan perhatian kepada siapapun.
’’Dulu aku sempat kuliah dan
mengambil jurusan kedokteran, jadi aku tahu cara mengobati luka kecil seperti
ini’’ jelasnya menyelesaikan balutan terakhirnya. Ia lalu menatapku tersenyum,
pertama kalinya aku bisa melihat dia tersenyum dan dia berada tidak jauh dari
hadapanku.
’’Kenapa wajahmu selalu khawatir
seperti ini dan kau tidak begitu banyak bicara…!’’ mengangkat tangannya,
menyentuh kepalaku sambil tersenyum dia merapikan rambutku yang berantakan,
tiba-tiba aku menepis tangannya karena terkejut aku segera pamit keluar. Alfar
tersenyum melihat tingkahku yang sudah menghilang dari balik pintu.
Aku melangkahkan kakiku begitu
cepat, mengambil beberapa barang dan hari ini rencananya aku akan kembali ke
kontrakanku. Membersihkan tubuhku dan mengambil beberapa pakaian ganti. Aku
merebahkan tubuhku di kasur menutup kedua mataku, entah mengapa Alfar berada
dipikiranku saat ini, dan mengapa tiba-tiba ia memperlakukanku seperti itu,
atau aku yang menganggapnya terlalu serius, mungkin karena dia memang baik.
Hpku berbunyi aku segera bangkit dari tempat tidur, satu pesan singkat dari
Alfar dia memintaku untuk menyediakan makan malamnya dan membawakannya ke
kamarnya. Aku segera kembali ke hotel dengan berjalan kaki sambil menikmati
sore hari yang menghangatkan kulitku dan menyaksikan keramaian pejalan kaki.
Aku segera menuju ke dapur
meminta koki untuk menyediakan pesanan dan meminta pelayan lain membawakan ke
kamarnya, aku juga harus mengambil pakaian Alfar di ruang laundry. Ternyata
sejak tadi seseorang sudah menungguku di depan kamar hotel, Angga tahu kalau
aku sering melewati tempat ini.
’’Raya…!!’’ panggilnya.
’’Kamu dari mana aja sih,,kemarin
aku menunggumu. Apa kamu lupa kalau kalau kita akan bertemu…!!’’ lanjutnya, aku
langsung ingat, mengapa aku bisa lupa tentang janjiku kepada Angga.
’’Maaf…!!’’ kataku. ia kembali
menarik lenganku masuk ke kamarnya.
’’aku tidak suka saat kau
menarikku seperti ini !’’ kataku menahan sakit.
’’Tanganmu kenapa?’’dia kembali
meraih tanganku, tapi kembali aku menepisnya.
’’Aku masih mencintaimu Ray…!’’
ucapnya tiba-tiba, tapi aku hanya tersenyum sinis.
’’Aku ingin memulainya dari awal
bersamamu…!’’ sambungnya menatapku.
’’Memulai…?? bagaimana dengan
Deana? Kau tidak tahu mengapa aku tiba-tiba menghilang dari kehidupan kalian
yang mengkhianatiku, kau kira aku tidak tahu hubungan kalian. Nga…apa kau tahu
betapa sakitnya aku saat harus berpura-pura tidak tahu, dan dengan mata
kepalaku sendiri kalian….??’’ Ucapku terhenti, aku tidak melanjutkan ucapanku,
ini begitu menyakitkan, dulu aku ingin mengatakan semuanya ini, tetapi aku
tidak bisa, saat aku sudah lupa akan semuanya, dia tiba-tiba datang menggali
ingatanku. Saat itu Angga terdiam sambil menundukkan kepalanya, ia menjatuhkan
tubuhnya berlutut di hadapanku.
’’Deana mengandung anakmu, jika
kupikir saat ini dia pasti sudah besar, aku tidak ingin tahu mengapa kalian
melakukan ini padaku, sekarang kau sudah taukan, mengapa aku tiba-tiba pergi’’
lanjutku, aku masih berdiri sambil memegang gagang pintu.
’’Aku minta maaf Ra…saat ini aku
ingin memulainya, aku ingin kembali padamu, izinkan aku memperbaiki
kesalahanku, meski kau benci padaku, aku tahu di dalam hatimu aku masih di
hatimu meski begitu kecil’’ Ucap Angga lagi, dia menatapku dengan tulus, hatiku
perlahan berdetak seakan sesuatu dalam hatiku terus ingin mendengarnya tetapi
di lain sisi aku mengingat bagaimana sakitnya saat mengetahui hubungan mereka,
butuh waktu setahun melewati keterpurukanku melupakan semuanya.
’’Jadi kamu mau ninggalin Deana
dan anakmu ? jangan bodoh Angga…jangan mengulang kesalahan yang sama’’ kataku
lebih berani mengutarakan semua yang ada di pikiranku.
’’Aku dan Deana sudah bercerai
setahun yang lalu’’ Angga meraih tanganku, mengenggamnya. Kali ini aku tidak
tahu harus mengatakan apa.
’’Ra…aku mohon beri aku
kesempatan!’’ mohonnya berdiri memelukku. Aku langsung melepaskannya, membuka
pintu. Tiba-tiba seseorang sudah berdiri di depan kamar, aku tersentak melihat
Alfar. Aku tidak tahu berapa lama ia berdiri di sini, aku tidak memikirkan
apa-apa saat berbicara dengan Angga di dekat pintu tanpa menutupnya, mungkin saja orang lain sudah mendengar kami
bertengkar termasuk Alfar.
’’Maaf Pak…apa anda butuh
sesuatu!’’ kataku mengalihkan suasana tetapi dia langsung menarik lenganku
tanpa mengatakan apa-apa masuk ke kamarnya langsung menyuruhku merapikan
baju-bajunya. Entah apa yang di pikirkan Alfar saat itu, dan aku sendiri terus
memikirkan apakah Alfar mendengarkan pembicaraanku, jika ia mendengarnya
mengapa sampai saat ini dia belum mengatakan apa-apa. Dia adalah pemimpin di hotel ini, orang yang sangat
berpengaruh, orang yang memiliki kekuasaan dan aku hanya karyawannya, tidak
seharusnya aku memberikan kesan yang buruk.
Meski malam semakin larut, mataku
susah terpejam, kata-kata Angga terus terngiang di pikiranku, aku tidak boleh
goyah sedikitpun karena dia tidak tahu betapa susahnya lari dari kenyataan
hidupku, apalagi setelah kutahu bahwa dia di mutasi dari Surabaya baru-baru ini
dan beberapa hari dia juga sengaja menginap di hotel hanya untuk bertemu
denganku, itulah yang membuatku menyukainya, Angga adalah sosok pria yang
begitu perhatian dan rela melakukan apapun untuk melindungi orang yang di
cintainya.
Pagi menjelang...
Selama dua hari ini Alfar akan
mengadakan perjalanan keluar kota, dia akan menemui investor asing dari
Australia dan pagi ini di kantin khusus karyawan begitu ramai dengan antrian
sarapan pagi. Di jam seperti ini kami bisa bertemu satu sama lain, bercerita
mengenai pekerjaan masing-masing, mengosipkan tamu-tamu yang datang sesekali
bercanda. Berkumpul seperti ini berbagi cerita memompa semangat mereka. Bekerja
di hotel elit seperti ini apalagi karyawan seperti diriku yang dikontrak selama
lima tahun harus menghabiskan banyak waktu dan mengabdikan diri di Sky Hotel,
kami tidak punya waktu berlibur dan kebijakan libur selama 3 kali dalam sebulan
juga sangat cukup untuk kami.
’’Raya enak banget yah…dia bisa
kerja di ruangannya Pak Alfar!’’ sahut Berna yang duduk di depanku.
Jarang-jarang kami berbicara santai seperti ini.
’’Biasa aja kok…!’’ singkatku
menyuap beberapa makanan sambil mendengarkan cerita mereka.
’’Pak Alfar nggak suka menyuruh
kamu sana sini kan? Biasanya sih bos yang seperti itu suka ngerepotin kita…!’’
Tambah Wahyu yang duduk di sampingku.
’’Yah nggak lah…dia itu baik kok,
nggak ngerepotin, nggak banyak bicara dan nggak nyuruh yang aneh-aneh !’’
jelasku, meski ku pikir aku sudah sedikit berbohong terkadang dia menyuruhku
untuk sesuatu yang bisa dilakukannya sendiri.
’’Senangnya bisa selalu bertemu
dengan Pak Alfar, aku yakin kamu pasti sudah jatuh hati padanya kan…!’’ tambah
Berna menunjukku.
’’Yaaa…aku nggak pernah mikirin
itu’’ kataku. berdiri meninggalkan mereka.
’’Hei Raya….!’’panggilnya,berlari
menghampiriku.
’’Besok jalan yuk…’’ ajak Fatar,
mengingat besok adalah hari minggu dan kebetulan saat itu aku tidak bekerja di
siang hari dan ia bekerja di restoran hotel ini sebagai koki.
’’Kamu nggak kerja?’’ tanyaku.
’’Nggak…maka dari itu aku
ngajakin kamu jalan…’’.
’’Pergi aja Ra…jangan buat dia
kecewa karena terlalu sering nolak ajakan si Fatar…’’ sahut Berna yang muncul
entah dari mana. Aku hanya mengiyakan ajakannya.
’’Dia sepertinya suka sama
kamu…’’ kali ini Berna menyenggolku.
’’jangan sembarang ngomong…!’’.
’’Terus ngapaian dia bela-belain
hampir setiap nyariin kamu, kamu nggak ngerti
kode sih…!!’’
’’Kalau aku jadi kamu, aku sudah
nerima dia, yaa…dia itu ganteng, baik, pintar masak dan kalian juga kerja di
tempat yang sama’’ sambung Berna pergi setelah aku menyuruhnya mengambil cucian
di ruang laundry.
Selama ini aku benar-benar tidak
menyadari bahwa Fatar yang kukenal baru beberapa bulan ini sering
memperhatikanku, meski aku hanya menganggapnya perhatian biasa, meski dia lebih
sibuk daripada aku, dia kadang menyempatkan waktunya mengunjungiku, menemaniku
ngobrol dan terkadang dia membawakanku makanan yang di masaknya, dia selalu
menyuruhku mencoba makanan yang di buatnya sendiri, mungkin apa yang dikatakan
Berna memang ada benarnya, sebaiknya aku mencoba dekat dengan seseorang agar
mengalihkan sedikit perasaan bimbangku terhadap Angga, dan dengan cara ini aku
bisa tahu hatiku sendiri, apakah Angga masih benar-benar di hatiku, dan apakah
aku bisa memasukkan hati yang baru dalam perasaanku.
Hari ini Alfar sudah datang,
tetapi dia masih sibuk di ruang kerjanya, aku hanya mengantar makanannya lalu
pergi. Selama seminggu ia benar-benar fokus kepada pekerjaannya, saat aku
datang membersihkan kamarnya, merapikan baju-bajunya dia hanya duduk di depan
mejanya, mengurusi kertas-kertas yang menumpuk. Dia hanya menyuruhku menyiapkan
pakaiannya untuk malam ini.
Karena malam ini pekerjaan
selesai lebih cepat dan Fatar menyuruhku datang ke restoran hotel, aku segera
mengganti pakaianku dan masuk ke lift, bersamaan itu pula Alfar masuk dan hanya
kami berdua di dalam lift.
’’Pekerjaanmu sudah selesai…?’’
Tanya Alfar berdiri di sampingku.
’’Iya…!!’’ singkatku.
’’Kamu mau kemana?’’ tanyanya.
’’Aku ingin bertemu dengan
temanku di restoran…!’’ jawabku dan tak lama pintu lift terbuka, Alfar pergi
lebih dulu dan aku menuju ke dapur tempat Fatar bekerja.
’’Bentar lagi aku selesai…?’’
ucapnya dari jauh, aku menunggunya di restoran mencari meja yang kosong dekat
dari jendela, agar aku bisa menikmati pemandangan malam dari lantai ini, aku
bisa menyaksikan lampu kota di malam hari dan menikmati keindahannya. Tidak
begitu jauh aku melihat Alfar duduk bersama dengan seorang wanita, walau hanya
melihat punggung wanita itu, aku bisa tahu kalau dia adalah wanita yang cantik
dengan rambut lurus terurai.
’’Maaf yah…!’’ ujar Fatar datang
mengejutkanku, dia membawa minuman dan beberapa makanan.
’’Steak daging ayam, sushi dan
pasta salad…!’’ ujarnya meletakkan di depanku.
’’Dan ini…!’’ terakhir dia
meletakkan coklat dengan berbagai bentuk, melihat semua ini aku tidak sanggup
untuk memakannya.
’’Wah…kamu yang buat semua ini’’
kataku kagum, tanpa berlama-lama aku
mencoba satu persatu masakannya.
’’Gimana…?’’ tanyanya.
