Part
1 Zona Aman
Suara
dentaman dan terompet seolah menyetrum
alam sadarnya, bunyi kembang api menyadarkan tidurnya yang baru sejam, ia
beranjak dari tempatnya, meluruskan keduanya kakinya. Matanya sejak tadi
melirik jam yang berada di layar hpnya yang menunjukkan pukul 12:10 menit. Ia
mencari kacamatanya di antara tumpukan kertas dan sampah yang berada di sekitarnya.
Sebuah meja dengan setinggi 15 cm berada di hadapanya dengan 2 buah laptop dan
kertas gambar serta pensil warna berserakan.
Venus
itulah nama gadis itu, ia tidak mengerti mengapa orang tuanya memberikan nama
yang menurutnya begitu aneh, sama halnya dengan dirinya. Orang-orang yang ada
di sekitarnya terutama tetangganya menganggapnya gadis yang aneh, bahkan
anak-anak menggangapnya gila. Ketika ia keluar dari rumahnya anak-anak akan
berlari ketakutan saat melihatnya. Venus tinggal di lingkungan yang cukup
ramai, dan padat akan perumahan. Rumah yang di tinggalinya pun bukan miliknya,
tetapi milik dari saudara kakeknya, ketika ia masih hidup ia tinggal sendiri di
tempat ini, setelah meninggal, Venus meminta izin untuk menempatinya karena
bagaimanapun tak ada yang ingin tinggal di tempat kecil seperti itu, yang hanya
berukuruan 6X6 meter, serta halaman yang
tidak begitu luas. Tanpa ruang tamu dan
dapur. Saat masuk Venus akan di sambut dengan ruangan yang sudah dianggapnya
sebagai tempat tidur, ruang kerjanya, bahkan tempatnya menikmati makanannya.
Sudah
lima tahun ia menempati rumah itu, selama itu pula ia baru menyadari bahwa
umurnya saat ini sudah 29 tahun, di Indonesia umur itu termasuk umur yang cukup
tua untuk menikah. Tapi dibaliknya usianya itu, tidak menampakkan hal seperti
itu. bagi orang lain, ia seperti berusia 25 tahun. Ia bekerja sebagai penulis
lepas dari perusahaan book online, sebagai penulis komik dan webtoon. Sebagai
penulis webtoon yang terbit setiap minggu karyanya selalu di tunggu oleh
pembaca yang rata-rata dari kalangan remaja, ada sekitar 6 webtoon yang di
kerjakannya sekaligus dalam sepekan ini. 3 di antaranya adalah komik yang
bertema horor dan fantasi, sedangkan dua komik lainnya adalah bertema vampire
dan zombie, dan yang terakhir bertema
percintaan. Saat ini Venus sedang fokus mengerjakannya sekaligus untuk
menyelesaikannya semua episode terakhir yang akan terbit sekaligus bulan depan.
Memang
banyak yang tidak mengenalnya di dunia nyata, bahkan di tempat kerjanya hanya
beberapa orang yang mengenalnya, salah satunya adalah adalah bosnya, pemilik
perusahan sekaligus yang mengelola langsung para karyawannya. Sudah 10 tahun
perusahaan Book online berdiri jaya di tangannya, mereka membuat aplikasi yang
mempermudah para pelajar, mahasiswa atau orang-orang yang memiliki hobi membaca
menggunakan sistem mereka dan tidak perlu lagi repot mencari dan di tambah lagi kehadiran Venus yang sudah
dianggap emas perusahaan. Karya-karyanya mampu membuat orang lain terhipnotis.
Hanya saja Venus belum pernah menampakkan dirinya di dunia nyata, padahal
begitu banyak yang selalu mengundangnya menghadiri seminar seputar penulisan,
tetapi dengan tegas Venus selalu menolaknya. Jika seperti itu manajernya akan
menyibukknya dirinya membawa semua komik yang di gambarnya dan semalaman harus
di tanda tangani sebagai ganti tidak ingin bertemu dengan penggemarnya.
Waktu
menunjukkan pukul tiga, di saat semua orang tertidur dia masih duduk beralas
bantalan yang sangat nyaman, sesekali ia berbaring menyandarkan tubuhnya lalu
kembali mengambar. Goresan terakhir lalu di terbitkan, perasaan lega membuat
Venus merenggankan semua badannya dan melanjutkan tidurnya lagi.
Lagi-lagi
suara bel membangunkan tidurnya, ia langsung bangun membuka pintu, ia sudah
tahu siapa yang akan datang menemuinya.
“Ya
ampun…!” teriak Manajernya, Yuli yang juga merupakan teman baiknya terkejut
saat di sambut ruangan yang begitu berantakan, ia tahu kebiasaan temannya itu.
ia menutup hidungnya memunguti semua kotak dan kantongan makanan serta kaleng
minuman yang berserakan, bekas makanan yang belum di buang sejak seminggu lalu
benar-benar menusuk hidung, pakaian yang begitu berantakan dan kotor langsung
di masukkan ke mesin cuci. Yuli membuka semua jendela agar udara segar bisa
menghilangkan sedikit bau pengap yang ada di ruangan itu.
“Seharusnya
kamu membersihkan semua kotoran ini, bisa-bisanya kamu hidup dengan ruangan
seperti ini…!” omel Yuli, ia terpaksa harus membersihkan kamar Venus.
“Sudah
berapa hari kamu nggak mandi?” kesal Yuli mendekati Venus yang melanjutkan
tidurnya, ia memeriksa bau tubuh Venus, ia menjawab pertanyaan Yuli dengan
mengangkat 3 jarinya.
“Tiga
hari…! “ ia langsung menjauh sambil terus mengomel. Ia tidak ingin berlama-lama
di tempat itu, Yuli meminta Venus menandatangi sebuah berkas lalu pergi.
“Aku
sudah mengeluarkan cucianmu, jadi sebaiknya kamu menjemurnya sekarang juga…!”
Yuli pergi dengan nada kesal, ia tidak tahu harus melakukan apa pada gadis itu,
sejak mereka kenal, Venus selalu membuatnya kesal karena tidak bisa menjaga
kebersihannya.
Venus
beranjak dari tempat tidurnya, ia memperhatikan sekelilingnya, terlihat lebih
bersih dari sebelumnya, sampah yang menjadi sarang kecoak sudah dibuang Yuli.
ia mengangkat kedua kakinya dengan berat menutup kembali jendela dan menyalakan
ac dan langsung ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Sore ini dia ingin keluar
membeli peralatan gambar, dan membeli makanan mengisi kulkasnya telah kosong.
ia
meraih kunci mobilnya, mengikat rambutnya yang lepek menggunakan karet gelang,
memakai jaket lalu menutupi kepalanya, hanya menggunakan sandal jepit ia
mengunci pintunya lalu pergi. Ia sedikit menyempatkan waktunya ke toko buku,
lalu ke supermarket membeli beberapa persediaan makanan untuk beberapa hari.
Setiap hari ia menjalani kehidupan seperti itu tanpa pernah mengeluh dan bosan,
ia hanya menikmati kecintaannya menulis dan mengambar. Selain daripada itu ia
tidak pernah memikirkan hal lainnya.
“Ven…!”
teriak seseorang dari jauh, ia berhenti mencari asal suara itu, Venus langsung
memalingkan wajahnya saat mengetahui laki-laki yang membuatnya langkahnya
terhenti.
“Aku
selalu menghubungimu, dan kamu nggak pernah jawab?” ujar Dito, kakak laki-laki
yang satu-satunya yang begitu peduli padanya. Venus anak bungsu dari 3 bersaudara, kakak
perempuannya saat ini sudah bekerja dan menikah, memiliki dua anak. Sedangkan
kakak laki-lakinya baru setahun menikah, istrinya saat ini sedang hamil tiga
bulan. Ayah dan ibunya telah meninggal dua tahun lalu, saat ini mereka bertiga
menjalani kehidupannya masing-masing. Hanya Dito yang selalu menanyakan kabar
adik perempuannya itu. Hampir setiap bulan, Anita kakak iparnya selalu datang
mengunjungi Venus membawakan beberapa makanan. Meski sudah hidup mandiri, Dito
masih saja sering mengkhawatirkannya.
“Aku
sibuk menyelesaikan gambarku…!” ujarnya berhenti.
“Karena
kebetulan kita bertemu, sebaiknya kamu ikut denganku!” ajak Dito mengambil
semua barang bawaannya. Ia memasukkan belanjaannya ke dalam bagasi mobil Venus.
Tanpa berkata apa-apa, Venus mengikutinya masuk ke mobil.
“setibanya
di rumah kakaknya, Anita begitu bahagia melihat kedatangan Venus, sejak ia
hamil, Anita tidak pernah lagi mengunjunginya. Saat ia masuk dua keponakannya
menyambut kedatangannya, mereka berdua adalah anak dari Hesti, kakak
perempuannya. Setelah kedua orang tua mereka meninggal, Hesti sudah jarang
bertemu dengannya dan hanya ditto yang masih sering mengabarinya, ia bahkan
sudah tidak ingat terakhir kali mereka bertemu. Ini pertama kalinya juga mereka
bisa berkumpul, Karena Hesti begitu sibuk dengan pekerjaanya.
Venus
menghentikan mobilnya, ia menarik nafas sambil memperhatikan orang-orang yang
sedang berjalan kaki, terkadang ia juga ingin hidup normal seperti mereka,
memiliki banyak teman, bisa berjalan-jalan kemana saja. Tetapi keinginannya itu
hanya sebatas keinginan yang tidak penting, menurutnya apa yang di jalani saat
ini cukup membuatnya bahagia. Ia membuka kaca jendela memperhatikan langit yang
tidak menampakkan kerlipan cahaya bintang satupun, sepertinya hujan akan turun
malam ini, halilintar terlihat beberapa kali di sertai petir, ia kembali
melajukan mobilnya. Tiba-tiba kilatan cahaya menghentikan mobilnya, Venus
berhenti menginjak remnya. Ia terkejut saat kilatan cahaya itu tepat berada di
hadapannya dan menumbangkan sebatang pohon besar. Venus memperhatikan
sekitarnya, tak ada satupun orang yang dilihatnya, lampu jalan yang tadinya
begitu terang tiba-tiba mati. Ia kembali menyalakan mobilnya yang mogok
tiba-tiba. Kilatan halilintar berubah menjadi percikan api yang sangat besar
menghanguskan batang pohon yang berada tidak jauh darinya. Venus keluar dari
mobilnya, ia di kagetkan bunyi seperti batu besar yang jatuh, di susul suara
letusan yang terdengar begitu dahsyat membuat tanah yang berada di sekitarnya
bergetar.
Venus
terperanjat kaget melihat kejadian langsung yang disaksikannya, setengah kagum
setengah terkejut. Tiba-tiba dari balik percikan api keluar sosok seseorang
dengan tubuh yang menyala. Tatapannya matanya seperti bola api. Sosok bayangan
hitam tanpa wajah di angkatnya lalu di lempar tepat di hadapan Venus. Bayangan
hitam itu tiba-tiba terbakar dan hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak.
Venus begitu ketakutan sampai tidak bisa
menggerakkan tubuhnya sendiri. Laki-laki-laki yang dilihatnya, dengan tubuh
menyala dan mata menyala. Menghampirinya. Sebuah tongkat besi keemasan
tertancap tepat di dadanya. Tongkat itu tiba-tiba menghilang saat laki-laki itu
keluar dari cahaya api yang mengelilinginya. Perlahan cahaya yang berada di
tubuhnya padam, berubah menjadi darah. Wajahnya terlihat lebih jelas meski
tertutup rambut. Laki-laki yang entah dari mana datangnya itu semakin mendekat,
Venus berkeringat dingin dengan tubuh kaku. Ia ingin sekali masuk ke dalam
mobil dan menguncinya. Ia tidak tahu sedang menyaksikan kejadian apa saat ini,
mustahil baginya untuk mempercayainya sendiri.
“Tolong…!”
ucap laki-laki itu, menutupi luka yang cukup parah. Seolah ia baru saja lepas
dari perkelahian dan marabahaya. Venus tidak bisa memikirkan apa-apa, saat ini
orang yang berada di hadapannya adalah sosok manusia yang sedang meminta
pertolongan, sekarat dengan penuh luka. Venus dengan berani menghampiri
laki-laki itu, ia menyentuhnya saat tubuhnya terjatuh di tanah, seperti panci yang
baru di angkat dari kompor, seperti itu rasanya saat Venus menyentuh tubuh
laki-laki itu. tiba-tiba kedua tangan laki-laki itu mengenggam pergelangan
tangan Venus. Ia berteriak seolah tangannya sedang terbakar. Venus berusaha
melepaskan tangan itu, tetapi tiba-tiba kesadaranya menghilang begitu saja.