’’Emm…ini enak…!’’ kataku
memujinya.
’’Besok kita ketemu di mana?’’
tanyanya lagi.
’’Di depan hotel…’’ singkatku
melanjutkan makanku. Tak lama kemudian seseorang menghampiri kami, Alfar
menepuk pundak Fatar.
’’Ngapain kamu di sini?’’ Tanya
Alfar duduk di samping Fatar, ia sepertinya sangat kenal dengannya.
’’Hanya makan malam…!’’ ujar
Fatar tersenyum padaku.
’’Selamat malam Pak…!’’ sapaku
berdiri lalu kembali duduk, wanita yang tadi bersama Alfar sudah tidak terlihat
lagi, dari kejauhan Yuan juga menghampiri meja kami.
’’Yah kamu kan……!’’ sahut Yuan
menunjukku, ucapannya terpotong saat Alfar mengalihkan pembicaraan. Ternyata
Fatar adalah adik dari Yuan sepupu Alfar. Mereka bertiga sejak kecil sangat akrab dan semenjak
kedua orang tua Alfar meninggal, Alfar selalu menghabiskan waktunya bersama
keluarga dari kakak Ayahnya. Aku merasa tidak begitu nyaman berada di antara
mereka, rasanya aneh jadi aku memutuskan pergi.
’’Kamu di sini aja…!’’ Fatar
menarikku kembali duduk.
’’Dia harus kembali kerja, oh
iya…dan ganti semua selimut dan sprei di kamarku…’’tegas Alfar menatapku
sebentar.
’’Yaa…dia bukan pembantu…!’’ bela
Fatar.
’’Tapi itu sudah pekerjaannya,
pergilah…!’’ katanya lagi.
’’Kalian dekat…?’’ Tanya Yuan,
Fatar hanya mengangguk sambil tersenyum. Terlihat dari wajahnya ia menyukai
Raya.
’’Jangan terlalu berharap, kalian
berdua tidak cocok…!’’ sahut Alfar.
’’Bagaimana pertemuanmu dengan
Leni?’’ Tanya Yuan mengalihkan pembicaraan.
’’Aku tidak menyukainya…jadi
suruh Ayahmu untuk tidak menjodohkanku lagi’.
’’kok nggak suka, Leni itu
cantik, seksi dan baik, dia juga pintar dalam segala hal, dia bisa saja
membantumu mengelola hotel ini’’. Kini Fatar yang angkat bicara.
’’kalian berdua harus cepat
menikah…ingat umur’’. sambung Fatar melihat Yuan dan Alfar bergantian lalu
meninggalkan mereka berdua.
’’Haa…dasar anak itu…!’’ Yuan
terlihat jengkel dengan perkataan adiknya.
’’Kamu kan juga suka sama Raya…?
Terus gimana?’’.
’’Aku belum mengatakan apa-apa,
akhir-akhir ini aku sibuk dengan pekerjaanku!’’.
’’Jangan terlalu fokus dengan
pekerjaanmu, sebelum Raya menetapkan perasaannya, kau harus menumbuhkan
perasaan di hatinya dulu, lihat Fatar ketika dia menyukai seorang wanita, maka
dia akan fokus untuk mendapatkan…’’ jelasnya menasehati Alfar.
’’Jadi kau mendukungku daripada
adikmu itu…!’’.
’’Hahaha tentu saja…kau tau dia
kan! Fatar itu playboy, jangan sampai Raya jatuh hati padanya’’.
’’Aku tidak tahu harus melakukan
apa, agar bisa lebih dekat dengan Raya…apalagi saat ini aku tahu dia sedikit
bingung dengan perasaanya, minggu lalu aku tidak sengaja mendengarkan
pembicaraan Raya dengan mantan kekasihnya, sepertinya lelaki itu yang membuat
Raya menangis tiga tahun yang lalu’’ jelas Alfar.
’’ikuti kata hatimu, dekati dia
perlahan, buat dia terkesan padamu, wanita itu selalu peka dengan perasaan
seorang pria, gunakan kesempatan ini karena kamu adalah atasannya, tetapi…!’’
Yuan berhenti sejenak memperhatikan wajah serius Alfar yang mendengarnya.
’’Tapi jika kamu tidak yakin
menyukainya, hanya karena perasaan sesaatmu, rasa simpati yang masih ada dalam
hatiku, jauhi dia jangan buat wanita itu berharap, Raya wanita yang baik, aku
saja kagum padanya karena dia wanita yang hebat’’ Yuan memukul pundak Alfar, ia
merasa bangga menasehati sepupu dan sahabatnya itu.
’’Wah…kamu berubah jadi bijak
seperti ini’’ puji Alfar pergi menuju ke kamarnya.
Saat itu aku masih mengganti
sprei kasur Alfar dan ia masuk dan langsung menghabiskan minumannya, aku
mengintip sedikit, dia memakan coklat yang aku bawa yang di buat Fatar dan di
berikan padaku. Dia tiba-tiba batuk dan berlari ke kamar mandi, aku
mengikutinya untuk memeriksa apa dia baik-baik saja.
’’Anda tidak apa-apa?’’tanyaku
berdiri di belakangnya.
’’Coklat itu dari mana?’’
teriaknya.
’’Restoran…itu dari Fatar’’.
Alfar menyuruhku menghubungi Fatar menanyakan coklat yang di makannya. Setelah
mendengar apa yang dikatakan Fatar, aku segera berlari menghampiri Alfar yang
masih mencoba memuntahkan makanan yang baru saja di makannya. aku tidak tahu
kalau ternyata Alfar alergi dengan kacang-kacangan, dia tidak pernah
menceritakan ini.
Sekujur tubuh Alfar berkeringat,
wajahnya pucat dan nafasnya sesak, aku membantunya berdiri. Tubuhnya yang berat
membuatku kesusahan membawanya ketempat tidur, untung saja waktu ia masih
sadar, aku merangkulnya dengan susah payah dan membaringkannya. Dia menyuruhku
mencarikan obat pereda sakit, karena begitu khawatir dengan keadaan Alfar dan
tidak mungkin aku keluar meninggalkannya untuk membelikan obat, aku meminta
tolong kepada Handi.
aku merasa bersalah dengan apa
yang terjadi dengan Alfar saat ini, karena aku dia sakit, perlahan aku melap
keringat yang ada di kepalanya, demannya sangat tinggi. Ia terus mendesah dalam
tidurnya, baru setelah memberikan obat yang di bawah Handi perlahan keadaan
Alfar membaik, yang mengejutkanku tiba-tiba Alfar menggengam tanganku.
’’jangan pergi…!’’ bisiknya
setengah sadar, ia membuka matanya menatapku, aku langsung duduk kembali di
tepi kasur, menunggunya sampai tertidur dan beberapa kali mengganti air
kompresnya, waktu menunjukkan pukul dua malam, perlahan aku melepas tangan
Alfar menarik kursi dan membaringkan tubuhku agar aku tetap di dekatnya. Aku
khawatir kalau demannya akan bertambah parah, aku memperhatikan wajah Alfar
yang sedang tertidur, baru kali ini aku
bisa melihatnya dengan jelas, entah mengapa dia tidak asing bagiku,
apakah sebelumnya aku pernah bertemu dengannya di dunia nyata ataukah di dalam
mimpiku sendiri.
Pukul tujuh pagi, Alfar terbangun
dari tidurnya, tubuhnya masih terasa sakit, Dan Raya masih dengan posisi duduk
sambil tertidur menyandarkan kepalanya di bantal. Alfar mendekati wanita itu
menatap wajahnya lalu tersenyum. Ia mengangkat Raya dengan hati-hati agar tidak
terbangun, ia membaringkan Raya di tempat tidurnya.
’’Terima kasih sudah merawatku’’
bisik Alfar menyelimutinya, lalu pergi keluar kamar. Ia tidak ingin
membangunkan Raya hanya untuk menyuruhnya membawakan sarapan paginya, ia menuju
ke dapur sendiri.
’’Selamat pagi Pak…!’’ Sapa Handi
buru-buru membuka pintu, tempat itu terlihat sibuk menyiapkan sarapan untuk
tamu yang lain.
’’Dimana chef Bambang…!’’ cari
Alfar, chef Bambang adalah orang yang bertugas menyiapkan makanan untuknya, dia
memintanya untuk membawakan beberapa makanan dan minuman di kamarnya.
’’Ngapain kamu disini?’’ sahut
Fatar yang berpapasan dengannya di lobi.
’’Oh iya Fat…hari ini Raya nggak
bisa nemenin kamu jalan-jalan…!’’
’’Kok bisa sih…kamu sengaja yah
kasih dia kerjaan!’’ protes Fatar.
’’karena dia milikku…!’’ Ujarnya
pergi meninggalkan Fatar yang kebingungan mendengar Alfar mengatakan itu.
Raya masih tertidur saat Alfar
datang, ia tahu wanita itu kelelahan saat menjaganya semalam, ia mendekatinya
pelan duduk di sampingnya, dia ingat wajah itu, wajah seorang wanita yang
menangis begitu sakit saat melihat orang yang dicintainya mengkhianatinya dia
tidak pernah berpikir sedikitpun untuk bertemu lagi dengannya, tetapi takdir
berkata lain mereka bertemu di tempat yang tak terduga. Cukup lama Alfar
memandangi wanita itu, sampai-sampai ia sendiri tidak sadar kalau hatinya saat
ini menyukai wanita itu
Aku membuka mataku tersadar dari
mimpi aneh, cukup lama saat aku tersentak dari tempat tidurku melihat Alfar
yang cukup dekat berada di sampingku.
’’Anda sudah baikan…!?’’tanyaku
beranjak dari tempat tidur. Tiba-tiba Alfar tertawa saat melihat rambutku yang
berantakan.
’’Ayo…!’’ tariknya menyuruhku
duduk, aku sangat terkejut saat dia mencoba merapikan rambutku.
’’Nggak usah…!’’ ucapku dengan
suara tinggi bercampur malu, aku melangkah keluar tetapi Alfar dengan cepat
mengejarku, menarik tangan dan tubuhku tepat di hadapannya, mendadak seperti
setruman listrik mengejutkan debaran jantungku, berdetak lebih cepat dari
biasanya, entah mengapa saat itu aku tidak bisa menggerakkan badanku menjauh
darinya, aku menatapnya, menelusuri wajahnya yang sedikit menunduk menatapku.
’’Kau harus ingat kapan kita
bertemu pertama kalinya dan bagaimana kita bertemu ? kau harus cari tahu…!’’
ujarnya, melepaskan tangannya, aku terdiam sejenak memikirkan ucapannya yang
membuatku bingung.
’’Hari ini kamu nggak kerja kan ?
baiknya kamu istirahat dulu siang ini, dan Fatar juga punya urusan, jadi hari
ini kamu nggak usah kemana-mana…!’’ ujarnya lagi membuyarkan lamunanku, aku
pergi tanpa mengatakan apa-apa.
’’Dia terlalu banyak diam…!’’
ucapnya dalam hati.
Siang ini aku memutuskan untuk
menghabiskan waktuku sendiri, meski panas matahari begitu menyengat, tidak
membuat ayunan kakiku berhenti, tidak seperti orang lain yang menghabiskan
liburannya bersama, aku masih di tempat ini dengan kesendirianku. Aku takut di
kecewakan, meski sudah berlalu tetapi kenangan itu berbalik menyerangku.
Apalagi akhir-akhir ini Angga perlahan ingin memasukkanku lagi dalam
kehidupannya, dia selalu datang ke tempat kerjaku hanya sekedar menyapa.
Sambil menikmati sejuknya pasir,
aku melangkah tanpa beralaskan kaki merasakan pasir-pasir yang begitu lembut
menyentuh kakiku, tiba-tiba seorang anak kecil berlari kecil sambil menangis,
aku mendekatinya sepertinya ia kehilangan ibunya, aku mengendongnya dan mencari
apabila ada yang mengenal anak itu, tetapi hampir setengah jam menelusuri
sekitar pantai dan hotel, tak satupun orang yang mengenal anak yang umurnya
sekitar tiga tahun lebih itu.
’’Kamu ikut aku yah…!’’ kataku,
masih mengendongnya, ia baru berhenti menangis saat aku membelikan es kream,
anak itu tanpa takut terus mengikutiku sambil tangan kecilnya kugenggam agar ia
tidak terlepas. Aku menuju ke pusat informasi sekitar pantai agar memberi tahu
apabila ada yang mencari anak itu nantinya, dan meminta mereka mengumumkannya
kepada orang-orang yang datang, agar mencari anak ini di hotel tempatku
bekerja. Aku tidak tega meninggalkannya di sini, setelah meninggalkan nomorku
aku membawa anak itu pergi.
’’Siapa anak ini?’’ Tanya Berna
buru-buru menghampiriku. Ia begitu terkejut saat aku menjelaskannya.
’’Sampai saat ini belum ada yang
meneleponku…mungkin orang tuanya sedang mencarinya…!’’ ujarku.
’’Ber…aku titip dia dulu
yah…soalnya Pak Alfar menyuruhku membawakan bajunya, dia tidak ingin orang lain
membawanya kecuali aku..’’ jelasku menyerahkan anak itu tetapi anak itu tidak
ingin melepaskan tangannya dan langsung menangis.
’’Yang lain lagi sibuk, kamu bawa
aja dia, Pak Alfar nggak akan marah kok, lagian Cuma ngantarin baju
doing…!’’Ujar Berna pergi. Aku memperhatikan anak laki-laki itu sambil
tersenyum aku menanyakan namanya dan dengan lucunya dia menjawabnya Vino.
Waktu menunjukkan pukul tiga
sore, dua jam berlalu tapi hpku belum berbunyi, aku berdiri sejenak di depan
pintu kamar hotel Alfar, Vino terlihat lelah, beberapa kali kali ia menguap
mengucek matanya. Aku membuka pintu, di ruang tamu Alfar tidak terlihat, anak
itu melepaskan tangannya berlari ke sofa dan duduk, aku menyuruhnya menunggu
sebentar.
’’Kok lama…?’’ tiba-tiba muncul
di balik pintu kamarnya, aku terkejut melihatnya hanya menggunakan handuk
bertelanjang dada tepat di hadapanku. Aku langsung mundur beberapa langkah tak
menyadari tangga kecil di belakangku, saat itu juga Alfar menarikku cepat
memegangi pinggangku, menahan tubuhku yang hampir terjatuh kebelakang. Aku
melepaskan diriku dari Alfar yang tiba-tiba memelukku. Aku terkejut saat itu,
dan pikiranku berpikir aneh tentangnya, karena saat itu ia menggunakan handuk,
aku berontak dan berusaha melepaskan pelukanku.
’’jangan berpikir aneh-aneh..’’
ujarnya melepasku saat aku menatapnya berusaha berteriak.
’’Om Al…’’ Sahut anak itu
menghampiri Alfar. Aku terkejut langsung mengendongnya.
’’Mana ibunya…?’’ Tanya Alfar,
dia sepertinya mengenal anak laki-laki itu. aku kembali menceritakan bagaimana
Vino bersamaku.
’’Dia anak dari
temanku…’’singkatnya membaringkan anak itu di sofa, dia menghubungi seseorang
dan sepertinya yang dihubungi oleh Alfar adalah ibunya. Vino tertidur di
pangkuanku, lalu Alfar setelah berganti pakaian dia duduk tepat di sampingku,
aku sendiri tidak tahu mengapa akhir-akhir ini dia memperlakukan aku seperti
itu, sikapnya berubah dan aku sendiri tidak tahu harus mengatakan apa-apa,
kecuali bersikap sewajarnya sebagai karyawannya. Selama beberapa menit aku
terus diam dan canggung sedikit tidak nyaman berada dekatnya, mungkin karena di
ruangan itu kami hanya berdua.
’’Malam ini aku akan makan malam
di luar, aku ingin kau ikut !’’ sahutnya memecahkan keheningan, aku hanya
mengangguk.
’’Kamu terlalu banyak diam
Ra…!!’’ ujarnya lagi mengarahkan perhatiannya kepadaku.
’’jangan anggap aku atasanmu jika
hanya ada kita berdua, aku hanya ingin mengenalmu !’’ ucapnya, dan lagi aku
tidak bisa mengatakan apa-apa hanya membalas tatapannya. Aku ingat saat
sebagian staff membicarakan tentang dirinya, bagaimana dia menolak beberapa
wanita yang dijodohkan kepadanya, membatalkan pernikahannya sendiri dan ia
tidak begitu suka dengan keramaian. Aku juga tidak tahu alasan apa ia
mengajakku bersamanya malam ini. Dia langsung menjentikkan jemarinya di
hidungku.
’’Jangan diam aja…katakan
sesuatu?’’ lanjutnya.
’’Kapan ibunya datang…!’’ kataku
mengalihkan pembicaraan, karena saat itu tiba-tiba jantungku berdetak tidak
biasanya. Aku memindahkan Vino dari pangkuanku segera berdiri menjauh membuka
pintu, saat itu seseorang berlari masuk ke dalam menghampiri Vino langsung
memeluk Vino yang tertidur.
’’Thanks banget yah Al…’’
ujarnya, Alfar menunjukku.
’’Dia yang menemukan Vino…!’’.
Wanita itu berbalik dan membuatku
terkejut saat memperhatikannya baik-baik.
’’Deana…!’’ kataku mendekatinya,
aku tidak percaya bertemu lagi dengan Deana.
’’Raya…kamu kerja di sini’’
ujarnya memperhatikan aku sekilas dengan pakaian staf hotel.
’’Thanks Ra…aku harus kembali…!’’
ujarnya lagi tiba-tiba pergi begitu saja, seolah-olah ia tidak ingin bertemu
denganku, aku mengejar Deana dan saat itu juga Angga datang.
’’Kamu nggak becus jagain Vino!’’
Bentak Angga, Deana dari kejauhan melihatku segera pergi saat aku menghampiri
mereka.
’’Vino baik-baik aja…jadi kamu
nggak usah khawatir!’’ jelasku.
’’Makasih yah…Deana bilang kamu
yang nemuin Vino…!’’
’’Oh iya malam ini kamu ada
waktu…?’’ Tanya Angga lega setelah tadi ia terlihat khawatir dan marah kepada
Deana.
’’waktunya ada, tapi untukku…’’
Tiba-tiba muncul, Alfar memegang tanganku dan mengangkatnya, memperlihatkannya
kepada Angga, aku terkejut saat itu.
’’Dia Pak Alfar, Direktur dan
pemilik hotel…’’ kataku memperkenalkannya.
’’Oh…! aku Angga Manajer
Pariwisata dari perusahaan di Surabaya” katanya mengulurkan tangannya, tetapi
Alfar dengan tatapan tidak suka mengabaikan tangan Angga, ia menarikku pergi
tanpa mengucapkan apa-apa.
Setelah
berganti pakaian aku berlari kecil menuju parkiran tempat Alfar menunggu, aku
menyesal mengiyakan ajakannya. Aku tidak ingin orang lain salah paham tentangku
karena akhir-akhir aku dan Alfar sering keluar bersama dan itu semuanya membuat
staf hotel yang mengenalku sering membicarakanku.
“Kita
mau kemana?” tanyaku sebelum naik ke mobil, Alfar hanya diam dan mengangkat
hpnya yang sejak tadi berdering. Wajahnya terlihat kesal setelah menerima
panggilan itu, ia menatapku sebentar lalu tersenyum menghampiriku.
“Ada
apa?’’ tanyaku lagi, Alfar membuka pintu mobil dan menyuruhku masuk. Selama
perjalanan Alfar tak banyak bicara, sesekali ia menatapku sebentar lalu
tersenyum kembali menyetir mobilnya. Hampir setengah jam berkendara dan aku
belum berani menanyakan kemana kami akan pergi. Alfar berbelok masuk ke arah
bandara.
“Ngapain
kita disini?” tanyaku heran, mengikutinya turun dari mobil.
“Ibuku
menyuruhku menjemput seseorang!” singkatnya. Tidak begitu lama menunggu, aku
yang sejak tadi berdiri di belakang Alfar di kejutkan dengan seseorang yang
tiba-tiba memeluk dan mencium pipinya. Alfar langsung mendorong tubuh wanita
itu dengan pelan. Sepertinya wanita ini yang membuat Alfar sejak tadi kesal
karena ibunya yang menyuruhnya langsung menjemputnya, aku tidak tahu apa
hubungan mereka tetapi yang aku tahu saat ini wanita ini baru saja tiba dari
luar negeri setelah menyelesaikan kuliahnya, terlihat dari penampilannya yang
terlihat mencolok tetapi tetap terlihat mewah dan elegan, warna yang rambutnya
yang agak kemerahan sangat cocok dengan wajah kecilnya, tingginya bak model dan
harus aku akui dia begitu cantik. Aku menarik nafas dalam-dalam menyadarkan
diriku sendiri.
“siapa
dia?” Tanya wanita itu, ia mendekatiku memperhatikan penampilanku yang sedikit
berantakan, yah wajar saja sejak tadi sore aku belum mandi. Tiba-tiba dia
menyerahkan kopernya padaku.
“Dia
sekretarismu yah…!?” lanjut wanita itu, tetapi Alfar langsung meraih kembali
koper yang sudah berada di tanganku, menyerahkan kembali kepada Monica.
“Dia
bukan seseorang yang seenaknya kamu suruh!” Ujar Alfar menarik lenganku menjauh
di ikuti Monica yang terlihat kesal dan mengikuti kami ke mobil.
“Kamu
naik taksi aja, aku harus ke suatu tempat denganya…!” tambah Alfar.
“Kok
kamu gitu sih Al…kamu harus ngantarin aku ke hotel, aku nggak tahu jalannya
kemana, aku juga nggak berani naik taksi sendiri…” Monica terus memaksa.
“Dia
aja yang kamu suruh naik taksi!?” Tunjuk monica padaku. Aku lalu turun dari
mobil karena merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Monica langsung masuk ke
mobil setelah aku turun. Aku memutuskan untuk mengalah dan mencari taksi
kembali ke hotel, tetapi Alfar menarikku kembali duduk di kursi belakang.dia
memegang kedua pundakku menatapku begitu dekat, tatapannya yang menyiratkan
bahwa dia ingin aku tetap bersamanya. Sepanjang perjalanan aku hanya diam,
hanya wanita ini yang masih terus bicara kepada Alfar, dari wajahnya aku bisa
tahu bahwa Alfar tidak begitu suka dengan wanita ini, dia terlihat begitu
agresif karena wanita itu terus merangkulkan tangannya pada Alfar yang selalu
menepisnya.
Aku
begitu lega saat tiba di hotel, karena aku tidak ingin berlama-lama dengan
mereka. Kekagumanku pada Monica sirna begitu saja setelah melihat sikapnya
sedikit angkuh dan tak tahu diri. Alfar langsung menghentikan langkahku saat
turun dari mobil, Monica sudah tidak terlihat lagi setelah beberapa staf datang
membawakan barangnya dan mengantarkannya masuk ke hotel.
“Aku
minta maaf soal yang tadi…!? “ ujar Alfar kembali menarikku masuk, tetapi aku
langsung menepis tangannya karena takut
ada yang melihat kami.
“Maaf!!”
kataku, Alfar tersenyum dia sepertinya tahu apa yang aku khawatirkan.
“Aku
belum makan sejak tadi, kau harus menemaniku makan malam” katanya melihat
sebentar jam tanganya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sudah agak larut
tapi tidak bisa membohongiku perutku yang sejak tadi siang belum makan apapun.
Aku mengikuti Alfar ke lantai atas, restoran hotel memang sudah tutup, dan agak
gelap tetapi agak terang dengan cahaya lilin yang menyala di di meja dekat dari
jendela kaca, beberapa makanan dan minuman sudah tersaji di meja itu. Ternyata
sejak tadi Alfar sudah merencanakan ini saat kami di bandara, ia sedikit kecewa
karena makan malam kami harus gagal dan untuk itu Alfar menghubungi chef
Bambang dan Fatar untuk menyediakan
semua ini.
“Bagaimana?”
sahut seseorang tiba-tiba, Fatar dan Yuan muncul entah dari mana.
“Awalnya
Fatar tidak ingin membuatkan semua ini. Tapi….!”
“Sebaiknya
kita pergi saja…!” Ujar Fatar menarik Yuan pergi.
Setelah mereka pergi, aku memperhatikan Alfar
yang sudah duduk di hadapanku, beberapa hari ini harus aku akui bahwa ada
perasaan yang aku harapkan padanya atas sikapnya selama ini padaku, aku sendiri
tidak bisa menebak bagaimana sikap yang ditunjukkan kepada orang lain dan sikap
yang ditunjukkan padaku agak berbeda. Apa yang dibicarakan orang tentangnya
tidak sama seperti apa yang aku hadapi sendiri. Alfar bersikap sangat dingin
dan angkuh kepada orang-orang yang berada di sekitarnya, tak terkecuali wanita,
siapapun yang mendekatinya, Alfar akan terlihat lebih kasar dan suka membentak.
Kadang aku sedikit takut dengannya. Tetapi entah mengapa hal itu tidak terjadi
padaku, dia lebih cenderung begitu lemah. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk
memberanikan diri mengatakan apa yang ingin aku katakan.
“Mungkin
sebaiknya pak Alfar tidak memperlakukanku seperti ini lagi, aku takut staf dan
karyawan lain akan membicarakan hal aneh yang tentang kita berdua!” ucapku,
Alfar langsung menghentikan makannya dan meminum segelas air dalam sekali
teguk. Dia menatapku sambil menopang dagunya dengan kanannya.