Part 2
Siapa dia?
Sebuah
mimpi buruk dan begitu panjang, tiba-tiba membangunkannya, Venus memandangi
kamarnya yang agak gelap, ada bau aneh yang sejak tadi menganggunya, ia
menyalakan lampu, betapa terkejutnya ia, saat memperhatikan pakaiannya
berlumuran darah, Venus berlari ke kamar mandi. Seketika berteriak terjatuh
saat melihat sosok laki-laki yang dianggapnya mimpi benar-benar berada di
hadapannya. Laki-laki yang hanya mengenakan celana hitam dan tanpa mengenakan
baju. Laki-laki tidak itu sadarkan diri, ia berbaring di depan pintu kamar
mandi masih berlumuran darah, luka di dadanya hanya tertutuk kain. Ia ingin
meminta tolong pada Yuli pada siapapun yang bisa menolongnya, tetapi ia juga
takut harus menjelaskan bagaimana menjelaskan kejadian aneh yang terjadi. Venus
mengambil beberapa kotak obat, ia membersihkan darah di sekujur tubuhnya.
Membalut lukanya dengan kain kasa, tubuhnya sangat panas, Venus memperhatikan lengannya,
ada bekas hitam yang melekat tapi itu tidak terasa sakit.
Venus
dengan sekuat tenaga menarik tubuhnya, menempatkannya di kasur. Ia memberi
sekat di ruangan itu, ada rasa takut dan kasihan saat menolong laki-laki yang
asalnya entah dari mana, dan bagaimana bisa laki-laki itu mengetahui tempat
tinggalnya. Terlalu banyak pertanyaan yang tersimpan dalam pikirannya, apakah
laki-laki itu seorang manusia atau bukan.
Pukul
dua malam, tangan Venus masih sibuk menggambar di atas tabletnya, sesekali ia
melihat keadaan laki-laki itu, ia masih bernafas tapi entah mengapa seharian
ini ia belum juga sadarkan diri. Ia memegang kepalanya dengan kesal. Ia
menyesal tidak lari saat kejadian itu. rasa penasarannya membawanya harus
melibatkan diri dengan orang asing ini.
Terdengar
suara rintihan, Venus meletakkan tangannya di atas meja, ia melihat laki-laki
itu bergerak lalu bangun, duduk memegangi lukanya. Venus mendekatinya perlahan.
“Siapa
kamu?” Tanya laki-laki itu, ia memperhatikan sekelilingnya, ia lupa mengapa
bisa berada di tempat ini.
“Kamu
manusia yang menolongku…?” ujarnya lagi, laki-laki itu tiba-tiba menarikku
lengan Venus. Ia terkejut mencoba melepaskan diri.
“Aku
tidak akan menyakitimu…!” katanya,Venus lalu diam dengan rasa takut, laki-laki
itu menekan telapak tangannya, Cahaya aneh muncul dari telapak tangan Venus, ia
menarik sesuatu keluar dari telapak tangannya, sebuah Kristal dengan cahaya
biru putih terpancar melayang tepat di hadapannya.
“Apa
ini?” Tanya Venus, rasa penasarannya seolah membuat kejadian luar biasa itu
menjadi hal yang biasa. Tanpa menjawab, laki-laki itu seolah mengambil sesuatu
dari pancaran cahayanya, dia memandangi tubuh laki-laki itu seketika berubah
menjadi cahaya seperti saat Venus melihatnya, hanya saja sedikit berbeda, kini
cahaya itu sama seperti cahaya yang ada pada Kristal itu. cahaya yang ada di
tubuhnya kembali hilang, Kristal itu kembali masuk ke telapak tangannya. Ia
terus melihat tidak percaya dengan apa yang terjadi. Seketika itu luka yang ada
di tubuhnya hilang, ia terlihat lebih sehat dari sebelumnya. Laki-laki itu
memandangi Venus seolah sedang membaca pikirannya.
“Aku
juga manusia sama seperti kalian, hanya saja dimensi kita berbeda…!? Jawaban
itu langsung membuatnya duduk ingin mengetahui lebih banyak, meski terdengar
begitu mustahil. Dirinya adalah penulis webtoon, tentu saja kejadian seperti
ini hanya ada dalam dunia fantasi, yang bisa di buatnya menjadi lebih hebat,
hanya saja ini berbeda. Ini nyata dan bukan tentang imajinasi yang dia
bayangkan yang terjadi dalam dunia kartun, komik atapun sejenisnya.
“Dimensi
yang berbeda…?” Tanya Venus.
“Dimensi
di mana manusia di bagi dua, dimensi pertama makhluk seperti kalian yang ada di
bumi, hidup normal, makan dan minum, berreproduksi dan menghasilkan keturunan.
Mati lalu lahir kembali, sedangkan dimensi kami, kami juga seorang manusia di
ciptakan dengan api, air, tanah, dan udara. Kami memiliki tingkatan dimana api
adalah penguasa, tanah adalah penjaga sedangkan air dan udara adalah pengikut.
Kami juga mati seperti kalian. Hanya saja aku tidak terbuat dari empat hal itu,
aku tercipta dari cahaya yang merupakan simbol keabadian dan penguasa. Semua
mengincar Kristal yang berada di dalam tubuhku, sampai mereka harus
membangkitkan makhluk kegelapan hanya untuk menangkapku. Aku juga tidak tahu
mengapa aku bisa berada di dunia ini, dimensi kalian….!” Jelasnya, Venus
mendengarkan semuanya dari awal, sebuah ide tiba-tiba meledak dikepalanya. Ia
tidak lagi penasaran dengan makhluk asing yang ada di hadapannnya. Malah sebuah
ide bermunculan di kepalanya. Venus segera beranjak dari tempat itu, ia duduk
di meja kerjanya, mencatat ide itu dan mengambar seuatu. Mungkin ceritanya kali ini akan lebih menarik dari
sebelumnya. Venus tidak henti-hentinya memandangi telapak tangannya, ia tidak
percaya ada benda berharga berada dalam tubuhnya, benda itu dititipkannya
padanya tanpa tahu alasannya.
“Saat
ini prajurit kegelapan sedang mencariku di semua dimensi, ia akan lebih mudah
menemukanku, hanya dengan melacak Kristal itu. maka dari itu aku menitipkannya
padamu, sampai waktunya aku akan mengambilnya kembali” jelasnya, Ia seakan bisa
membaca pikiran Venus.
“Apa
hubungannya dengan menitipkannya kepada orang lain?” Tanya venus, rasa ingin
tahunya kembali muncul.
“Berada
di tubuh orang lain mempersulit mereka untuk mendeteksi keberadaanku, mereka
tidak akan tahu aku berbaur dengan manusia…!” lanjutnya, cerita laki-laki itu
terdengar begitu menarik, ia bisa menjadikan referensi untuk cerita yang akan
dibuatnya.
“Terus…kapan
kamu bisa pulang kembali ke tempat asalmu…!” Tanya Venus.
“Sampai
Kristal itu menghilang dengan sendirinya…!” jawabnya.
“Apa
yang akan terjadi jika kristalnya menghilang?”
“Aku
akan kembali dengan sendirinya, Kristal itu akan mulai menghitam dan lenyap,
bersamaan itu pula aku akan kembali dengan kematianku…!”
“Tadi
kamu bilang Kristal itu simbol keabadian, orang yang memilikinya akan hidup
abadi…!” Venus menyilangkan kedua kakinya, ia mencatat beberapa hal penting
yang dikatakannya.
“Kristal
ini akan menghilang apabila ia berada di dimensi lain untuk waktu yang cukup
lama…!”
“Oh…jadi
kamu akan tinggal sampai Kristal itu menghilang…!?”
“Hanya
itu jalan satu-satunya yang bisa aku pikirkan, akan terjadi bencana apabila
Kristal ini berada di tangan orang yang salah…!” Ujar pria itu.
“Sampai
kapan Kristal ini akan ada di tanganku?”
“Aku
akan mengambilnya saat waktunya tiba, kamu tidak usah khawatir, Kristal itu tidak
akan berpengaruh apa-apa padamu…!” jawabnya, rasa khawatirnya sedikit
berkurang, hanya saja yang dipikirkan saat ini bagaimana mungkin ia tinggal
bersama laki-laki yang baru di kenalnya, di ruangan sempit seperti ini dan apa
yang akan di katakan Yuli atau keluarganya jika mereka tahu. Untuk sementara ia
akan membiarkannya laki-laki itu tinggal sampai ia menemukan solusinya.
“Aku
Venus…!” memperkenalkan dirinya.
“Aku
El…!” jawabnya/
“El…?
hanya itu…El” pikirnya, nama yang terlalu pendek dan begitu mudah diingat, El
atau L yang berarti light atau cahaya, itu sesuai dengan nama dan asalnya.
“Sebaiknya
kamu istirahat…!” lanjut Venus memberikannya beberapa pakaian untuk di
pakainya.
Alarm
hpnya yang sejak tadi berbunyi membangun Venus dari tidurnya, ia berharap
semuanya yang dialaminya kemarin masih mimpi, Venus menarik nafas saat melihat
El duduk bersila di dekat jendela. Tidak seperti biasanya Venus bangun lebih
pagi. Ia meminta Yuli datang menjemputnya. Venus mengganti pakaian, menyikat
gigi dan mencuci wajahnya, ia merapikan rambut dan menyisirnya.
“Oh
iya kalau kamu lapar, ada makanan di kulkas, dan kamu bisa menyalakan tv…! “
tunjuk Venus, ia khawatir meninggalkannya di rumah sendirian.
“Aku
sudah belajar tentang apa yang dilakukan manusia, kehidupan mereka dan semua
tentang mereka, jadi tidak usah khawatir…lagi pula aku tidak bisa keluar selama
kondisiku belum pulih…!” sekali El memperjelas kekhawatirannya, terkadang ia
tidak percaya laki-laki itu bisa beradaptasi begitu cepat.
“Tumben
banget…kamu minta di jemput…!” Ujar Yuli.
“Ah…Pak
Herlan memintaku datang untuk mengikuti rapat…!” ucap Venus, ia menaikkan
penutup kepalanya, setibanya di kantor Venus menyembunyikan wajahnya menuju
ruang rapat. Sebagian dari karyawan yang sejak dulu penasaran dengan sosok
Venus, bergantian mengintip di pintu.
“Apa
kamu melihatya?” Tanya seseorang yang baru saja kembali, mukanya begitu kecewa,
karena tidak bisa bertemu dengan Venus secara langsung.
“Dia
seperti selebriti, begitu sulit melihat dan menemuinya, padahal dari awal aku
adalah penggemar beratnya…!” jelas Candi duduk di kursi kerjanya.
“Kita
bekerja di kantor yang sama tapi belum pernah bertemu dengannya…!” tambah Mona.
“Bukankah
Martin pernah bertemu dengan secara langsung…wah dia yang paling beruntung…!”
sahut Candi…menghentikan langkah Martin saat menuju keruang rapat. Kali ini dia
juga akan mengikuti rapat bersama Venus.
“Oke…aku
akan mengambil fotonya sekali saja…!” Ujar Martin membuat perasaan mereka
sedikit lega.
Rapat
kali ini bertujuan untuk memilih beberapa penulis dan komikus. Ada sekitar enam
orang, tiga di antaranya yang akan terpilih bekerja di perusahan ini, dan
ketiga orang itu salah satunya akan menjadi asisten pribadi Venus. Meski Venus
menolak untuk memperkerjakan asisten tetapi pak Herlan bersikeras untuk
membantu pekerjaan Venus.
Setelah
memeriksa profil, gambar dan tulisan mereka. Tidak membutuhkan waktu yang lama
bagi Venus untuk memutuskan, dia memilih dua orang laki-laki dan satu
perempuan, dan tanpa berpikir panjang, ia langsung menunjuk Stefan tanpa ragu
untuk menjadikan asistennya.
“Terima
kasih…!” pria itu langsung berdiri seakan memberikan penghormatan terbesarnya karena
telah memilih dirinya, ia sangat bangga karena bisa bekerja sama dengan Venus.
Rapat yang berlangsung selama dua jam itu akhirnya selesai juga, Venus masih
duduk di tempatnya menunggu semua orang
pergi.
“Berhentilah
terlihat lebih keren…!” Lontar pak Herlan “Semua karyawan yang bekerja di sini
sangat ingin mengenal dan belajar banyak denganmu…jadi pelatihan bulan depan
kamu yang akan bertanggung jawab…!” Tambah pak Herlan. Venus hanya bisa menuruti
perkataannya itu, selama enam tahun pak Herlan sangat baik untuknya,
menjadikannya karyawan lepas. Ia bisa bekerja dengan hanya tinggal di rumah.
Mungkin sudah waktunya bagi Venus menghadapi dunia luar, bisa kenal dengan
banyak orang dan dekat dengan rekan-rekan kerjanya. Ia juga bisa mengucapkan
banyak terima kasih kepada orang-orang yang sering membantunya selama ini.
Dengan
cepat kabar itu sampai di telinga para penulis lainnya, terutama komikus dan
penulis webtoon. Mereka begitu semangat saat tahu pelatihan bulan depan akan di
pimpin langsung oleh Venus.
Part 3
Karena ini pertama kalinya
Sementara
itu di rumah Venus, El yang sudah belajar beradaptasi dengan sekitarnya belajar
banyak dari tv yang di nontonnya. Sejak Venus pergi ia memperhatikan ruangan
itu begitu berantakan dan kotor. Bau yang tidak enak berkumpul di tempat sampah
menjadi satu, saat ia membuka kulkas hampir semua makanan yang ada di dalamnya
sudah berbau dan sangat kotor. Hal istimewa yang belum di ceritakan El pada
Venus, ia mencoba ingin menjadi manusia dan berbaur dengan mereka, ia tidak
ingin menceritakannya pada Venus soal kekuatan yang di milikinya. Ia bisa
mengembalikan sesuatu pada tempatnya, dengan menjentikkan jarinya ia bisa
merapikan ruangan ini dengan sendirinya. Ia juga bisa berpindah tempat dengan
cepat atau menghilang ke suatu tempat. Terdengar suara pintu di buka, El
kembali ke posisi duduknya ia menutup kedua matanya. Meski tahu kedatangan
Venus, ia tidak bergerak sedikit pun. Saat menyalakan lampu, Venus terkejut
melihat ruangannya terlihat lebih bersih, bahkan debu tak tercium di hidungnya,
ruangan terlihat lebih segar, ia membuka kulkas yang terlihat sangat bersih dan
dapurnya terlihat lebih mengkilau. Untung saja ia tidak menyentuh meja
kerjanya. Venus meletakkan beberapa makanan di lantai.
“Apa
kamu sudah makan…?” Tanya Venus, El langsung membuka matanya. Ia menghampiri makanan
yang membuatnya lapar.
“Kamu
yang membersihkan ini semua?” Tanya Venus.
“Rumahmu
terlihat berantakan…!” katanya, El menatap Venus sejenak, dia meminta tangannya
diulurkan.
“Ada
masalah dengan kristalmu…?” Venus mengulurkan tangannya, Kristal itu kembali
muncul saat pemiliknya menyentuhnya.
“Tubuhku
akan merasa lemas saat terlalu lama berada jauh dari benda ini…!” katanya mengenggam
tanganku, seolah ia meresap energi dari Kristal itu.
“Kenapa
nggak bilang dari kemarin…!” Venus kembali menarik tangannya saat El selesai.
Ini pertama kalinya ada seseorang yang diajaknya bicara dan makan bersama.
Selama lima tahun ia menghabiskan waktunya di tempat ini, sendiri tanpa ada
seseorang yang bisa di ajaknya bicara.
“Aku
ingin besok kamu membawakan barang ini padaku…!” El langsung mengeluarkan
secarik kertas, memberikannya pada Venus.
“ini
kan bahan-bahan untuk memasak…!” Ujar Venus, ia heran mengapa laki-laki ini
meminta hal seperti ini padanya. Mungkin dia belajar saat menonton tv.
“Besok
kita keluar bersama untuk membelinya…!” Venus menaruh kertas itu di tasnya,
beranjak pergi menuju ke meja kerjanya, ia menarik sekat yang membatasi mereka.
Ia terlihat begitu lelah, dia ingin tidur sejenak lalu bangun melanjutkan
kerjaannya.
“Aku
tidur duluan…!” sahutnya, beberapa menit kemudian, Venus sudah tertidur begitu
cepat. El kembali ke posisinya, ia duduk menyilangkan kedua kakinya, memejamkan
matanya.
Semenjak
kedatangan El bersamanya, ia tidak lagi banyak menghabiskan waktunya di rumah,
ia merasa canggung hanya berduaan, setiap pagi Venus berangkat lebih pagi
menuju kantor, ia banyak menghabiskan waktunya di ruangannya, Yuli begitu senang
tanpa di perintah ia langsung menyuruh cleaning
service segera membersihkan ruangan yang akan digunakan oleh Venus.
“Kok
tiba-tiba sih…?” Tanya Yuli.
“Ini
sudah lima tahun, nggak mungkin aku menghabiskan waktuku di tempat itu
selamanya. Aku juga perlu suasana baru untuk mendapatkan ide baru” jelas Venus.
“Kok
ada dua meja?” Tanya Venus.
“Kamu
akan bersama Stefan di sini…! Jangan protes, Pak Herlan sendiri memintanya…”
Yuli keluar, ia tidak ingin mendengar Venus protes hanya karena Stefan di
tempatkan satu ruangan dengan dirinya. Seharusnya ia senang karena kehadiran
asistennya itu akan sedikit mempermudah pekerjaannya. Venus menaruh semua
barangnya di atas meja, ia kembali mengerjakan gambarnya, melanjutkan ide
cerita yang baru saja muncul di otaknya. Ia tidak peduli dengan orang-orang
yang masuk ke ruang kerjanya, begitu pun Styefan yang tidak berani menganggu
pekerjaannya, Venus tidak sekalipun meninggalkan tempat duduk dan ruangannya.
“Bagaimana
rasanya bisa bekerja sama dengan Venus…!” ujar Candi, mereka kembali
membicarakan Venus saat usai makan siang, masih ada waktu 20 menit sebelum
mereka kembali bekerja.
“Hampir
ia tidak pernah bicara, saat aku membawakannya minuman atau makanan, dia tidak
sekalipun melirikku atau mengucapkan sesuatu…” ujar Stefan, ia berharap bisa
dekat sebagai rekan kerja dan ia ingin belajar banyak hal dari Venus.
Waktu
menunjukkan pukul empat sore, semuanya sudah bersiap pulang, hanya Venus yang
masih duduk di tempatnya, ia telah menyelesaikan lima episode dalam ceritanya.
Stefan menghampiri Venus.
“Kamu
nggak pulang…!” Ujar Stefan, Venus membukanya tudung kepalanya, pertama kalinya
ia melihat wajah Venus dengan jelas, ia tidak tahu mengapa gadis itu suka
menggunakan jaket yang memiliki penutup kepala. Venus menatap jam di layar
hpnya.
“Aku
akan pulang sebentar lagi…!” Jawabnya, ia menyandarkan kepalanya di kursi
menutup matanya. Stefan memandangi Venus
sebentar.
“Oh
iya…!” Stefan menaruh sebuah kertas di hadapannya.
“Besok,
Pak Herlan meminta kita menghadiri pertemuan ini…!”. Venus meraih dan langsung
membacanya, undangan untuk menghadiri pertemuan penulis komik, tamu yang akan
datang tertulis di undangan itu, dari berbagai Negara Asia, seperti Jepang,
Cina dan Korea, nama Venus menjadi salah satu tamu yang akan menghadiri acara
itu. ia menarik nafas meletakkan kembali undangan itu, ia memperhatikan Stefan
yang sedang menunggu apa yang akan dikatakannya, Venus lega bisa memilih Stefan menjadi asistennya,
karena saat menghadiri acara tersebut ia butuh seseorang yang bisa
menerjemahkan bahasa mereka.
“Pulanglah…!”
Ujar Venus kembali melanjutkan pekerjaannya.
Stefan melangkah keluar menutup pintu. Ia berpapasan dengan Yuli yang
kini tidak lagi menjadi manajer Venus, karena ia sebentar lagi akan menikah dan
pindah bersama suaminya di luar kota
“Bagaimana…?
“ Tanya Yuli mengintip Venus di kaca jendela.
“Dia
setuju mau menghadiri acara itu…!” ucap Stefan, Yuli mengangguk senang.
“Aku
kira dia akan menolaknya…! Dia cukup aneh akhir-akhir ini…!” pikir Yuli.
Mereka
berdua lalu pergi, kantor sudah sangat sepi, dan hanya ada dua satpam yang
menjaga di pintu masuk. Ia tiba-tiba teringat dengan El, ia lupa kalau
meninggalkannya terlalu lama membuat tubuh El lemah. Venus segera beranjak dari
tempatnya, ia terkejut saat seseorang menabrak tubuhnya.
“Kamu
belum pulang…?” Tanyanya, Venus mengangkat kepalanya memperhatikannya.
“Stefan…!!,
apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Venus.
“Dompetku
ketinggalan…”
“Ah,,,benarkah…!”
Venus kembali menuruni tangga, tidak lama kemudian, Stefan setengah berlari
menyusul Venus.
“Oh
iya…Bagaimana kalau kita makan sesuatu sebelum pulang…!” ajak Stefan, dia tahu
harus memperlakukan Venus sebagai atasannya saat di kantor, tetapi Venus tidak
keberatan karena ia juga akan nyaman bekerja sama dengan orang yang akrab
dengannya. Venus setuju dengan ajakan Stefan, ia menuju ke café yang berada
tidak jauh dari kantor.
“Aku
tinggal di lantai atas…!” ucap Stefan membawa dua minuman di tangannya sambil
menunggu hamburger pesanannya.
“Serius…!
Kamu menyewanya?” Tanyanya.
“Hmmm…aku
menyewanya, café ini juga milik temanku…! Cafenya baru di buka seminggu yang
lalu…!” jelas Stefan, ia menikmati minumannya sesekali melirik ke Venus.
Hampir
satu jam mereka mengobrol, itu sedikit membuat Stefan terkesan dengannya, entah
apa yang dilihat darinya, ia terlihat begitu lusuh, wajahnya tersembunyi di
balik kacamatanya, matanya yang sayu terlihat begitu menarik bagi Stefan.
“Aku
harus pulang…!”
“Biar
aku yang mengantarmu…!” Ujar Stefan.
“Tidak
perlu, aku bawa mobil sendiri…!” tambahnya, Venus segera pergi setelah membeli
makanan yang akan di bawanya pulang.
Venus
membuka pintu, kedatangannya membuat El langsung berdiri.
“Apa
kamu nggak bosan di rumah terus…!”Tanya Venus, kata-kata yang baru saja
diucapkanya sering terdengar dari mulut Yuli dan pak Herlan. Ia memperhatikan
El yang sudah berganti pakaian, ia memakai kaos dan celana pendek miliknya,
terlihat sangat lucu. tapi wajah El terlihat pucat, ia menghampiri El dan
memegang tangannya, Venus paham apa yang terjadi pada El, kristalnya yang
membuatnya seperti ini.
“Hari
ini pekerjaanku banyak di kantor, jadi aku sedikit terlambat…!” ujar Venus
menyesal. Gara-gara ajakan Stefan dia lupa pulang lebih cepat.
Malam
itu, El sedikit merasa bersalah pada Venus, ia tahu selama ini ia kehadiran
dirinya membuat Venus harus berangkat lebih pagi.
Seperti
biasanya, Venus sudah bersiap-siap pergi. Tanpa sepengetahuan Venus, El saat
itu mengikuti Venus ke kantor, ini pertama kalinya ia melihat dunia luar, menyaksikan
semua yang di lakukan oleh manusia, ini tidak ada bedanya dengan dunianya,
Venus berhenti di depan sebuah café, ia tertarik dengan tulisan yang ada di
depan kaca. Café yang baru buka ini membutuhkan pelayan.
“Apa
tempat ini masih membutuhkan pelayan...!” Tanya El, tidak sengaja bertemu
Stefan saat ia keluar, Ia mengantar El masuk menemui Fani.
“Sepertinya
dia ingin kerja di sini…!” Ujar Stefan duduk sambil menikmati sarapan paginya.
Fani langsung tersenyum saat melihat El, ia begitu kagum dengan laki-laki yang
wajahnya hampir mirip dengan Seung Ho (Drama korea Black). Tubuhnya yang tinggi
sekitar 185 cm, kulitnya yang coklat dengan badannya yang memperlihatkan
otot-ototnya.
“Dia
sempurna…!” pikir Fani, tanpa melakukan wawancara ia langsung
memperkerjakannya, Fani begitu semangat memberikan beberapa hal yang harus di
lakukannya dalam melayani tamu, Fani juga mengajarkannya membuat beberapa
minuman, El tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mempelajari semuanya.
Setelah berganti pakaian El langsung menghampiri tamu yang datang dan mencatat
pesanan mereka. Fani tidak menyangka keputusan untuk memperjakan El ternyata
membawa keberuntungan baginya, kenapa tidak pengunjung café yang rata-rata
mahasiswa dan remaja langsung jatuh hati saat melihat El, bahkan sebagian dari
mereka sengaja sembunyi mengambil foto dan menguploadnya di sosial media, Fani
begitu senang saat semua komentar mengenai tempatnya banyak mendapatkan respon
yang sangat baik. Fani langsung menghubungi fotografer kenalannya, ia ingin
menjadikan El model untuk cafenya.