“Apa
kamu benar-benar tidak ingat kita pernah bertemu sebelumnya…!” Ujar Alfar, ini
ketiga kalinya pertanyaan aneh ini ku dengar. Aku memperhatikan wajah Alfar
mencoba mengingat kapan kami pernah bertemu! Meski mencoba mengingat begitu
keras, tetap saja tak ada ingatanku tentang dia. Alfar masih tersenyum meraih
sesuatu di bawah meja. Mengeluarkan kotak ukuran sedang menaruhnya dihadapanku.
“Mungkin
dengan melihat ini kamu akan ingat denganku…!” Lanjut Alfar, aku sedikit gugup
saat melihat kotak itu, entah apa yang ada di dalamnya yang membuatku
benar-benar lupa, dengan hati-hati aku membuka kotak itu, sebuah baju kemeja
kotak-kotak abu-abu dengan pita berwarna hitam putih di sekitar kerah,
melihatnya saja aku sudah ingat baju ini, baju yang aku kenakan saat menangis
begitu bodohnya mendapati Angga berselingkuh dengan Deana. Entah kenapa
perasaanku kembali mengingat kejadian itu, aku memperhatikan wajah Alfar, Yah
aku sudah ingat orang ini, dia yang membantuku saat itu.
“Waktu
itu aku begitu malu dan pergi begitu saja tanpa berterima kasih pada anda, aku
minta maaf karena tidak mengingatnya…!” kataku lalu terdiam sejenak menatap
baju itu, tentu saja baju itu membuat kenangan pahitku kembali, karena baju itu
juga adalah hadiah pertama yang diberikan Angga padaku. Tiba-tiba aku menangis,
aku tak bisa membendung perasaanku
sehingga di depan Alfar aku kembali menumpahkan air mataku, aku tidak tahu
harus bagaimana karena perasaanku yang terlalu kuat pada Angga dan sampai saat
ini kejadian itu masih tertanam kuat dalam hatiku. aku bisa membohongi
orang-orang betapa kuatnya diriku, betapa tegarnya perasaanku, meski berlalu
cukup lama tapi masih ada duri yang sering kali menganggu.
“Ra…kamu
tidak apa-apa?” Alfar langsung berdiri menghampiriku. Dia langsung meraih baju
itu dan membuangnya di tempat sampah, dia merasa bersalah karena memberikan
kotak itu padaku.
“Aku
minta maaf Ra…aku tidak tahu kalau…!!!? Alfar langsung memelukku, Ia tak tahu
harus mengatakan apa untuk membuatku berhenti menangis. Aku menyandarkan
kepalaku di perut Alfar, ia dengan sabar berdiri sampai menunggu tangisku
berhenti.
“Ini yang terakhir kalinya kamu menangis
untuk laki-laki seperti Angga itu, mulai sekarang aku akan ikut campur dalam
setiap apa yang kamu lakukan dan kamu akan menjadi tanggung jawabku…!!” bisik
Alfar, aku lalu berdiri tidak seharusnya aku seperti ini di depan Alfar tapi
entah mengapa kesedihanku tiba-tiba menghilang begitu saja, ada perasaan nyaman
dan hangat saat dia memelukku. Aku menatap matanya lalu menyentuh pipi Alfar,
cukup lama sampai aku terperanjat kaget saat sadar apa yang aku lakukan. Aku
segera pergi dari hadapan Alfar kembali menuruni tangga agar lebih cepat
menghilang darinya. aku berlari menuju ruang karyawan ,menutup pintu. Aku
begitu malu saat mengingat apa yang baru saja terjadi dan bagaimana harus
menghadapinya besok.
***
Sudah dua hari berlalu,
dan aku belum pernah bertemu dengan Alfar dan itu sengaja kulakukan untuk menghindarinya.
Aku hanya menyuruh pelayan mengantar
sarapan dan makan siangnya dengan alasan ada hal yang kukerjakan.
Biasanya dia menghubungiku kalau bukan aku sendiri yang membawanya, tetapi kali
ini tidak bahkan sejak kejadian itu dia bahkan tidak pernah menghubungiku atau
mengirim pesan kepadaku. Aku mencoba untuk tidak memikirkanya tetapi itu
sedikit mengangguku dan Alfar terus berada dipikiranku. Untuk mengobati rasa
penasaranku, aku mengambil sendiri pakaian Alfar yang telah yang di cuci dan
membawakannya sendiri di kamarnya. Aku terkejut saat Monica buru-buru mematikan
rokok yang di hisapnya, menyembunyikannya dalam tas lalu menyemprotkan parfum
di sekitarnya, mengira Alfar yang datang membuka pintu. Wajah Monica berubah
saat melihatku, rasa lega terlihat jelas di raut wajahnya . tanpa
menghiraukannya, aku masuk ke dalam ruang pakaian Alfar menaruh baju-bajunya
lalu membersihkan dapur yang berantakan, memeriksa kulkas dan terakhir
membersihkan kamar tidurnya. Monica masih berada di ruang tamu berbaring di
sofa sambil membaca beberapa majalah yang berantakan di atas meja, tidak lama
kemudian Alfar datang dan terkejut dengan kedatangan Monica. Aku masih
merapikan meja kerja Alfar saat mendengar suaranya, menyuruh Monica pergi.
“Aku bosan di kamar terus, nggak ada
teman jalan karena kamu sibuk kerja…!” ujar Monica.
“Kamu kan bisa ngajak Yuan atau Fatar…!”
singkat Alfar dari suaranya ia terdengar begitu lelah.
“Aku mau jalannya sama kamu…!!kamu
ngerti nggak sih perasaan aku? Ibu kamu juga setuju sama hubungan kita!” jelas
Monica terdengar kesal.
“Hubungan? Sejak kapan aku setuju dengan
hubungan yang disetujui oleh ibuku…!” bentak Alfar menyuruh Monica keluar.
“Raya…!! “ Ujar Alfar terkejut saat
melihatku sedang merapikan tempat tidurnya. Aku pura-pura tidak mendengar
pembicaraan mereka.
“Aku minta maaf karena baru datang
membersihkan ruangan anda” kataku bersiap-siap keluar. Terdengar suara Alfar
yang menarik nafas, ia terlihat begitu lelah menjatuhkan tubuhnya di kursi,
menyandarkan kepala sambil menutup matanya. Mungkin ini bukan waktu yang tepat
untukku, meski hanya melihatnya sebentar aku cukup merasa senang dia baik-baik
saja.
“Ra…!” panggil Alfar saat aku
membalikkan badan ingin pergi. Dia membuka matanya sambil tersenyum melihatku,
lalu berdiri menghampiriku.
“Aku benar-benar merindukanmu…!”
bisiknya memelukku. Harus aku akui bahwa saat ini aku benar-benar bahagia,
meski aku belum yakin sepenuhnya tenang perasaanya tetapi saat saat kebahagian
yang hilang kini perlahan kembali. Aku membiarkan Alfar memelukku sebentar dan
Monica yang saat itu belum pergi tiba-tiba masuk.
“Dasar sekeretaris murahan…! Begini
caramu menarik Alfar…?karena dia laki-laki kaya dan kamu terus menggodanya…!? “
teriak Monica menarikku dari Alfar dan mendorongku dengan kuat hingga lenganku
terbentur tembuk. Aku menjerit kesakitan.
“Apa yang kamu lakukan…keluar dari
sini…!!” bentak Alfar menarik Monica keluar.“Aku tidak akan membiarkan wanitu
itu…!” ancamnya dengan wajah yang memerah. Setelah menutup pintu Alfar menghampiriku.
“Aku tidak apa-apa…!” kataku sambil
tersenyum berusaha menahan sakit akibat dorongan Monica.
“Aku minta maaf…!” ujar Alfar meraih
tanganku mengenggamnya sambil tertunduk.
“Aku nggak apa-apa kok…lagian aku yang
salah datang saat yang tidak tepat…!” tambahku melepas tangan Alfar perlahan. Aku
pamit pergi meninggalkan Alfar membiarkan beristirahat. Pikiranku begitu kacau
dan takut terlalu, banyak halangan yang membawa pengharapanku tiba-tiba sirna,
semangatku yang ingin merasakan jatuh cinta sepertinya harus aku hilangkan. aku
tidak pandai memperjuangkan hubunganku, mengalah jalan satuya-satunya. Aku
tidak ingin mengacaukan dan membuat orang lain kesusahan karenaku, mungkin
sebisanya aku membiarkan perasaanku. Yah…mungkin aku bisa!. Saat ini hanya itu
yang bisa menjernihkan pikiranku.
***
Suara ketukan pintu yang begitu keras
tiba-tiba membuat staf yang berganti pakaian terkejut, aku buru-buru membuka
pintu, Monica dengan melipat kedua tangannya berdiri sambil menatap tajam
melayangkan tamparannya.
“Apa yang kamu lakukan?” Berna menarikku
menjauh. Orang-orang yang berada di sekitar tempat itu dengan cepat berkumpul
karena penasaran dengan apa yang terjadi.
“Kita bicara di tempat lain…!” ajakku
pergi, meski sangat kesal Monica mengikutiku menuju ke pintu masuk tangga darurat.
“Apa hubunganmu dengan Alfar, kamu
sengaja menggodanya…!!” .
“Hubungan kami hanya sebatas pekerjaan,
tidak lebih dari itu…!” jelasku, meski sedikit tidak masuk akal, tapi aku tahu
Monica tidak akan percaya dengan begitu mudah hanya karena alasan itu.
“Alfar akan menikah
denganku, setuju atau tidak setuju. Aku tidak ingin orang lain mengacaukan apa
yang kupertahankan selama ini…!” gertak Monica pergi. Aku mendudukkan tubuhku
di tangga, memegangi kepalaku yang tiba-tiba sakit. Aku tidak tahu mengapa
selemah ini diriku, tidak bisa membelaku diriku sendiri, membiarkan diriku di
bentak tanpa bisa melakukan apa-apa, tanpa bisa mengatakan apa-apa. Padahal
begitu banyak yang ingin aku katakan, saat itu ingin sekali aku mengatakan
bahwa aku juga menyukai Alfar, dia tidak berhak menentukan pilihan sepihak.
Alfar berhak menentukan sendiri pilihannya. Jika memikirkan itu hanya membuat
diriku merasa bodoh. Buat apa jika itu semua tidak bisa aku katakan langsung.
Di lain sisi aku memikirkan sikap Alfar selama ini padaku, aku takut jika
sikapnya selama ini hanya bentuk simpati
Kehidupan Monica memang terbilang cukup
bebas dan suka menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang. Saat di luar
negeri ia pernah tertangkap dengan rekan-rekannya mengadakan pesta narkoba dan
miras. Kedua orang tuanya tak pernah tahu apa yang di jalani putri satu-satunya
itu. Alfar dan Monica sudah kenal dan berteman sejak kecil karena kedua orang
tua mereka dulunya sangat dekat. Monica sangat menyukai Alfar saat itu meski
beberapa kali Alfar menolaknya. Berbagai macam cara ia lakukan untuk mendekati
Alfar bahkan sampai ke Eropa mengikutinya. Sikapnya yang keras dan selalu
bertindak semaunya terkadang membuat pikirannya kacau dan melampiaskannya pada
minuman keras. Alfar beberapa kali menasehatinya tetapi dia hanya akan berhenti
melakukan itu jika Alfar bersedia menikahinya. Saat itu menjelang beberapa
minggu Alfar berusaha untuk dekat dengan Monica agar bisa melihat dirinya tidak
melakukan hal yang bisa merusak dirinya sendiri. Itu hanya berlangsung sebulan
saat Monica tertangkap melakukan pesta narkoba bersama teman-teman kuliahnya,
selama 3 bulan Monica di rehabilitasi tanpa sepengetahuan orang tuanya, hanya
Alfar yang mendampinginya saat itu. Setelah menyelesaikan kuliahnya dan bekerja
selama setahun di di Eropa, Alfar tidak pernah lagi menemui Monica bahkan saat
menghubunginya, Alfar hanya mengabaikan semuanya. Sejak kedua orang tua
bercerai, Monica sudah jarang mendapatkan kasih sayang dari keduanya. Hanya Ibu
Alfar satu-satunya yang sering menanyakan kabar Monica, dia sudah menganggap
Monica anak perempuannya. Saat ibunya tahu Monica ke Indonesia, ia meghubungi
Alfar segera menjemput dan membawanya ke hotel. Kemarin ibunya datang ke hotel
mengunjungi Monica sebentar lalu menemui Alfar membicarakan tentang Monica, ia
ingin kalau anaknya itu segera menikahi Monica. Meski Alfar beberapa kali
menolak ibunya tidak ingin memaksakan kehendak anaknya itu. Ia hanya khawatir
karena umur Alfar yang seharusnya menikah, ia tidak ingin melihatnya anaknya
sibuk bekerja dan lupa kalau saat ini bahwa ibunya sudah sering sakit-sakitan
dan ingin melihat Alfar segera menikah.