“Bagaimana
kalau kamu tinggal di sini, kami punya kamar kosong di atas…!” Ujar Farhan
suami Fani, ia juga sesekali datang membantu Fani mengurus cafenya. El langsung
setuju, Venus pasti senang saat tahu dirinya mendapatkan pekerjaan. ia tidak
akan membuat Venus merasa tidak enak dengan dirinya karena harus tinggal berdua
dalam satu rumah, di tambah lagi tempat ini begitu dekat dengan keberadaan
Venus.
Saat
itu Venus tidak tahu harus melakukan apa untuk menghadiri sebuah acara, ini
pertama kalinya, ia meminta tolong pada Stefan tanpa canggung karena Yuli hari
itu tidak datang ke kantor, ia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi.
Tentu saja Stefan sangat merasa senang. Hampir satu jam mereka mengelilingi
toko baju, tampak di wajah Venus ia kebingungan memilih sesuatu. Stefan menarik
tangan Venus masuk ke dalam sebuah toko, ia memilih beberapa pakaian yang cocok
di tubuh Venus. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama bagi Stefan, ia memilih
gaun yang di sukainya.
“Apa
ini tidak kepanjangan…!” Sahut Venus keluar dari kamar ganti, Ia terkejut saat
melihat penampilan Venus, selama ini dia melihat Venus selalu memakai kaos
panjang dan celana dengan penutup kepala. Kali ini Venus terlihat begitu
cantik, Stefan terdiam sambil menatap Venus, dia benar-benar kagum melihatnya,
mungkin saat ini ia sedang jatuh cinta pada wanita itu. Setelah membeli baju,
Stefan mengantar Venus ke salon, tidak membutuhkan waktu yang lama, Stefan juga
telah berganti pakaian.
Kini
penampilan Venus benar-benar berubah, rambutnya yang biasanya di ikat kini
terurai, dandanannya yang polos dengan make up ringan di wajahnya, serta
lipstik yang senada dengan warna bibirnya membuat Venus benar-benar berbeda. Ia
bahkan tidak mengenali dirinya sendiri. Lagi-lagi Stefan di buat pangling, ia
tidak menyangka Venus bisa secantik ini, wanita itu berhasii membuat jantungnya
berdebar secepat ini.
Dari
kejauhan El yang sudah menyelesaikan pekerjaannya kembali mengikuti Venus, entah
mengapa ia sedikit tertarik dengan kehidupan Venus. Setibanya mereka di hotel,
Venus menjadi salah tamu yang paling di tunggu. Sementara itu El menunggu di
lobi.
Sudah
hampir dua jam, ia tiba-tiba teringat dengan El. Dia yakin saat ini El
membutuhkan kristalnya agar tubuhnya tidak kesakitan. Ia meminta Stefan segera
mengantarnya pulang. Sejak tadi Stefan memperhatikan dirinya yang begitu
gelisah .
“Kamu
baik-baik aja kan…!” Tanya Stefan saat tiba di lobi.
“Aku
baik-baik saja…!” Ujar Venus.
Pandangan
tertuju pada seseorang yang sedang duduk tidak jauh darinya, El langsung
berdiri menghampiri Venus.
“Apa
yang kamu lakukan…! Kok kamu tahu aku ada di sini…!” Tanya Venus penasaran.
“Tentu
saja aku tahu, karena Kristal itu…!” Jelas El singkat,” ada yang ingin aku
katakan padamu…!” lanjut El serius.
“Oh
iya Stef…kamu pulang duluan aja…!” ujar Venus, ia menunggu Stefan pergi. Ia
begitu penasaran dengan apa yang ingin di katakan El. Tiba-tiba El
menghampirinya lebih dekat.
“Ini
kekuatanku yang belum kamu ketahui…!” Bisik El tiba-tiba memeluk Venus,
mendekapkan kepalanya di dadanya. Venus terkejut dengan perlakukan
tiba-tibanya, El melepaskan pelukannya, rasa terkejutnya bertambah saat dirinya
tidak lagi berada di lobi hotel, tetapi di depan sebuah café yang kemarin baru
saja di datangi olehnya.
“Sekarang
aku bekerja dan akan tinggal di sini…!” ujar El,
“Benarkah…!
Ini sangat dekat dari tempatku bekerja…!”
“Aku
sengaja, agar bisa dekat dengan Kristal itu…!” jelas El “Aku akan mengantarmu
pulang…!” El kembali memeluk Venus, sekejap saja ia sudah berada di rumahnya.
“Wah
ini hebat…! Kamu bisa melakukannya kapan saja?” Tanya Venus. “ Apa saja yang
bisa kamu lakukan…?”
“Membersihkan
ruangan ini dengan cepat…!” ujar El. “Aku hanya bisa perpindah tempat apabila
Kristal itu bersamaku…!” jelasnya lagi.
“Jadi
maksudmu…kamu tidak bisa melakukannya sendiri”
“Iya…hanya
jika kamu dekat denganku, aku bisa berpindah ke mana saja…!” Tambah El, malam
ini terakhir kalinya ia akan bermalam di rumah Venus, ia harus mendapatkan izinnya
dulu sebelum pindah. Malam semakin larut, Venus sudah tertidur nyenyak sejak
tadi, El menghampirinya pelan, ia meraih tangan wanita itu dan menggengamnya.
Kristalnya masih bersinar sangat terang. Meski dari dimensi lain ia juga bisa
merasakan perasaan yang sama dengan manusia yang ada disini.
Meski
El tidak tinggal bersamanya lagi, Venus tidak lagi menyelesaikan tulisan dan
gambarnya di rumah, ia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor, ia tidak lagi
khawatir tentang El, dia bisa menemuinya kapan saja. Setiap hari setelah
selesai, El akan menunggu Venus, ia sengaja memasakkan sesuatu sebelum ia
pulang.
“Apa
hubunganmu dengan Venus…!” pertanyaan itu terlontar dari Stefan yang sejak
beberapa hari lalu penasaran dengan kedekatan mereka, saat ini mereka lebih
sering bertemu karena bersebelahan kamar. Stefan merasa laki-laki ini adalah
penghalangnya dekat dengan Venus. Tiba-tiba Venus muncul dari balik pintu, saat
itu ia menunggu El selesai dengan pekerjaannya, karena El memintanya
menemaninya membeli beberapa pakaian. Ia sedikit terkejut dengan perubahan El,
kini fotonya yang mengiklankannya tentang café ini berdiri di samping pintu, ia
baru sadar El terlihat sangat tampan, bahkan baru saja ia muncul di televisi
mempromosikan sebuah produk pakaian. Akhir-akhir ini dia cukup terkenal di
sosial media.
“Apa
yang kamu pikirkan…!” sahut El sejak tadi Venus terlihat sedang memikirkan
sesuatu.
“Hmm…tidak
apa-apa!” Ujar Venus melanjutkan langkahnya.
“Bagaimana
dengan kristalmu…!” Venus mengangkat tangannya.
“Kristalnya
baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir…!” jelas El, ia meraih tangan Venus,
menatap wajahnya yang sedikit tersembunyi balik topinya, entah mengapa perasaan
Venus berdebar, sejak El memeluknya saat itu ia sering memikirkannya. Bahkan
saat ini ia terlihat nyaman berada di samping El. Hujan tiba-tiba turun, mereka
berdua berlari menuju halte bis.
“Sepertinya
hujan akan lama berhenti…!” Ujar Venus, hari ini ia tidak membawa mobilnya.
“Aku
akan mengantarmu pulang…!” Ujar El memperhatikan sekelilingnya, memastikan
tidak ada orang yang melihat mereka.
“Apa
kita akan melakukannya lagi…!” Venus terlihat senang, begitu pula dengan El.
Sekali lagi ia mendekap Venus dalam pelukannya.
“Kita
sudah sampai…!? Bisik El, ia tidak membawa Venus pulang ke rumahnya, tetapi
menuju ke sebuah menara paling tinggi di kota ini. menara yang juga sebagai
pembangkit tenaga listrik. Cahaya kemerahan berkedip tidak jauh dari atasnya,
ia tidak tahu mengapa El membawanya ke atas, Venus masih berpegang pada El,
kakinya sedikit bergetar saat melihat sekelilingnya, angin bertiup seakan ingin
menerbangkan mereka.
“Hal
yang paling kusukai adalah berada di ketinggian seperti ini, kau tahu…? Rasanya
aku bisa membaca dan melihat semua keadaan di dunia ini.” Jelas El, ia menarik
tubuh Venus semakin dekat dengannya, ia tahu Venus sedikit takut karena
genggamannya semakin kuat di tangannya.
“Ini
luar biasa…!” Puji Venus, ia terkesan melihat semua pemandangan yang berada di
ketinggian 21 kaki dari permukaan tanah. Meskipun sedikit takut, ia tidak ingin
melewatkan kejadian itu.
“Bagaimana
kalau tiba-tiba kekuatanmu menghilang dan kita tidak bisa kembali…!” Pikir
Venus, El langsung tertawa dengan apa yang dikatakan Venus.
“Jangan
pikir macam-macam…itu tidak akan terjadi…!” Ujar El, ia memperhatikan Venus
yang berada di sampingnya.
“Sebaiknya
kita kembali…!” ucap El, mereka cukup lama berada di atas, Venus kelihatan
kedinginan dan bibirnya terlihat pucat. Ia segera memeluknya. Hanya beberapa
detik, mereka sudah tiba di rumah.
“Lain
kali kita harus ke tempat yang lebih hebat…” usul Venus begitu senang.
Sementara
itu di kantor, Venus sibuk dengan tablet dan gambarnya, hanya saja ia sedikit
tidak merasa enak badan, kepalanya sangat pusing, dan nafasnya begitu berat.
Stefan sejak tadi memperhatikan Venus, ada yang salah dengannya. Stefan
menghampiri meja Venus.
“Kamu
nggak apa-apa?” Tanya Stefan, Venus hanya menggelengkan kepalanya. Ia kembali
ke tempatnya. Tidak lama setelah itu, saat Venus berdiri tubuhnya tiba-tiba
ambruk. Stefan mengangkatnya segera dan langsung membawanya ke rumah sakit.
“Apa
yang terjadi…!” tanya mereka bersamaan, satu kantor saat itu heboh dan langsung
berkumpul ketika mendengar Venus jatuh pingsan.
“Tadi
aku sempat bertemu dia di lift, wajahnya begitu pucat…!” tambah seseorang,
mereka hanya bisa berdoa dan menunggu kabar dari Stefan.
Ditto
juga langsung meluncur ke rumah sakit saat mendengar Venus masuk ke rumah sakit.
“Bagaimana
keadaannya?” Tanya Ditto, ia menghampiri Venus yang sedang tertidur dengan
selang infus yang terpasang di tangan kanannya.
“Dokter
bilang, ia deman dan kekurangan darah akibat kelelahan, saat ini keadaanya
sudah membaik, dokter menyuntiknya dengan obat tidur, agar ia bisa istirahat…!”
jelas Stefan memperkenalkan dirinya pada kakak Venus.
“Terima
kasih sudah membawanya ke rumah sakit…!” ucap Ditto, ia memang tidak bisa
menyimpulkan apa hubungan di antara mereka, tapi Ditto bisa tahu kalau
laki-laki ini menyukai adiknya. Itu sangat jelas dari sikap Stefan, ketika
Ditto masuk, ia melihat laki-laki itu membelai rambut Venus.
“Aku
yang akan menjaganya, sebaiknya kamu kembali ke kantor…!”. Suruh Ditto.
Di
lain sisi, El yang saat itu sedang melakukan pemotretan dan syuting iklan di
café tempatnya bekerja, tiba-tiba merasakan sesuatu terjadi pada tubuhnya,
dadanya begitu sakit, seakan-akan ia kembali merasakan tusukan pedang dari
pasukan kegelapan yang mengejarnya. El merasakan kristalnya semakin jauh
darinya, ia tidak mengerti, Venus pergi begitu saja tanpa memberitahunya. El
langsung meminta izin untuk pergi, ia keluar menuju kantor Venus, dan
berpapasan dengan Stefan.
“Mana
Venus…!” Tanyanya menahan sakit. Stefan terkejut melihat El yang terlihat tidak
baik.
“Venus
di rumah sakit, ia jatuh pingsan…!” ujar Stefan.
“Aku
minta tolong, antarkan aku sekarang juga ke rumah sakit…!” pinta El masuk lebih
dulu ke mobil, Stefan terpaksa harus kembali membawa El. Sepanjang perjalanan
El tidak berbicara apapun, Entah apa yang terjadi dengan laki-laki yang duduk
di sampingnya, ia terlihat begitu kesakitan sambil memegangi dadanya. Stefan
semakin mempercepat laju mobilnya.
“Kamu
nggak apa-apa?” Tanya Stefan saat turun dari mobil.
“Cepat
bawa aku ke Venus…!” El langsung mengikuti Stefan.
El
menghampiri Venus yang sudah sadar dari tidurnya, ia terkejut melihat El masuk dengan
keadaan seperti itu. tubuhnya seakan bergetar dan matanya merah, sekujur
tubuhnya basah.
“Apa
yang terjadi…” seru Venus, ia melihat tatapan El yang seakan lupa dirinya
siapa, tatapannya kosong. Venus menariknya duduk di sampingnya. Tanpa
mengatakan apa-apa, Venus memeluk tubuh El, ia bisa merasakan sekujur tubuhnya
basah. Tiba-tiba Kristal yang berada di tangannya keluar dengan sendirinya,
cahayanya lebih terang dari sebelumnya. Kristal itu menghilang masuk ke dalam
tubuh El, kini ia seperti memeluk sebuah cahaya. Perlahan kondisi El membaik,
tubuhnya kembali normal. Beberapa menit cahaya itu kembali ke tangan Venus dan
menghilang. Venus begitu khawatir sampai air matanya keluar, ini pertama
kalinya ia melihat El begitu kesakitan. Meski keadaan sudah membaik, El seakan
tidak ingin melepaskan pelukannya.
“Biarkan
aku seperti ini sebentar saja, rasanya lebih sakit saat mereka menusukku…” Ujar
El, ingatannya begitu kuat saat harus melawan 20 pasukan kegelapan sendirian,
tusukan pedang yang di bawanya masih meninggalkan luka, dan Kristalnya tidak
bisa menyembuhkan luka itu.
“Siapa
kamu…?” sahut Ditto masuk, Stefan sejak tadi berdiri melihat mereka berdua,
wajah Stefan berubah kesal saat melihatnya. Ia langsung keluar dari kamar rumah
sakit kembali ke mobilnya. Venus melepaskan pelukannya saat kakaknya masuk. Ia
memperkenalkan El pada Ditto.
“Hanya
teman…!! Sampai berpelukan seperti itu…!” Ujar Ditto.
“Sebaiknya
kak Ditto pulang, kasihan Anita di rumah sendiri, aku udah nggak apa-apa,
lagian besok aku bisa keluar dari rumah sakit…!” Ujar Venus, dia juga tidak
bisa membiarkan istrinya yang sedang hamil, sendirian di rumah.
“Kalau
kamu butuh sesuatu hubungi aku…!” ucapnya khawatir meninggalkan Venus.
“Aku
akan menjaganya…!” ujar El sebelum Ditto keluar.
Suasananya
tiba-tiba berubah canggung saat hanya ada mereka berdua, Venus memulai
pembicaraan dengan meminta maaf pada El.
“Aku
rasa kristalnya semakin melemah…!” ujar El, membuat Venus kebingungan.
“Apa
maksudmu…?”
“Tidak
lama lagi kristalnya akan berubah, aku tidak tahu bisa secepatnya ini…!”
ucapnya, suaranya melemah, saat mengatakannya, pertama kali ia terjebak di
dunia ini, ia ingin mempercepat kristalnya menghilang, agar semuanya kembali
pada keadaan semula, tapi keadaan berubah semenjak ia bertemu dengan Venus, di
hatinya ia ingin tinggal lebih lama bersama Venus.
“Kamu
juga akan menghilang…!” ucapnya menunduk memandangi tangannya yang berada di
genggaman El.
“Kenapa
kamu tidak menyerahkan saja Kristal ini dan tetap tinggal…!” Kini Venus tidak
tahu tahu harus mengatakan apa, ia paham Kristal yang berada di tubuhnya sama
saja dengan jiwa El, menyerahkan Kristal pada pasukan kegelapan sama saja
menyerahkan kematiannya pada mereka. Venus tidak bisa berpikir apa-apa selain
menangis di hadapan El. Ia menatap begitu dalam pada wanita yang sedang
mengeluarkan air matanya, ada sesuatu yang di pahami selama ini. ia mencoba
menjelaskannya pada Venus.
“Di
dimensiku, kami diciptakan dari berbagai unsur, kita dari pencipta yang sama
tetapi dengan dunia yang berbeda. Manusia seperti kalian memiliki perasaan
kasih sayang, cinta, benci dan permusuhan sedangkan di dunia kami, tidak ada
yang seperti itu, kami hanya sekedar di ciptakan lalu di matikan. Beda dengan
kalian yang butuh cinta dari satu sama lain, kalian bekerja untuk mendapatkan
uang, kalian melakukan banyak di dunia ini…!” El berhenti kembali menatap Venus
yang masih belum menemukan inti pembicaraannya dengan El, ia membelai rambut
Venus dan menghapus air matanya.
“Makhluk
seperti kami tidak di ciptakan dengan perasaan itu, aku baru tahu di dunia ini
merasakan jatuh cinta adalah hal yang luar biasa, dan aku merasakan itu. kau
tahu…aku sangat senang karena bisa merasakannya, jantungku berdebar begitu kuat
seakan ingin meledak, merindukan meski baru bertemu, selalu ingin berada di
sampingnya, Ah…mungkin terdengar begitu biasa bagi orang lain, tapi bagiku ini
luar biasa. Aku merasakan itu hanya bila berada dekat denganmu…!” Jelasnya.
Venus menyembunyikan kesedihannya, ia benar-benar tidak ingin kehilangan El.
“Aku
mencintaimu…!! Izinkan aku berada di sampingmu sampai saat waktunya…!” El
kembali memeluk Venus, El tidak ingin membuang waktunya yang berharga.
Sementara
itu Stefan dengan wajah pucat bercampur
kesal mengerem tiba-tiba mobilnya, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja
di lihatnya, bukan karena lelaki itu memeluk Venus tetapi sesuatu yang aneh
baru saja di saksikannya secara langsung, kedua kakinya seakan tidak bisa
berbuat apa-apa saat itu, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, ketika
laki-laki yang bernama El memancarkan cahaya di sekitar tubuhnya, waktu seakan
berhenti saat itu, seakan ada asap putih yang mengelilingi ruangan tempat
Venus, udara yang terasa panas dan juga dingin, Stefan mencoba menggerakkan
seluruh tubuhnya, tak ada yang bisa dilakukannya, dengan kedua matanya, sebuah
cahaya yang tak pernah dilihatnya selang beberapa detik menghilang begitu saja,
seakan apa yang dilihatnya hanya sebuah ilusi. Nafasnya seakan sesak saat itu,
Stefan begitu terkejut dan semuanya menghilang saat Ditto tiba-tiba membuka
pintu.
“Apa
yang baru saja terjadi?” pikirnya dalam hati, ia langsung pergi tanpa
mengatakan apa-apa, sepanjang ia mengemudikan mobilnya pikirannya masih
teringat dengan kejadian aneh yang barus di saksikannya. Siapa sebenarnya
laki-laki yang bersama Venus sekarang? Pertanyaan itu terus berputar dalam
otaknya.
Keesokan
harinya, Venus yang sudah semakin membaik kembali masuk ke kantor, selama dua
hari di rumah sakit membuat pekerjaannya menumpuk, webtoon yang dibuatnya harus
tertunda selama dua hari, dan itu membuat para penggemarnya menunggu tidak
sabar dengan ceritanya. Sedangkan El masih bekerja di café, semakin hari café
yang di tempatinya bekerja semakin ramai dengan pengunjung, di sela-sela El
bekerja tawaran menjadi model, bahkan dari berbagai stasiun tv menawarinya
untuk bekerja sama, El tanpa segan menolakknya, ia hanya mau melakukan itu
apabila tempatnya tidak begitu jauh dari tempat bekerjanya.
Selama
beberapa hari ini juga Stefan tidak begitu banyak bicara, ia terkesan sedikit
menjaga jarak dengan Venus, setiap hari
bertemu dengan mereka berdua membuat Stefan di penuhi dengan rasa
penasaran yang begitu besar, ia tidak menjadikan keingintahuannya menjadi
ambisi yang akan membuat Venus menjauh darinya. Setiap hari bertemu dengan El
membuat tatapanya kepada El penuh dengan rasa penasaran, setiap kali mereka
berdua bertemu Stefan menatapnya dengan tajam. Ia ingin sekali tahu siapa
sebenarnya laki-laki itu.
“Kamu
nggak pulang…?” Tanya Venus saat merapikan mejanya, waktu menunjukkan pukul
Sembilan malam.
“Nanti
aja, aku harus menyelesaikan gambar ini…!” katanya tersenyum. “Kamu mau ke
café?” Tanya Stefan. Venus hanya mengangguk lalu pergi menutup pintu. Stefan
menarik nafas begitu panjang sebelum melanjutkan gambarnya.
“Bagaimana
pekerjaanmu?” Tanya El, membereskan meja, ia menutup café lebih cepat malam
ini. El mematikan beberapa lampu lalu membawakan minuman ke meja Venus.
“Semuanya
baik-baik saja, aku harus menyelesaikannya semuanya bulan depan…!” jelas Venus
menikmati secangkir kopi yang dibuat sendiri oleh El.
“Tinggallah
lebih lama, aku akan mengantarmu pulang…!” ujar El.
“Nggak
usah…lagian aku bawa mobil…!”
“Stefan
di mana?” Tanya El, sejak tadi ia tidak pernah melihat laki-laki itu.
“Dia
masih di kantor…ada apa?”
“Tidak
apa-apa…!” ucapnya sambil memikirkan sesuatu.
Setelah
Venus pulang, El kembali ke tempatnya, duduk di tengah kegelapan sambil menatap
keluar jendela, tidak lama kemudian Stefan muncul dari balik pintu, ia terkejut
mendapat El yang sedang duduk menatapnya.
“Apa
yang kamu lakukan di sini?” Tanya Stefan, melangkah pergi, menaiki tangga. El
mengikutinya tanpa sepengetahuannya. Betapa terkejutnya Stefan saat El sudah
berdiri di depan pintu.
“Siapa
kamu kamu sebenarnya…!?” Stefan terperanjak kaget, ia mundur beberapa langkah
saat melihat El.
“Aku
tahu apa yang kamu pikirkan…?” El menghampiri Stefan yang terus menatapnya,
kini tatapan itu berubah menjadi sebuah lorong cahaya di pikiran Stefan, cahaya
itu seakan berputar di kepalanya, sebuah titik hitam yang semakin jauh secepat
kilat. Ia berdiri di antara lorong cahaya itu. tiba-tiba cahaya itu menghilang,
ia melihat dirinya masih berdiri di tempatnya seperti semula, El berdiri di
hadapannya. Apa yang baru saja dialaminya seakan menjelaskan semuanya.
Membaca
pikiran seseorang hal yang mudah bagi
El, waktu itu ia begitu ceroboh sehingga tanpa sadar, Stefan melihat keadaan
dirinya. Selama beberapa hari ini juga setiap ia bertemu dengan Stefan, ia bisa
mengetahui apa yang dipikirkannya.
“Jadi
selama ini, Venus….?” Ujar Stefan, saat ini pikirannya kalut, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di
ketahuinya.
“Venus
yang menyelamatkanku…!” Kini penjelasan El membuat Stefan mengerti, ia sengaja
memberitahu siapa sebenarnya dirinya kepada Stefan, karena ia tahu Stefan
adalah orang yang bisa ia percaya setelah Venus. Ia juga tahu bahwa Stefan juga
menyayangi Venus sama seperti dirinya.
Stefan
menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, ia masih memikirkan semua ucapan tidak
masuk akal yang baru di dengarnya. Seperti mimpi tetapi begitu nyata, kejadian
yang hanya bisa di buat oleh imajinasi manusia, di karang se fiktif mungkin
agar menjadi cerita yang luar biasa.
Zona
Malam
ini angin bertiup bersilir, perlahan tetapi terasa aneh, Venus sejak tadi
merasakan telapak tangannya berdetak seakan jantungnya berpindah, tubuhnya
berkeringat cuacanya begitu panas malam ini, ia membuka pintu angin bertiup
cukup sejuk di luar sini, Venus menatap langit yang tertutup awan. Tiba-tiba
arah angin bertiup dari berbagai arah, tiupan angin membuat semua pepohonan
bergerak seakan tidak tentu arah, dedauhan berjatuhan dari pohonnya, bersamaan
halilintar dan petir mengores langit malam, gemuruh yang begitu dahsyat mengingatkannya
pada kejadian ia bertemu dengan El. Sebuah kilat bersamaan suara petir
tiba-tiba menyambar tiang listrik yang berada tepat di depan rumahnya, Venus
terkejut saat semua lampu tiba-tiba mati. Ia membuka pintu dan menutupnya
menyalakan lilin, tetapi lilin yang dinyalakannya ikut mati. Suara gemuruh
bertambah dahsyat mengejutkan Venus, tiba-tiba telapak tangannya bergerak
sendiri. Seakan kristalnya ingin keluar. Venus meraih ponselnya mencoba
menghubungi seseorang. Tetapi hpnya tiba-tiba mati begitu saja.