***
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi, cuacanya
sedikit mendung. Aku beranjak dari tempat tidur berdiri sejenak memperhatikan
pakaian kotor yang menumpuk. Biasanya aku tidak pernah menggunakan jasa laundry
tapi kali ini karena pakaiannya sebanyak ini aku menelpon jasa penjemputan yang
tidak begitu jauh untuk membawa semua pakaianku. Aku benar-benar menggunakan
hari liburku dengan baik dengan bersantai seharian di depan TV di tambah hujan
deras. Dua jam sebelum aku kembali ke hotel di luar hujan semakin deras, aku
memperhatikan dari luar jendela hujan kali ini spertinya akan lama. hpku
berdering dan itu dari Alfar, aku langsung mengangkatnya tanpa ragu. Aku
terkejut saat dia menyuruhku keluar, mobilnya sudah berada di depan rumah. Aku
tidak menyangka Alfar akan datang. Dia berlari masuk di tengah hujan yang
begitu deras.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku
terkejut tidak percaya.
“Aku kira kamu keluar kota?” lanjutku
menyuruhnya duduk.
“Aku membatalkannya, mungkin karena
kelelahan…!” jelasnya.,
“Terus apa yang membuatmu tiba-tiba ke
sini!” tanyaku lagi.
“Karena aku ingin bertemu denganmu, aku
lupa kalau hari ini kamu libur…!maka dari itu aku kesini” katanya.
“setidaknya anda menghubungi saya
dulu…!” kataku menatapnya.
“Ayo…!” Alfar berdiri dan mengambil
koper kecil yang akan kubawa ke hotel, menyuruhku berganti pakaian dan menunggu
di mobil. Alfar melajukan mobilnya dan berhenti di sebuah café, di saat seperti
ini paling tepat menikmati minuman panas. Sambil menunggu pesanan kami berdua
datang, aku menikmati suasana hujan yang membasahi kaca jendela, airnya
membasahi kaca jendela dan sedikit berembun, aku menempelkan tanganku merasakan
dinginnya yang menembus kaca, entahlah ini memang terlihat biasa tetapi bagiku
ada perasaan luar biasa sedang berada di hadapanku, tanpa sadar aku
memperhatikan wajahnya yang begitu serius membaca buku yang terletak di rak
buku café. Mungkin sedikit terlihat bodoh, aku menatapnya sambil tersenyum
sendiri, terbawa suasana dengan suguhan romantis musik yang di putar,
Tiba-tiba tatapanku tertangkap basah
oleh Alfar yang langsung menutup buku yang dibacanya. Aku cepat-cepat
berpura-pura melihat keluar, ia tersenyum meraih tanganku, menggenggamnya erat
sambil menatapku dalam seolah ada yang ingin diucapkannya tetapi sulit di
sampaikan.
“Aku dengar, kemarin Monica
menghampirimu?” Tanya Alfar menatapku yang tertunduk karena tidak harus
mengatakan apa.
“Mungkin Monica akan sedikit menganggumu,
apalagi kalau sudah tahu hubungan kita…!” ucap Alfar menyakinkan bahwa sudah
ada hubungan diantara kami berdua meski ia tidak pernah mengucapkan kata suka
atau mencintaiku, tetapi dari caranya yang ingin menjagaku menjadi kesimpulan
untuk perasaanku yang memang saat ini jatuh cinta dengannya. Walau terkadang masih
ada perasaan takut karena ada halangan yang harus aku hadapi.
“Aku harus kembali bekerja…!” kataku
langsung berdiri mengalihkan suasana yang membuatku sedikit canggung.
“Aku sudah memberi tahu Berna dan Hendra
untuk menggantikanmu sampai malam ini…!” jelas Alfar ia ingin menggunakan
kesempatan ini untuk lebih dekat denganku. Aku kembali duduk meminum kembali
minumanku.
“Aku ingin mengajakmu ke banyak tempat
hari ini, tetapi aktifitas kita sedikit terganggu karena hujannya semakin deras…”ujarnya
sesekali melihat keluar jendela. Setelah menghabiskan waktu satu setengah jam
di café, Alfar mengajakku kembali ke mobil.
“sebaiknya kita kembali saja, hujan
seperti ini kita mau ke mana?” tanyaku kebingungan, Alfar yang sedang menyetir
terlihat kebingunan mencari tempat yang akan di tuju. Alfar lalu berhenti di
sebuah toko persiapan.
“Hari ini Ibuku ulang tahun, aku tidak
tahu harus membelikannya apa?” Katanya menyuruhku masuk membatunya memilihkan
sesuatu sambil mendengarkan cerita mengenai ibunya, aku langsung menunjuk
kalung yang menurutku sangat cocok dengan kpribadian ibunya hanya dengan
mendengarkan ceritanya. Setelah membelikan hadiah buat ibunya, Alfar kembali
mengajakku ke sebuah restoran Jepang yang jaraknya tidak begitu jauh dari
hotel.
“Restoran ini di kelola oleh oleh
keluarga Yuan dan Fatar…!” katanya, kini Alfar mengenggam tanganku masuk ke
tempat itu. Aku berusaha melepas tangannya tapi Alfar bersikeras tidak ingin
melepaskannya, ia menarikku masuk ke dalam. Restoran itu hanya buka pada pukul
5 sore.
Terdengar suara tawa saat kami masuk,
dari jauh beberapa orang sedang mengobrol tidak lain mereka adalah keluarga
Alfar. Yuan dan Fatar yang melihat kami masuk terkejut saat Alfar membawa
seorang wanita bersamanya.
“Raya…!!” Ujar Fatar mendekatiku, aku
masih berusaha melepaskan tanganku dan berlindung di balik tubuh Alfar.
Semuanya keluarga Alfar berada di situ,
tak terkecuali ibunya. Alfar menyuruhku duduk, bergabung dengan mereka. Aku
tidak menyangka akan seperti ini. merasakan kecanggungan yang luar biasa.
Untung saja keluarga Alfar tidak seperti apa yang aku perkirakan, apalagi
mengobrol banyak dengan Ibunya yang sudah setahun ini sudah tidak bisa berjalan
lagi dan hanya menggunakan kursi roda, saat berbicara dengannya terkadang dia
harus berhenti mengatur nafasnya lalu kembali bercerita mengenai Alfar.
“Ini pertama kalinya dia membawa wanita
menemuiku…!”Katanya pelan, sambil memperhatikan Alfar dari kejauhan.
“Dan ini pertama kalinya juga, ia
terlihat bebas tersenyum dan menikmatinya kehidupannya, dulu ia begitu sibuk
bekerja dan menghabiskan waktunya hanya bekerja. Sebagai ibu aku tidak ingin
mengekang pilihannya mencari wanita di cintainya…!!” ujar Ibunya menatapku
dengan harapan mungkin akulah satu-satunya wanita yang bisa berada di sisinya.
“Jadi kalian benar-benar udah
pacaran…!!” Sahut Yuan menghampiri. Ia duduk di dekatku memperhatikan dengan
seksama.
“Aku tidak menyangka Alfar menyimpan
perasaannya begitu lama untuk wanita yang baru di temuinya 3 tahun lalu” ujar
Yuan membuatnya orang yang berada di sekitarnya kebingungan, dengan semangatnya
Yuan menceritakan kejadian pertama kali kami bertemu tanpa memasukkan hal yang
paling memalukan yang pernah terjadi padaku.
“Al…!!” ucapku sebelum turun dari mobil.
Ini pertama kalinya aku memanggil namanya langsung. Kami sudah berada di
parkiran hotel, Alfar mematikan mesin mobilnya. Dia begitu senang saat aku
memanggil namanya.
“Aku ingin sekali mendengar kamu
memanggilku seperti itu…!” Alfar kembali
meraih tangan kananku, memperhatikan jari-jariku yang pucat karena kedinginan.
“Mungkin ini terlalu cepat bagimu…tapi
saat ini aku ingin serius, usia kita berdua bukan lagi saatnya untuk pacaran
atau menunggu sampai kita benar-benar cocok tetapi sekarang ini kamu
satu-satunya wanita yang ingin nikahi…!” Alfar meraih sesuatu dari kotak yang
sejak tadi di bawanya, mengeluarkan sebuah cincin dan memasangkan di jariku.
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, begitu tiba-tiba dan tanpa sadar air mataku
menetes.
“Saat ini aku melamarmu, meski waktunya
tidak tepat dan aku tidak tahu kamu akan menerimanya atau tidak…!” Alfar
menghentikan ucapannya saat melihatku air mata membasahi pipiku. Tidak bisa ku
pungkiri saat ini aku benar-benar bahagia, aku tidak sempat lagi memikirkan apa
yang akan terjadi. Alfar langsung memelukku dengan bahagia yang begitu tampak
di wajahnya, meski tidak mengatakan apa-apa ia bisa tahu perasaanku padanya.
“Kamu hanya boleh menangis untukku,
takkan kubiarkan kamu menangis untuk orang lain lagi…!!” bisiknya
menenangkanku.
Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum
masuk ke hotel, berjalan lebih dulu sebelum Alfar masuk. Aku segera menuju ke
ruang karyawan, di waktu seperti ini semua staf pasti sedang beres-beres dan
bersiap untuk pulang.
“Kamu dari mana aja sih…?” Sambut Berna terlihat
begitu lelah setelah menggantikan aku mengerjakan semua pekerjaan hari ini.
“Aku minta maaf, Pak Alfar menyuruhku
menemaninya…!” kataku berbohong menggunakan hujan sebagai alasannya. Tapi
sebagian dari mereka tidak percaya. Saat yang lain sudah pergi dan hanya
beberapa orang yang tinggal yang dekat denganku, dengan rasa penasaran yang
tertinggal, tidak lama kemudian Hendra dan Handi juga bergabung. Berna yang
dipenuhi rasa penasaran langsung menyuruhku duduk. Masalah seperti ini Berna
satu-satunya yang tajam dan tak bisa di bohongi.
“Kalian berdua lagi pacaran kan…!” Tanya
Berna langsung tanpa berbelit.
“Jawab aja…kami nggak akan bilang ke
lain…!” sahut Jena, ia langsung duduk di sampingku.
“Saat ini, orang-orang sedang
membicarakan siapa staf hotel yang sedang dekat dengan Pak Alfar…!!” lanjut
Berna duduk tepat di hadapanku.
“Ini Cuma urusan pekerjaan, kalian tahu
kan bagaimana sikap pak Alfar! Dia tidak suka jika orang lain mencampuri
urusannya…!” jelasku dengan alasan yang kuat.
“Kalian sebaiknya pulang…sebelum hujan semakin
deras lagi…!” tambahku, tetapi jawabanku tidak membuat mereka lepas dari rasa
penasaran.
“Kalian liatkan…? saat pak Alfar
langsung mendatangi kami berdua meminta tolong. Sikapnya tidak seperti yang
kita saksikan selama ini, sikap dinginnya itu…!” Tambah Hendra.
“Hari ini hari ulang tahun ibunya…aku di
suruh memilihkan hadiah yang tepat” tambahku lagi berdiri meninggalkan mereka.
“Kenapa aku tidak percaya yah…!” timpal
Jena berdiri, bersiap untuk pergi.
“Aku minta tolong untuk tidak
membicarakan ini saat jam kerja, kalian tahu bagaimana pengaruhnya kepada pak
Alfar dan hotel kita” aku menutup pintu kamar, satu persatu sudah pergi
meninggalkan ruangan itu. Aku sudah membicarakan masalah ini dengan Alfar dan
dia berjanji akan berhati-hati saat bertemu denganku. Kali ini Hendra yang
mengambil alih untuk mengurusi keperluan Alfar. Aku hanya bisa melihat Alfar
dari kejauhan, seperti saat ini Monica sedang bersamanya, dan kabar yang ramai
dibicarakan berubah dengan konsep yang berbeda, kali ini Monica yang jadi
pembicaraan mereka. Wanita yang di kabarkan akan menikah dengan Alfar. Kabar
seperti itu tidak membuatku goyah dan membuat pikiranku terganggu, hanya saja
aku takut semuanya akan berjalan tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Aku
terus memegangi jariku melihat cincin yang di berikan Alfar padaku. Semuanya berlalu
begitu cepat sembari mengingat kapan perasaan ini mulai tumbuh, kapan aku jatuh
cinta dengannya.
“Apa yang kau lakukan?” sahut Alfar
tiba-tiba muncul, saat itu aku berada di aula hotel, mengecek kembali persiapan
seminar yang akan diadakan.
“Kamu ngapain di sini?” tanyaku
terkejut, melihat sekelilingku.