“Apa
yang terjadi?” pikirnya ketakutan, tangannya masih bergoyang berulang kali,
suara angin terdengar jelas dari luar seakan ingin menerobos masuk, Venus
menyandarkan tubuhnya di dinding mengambil beberapa kain dan menutup tangannya.
Saat ini ia benar-benar membutuhkan El. Mungkin saja kejadian ini ada
hubungannya dengan Kristal miliknya, Ia tidak mengkhawatirkan dirinya saat ini,
yang ia khawatirkan hanya El. Venus meraih kunci mobilnya ia berpikir untuk
mendatangi El ketempatnya. Venus membuka pintu perlahan, tetapi tubuhnya
tiba-tiba terlempar menabrak dinding, Venus menjerik kesakitan ketika tubuhnya
terhantam keras, tubuhnya kembali terangkat dan terhempas beberapa kali di
lantai. Venus mencoba melarikan diri ia bersembunyi di balik tirai, ia tidak
tahu lagi harus melakukan apa, semua tubuhnya kesakitan, kedua tangannya terluka.
Pintunya terus menabrak dinding karena tiupan angin yang bergumul seperti
topan. Angin itu seolah bersatu memenuhi rumahnya. Venus mengenggam kedua
tangan di dadanya, ia berharap El bisa segera datang, ia pasti merasakan
kejadian yang terjadi malam ini.
Tiba-tiba
beberapa sosok bayangan muncul dari dalam angin, sosok bayangan yang sama yang
dilihatnya ketika pertama kali bertemu dengan El. Venus begitu terkejut karena
sosok bayangan itu muncul di rumahnya. Mengapa tiba-tiba pasukan kegelapan
datang, tentu saja ia mengetahui keberadaan Kristal itu, El pernah mengatakan
bahwa pasukan kegelapan tidak akan mengetahui keberadaan Kristal itu selama
berada di tubuh manusia. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?. Seperti sosok
Dementor yang memakai jubah yang menutupi wajahnya. Kehadirannya benar-benar
membuat ruangan itu di penuhi aura gelap dan kematian. Meski masih bersembunyi
Venus bisa melihat jelas bayangan itu, mereka berdiri dengan jubah panjang
menjuntai ke lantai, tangannya memegang sebuah tongkat dengan api yang menyala
di ujungnya. Meskipun ia bersembunyi, mereka bisa mengetahui keberadaan Venus. Tirai
yang menyembunyikannya terlepas. Kini sosok kegelapan itu berada tepat di hadapannya,
sekali lagi tubuhnya terangkat, Venus menjerit kekeras-kerasnya. Suara bayangan
itu menggema di telinganya, yah…! Tentu saja pasti mereka bertanya di mana
Kristal itu, di mana pemiliknya dan mengapa ia meninggalkannya di tubuh seorang
manusia.
“Lepaskan…!!”
teriak Venus, tubuhnya meronta, tetapi itu tak mengubah apapun. Tubuhnya
melayang, seakan tubuhnya saat ini bukan miliknya.
“Keluarkan
Kristal itu…!!” ucap suara itu, tubuh Venus seakan tertarik, tubuhnya merasakan
panas yang luar biasa, tanganya terangkat, Kristal itu tiba-tiba mengeluarkan
cahayanya, Kristal itu seolah di tarik paksa keluar dari tubuhnya, ia begitu
kesakitan, menjerit menahannya. Seolah rohnya di tarik keluar dari tubuhnya
dengan paksa. Kini jeritannya berhenti, kepala Venus menengadah ke atas, urat
lehernya seakan ingin terlepas.mulutnya terbuka lebar, matanya terbuka , kini
kesadaran Venus sudah hilang sepenuhnya. Kristal itu tanpa pemiliknya tidak bisa
di keluarkan. Hanya menunggu sampai El menyadari keberadaan pasukan kegelapan
itu.
Suara
ketukan pintu membangunkan Stefan, ia melihat jam yang menunjukkan pukul satu
malam. Suara El terdengar dari luar pintu.
“Ada
apa?” Tanya Stefan, ia terkejut saat melihat keadaan El
“Venus….!!”
Ucapnya seakan tak bisa bicara, Stefan segera berlari menuju ke mobil di susul
El, tak ada waktu ia menjelaskan kepada Stefan, saat ini Venus berada dalam
situasi berbahaya.
“Mengapa
mereka bisa tahu?” Tanya Stefan sambil melajukan mobilnya, mengikuti arah
menuju rumah.
“Di
rumah sakit…mereka pasti tahu saat Kristal itu masuk ke dalam tubuhku, dan saat
tiba nanti, aku ingin kamu langsung membawa Venus keluar setelah aku
mengeluarkan Kristalnya…!” jelasnya.
“Bagaimana
denganmu…!” Stefan menghentikan mobilnya tepat di rumah Venus. Ia menatap pria
yang ada di sampingnya, wajahnya menjelaskan kekhawatirannya. Mungkin saja ini
adalah pertemuan terakhirnya dengan Venus. Tanpa menjawab El langsung turun
dari mobil diikuti Stefan, suasana tiba-tiba berubah El memperhatikan
sekitarnya, seperti masuk dalam dimensi yang berbeda, pasukan kegelapan membuat
perlindungan di sekitar rumah Venus, El bisa melihat jelas seperti kaca dengan
titik cahaya membentuk lingkaran. Kilatan petir dan halilintar menyatu. Stefan
begitu terkejut saat kakinya masuk melangkah. Di luar sana tidak terjadi
apa-apa sedangkan suasana berubah ketika ia masuk. El berlari masuk menghampiri
Venus, ia meraih tubuhnya. Stefan terperangah melihat kejadian yang dilihatnya,
pasukan kegelapan berdiri di depannya.
“Keluarkan
Kristal itu sekarang juga…!” ujar suara itu, salah satu dari mereka maju
mengangkat tongkatnya, mengarahkan ke tubuh Venus.
“Keluarkan
kristalnya sekarang juga atau kami yang akan mengeluarkan dengan paksa…!” ucap
suara itu, bahkan mendengarnya seperti kutukan kematian di telinga Stefan. El
memeluk tubuh Venus yang tidak sadarkan diri, ia menatap wanita itu dengan
kesedihan di wajahnya bercampur amarah. El mengeluarkan Kristalnya dari tubuh
Venus. Stefan segera menghampiri mereka berdua, Stefan memegang tubuh Venus.
Tubuh El tiba-tiba berubah, tubuhnya di penuhi cahaya kemarahan. Stefan
menjatuhkan tubuhnya saat melihat kejadian itu, El menatap Stefan untuk segera
pergi membawa Venus.
El
mendorong mereka masuk kembali ke lingkaran angin yang membawanya, entah apa
yang terjadi saat itu, keadaan menjadi normal kembali, ketika lubang angin dan
cahaya itu menghilang. Stefan membawa Venus ke kamar El dan membaringkannya di
tempat tidur. Sekujur tubuhnya penuh luka dan darah. Baru saja ia ingin
mengobati luka Venus, ia terkejut saat tubuh Venus di penuhi dengan titik
cahaya di lukanya, perlahan luka itu sembuh dengan sendirinya. Jari-jarinya
bergerak perlahan, Venus membuka kedua matanya.
“Kamu
nggak apa-apa…!apa ada yang sakit?” Tanya Stefan sambil menyelimutinya.
Tiba-tiba ia melempar selimut dan bantal, melempar semua apa yang dilihatnya,
Venus tampak ketakutan dan terus menjerit, Stefan mencoba menenangkannya tetapi
Venus terus memberontak, seolah-olah ia berada di tempat asing, bahkan ia tidak
mengenal Stefan.
Stefan
terpaksa harus menghubungi rumah sakit, setelah beberapa menit, perawat
menyuntikkan obat penenang kepada Venus.
“Apa
yang terjadi?” Tanya Ditto, yang baru saja tiba bersama Anita, tidak lama
kemudian Hesti juga datang. Stefan tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya
terjadi kepada mereka.
Selama
beberapa hari Venus tinggal bersama kakaknya, semenjak kejadian itu Venus tidak
pernah bicara, ia hanya diam sambil terus menatap dengan tatapan kosong, dokter
yang memeriksanya tidak bisa memastikan apa yang terjadi, keadaannya sangat
baik, tidak ada yang salah pada tubuhnya atau kepalanya. Tetapi Venus tidak
bisa mengingat orang-orang yang berada di dekatnya, ia bahkan tidak ingat
dengan dirinya. Satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaan ini hanya El,
tapi kini laki-laki itu benar-benar lenyap.
Stefan
kembali mengunjungi rumah Venus, ia membuka pintu perlahan. Rumahnya begitu
berantakan,bahkan pintu rumahnya hampir jatuh saat ia membukanya. Tak ada
tanda-tanda keberadaan El. Bahkan orang-orang yang tinggal di sekitar
lingkungan Venus mengira rumahnya kerampokan.
Dua
bulan berlalu, selama itu juga Venus tidak bekerja, bahkan webtoon yang
dirilisnya ikut tertunda. Website maupun blog perusahaannya di penuhi komentar
dari para penggemar tulisan Venus, bahkan dari perusahaan fotografer yang telah
menandatangani kontrak dengan El sampai saat ini terus mencari keberadaannya.
Meski hanya sebentar El sudah mendapat banyak penggemar, bahkan kabar
menghilangnya El di beritakan di beberapa stasiun TV. Tak terkecuali para
penggemarnya yang selalu datang ke café.
Hari
ini setelah mengunjungi rumah Venus dan mengambil beberapa barang miliknya, ia
akan mengunjungi Venus di rumah kakaknya. Hampir setiap hari Stefan datang,
sesekali mengajaknya berjalan-jalan meski Venus hanya seperti cangkang kosong,
Stefan selalu berusaha mengajaknya bicara, bahkan menceritakan tentang El
kepadanya, tetapi tidak ada perubahan yang terjadi. Bahkan keluarganya tidak
tahu harus melakukan apa. Jiwanya seakan hilang meninggalkan raganya.
“Apa
yang sebenarnya terjadi…!” ujar Ditto memandangi adik perempuannya itu, hampir
dua bulan melihat keadaan adiknya membuat selalu bersedih, bahkan terkadang air
matanya tumpah di pangkuan istrinya.
“Kamu
belum mengetahui kabar laki-laki itu? apa mungkin kepergiannya membuat Venus
seperti ini…!” pikir Ditto, ia berharap jawaban dari Stefan, tetapi Stefan tak
bisa memberi jawaban dari pertanyaannya. ia hanya berharap El bisa datang
menjelaskan apa yang terjadi.
Omi….
Hari
berlalu begitu cepat, begitu cepatnya hingga perlahan laki-laki yang bernama El
sudah hilang di benak orang-orang yang pernah mengingatnya, seiring waktu
berlalu, keadaan Venus masih sama seperti yang dulu. Ia duduk di samping
jendela , tatapan yang kosong tak bisa menjelaskan bagaimana raut wajahnya.
Langit terlihat gelap tertutupi oleh awang hitam saat itu, suara petir
tiba-tiba mengagetkannya. Ditto menghampiri Venus menutup jendela. ia membawa
Venus masuk ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Venus tiba-tiba
membangunkan tubuhnya kembali, ia berdiri membuka pintu, tanpa beralas kaki,
dalam keadaan tidak sadar ia berjalan menuju kesuatu tempat, hujan tiba-tiba
turun begitu deras, hampir setengah jam ia berjalan, dengan basah kuyub ia
berhenti di depan sebuah café, lalu masuk. Pengunjung café saat itu begitu
terkejut melihat seseorang yang tiba-tiba masuk dengan tubuh kehujanan. Fani
terkejut menghampiri Venus yang berjalan menaiki tangga, ia segera menghubungi
Stefan. Tidak lama kemudian ia tiba-tiba, ia mengatur nafasnya setelah berlari.
“Apa
yang terjadi?” Bisik Fani dari bawah, Ia tidak berani mendekati Venus. Stefan
menyuruh Fani membawakannya air hangat untuk Venus.
“Venus….!”
Panggil Stefan perlahan mendekatinya, Venus berdiri tepat di hadapan kamar yang
pernah di tinggali oleh El.