“Aku Cuma sebentar, jangan khawatir…!”
katanya meraih tanganku.
“Hari ini aku akan keluar kota selama
tiga hari, tadi aku ingin menghubungimu tapi kamu pasti sangat sibuk karena
kegiatan yang diadakan di hotel, jadi aku menemuimu langsung” jelas Alfar
tersenyum.
“Sebaiknya kamu pergi, nanti ada yang
melihat kita…!” kataku khawatir
“Cepat atau lambat mereka juga akan
tahu…aku ingin segera melamarmu dengan resmi di depan kedua orang tuamu…!” ujar
Alfar duduk di tepi panggung, ia menarikku lebih dekat dengannya.
“Katakan sesuatu Ra…!!jangan membuatku
jadi canggung seperti ini” dia menatapku yang sejak tadi gelisah.
“Kita bicarakan ini setelah kamu
pulang…!” kataku.
“Hmmm…baiklah!!”Alfar berdiri langsung
memelukku.
“Aku akan sering menghubungimu…!”
lanjutnya pergi, aku bernafas lega kembali menata meja.
Saat itu Alfar yang baru saja keluar
dari ruangan berpapasan dengan Angga yang terlihat terburu-buru mencari
seseorang. Ia melihat Angga masuk ke aula dan mengikutinya masuk.
“Ra…” panggil Angga menghampiriku
terburu-buru. Ia mengatur nafasnya sebelum bicara.
“Hari ini kamu harus pulang ke Bandung,
Riki tadi menghubungimu tapi kamu tidak mengangkatnya…!” Ujar Angga. Riki
adalah adik laki-lakiku.
“Ibumu masuk rumah sakit dan ia
menyuruhmu datang secepatnya…!” tambahnya langsung membuat tubuhku lemas.
Padahal baru kemarin aku dan ibuku mengobrol lewat telepon.
“Aku akan mengantarmu…!” Angga membantuku berdiri, seolah-olah tubuhku
begitu sulit di gerakkan. Entah mengapa perasaan aneh tiba-tiba menyelimutiku. Selama tiga tahun ini aku
memang tidak begitu akrab dengan ibuku sejak aku memutuskan untuk membatalkan pernikahanku
dengan Angga.
“Aku yang akan mengantarnya…!” Alfar
meraih tanganku menggantikan Angga.
“Ini tidak ada urusannya denganmu…!”
Angga menepis tangan Alfar.
“Aku harus pulang sekarang…!” kataku
melepaskan tangan mereka.
“Aku pacarnya…!” Alfar mengejar
menemaniku mengambil barang-barangku sedangkan Angga yang tidak bisa melakukan
apa-apa menunggu kami turun. Alfar yang hari itu akan keluar kota terpaksa
menyuruh pak Gani menggantikannya dan ikut menemaniku. Selama satu jam menempuh perjalanan dengan
pesawat dan setengah jam menggunakan mobil kami sudah tiba di rumah orang
tuaku. Saat aku turun dari mobil keadaan rumah begitu ramai, kain putih
terpasang tepat di depan gerbang. Ayahku yang sejak tadi menunggu di pintu
menyambutku dengan wajah kesedihan dan air mata. Ibuku telah meninggal sebelum
aku sempat melihatnya, sebelum dia memberikan maafnya padaku. Hanya perasaan
menyesal yang ditinggalkannya padaku, rasa bersalah yang begitu besar. Aku
menatap jasad ibuku yang terbaring kaku tertutup kain putih, memperhatikan
wajahnya yang pucat. Kemarin baru saja ia meneleponku menyuruhku datang
menghadiri wisuda Riki. Tapi setelah aku datang kenapa hanya tubuhnya yang tak
bernyawa menyambutku. Aku menumpahkan air mataku dengan diam terus meminta maaf
di depan jasad ibuku, bahkan setelah dikuburkan aku masih terus diam dengan
tatapan kosong tanpa menyentuh makananku.
“Sebelum ibu meninggal dia terus
menyebut namamu dan ingin meminta maaf padamu…!” Sahut Riki menghampiriku, ia
memegangi pundakku menepuknya berulang kali.
“Ayah juga akan sedih melihatmu seperti
ini…!!” hiburnya, aku melihat ayah dari kejauhan yang sedang berbicara dengan
Angga dan Alfar. Wajahnya yang sudah menua terlihat sedih tersembunyi di balik
senyumnya.
“Seharian ini kamu belum pernah makan
sesuatu…!” Alfar menghampiriku dengan membawa
beberapa makanan, aku hampir lupa dengan keberadaan mereka berdua. Alfar
dan Angga yang ngotot menemaniku.
“sebaiknya kalian berdua kembali…!”
kataku.
“Aku akan menemanimu di sini…!” Ujar
Alfar duduk di sampingku sambil menyuapiku.
“Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu…!”.
“Aku sudah menyerahkan kepada pak Gani…!”
Singkatnya. Angga sejak tadi sudah pergi karena ia tidak bisa meninggalkan
pekerjaannya.
Pagi menjelang, tidak seperti biasanya
aku bangun di saat matahari semakin tinggi, aku memperhatikan foto ibuku yang
terpajang di ruang tamu, mataku mengitari semua ruangan mengingat banyak
kenangan yang terjadi di rumah kecil kami. Tempat tinggal keluargaku memang
jauh dari kota, jalananya masih sangat berbatu dan persawahan menyambut kami
saat datang ke kampung halamanku.
“Kapan kalian akan menikah?” Tanya
Ayahku, aku langsung duduk di dekatnya, Riki dan Alfar sedang mengobrol di
teras depan.
“Menikah?” kataku terkejut saat
kata-kata itu terlontar dari mulut Ayah.
“Semalam saat kamu sudah tidur, Alfar
mengatakan semuanya padaku. Dia ingin segera menikah denganmu dan meminta izin
pada Ayah…!”
“Awalnya Ayah terkejut saat mendengarnya
langsung, meski belum begitu mengenalnya, Ayah bisa tahu kalau pria itu
benar-benar mencintaimu..!” Ayah langsung memegang tanganku.
“Ayah hanya ingin kamu dan Riki bahagia,
Ayah sudah tua untuk mengatur kehidupan kalian, jadi untuk itu, ayah akan
sangat bahagia bisa melihatmu segera menikah…!” jelas Ayah.
“Kalian bisa menikah saat wisudaku
minggu depan…!” tambah Riki datang bersama dengan Alfar. Aku tidak bisa
mengatakan apa-apa lagi, meski waktunya yang kurang tepat aku bisa memahami
kekhawatiran Ayahku. Sore ini aku juga harus kembali bersama Alfar. Riki dan
Ayah akan menyusulku beberapa hari kemudian. Hari itu kami tidak langsung ke
hotel, Alfar mengajakku ke rumahnya.
“Kenapa bukan besok aja…!” kataku turun
dari mobil.
“Ibuku mintanya hari ini…!” katanya
menuntunku masuk, kali ini Alfar memperkenalkanku kepada seluruh keluarganya,
aku tidak menyangka mereka begitu baik dan tidak memandangku dari segi
pekerjaanku yang hanya bekerja sebagai staf hotel. Awalnya aku berpikir
keluarga Alfar akan memandangku sebelah mata tetapi itu tidak seperti apa yang
aku bayangkan, mereka begitu terbuka menerima kehadiranku.
Dari balik pintu Monica yang tidak tahu
apa-apa menghampiri Alfar yang sedang duduk bersamaku. Ia begitu marah saat
tahu Alfar akan segera menikah.
“Dengan wanita ini…?” tunjuk Monica.
“Tante sudah berjanji kalau Alfar yang
akan menikah denganku…!” Kini kemarahan Monica mengarah kepada ibu Alfar.
“Sebaiknya kita berjalan di luar…!”.
“Tante sudah bilang, ini bukan keputusan
yang harus kita buat secara sepihak…!” ujar Ibu Alfar berusaha menjelaskan.
Monica tidak bisa lagi menahan dirinya.
“Tante berjanji akan mengusahakannya
kan…! Aku tidak akan mengizinkan mereka berdua menikah…!” Monica menghampiriku
menarik tangan menyuruhku pergi.
“Kamu gila yah…!” Ibu Alfar berusaha
menenangkan Monica tetapi dia tidak bisa mengendalikan kemarahannya.
“ Aku tidak akan membiarkan kalian
berdua bahagia…!” dengan kemarahannya, Monica memecahkan vas bunga menutup
pintu dengan keras lalu pergi.
“Gadis itu tidak pernah
berubah…kami sangat bersyukur karena kami tidak memilih wanita itu” Sahut salah
satu keluarga Alfar. Setelah pertemuan hari itu aku lebih banyak diam, aku
khawatir Monica akan berbuat macam-macam. Meski Alfar terus menasehatiku untuk
tidak mengkhawatirkannya, tetapi entah mengapa ada perasaan yang terus mengangguku.
Berita tentang pernikahan Alfar menjadi
bahan perguncingan di antara staf dan karyawan hotel. Mereka sibuk membicarakan
siapa wanita yang akan beruntung menjadi pendampingnya, sebagian dari mereka
malah menjadikan harinya sebagai hari patah hati. Aku sedikit merasa bersalah
dengan mereka yang dekat dengan denganku selama tiga tahun ini. Saat mereka
semua berkumpul di ruang ganti.
“Ada yang ingin aku katakan kepada
kalian…!” kataku membuat mereka semuanya terdiam.
“Aku yakin kamu satu-satunya tahu siapa
yang akan menikah dengan Alfar kan…!!” Berna menimpali. Aku terdiam sebelum
melanjutkan pembicaraanku. Aku tidak tahu harus memulai dari mana
mengatakannya.
“Kamu…??” sahut Jena tidak percaya. Aku
menggangguk menundukkan kepalaku, Berna merangkulku memberikan selamat berulang
kali.
Berita itu dengan cepat tersebar, aku
lebih banyak menghabiskan waktuku di ruang kerja membantu pak Gani, itu sengaja
aku lakukan untuk menghindari membicaraan mereka. Kontrakku yang selama lima
tahun terpaksa aku percepat sampai bulan depan.
15 Desember 2017 dan itu tiga hari lagi
sebelum pernikahan kami dilaksanakan. Aku tidak begitu sibuk mengurus semuanya,
karena keluarga Alfarlah yang mengurus semuanya. Terutama ibunya. Dia yang
memilihkan gaun yang akan aku kenakan saat pesta nanti. Pesta pernikahan akan
diadakan di hotel. Satu persatu keluarga Alfar meninggalkan kamar hotel, sejak
pagi sampai sore ini ruangan yang biasa di gunakan oleh Alfar menjadi begitu
ramai. Aku merapikan ruangan Alfar yang begitu berantakan.
“Seharusnya kamu memanggil Hendra atau
Jena yang membersihkannya…!” ujar Alfar yang baru tiba, ia menghampiriku di
dapur.
“Ini nggak banyak kok..!” kataku.
Tiba-tiba Alfar dari belakang memelukku, melingkarkan kedua tangannya menaruh
dagunya di bahuku.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku mencintaimu…!! Aku minta maaf baru
mengatakannya sekarang…!” ujar Alfar
“Kau sudah melihat gaun yang di bawa
ibu…!!” Aku berjalan menuju kamar, memperlihatkannya pada Alfar.
“Ini sangat cantik…!” Alfar kembali
memelukku.
“Kamu kenapa sih?” tanyaku heran, tidak
seperti biasanya Alfar bersikap seperti ini padaku.
“Emang nggak boleh yah…!” Alfar
memegangi kedua pipiku, tersenyum lalu mencium keningku begitu lama.
“Aku mandi dulu…!” katanya, ia
menyuruhku menunggunya di luar.
Beberapa menit kemudian, Alfar keluar
dengan hanya menggunakan celana pendek dan kaos tanpa lengan, rambutnya masih
basah. Entah mengapa melihat Alfar seperti itu membuatku jantungku berdetak
tidak karuan.
“Malam ini kamu nginap di sini aja…!”
Alfar menatapku serius.
“Menginap… Kita berdua!!” ucapku
terkejut.
“Iya…jangan pikir macam-macam…aku akan
tidur di sini dan kamu di kamar” lanjut Alfar membaca raut wajahku. Kami banyak
menghabiskan waktu mengobrol sambil menonton tv, banyak hal yang belum aku
ketahui tentangnya begitupun sebaliknya. Kami banyak berbagi cerita sampai kami
tak sadar jam telah menunjukkan pukul 10 malam.
“Kamu nggak ngantuk?” Tanya Alfar yang
berbaring di sampingku melihatku beberapa kali menguap. Alfar lalu membantuku
berdiri mendorong pelan punggungku masuk ke kamar menyelimutiku dengan selimut.
“Al…!” Panggilku.