“Apa
yang kamu lakukan di sini? Ayo kita pulang, kakakmu pasti khawatir…!” bujuk
Stefan memegang pundaknya. Venus menghempaskan tangan Stefan, ia kembali
berjalan turun keluar café. Stefan mengejarnya, hujan semakin deras beberapa
kali ia memaksa Venus naik ke mobil tetapi seakan tubuhnya sedang di
kendalikan, Venus berjalan tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di
sekitarnya. Stefan mengemudikan mobilnya mengikuti kemana Venus akan pergi.
Langkah Venus terhenti saat mendengar suara petir, seakan ada sesuatu yang
terjadi, Stefan memperhatikan Venus yang berdiri diam beberapa saat, ia
memperhatikan gadis itu memperhatikan tangannya yang mengeluarkan cahaya
seperti petir, tidak begitu jelas hanya sekilas, Stefan begitu terkejut. Ia
keluar dari mobilnya kembali menghampiri Venus.
“Aku
akan mengantarkanmu kepada El…!” ujar Stefan, ekspresi Venus berubah saat
mendengar nama itu, ia menatap Stefan yang membawanya masuk ke dalam mobil.
Stefan tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Mengapa cahaya Kristal itu
masih terlihat di tubuh Venus, itu sama saat semua lukanya tiba-tiba sembuh
begitu saja. Apa semuanya masih berhubungang dengan El?. Stefan melajukan
mobilnya ke rumah Venus, ia sendiri tidak yakin membawa Venus kembali ada
hubungannya dengan cahaya yang baru di lihatnya, apa dengan membawanya akan
mengembalikan keadaan Venus seperti dulu.
Stefan
membantu Venus masuk, terlihat begitu berantakan dan debu bertebaran di
mana-mana, keadaanya masih sama saat Stefan mengunjugi rumah itu terakhir kali.
Stefan menarik nafas, terlihat dari raut wajahnya begitu kecewa. Ia masih belum
menemukan apa-apa di tempat ini.
“Ayo
kita pulang…!” ajak Stefan, setelah berkeliling beberapa menit.
“Sebentar
lagi dia akan datang…!!” ujar Venus, ini pertama kalinya ia mendengar Venus
mengucapkan sesuatu setelah hampir lima bulan.
“Kamu
bicara…!” seru Stefan begitu senang, ia kembali kebingungan dengan ucapan
Venus. Siapa yang akan datang, bibir Venus terus mengucapkannya berulang kali,
ia menatap keluar pintu seolah sedang menunggu seseorang. Dari kejauhan sebuah
cahaya secepat kilat menghampiri mereka berdua. Stefan begitu terkejut saat cahaya
itu berubah menjadi lebih besar, menyilaukan penglihatan Stefan, ia menghampiri
Venus yang masih berdiri tepat di depan cahaya itu. ia mencoba melindungi Venus
meski tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Telapak tangan Venus kembali
memancarkan sinarnya. Kini lebih jelas. Cahaya itu keluar seolah menyatu dengan
cahaya yang berada di hadapannya, tidak lama kemudian perlahan cahaya redup.
Terlihat sosok yang tidak begitu jelas, Venus tiba-tiba terjatuh tidak sadarkan
diri. Stefan menopang tubuh Venus memeluknya. Perlahan cahaya itu redup
memperlihatkan sosok seseorang yang berdiri di hadapan mereka.
“El…!”
ujar Stefan saat sosok itu semakin jelas di hadapannya. El
tersenyum sesaat melihat mereka berdua. Tubuhnya tiba-tiba ambruk tepat di
hadapan Stefan. El terlihat begitu lemah ia terbaring memperhatikan Venus yang
tidak begitu jauh darinya.
“Venus…!”
ucapnya berusaha meraih tangan Venus. Stefan membantu El duduk, ia membawa
Venus lebih dekat dengannya. El meraih tubuh Venus dan langsung memeluknya. Melihat
itu membuat Stefan sedikit cemburu. Ia hendak berdiri meninggalkan mereka
berdua, tetapi El langsung meraih tangan Stefan. Dalam hitungan detik mereka
bertiga sudah berada di kamar milik El. Mereka membaringkan Venus yang masih
tidak sadarkan diri.
“Bagaimana
keadaannya?” Tanya El membelai rambut Venus, ia begitu merindukannya. Ia
menatap wanita itu begitu dalam. Stefan langsung berdiri, menarik El
meninjunya, dengan satu pukulan saja tubuh El terhuyung, El tidak bisa mengelak
saat pukulan itu membuat bibirnya berdarah. Ia mengerti mengapa Stefan
melakukan semua itu setelah mendengar kondisi Venus selama ia menghilang. Ia tidak tahu efek Kristal membuat venus
seperti itu. selama El kembali ke dimensi tempat tinggalnya, ia harus melawan
pasukan kegelapan sendirian, berjuang keras untuk hidup, bertarung demi
dunianya, demi wanita yang sedang menunggunya, meskipun ia sendiri tahu tidak
akan bisa bertemu dengan wanita yang di cintainya lagi. El tersungkur dengan
tubuh terluka, tubuhnya terbakar. Tetesan darah yang menyerupai semburan lava
menetes di sekujur tubuhnya. Kekuatannya sudah diluar batas. Ia sudah begitu
lelah dengan pertempuran ini. kini pasukan kegelapan sudah mengelilinginya.
Mereka mengangkat semua tongkat api siap mengarahkannya pada tubuh El, dengan
sisa kekuatannya ia mengeluarkan kristalnya dari tubuhnya. Sebelum Kristal itu
berada di tangan pasukan kegelapan, El menghancurkannya menjadi kepingan lalu
menghilang bersamaan dengan hancurnya Kristal itu, tubuh El perlahan berubah
menjadi cahaya yang memancar begitu terang, membuat pasukan kegelapan lenyap
dan musnah seketika tanpa jejak.
Saat
pertempuran itu berakhir, semua penguasa dari berbagai tingkatan berkumpul.
mereka memberikan penghormatan terakhirnya kepada El.
“Omi…apa
yang harus kita lakukan pada Zian?” sahut pengawal terkuat yang mendampingi
Omi. Omi adalah pemimpin tertinggi di dimensi ini, dia yang telah menciptakan
El dari cahaya Kristal mengubahnya menjadi manusia menjadikan Kristal itu
adalah sebagian dari jiwa El. Membutuhkan waktu sekitar seribu tahun lamanya
untuk menunggu El tercipta. Omi tidak pernah menyangka menciptakan El dengan
Kristal itu membuat malah petaka di dunia dimensi. Sampai Zian pemimpin
terdahulu dan terkuat membangkitkan pasukan kegelapan hanya untuk mengambil
Kristal itu. Zian adalah satu-satunya penguasa dari tingkatan tanah yang di
anggap tidak berhak berkuasa, ia berhasil menduduki kepemimpinan setelah
mengambil kesempatan saat krisis pemilihan terjadi penguasa api berada di
ambang kelemahan, Selama 500 tahun ia
menjadi penguasa dengan keserakahannya, akhirnya setelah penguasa api lebih
kuat, Omi mengambil hak kepimpinan menciptakan Kristal yang dapat memperkuat
penguasaannya. Setelah Zian di gulingkan dan ia terpuruk dalam pengasingannya,
harapannya tiba-tiba kembali setelah mendengar Kristal terkuat di ciptakan.
Zian mengorbankan jiwanya hanya untuk membangkitkan pasukan kegelapan demi mendapatkan benda yang bisa
menjadikannya penguasa abadi.
Omi
langsung menyuruh semua pengawalnya menyeret Zian pusaran kematian,
melenyapkannya merupakan hukuman terberat dari segala hukuman.
“Bagaimana
dengan El…apa tidak ada cara untuk mengembalikannya…!”.
Omi
hanya diam, ia mengambil serpihan cahaya Kristal yang masih tertinggal di
tongkat cahaya milik El, tiba-tiba cahaya itu berubah memperlihatkan sosok
seorang perempuan. Omi segera membawa sisa cahaya itu menuju ke istana. Cukup
lama ia berdiri memperhatikan cahaya yang berbentuk cermin itu melayang di
tengah semua penguasa dari empat tingkatan. El tidak sadar membawa sebagian
ingatan dan jiwa manusia ke dalam kristalnya.
“Jadi
apa yang harus kita lakukan…?” ujar salah satu satu dari mereka.
“butuh
waktu yang cukup lama menghidupkan El kembali….!” Omi menggunakan tongkatnya,
ia memasukkan cahaya itu ke dalam sebuah peti kaca, ia menyuruh pasukan air dan
udara untuk menjaga peti kaca itu, mereka memasukkan dalam sebuah gelembung
raksasa lalu memasukkannya ke dalam air yang telah di bubuhi serbuk cahaya.
“Butuh
waktu berapa lama? Bagaimana dengan wanita itu…!?” tanya Erdon, dia adalah satu
pemimpin di pasukan air.
“Butuh
seribu tahun bahkan lebih daripada itu…itu waktu yang sebentar di bumi yang
hanya beberapa bulan...!” Jelas Omi sambil tersenyum sebelum melanjutkan
ucapannya.
“Makhluk
yang bahkan tidak memiliki perasaan seperti El, jatuh cinta dengan wanita itu.
bahkan sisa kristalnya masih tertinggal di tubuh gadis itu…!” Jelas Omi. Kini
ia mengerti dengan situasi yang merupakan kehendak pencipta sesungguhnya. Meski
membiarkan sebagian jiwa dan kenangan milik Venus terperangkap untuk beberapa
waktu. Sebagian dari kenangan milik El juga terperangkap dalam tubuh Venus.
Setelah El hidup Omi akan membawa El kembali ke bumi selamanya. Ia hanya
berharap wanita yang menunggunya bisa bertahan sampai waktunya tiba.
“Wah…!”
Ujar Stefan terkejut ketika mendengar semua penjelasan El, baginya itu sedikit
tidak masuk akal, tetapi tak ada yang bisa ia katakan, kecuali menunggu Venus
kembali sadar. Apakah kemunculan El mengembalikan keadaannya kembali.
Pagi
menjelang
Dari
luar pintu terdengar beberapa orang yang sedang mengobrol, suara itu tidak lain
adalah suara Ditto dan Stefan. El tersadar dari tidurnya, ia bangkit dan
membuka pintu. Stefan yang sejak tadi berusaha mengulur waktu dan menjelaskan
keadaannya akhirnya tidak bisa melakukan apa-apa saat Ditto melihat El. Tanpa
mengatakan apa-apa Ditto mendorong El dan menyerobot masuk. Saat itu juga Venus
tersadar, ia memperhatikan sekitarnya.
“Dit…!”
ucapnya, Ia langsung memeluk adiknya itu, setelah sekian lama akhirnya Venus
berbicara dan bisa mengenalnya. Ia bisa mengenal orang-orang yang berada di
sekitarnya. Ia terkejut saat mendengar kondisinya selama bulan ini, bagi Venus
itu seperti mimpi, ia seperti tertidur dan bangun keesokan harinya. Ia tidak
menyadari cukup lama ia dalam keadaan tidak sadar. Hanya saja saat ini Ditto
tidak menyukai keberadaan El, meski Stefan sudah menjelaskan apa yang terjadi,
itu tidak membuatnya berubah pikiran.
“Ayo
kita pulang…kamu harus beristirahat. Dokter akan datang memeriksamu…!” Ditto
membantu Venus berdiri.
“El…!”
ujar Venus berhenti saat melihat El yang coba memalingkan wajahnya. Ia melepas
tangan Ditto menghampiri El.
“Kau
tidak apa-apa?” tanyanya, entah mengapa tanpa sadar Venus meneteskan air
matanya. Ia menghampiri El, meski ia tidak tahu apa yang terjadi, semua
ingatannya hari itu sengaja di hapus atas permintaan El. Ia tidak ingin Venus
mengingat kejadian saat pasukan kegelapan muncul. Ia ingin sekali memeluk
Venus, cukup lama menunggu untuk bertemu dengannya lagi. Butuh bertahun-tahun
untuk bisa kembali ke dunia ini. Venus begitu merindukan pria yang sekarang
berdiri di hadapannya.
“Ayo
kita pulang…!” Ditto menarik pelan Venus membawanya turun kembali ke mobil, El
tidak bisa melakukan apa-apa. Ini kesalahan yang harus diperbaikinya sendiri.
Semuanya terjadi karena dirinya.
“Tenang
saja, aku akan membantumu bertemu dengan Venus, tapi saat ini kamu harus sabar
sampai semuanya tenang kembali…!” Jelas Stefan, ia meninggalkan El sendirian.
Pertemuan
pertama
Seiring
waktu yang pernah hilang, perlahan semuanya kembali seperti semula. Kembalinya
El membawa sesuatu yang begitu luar biasa bagi penggemarnya. El tidak lagi
bekerja di café, ia sibuk dengan tawaran membintangi sebuah iklan dan produk,
menjadi model dan tidak membutuhkan waktu yang cukup lama nama El melejit di
berbagai stasiun televisi, dari iklan kecil sampai produk merek terkenal ingin
memakainya sebagai model. Bahkan beberapa hari yang lalu ia tawari membintangi
sebuah film, manajernya langsung menerima tawaran itu setelah menerima
persetujuan dari El. Saat ini El tidak lagi tinggal di café, agensi yang
menaunginya memberikan apartemen yang cukup luas kepadanya.
Sementara
itu Venus yang sudah dua bulan berada di luar negeri, menghabiskan waktunya
beristirahat dan menikmati liburannya. Kali ini dia akan kembali setelah
meminta izin dari Ditto, hanya saja ia tidak memberi tahu kakaknya kapan ia
akan datang. Ia benar-benar merindukan El, ia ingin sekali bertemu dengannya,
Venus menghubungi Stefan tentang kedatangannya hari itu. mendengar Venus akan
datang, Stefan berpikir bagaimana perasaan El selama ini, hampir setiap hari ia
berusaha mendapatkan kabar Venus dari dirinya menunggu Venus dengan
kesabarannya, selama ini El menahan perasaanya untuk bertemu dengannya. Setiap
malam ia selalu merasa terganggu dengan kedatangan El di tengah malam saat
dirinya ingin beristirahat. Manajernya akan terus menghubungi dirinya ketika El
tiba-tiba menghilang. Selama ini Stefan berusaha mendengar ceritanya dan
melihatnya dengan wajah kesedihan. Sering kali kecemburuan melanda di pikiran
Stefan, tapi itu tidak membuatnya membenci El. Harus ia akui perasaanya takkan
sama, perasaan El lebih besar dari perasaan yang dimilikinya.
Setelah
menghubungi El dan memastikan dirinya berada di apartemen, Stefan segera
meluncur ke tempat El. Ini pertama kalinya ia mengunjunginya langsung ke
rumahnya.
“Sepertinya
kamu sudah menjadi bintang besar…!” ujar Stefan, ia duduk menyilangkan kedua
kakinya sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia tidak menyangka laki-laki yang
entah dari keberadaanya ini benar-benar membuatnya takjub. Hanya sebentar saja
sosoknya menjadi idola banyak orang. Bahkan Fani memajang semua gambar El di
cafenya.
“Memang
ada apa?” tanya El. Ia juga terkejut atas kedatangan Stefan yang tiba-tiba.
Selama ini ia selalu membujuk Stefan tinggal bersamanya. Tapi Stefan menolak
dengan alasan kantornya lebih dekat. Baginya, Stefan adalah keluarga
satu-satunya, ia paham dengan sikap El, ini pertama kali baginya.
“Bagaimana
dengan jadwalmu hari ini…!” Tanya
Stefan, ia ingin memastikan hari ini El tidak akan kemana-mana.
“Jam
sepuluh nanti akan ada pemotretan, setelah itu syuting sampai malam dan…!!”
sahut Leo yang tak lain adalah manajer El. Leo membawakan secangkir teh untuk
Stefan.
“Emang
kenapa…!” Lanjut Leo. Stefan melihat jam yang hampir menunjukkan pukul
sepuluh, El sejak tadi bersiap-siap, Leo
juga sibuk mempersiapkan barang-barang El yang akan di bawanya. Ia lalu turun
lebih dulu menyuruh El menyusul dan menunggunnya di mobil.
“Kalau
Leo tahu kamu kabur, bagaimana reaksinya…!” ujar Stefan menyiratkan sesuatu di
wajahnya.
“Mungkin
dia akan membunuhku…!” ujar El.
“Baiklah…biarkan
hari ini dia membunuhmu sekali saja…!” Stefan berdiri dari tempatnya, ia
menyuruh El membatalkan semua jadwalnya hari ini, mungkin akan membuat Leo
sedikit bekerja keras karena El baru saja menghubunginya, semenit saja sudah
seribu ocehan masuk ke telinganya. El mengikuti Stefan masuk ke mobil ia belum
mengerti mengapa tiba-tiba Stefan memintanya membatalkan semua jadwalnya hari
ini. di tengah perjalanan Stefan menghentikan mobilnya dan turun, ia
menyerahkan kunci mobilnya kepada El.
“Hari
ini kamu harus menjemput Venus di bandara…!” ujarnya lalu pergi, El langsung
melajukan mobilnya ke bandara, ia begitu senang mendengar Venus akan datang.
Selama ini ia menunggu lama untuk bisa bertemu dengan Venus.
Ia
berlari masuk, kemunculan El di bandara tiba-tiba membuat heboh, semua orang mengerumuninya.
El sedikit kesulitan saat menghindari para penggemarnya, ia berusaha ramah dan
tersenyum. Suasana tidak terkendali ketika itu, untung saja pengamanan dari
bandara menutup sebagian akses pintu masuk dan penjemputan. Baru kali ini ia
pergi tanpa manajer dan krunya.
Tidak
lama kemudian, dari kejauhan tampak Venus menggunakan topi dan syal di
lehernya.El berlari menghampiri Venus seketika itu, ia begitu terkejut dengan
kedatangan El.
“Apa
yang kamu lakukan?” Tanya Venus memperhatikan sekelilingnya, ia khawatir akan
ada wartawan atau sejenisnya yang melihat mereka. El bukanlah orang biasa saat
ini, ia ikon semua selebriti tanah air. Mungkin penggemarnya akan menggila saat
melihatnya mereka. Ia segera menarik El menjauh. Tetapi El kembali menarik
Venus di tengah kepanikannya, ia memeluknya begitu saja dengan senyuman yang
mengembang di wajah El. Venus berusaha melepaskan pelukannya dan menyembunyikan
wajahnya di balik syal.
“Lepaskan…orang-orang
melihat kita…!” bisik Venus. Hampir semua orang berusaha mengambil foto saat
itu, kali ini El membuat masalah dengan merepotkan pihak sekuriti bandara yang
harus turun tangan sendiri, mereka terpaksa harus mengawal El ke mobilnya.
“Lihat…!masalah
yang kamu timbulkan sekarang…!” Ujar Venus, bukan raut kebahagian yang di
dapatkan saat ini tetapi ia terlihat kesal dengan sikap El.
“Apa
kamu baik-baik saja?” Tanya El, dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan
Venus padanya, dan betapa kesalnya ia saat ini. bertemu dengan Venus adalah
keinginan terbesarnya. Tak akan ada yang mengerti betapa besar rindunya pada
wanita yang duduk di sampingnya. Ini adalah perasaan pertama sejak ia
sepenuhnya menjadi manusia. Mungkin bagi orang lain perasaannya adalah hal yang
biasa yang dirasakan ketika jatuh cinta, bahkan Stefan pernah menertawakannya
gara-gara menceritakan apa yang dirasakannya. Selama ini ia telah banyak
bekerja sama dengan model dan artis. Tak satupun dari mereka yang membuat
hatinya berdetak. Bahkan kabar tentang kedekatannya dengan salah model wanita
tidak membuat El goyah. Ia tidak pernah memikirkan hal itu. di pikirannya hanya
ada Venus. Mungkin hatinya hanya akan berdetak untuk Venus, dan ia memang di
ciptakan khusus untuk berada di sisinya.
El
menghentikan mobilnya cukup jauh hingga mereka tiba di sebuah rumah kaca
penangkaran bunga anggrek. lokasi ini pernah menjadi lokasi syutingnya, tempat
ini menjadi tempat pertama yang ingin di kunjunginya bersama Venus. Tidak
begitu banyak pengunjung yang datang saat itu hanya beberapa orang yang
terlihat dan keberadaan El tidak begitu menyita perhatian mereka. sebuah
pelukan dari El membuat Venus perlahan lupa dengan kekesalannya. Mereka diam
beberapa saat, Venus menutup kedua matanya dalam dekapan El, detak jantungnya
terdengar begitu jelas di telinganya. Ia tidak bisa membohongi perasaanya bahwa
ia benar-benar ingin bertemu dengan El. Awalnya ia berpikir menemui El yang
sudah menjadi terkenal adalah hal yang sulit, atau bahkan El sudah tidak ingin
bertemu dengannya. Semua pikiran itu sirna tiba-tiba saat ia melihat El
menjemputnya di bandara. Mereka berdua merasakan kenyamanan yang
menghangatkan hati masing-masing.
Karena
ini zona pertamaku jatuh cinta
“My
first love and my end love” ujar Stefan ketika membuka instagram miliknya,
meskipun tidak menggunakan namanya di akun pribadi milik El, akun itu sengaja
di buat oleh manajernya untuk keperluan pekerjaan agar ia lebih dekat dengan
penggemarnya. Ini pertama kalinya juga El mengupload fotonya secara langsung.
Stefan memandangi El sambil menggelengkan kepalanya. Ia memperlihatkan foto itu
kepada Venus, ia hanya menutup wajahnya saat ini.
“Kenapa
kamu menguploadnya…?” Tanya Venus, kali ini El malah menambah masalahnya. Kini
foto mereka berdua tersebar dan netizen yang melihat foto itu memenuhi kolom
komentar akun instagram milik El. Hal yang di khawatirkan Venus adalah karir
El, sekarang ini dia berada di puncak ketenarannya. Ia tidak ingin berita
tentang dirinya menghancurkan kariernya sebagai seorang model dan aktor harus
berhenti di tengah jalan.
“Apa
masalahnya kalau mereka tahu…!” bela El.
“Masalahnya
sekarang, bukan waktu yang tepat, seharusnya kamu menyembunyikan hubunganmu
dengan Venus. Masalahnya sekarang adalah…. Venus!!, mungkin saja wartawan di
luar sana sedang mencari tahu siapa wanita yang berada di foto itu. kalau
mereka tahu, Venus akan selalu di kejar oleh wartawan. Kemanapun ia pergi akan
ada orang yang mengenalinya, itu akan menganggu privasinya…!” jelas Stefan.
Meski penjelasan Stefan tidak cukup, itu sudah terlambat. Venus cukup terkenal
saat ia masih menulis webtoon. Identitas mengenai Venus tersebar. Kali ini
Venus tidak bisa memikirkan apa-apa lagi, begitupun Stefan yang tidak bisa
membantu mereka berdua. El hanya memandangi mereka berdua bergantian.
“Jadi
bagaimana sekarang?” tiba-tiba Ditto muncul dari balik pintu, El begitu
terkejut saat melihat kakak Venus datang. Ia masih ingat betapa marahnya ketika
ia selalu berusaha datang menemui Venus dan ia tak pernah mengizinkannya.
“Umumkan
saja pernikahan kalian…!” Tambah Ditto, mendengar itu malah membuat El begitu
senang. Venus langsung berdiri dari kursi saat melihat Ditto yang kesal. Tentu
saja karena ia tidak memberitahu Ditto tentang kedatangannya hari ini.
“Menikah…”ujar
Venus dan Stefan bersamaan.
“Siapa
yang akan menikah…!” sahut Leo yang baru tiba.
“Kalian…??”
Tunjuk Leo memastikan wanita yang berdiri di samping El adalah wanita yang sama
di lihatnya di foto. Suasana saat itu benar-benar kacau. Mereka semuanya hanya
bisa duduk tanpa mengatakan apa-apa.
“Aku
akan bicara dengan agensiku…!!” Leo tiba-tiba mengeser kursinya, ia terlihat
lelah mengurusi masalah pemberitaan mengenai El seharian ini. ia beranjak pergi
meninggalkan kunci mobil dan kunci apartemennya pada El. Ditto juga beranjak
pergi, ia meminta El atau Stefan mengantarnya pulang. Kini tinggal mereka
bertiga. Stefan menarik nafas lalu menghembuskannya. Hari ini cukup melelahkan
bagi Stefan mengurusi mereka berdua. Stefan lalu meraih kunci mobilnya kembali,
ia beranjak dari kursinya.
“Sebaiknya
kamu mengantar Venus sekarang juga, ini sudah malam…!” ujar Stefan pasrah, ia
segera naik kembali ke kamarnya.
Sepanjang
perjalanan Venus terus memandang keluar jendela, sesekali ia memperhatikan El
yang sedang menyetir. Saat ini ia kesal tetapi ia juga merasa kasihan padanya,
ia mengerti bagaimana perasaan El, ini pertama kali baginya merasakan jatuh
cinta, ia tidak tahu bagaimana mengekpresikannya. Raut wajahnya mengatakan saat
ini El benar-benar merasa bersalah. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk
memperbaiki semuannya. Venus meraih tangan El menggengam erat.
“Maafkan
aku…!” Ucap Venus, El menepikan mobilnya. El membalas genggaman Venus. Sejak
tadi ia ingin mengatakan ucapan yang sama kepada Venus.
“Aku
tidak ingin menghalangimu, bekerja di dunia hiburan itu tidak mudah, sekali
kamu tidak