“Ada apa?” Alfar duduk di samping tempat
tidur mengusap rambut dan pipiku bergantian. Aku tidak tahu mengapa perasaanku
saat itu tidak ingin berada jauh dari Alfar, antara sadar dan mengantuk, aku
meminta Alfar berbaring di sampingku. Aku menutup kedua mataku sambil terus
memegangi tangan Alfar, wajah kami begitu berdekatan hingga nafasnya kurasakan
di pipiku.
“Ra…!” bisik Alfar, aku membuka mataku.
Mataku sedikit berat menahan kantuk tapi aku juga tidak bisa tidur memikirkan
Alfar yang berada di sampingku. Alfar menatapku begitu dekat perlahan
mendekatkan wajahnya. Jantungku berdetak lebih kencang, darahku seolah mengalir
lebih deras dan siap meledak. Aku menutup mataku saat Alfar menciumku, cukup
lama sampai akhirnya Alfar melepaskan pelukannya.
“Aku tidak akan melakukannya sebelum
kita menikah…!” bisik Alfar melap bibirku yang basah.
“Tidurlah…!” katanya
lagi menyelimutiku dan keluar kamar menutup pintu. Alfar menarik nafas
menenangkan dirinya, ia kembali memakainya bajunya sambil tersenyum sendiri
mengingat apa yang baru saja terjadi.
Pagi menjelang begitu cepat, jam 10 kami
akan berdua akan berangkat ke sebuah mesjid besar yang berada tidak jauh dari
hotel, di sana Ijab Qabul akan di laksanakan dan malam ini resepsi pernikahan
akan di adakan di hotel. Waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi, aku terbangun
seolah-olah mimpi buruk membangunkanku. Aku melangkah keluar kamar mendapat Alfar yang masih tertidur. Mengingat
kejadian tadi malam membuatku begitu malu. Aku menghampiri Alfar, menatap
wajahnya yang tertidur. Entah mengapa
aku masih merindukannya meski dia begitu dekat denganku.
“Kamu sudah bangun…!” Sahut Alfar
membuka matanya, ia menarik tanganku duduk di sampingnya.
“Berbaringlah…!” lanjut Alfar
merenggankannya lengannya agar aku bisa berbaring.
“Aku minta maaf soal apa yang terjadi
tadi malam…!” ucap Alfar sedikit membuatku malu.
“Nggak usah di bahas…!” kataku, Alfar
sedikit menyembunyikan tawanya.
Setelah semuanya siap Alfar bersama Ayah
dan Riki berangkat lebih dulu, sedangkan aku masih menunggu di kamar di temani
oleh teman-teman staf.
Selama di mobil aku terus gelisah
menggenggam tanganku. Berna terus menghiburku dengan candaannya. Setibanya di
sana, Ibu Alfar menyambutku lebih dulu, ia memelukku dan mencium kedua pipiku. Alfar
sejak tadi gugup menungguku. Ia duduk tepat di hadapan penghulu. Ia bertambah
gugup saat melihatku datang.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, saat
semuanya berkata sah, Alfar bisa bernafas lega saat semuanya selesai. Ayahku
tersenyum begitu bahagia melihat putri satu-satunya menikah.
“Kalian sebaiknya kembali ke hotel
beristirahat…!Ayahmu dan Riki akan pulang bersama kami…!” ujar Ibu Alfar.
“Kalian harus beristirahat sebelum pesta
nanti malam…!” Tambah Yuan membuka pintu mobil, dia dan Fatar yang akan membawa
kami kembali ke hotel. Aku begitu terkejut saat tiba di hotel, semua karyawan
dan staf menyambut kedatangan kami, memberikan selamat dan hadiah. Sampai di kamar hotel tempat
Alfar, Berna dan yang lainnya memberikan kami kejutan berupa kue yang cukup
besar. Saat kami masuk ke kamar tanpa sepengetahuan kami, mereka merenovasi
kamar dan merubahnya menjadi kamar pengantin.
“Kapan mereka melakukan ini?” kataku,
entah ada berapa bunga yang ada di kamar ini, dan semuanya hampir bunga asli,
sehingga baunya begitu wangi.
Setelah mengganti pakaianku, aku duduk
di sofa rasanya sedikit canggung bersama Alfar meski kami berdua telah menikah.
“Tadi aku memesan makan siang, sebentar
lagi Hendra datang membawanya…!” sahut Alfar yang juga sudah berganti pakaian.
Tapi kali ini Alfar hanya menggunakan celana panjang tanpa memakai baju. Ia
menghampiriku membawa segelas jus apel yang baru saja di buatnya.
“Minumlah…!” katanya duduk di sampingku.
Setelah meminumnya Alfar menatapku lebih dekat menanyakan bagaimana rasa jus
apel buatannya sendiri.
“Ini enak…cobalah!!” ujarku meminumnya
sekali lagi lalu memberikan kepada Alfar. Ia mengambilnya dari tanganku dan masih
terus menatapku, Alfar meletakkannya di meja. Alfar mendekatkan wajahnya
menciumku secara tiba-tiba.
“Rasanya manis…!” bisik Alfar kembali
menciumku, begitu lama hingga perasaanku berbaur dengan perasaannya.
Suara bel membangunkan Alfar, dan aku
masih tertidur saat itu. Yuan dan Fatar masuk.
“Yah…! Kalian melakukannya di siang
hari…!” oceh Yuan saat melihat Alfar hanya menggunakan handuk.
“Padahal kami ingin memberikan tiket
perjalanan bulan madu untuk kalian berdua…” ujar Fatar menaruhnya di meja lalu pergi.
“Bagaimana…?” goda Yuan
“Bagaimana apa sih?”
“Nggak usah pura-pura nggak ngerti
deh…!kalian melakukannya di siang hari dan itu sedikit tidak menyenangkan…!!
Ini buatmu…!” Tambah yuan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Yuan
tertawa melihat raut Alfar saat mengetahui pil yang diberikan Yuan padanya. Ia
cepat-cepat keluar dari kamar dan menutupnya.
Pesta sudah hampir di mulai, tamu mulai
berdatangan dan aku sedikit kelelahan dengan gaun yang terasa berat dan ketat
di tubuhku di tambah lagi kakiku mulai kesakitan karena sejak tadi memakai high
heels. Aku pamit sebentar ke Wc, untung saja Berna datang melihatku yang sejak
tadi gelisah. Dia membantuku ke kamar mandi dan mengganti sepatu yang aku
gunakan. Hpku tiba-tiba berdering, satu panggilan dari nomor yang tidak ku
kenal, aku langsung mengangkatnya. Aku terkejut saat mengetahui orang yang
menghubungiku adalah Monica.
“Ada apa?” Tanya Berna.
“Monica…! Sepertinya dia mau minta maaf
dan ingin bicara sesuatu padaku…!” jelasku, Berna buru-buru kembali ke aula.
Aku masih berbicara dengan Monica. Dia memintaku menemuinya di lobi. Awalnya
aku menolak tetapi karena mendengar nada suaranya yang begitu tulus memohon
untuk menemuinya. Aku segera menuju lift sambil mengangkat gaunku yang agak
panjang. Aku mencari Monica yang katanya menungguku di lobi, tapi sejak tadi
aku tidak melihat Monica, tidak lama hpku kembali berdering, ia menyuruhku ke
parkiran menemuinya. Tidak begitu jauh Monica melambaikan tangan padaku. Aku
segera menghampirinya tanpa curiga sedikitpun, setelah memastikkan tak ada
satupun yang melihat kami, tiba-tiba dua orang laki-laki mendorong tubuhku
masuk ke dalam mobil. Aku meronta sekuatnya dan berusaha berteriak tapi dengan
cepat kedua laki-laki itu menutup mulutku dengan kain, mengikat kedua tangan
dan kakiku.
“Dasar wanita bodoh…!” gertak Monica
yang duduk di depan, dia terlihat aneh dengan penampilannya yang agak berantakan, bau aneh begitu menyengat masuk
ke hidungku, aku tidak tahu harus melakukan apa, aku tidak cukup kuat meronta
meski beberapa kali aku berusaha untuk melawan. Aku bisa melihat bahwa saat ini
Monica sedang mabuk, dan di bawah pengaruh obat-obatan.
Aku terus menangis, tubuhku begitu lelah
karena sejak tadi terus melawan, tapi ada yang bisa aku lakukan. Kedua
laki-laki itu membawaku ke suatu tempat yang agak jauh dari keramaian, sebuah
gedung tua berlantai tiga. Mereka melempar tubuhku tepat di pinggir gedung. Aku
tidak bisa melihat apa yang ada di bawah sana, semuanya terlihat begitu gelap,
aku menangis sejadi-jadinya, berpikir bahwa ini adalah akhir dari hidupku. Monica
menyuruh kedua laki-laki itu pergi dan hanya kami berdua di atap gedung, suara
angin berhembus begitu dingin menusuk
sampai ketulang. Bunyi gesekan ranting yang tertiup angin menutupi suara
tangisku, gaun putih yang kugunakan terlihat begitu kotor dan sobek. Monica
tertawa keras diiringi gerimis yang menimpa wajahnya yang terlihat begitu
menakutkan. Ia menghampiriku melihat kasihan dengan tertawa.
“Aku sudah bilang, Alfar itu milikku,
tidak ada yang bisa memilikinya kecuali aku, untuk itu aku akan menyingkirkanmu
dari kehidupannya…!” Monica berjongkok di hadapanku, mengeluarkan beberapa
obat, membuka penutup mulutku, aku semakin meronta berusaha melepaskan diri,
Monica membuka paksa mulutku, ia memasukkan beberapa obat ke dalam
tenggorokanku dengan paksa, lalu kembali menutup mulutku.
“Itu sejenis obat yang
akan membuatmu melayang…!!” Monica kembali tertawa sambil melepas ikatan yang
ada di kakiku, obat itu tiba-tiba membuat kepalaku pusing, aku berusaha
melarikan diri tetapi tangan Monica menarikku. Angin bertiup begitu kencang
saat aku berusaha melepas tangannya, tetapi pengaruh obat yang diberikan Monica
membuat sekujur tubuhku panas, tanpa sadar kakiku terus melangkah mundur, tanpa tahu apa yang ada di
belakangku. Tiba-tiba pijakan kaki begitu ringan, saat itu dengan kedua tangan
terikat dan mulut tertutup aku jatuh dari atap gedung yang tingginya hampir 50
meter. Aku tidak merasakan apa-apa lagi, sekujur tubuhku begitu dingin. Aku
sudah melupakan semuanya, bahkan diriku, aku tidak ingin siapa aku dan apa yang
aku lakukan, hanya kegelapan yang aku lihat sampai kedua mataku tertutup.
Monica sangat terkejut
saat melihat tubuh Raya jatuh, ia tidak bisa melihat tubuh dari atap gedung, ia
tidak pernah bermaksud untuk membunuhnya, Monica hanya menaku-nakuti gadis itu,
Monica berlari ketakutan menuju kemobil, ia melajukan mobilnya pulang,
membereskan semua barangnya dan membeli tiket penerbangan ke Eropa. Ia berusaha
melarikan diri karena ketakutannya.
Sementara itu di hotel, pesta hampir
selesai dan tamu satu-persatu meninggalkan acara itu, sejak tadi Alfar merasa
gelisah karena belum mendapat kabar dari Raya, hampir semua staf yang ada di
hotel mencari keberadaan Raya yang tiba-tiba menghilang, bahkan hpnya tidak di
angkat. Setelah semua tamu pergi, Alfar menghampiri Yuan.
“Dia tidak mengangkatnya…!!” Yuan masih
terus menghubungi Raya.
“Berna mana?” ujar Alfar berusaha
menenangkan dirinya yang begitu khawatir.
“Aku meninggalkannya di kamar mandi saat
dia menerima telepon…!” Ujar Berna mencoba mengingat, karena dialah yang
terakhir bersamanya. Angga yang juga berada di pesta itu menghampiri Alfar yang
terlihat aneh.
“Apa yang terjadi?” Tanyanya, Fatar
menjelaskannya dengan singkat.
“Aku melihatnya di lobi beberapa saat
yang lalu, kami berpapasan di lift, aku baru ingin menyapanya tapi dia terlihat
begitu terburu-buru…!” pernyataan Angga menambah kekhawatiran Alfar.
“Karena hpnya masih menyala, kita bisa
melacaknya lokasi keberadaan Raya…!” pikir Fatar, Yuan mengaktifkan lokasinya
dan mencari keberadaan Raya dengan melacak hpnya. Hanya beberapa menit Yuan
mendapatkan lokasinya. Ia terkejut saat melihat lokasi yang di dapatkannya,
jaraknya sekitar tujuh kilometer dan itu berada di daerah hutan lindung.
“Mengapa dia bisa sampai di tempat
sejauh itu…!” ujar Yuan, Alfar tanpa berpikir lagi ia segera ke mobil di ikuti
oleh beberapa orang, Yuan juga sudah meminta tolong kepada temannya yang
bekerja di kepolisian untuk membantu mereka, hanya berjaga-jaga apabila sesuatu
terjadi. Untung saja kendaraan malam itu tidak begitu ramai, Alfar melajukan
mobilnya dengan kecepatan penuh, ia juga harus hati-hati karena gerimis sedikit
membuat jalanan agak basah dan licin.
Mereka juga meminta polisi kehutanan
yang bertugas membantu mereka mencari, cukup sulit menemukannya jika hutannya
seluas ini. Alfar berlari masuk di susul beberapa orang mengikutinya,
pikirannya begitu kacau ia tidak memikirkan apa-apa lagi kecuali bisa menemukan
keberadaan Raya. Hampir setengah jam mencari, Angga yang memiliki insting yang
tajam menyuruh semuanya diam, ia meminta Yuan untuk terus menghubungi hp Raya,
ia melangkah pelan mencari asal suara yang sejak tadi di dengarnya begitu
samar, perlahan mendekat sampai akhirnya suara itu semakin jelas.
“Ini hp Raya…mungkin ia tidak jauh dari
sini…!” Alfar memungut hp itu,tepat di depan gerbang gedung yang tidak
terpakai. Mereka semuanya mencari dan menelusuri semua gedung. Tidak begitu
lama seseorang berteriak menemukan seseorang, mereka semua berlari menghampiri
asal suara itu. Yuan langsung menarik Alfar untuk tidak mendekat, Fatar
langsung menghubungi rumah sakit dan ambulans.
“Alfar menjerit saat melihat tubuh Raya
terbaring mengenaskan dengan kondisi yang begitu parah, ia berusaha mendekati
Raya tetapi Yuan dan Angga menahannya. Ia menjerit dengan tangisan
kemarahannya, tapi ia tidak punya kekuatan lagi saat melihat kondisi tubuh
istrinya.
“Ambulans sedang dalam perjalanan,
Raya…masih hidup tetapi denyut nadinya makin melemah, jika kita terlambat
sedikit saja…!” Fatar tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Beberapa saat kemudian mobil ambulans
membawa Raya, Alfar masih belum bisa melihat wajah istrinya meski ia ingin
sekali melihatnya sebentar. Yuan mengikuti mobil Ambulans melaju begitu cepat.
Meja operasi sudah di siapkan saat beberapa dokter menunggu di UGD. Entah beberapa
jam telah berlalu, Alfar masih duduk menunggu di depan ruang operasi. Ia
melihat jam yang menunjukkan pukul 7 pagi, ia langsung berdiri saat seorang
dokter menggeser pintu. Lampu peringatan operasi telah selesai di matikan,
tidak lama kemudian beberapa dokter ikut menyusul dan perawat mendorong pasien keluar dari
ruang operasi membawanya kembali ke UGD.
“Aku ingin bicara dengan keluarganya…!”
ujar dokter yang baru saja menangani Raya.
“Aku suaminya…!” Alfar akhirnya
mengikuti dokter itu masuk keruangannya.
“Dia baik-baik saja kan dok…!”tanyaku.
Dokter itu menjelaskan semua apa yang
terjadi pada Raya, kemungkinan selamat dan hidup Raya hanya 20%, kepalanya
terbentur cukup keras sehingga perlu di operasi dan untung saja saat Raya
jatuh, gaunnya tersangkut di pohon dan itu sedikit mengurangi resiko jatuhnya
semakin keras saat membentur tembok. Tulang lengan kirinya agak bergeser
keluar, sedangkan kaki kirinya patah sehingga kemungkinan besar harus
menjalankan terapi pemulihan tulang agar bisa berjalan normal kembali.
Kemungkinan besar pasien juga akan sedikit mengalami trauma. Satu hal lagi yang
membuat Alfar terkejut, saat mendengar dokter menemukan sepuluh butir obat
penenang yang membuatnya overdosis. Mendengar semua penjelasan dokter, Alfar
keluar dari ruangan, semua keluarganya menunggu Alfar mereka ingin mendengar
bagaimana kondisi Raya. Ayahnya hanya bisa pasrah dan berdoa saat mendengar
kondisi putrinya. Setelah tiga jam, Raya akhirnya di pindahkan.
Sementara itu di luar kamar rumah sakit,
semua teman-teman Raya dan keluarganya masih berkumpul di luar, meski mereka
tidak perbolehkan masuk. Pihak dari kepolisian sementara ini mencari orang yang
menjadi dalang semuanya, untuk sementara ini Monica adalah satu-satunya orang
yang di curigai karena kesaksian Berna yang sempat mendengar Raya di hubungi
oleh seseorang bernama Monica meminta Raya menemuinya malam itu juga.
“Monica menghilang, bahkan orang tuanya
tidak tahu ia di mana…!” kata polisi yang baru saja tiba. Mereka tinggal
menunggu orang tua Monica menghubungi. Setelah beberapa hari mencari keberadaan
Monica yang ternyata saat ini berada di Jepang. Awalnya Monica terbang ke Eropa
lalu dua hari kemudian ia mengambil penerbangan ke Jepang bersembunyi di rumah
adik tirinya.
Untuk memancing Monica kembali ke
Indonesia kedua orang tuanya sengaja membohonginya melalui Alfar. Mendengar
nama Monica membuat Alfar semakin geram. Kenapa tidak gara-gara kelakuan Monica
ia hampir membunuh seseorang yang sangat dicintainya. Saat itu Alfar sendiri
yang datang menjemput Monica di bandara, ia menahan kemarahanya melihat Monica
dari kejauhan tersenyum melambai tanpa berdosa.
“Aku turut berduka…!” Ujar Monica saat
mendengar Alfar berbohong mengatakan Raya telah meninggal. Ia lega mendengar
kabar itu, karena dengan begitu takkan ada yang tahu. Ia bisa memiliki Alfar
tanpa ada yang menghalanginya.
“Kita mau kemana?” Tanya Monica saat
mereka melewati hotel, Alfar sejak tadi diam. Ia merasa ada yang aneh saat
mobil Alfar menuju masuk ke rumah sakit, Alfar menarik paksa Monica turun dari
mobil dan membawanya masuk.
“Kamu kenapa sih?” Tanya Monica, mencoba
menahan Alfar. Ketika mereka tiba di depan kamar tempat Raya. Orang tuanya
menunggu tidak percaya dengan kelakukan berani putrinya, dari kejauhan Monica
menahan tubuhnya dari Alfar yang berusaha menariknya. Ia langsung ketakutan
saat melihat dua orang polisi berdiri.
“Aku tidak bermaksud membunuhnya…dia
sendiri yang menjatuhkan tubuhnya di gedung itu…!” tanpa sadar Monica
mengatakan semuanya, Alfar memperlihatkan kondisi Raya langsung di depan
matanya.
“Lihat apa yang kamu lakukan…!” Alfar
dengan penuh kemarahan berusaha menahan gejolak amarahnya. Monica menangis
menjerit meminta maaf kepada Raya dan Alfar tetapi semuanya sudah terjadi.
Polisi langsung membawa Monica ke kantor polisi diikuti kedua orang tuanya yang
juga sangat bersalah kepada keluarga Alfar. Sudah tiga hari berlalu kondisi
Raya belum stabil, Alfar hampir tidak pernah meninggalkan Raya sendirian.
Dokter kembali memeriksa keadaan Raya, kini jawaban mengejutkan dari beberapa
dokter yang memeriksanya membuat Alfar begitu sulit bernafas.
“Saat ini kondisi tubuhnya mulai
membaik, detak jantungnya kembali normal dan saraf di otaknya sudah mulai merespon,
hanya saja…!” Ucapan dokter Kelvin terputus saat dokter Fera yang merupakan
dokter psikolog melanjutkan penjelasan dokter Kelvin. Dokter fera salah satu dokter
wanita satu-satunya di Indonesia yang merupakan ahli dalam memeriksa statistik
denyut membaca perkembangan otak, hati dan jantungya saat pasien mengalami koma
yang cukup lama.
“Kondisi pasien secara fisik cukup baik,
tapi pasien saat ini berusaha melawan kejadian buruk yang menimpanya, saat
sebelum kejadian dia jatuh, pasien sudah menghapus semua kenangan di hidupnya.
Ia tidak lagi ingat siapa dan di mana dirinya berada, pasien saat ini mengalami
trauma berat, dalam pikirannya ia mengganggap dirinya sudah mati. Pasien tidak
punya kekuatan untuk kembali ke kehidupannya…!” jelasnya.
“Mungkin bagi sebagian orang tidak akan
percaya dengan apa yang kukatakan, ini masalah jiwa seseorang yang sedang
terperangkap dalam mimpinya. Sehingga kecil kemungkinan dia saat ini berusaha
pergi, dengan kata lain meninggal, tapi…!!” putus dokter Fera sebelum mengakhiri
penjelasannya, ia memberikan solusi terbaik kepada Alfar.
“Jangan pernah putus asa dan bosan
berada di sampingnya, terus ajak dia bicara ceitakan banyak hal padanya, aku
yakin meski ia tidak sadar. Ia pasti mendengar orang-orang yang mencintainya sedang
menunggunya kembali dan jangan tunjukkan kesedihan di dekatnya karena itu tidak
baik untuk kondisi pasien” Jelas dokter Fera pergi. Alfar melangkah masuk
kembali ke kamar tempat Raya, semangatnya seperti menghilang begitu saja,
tubuhnya seolah terseret tanpa daya dan begitu berat. Mengapa ia harus
mengalami kejadian seperti ini saat sudah menemukan kebahagian dalam hidupnya.
Ia tidak tahu harus menyalakan siapa, ia hanya bisa pasrah dan berdoa, ia yakin
bahwa Allah sedang mengujinya, bukti jika Allah menyayanginya.
Alfar kembali ke aktifitasnya seperti
biasa, bekerja menyibukkan dirinya, usai bekerja ia selalu ke rumah sakit
menjaga istrinya tanpa lelah, Alfar mendapatkan begitu banyak semangat dari
orang-orang yang berada di sekitarnya.
Sudah dua bulan berlalu, selang oksigen
masih membantu pernafasan Raya, Alfar yang saat itu berbaring di samping Raya,
terkejut saat melihat jari-jarinya bergerak perlahan, ia bisa merasakan nafas
Raya berhembus kuat. Ia segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisinya.
Dokter yang merawat Raya merasa senang saat mengetahui kondisi pasiennya
membaik, dia terbangun dari tidur panjangnya selama dua bulan, Raya membuka
matanya meski belum bisa berbicara.
“Aku punya kabar baik buat kalian…!!”
kata salah satu dokter yang memeriksa Raya. Ia keluar dengan dua orang perawat,
ini pertama kalinya dokter itu datang memeriksa kondisi Raya atas permintaan
dokter Kelvin.
“Awalnya aku sedikit tidak yakin, dan
meminta tolong kepada dokter Fausiah yang merupakan dokter kandungan dan
memeriksa detak jantungnya kembali…!” ujar dokter Kelvin.
“Dia sedang hamil, janinnya berumur 3
minggu…!” Ucapan dokter Fausiah membuat semuanya terkejut.
“Wah…kalian hanya melakukan sekali dan
berhasil…!” kini Yuan setengah mengejek pada Alfar yang terlihat salah tingkah
dan langsung masuk menemui Raya.
“Apa maksudmu?” tiba-tiba Riki yang
tidak tahu apa-apa menimpali.
“Kamu tidak perlu
tahu…!” Yuan langsung pergi menyusul Alfar masuk. tak terkecuali ibunya yang
begitu bahagia melihat kondisi Raya yang semakin hari semakin membaik, bahkan
ia sudah bisa menggerakkan tubuhnya dan duduk di kursi roda. Sedikit demi
sedikit Raya mulai berbicara sambil menjalankan terapi pemulihan tulang selama
sebulan.
Hari ini aku bisa keluar dan kembali ke
rumah, meski harus rutin memeriksakan keadaanku, aku begitu senang karena bisa
bisa menghirup udara selain udara rumah sakit. Aku memegangi perutku,
kebahagianku bertambah saat tahu aku sedang hamil. Begitu pula dengan Alfar ia
tidak berhenti memastikan kondisiku. Bahkan ia selalu berusaha untuk membuatku
lupa apa yang terjadi.
Seiring waktu berlalu begitu cepat,
mungkin bagiku masa lalu yang telah berlalu menjadi pelajaran bagi semua orang,
tetapi bagiku itu semua adalah kenangan yang ingin kupotong dan kuhilangkan. Aku
tidak ingin menaruh dendam karena itu akan membuatku sama seperti mereka.
Biarkan semuanya kembali kepada tempatnya, karena tidak mungkin kebahagian kita
di miliki orang lain.
THE END
11 Oktober 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar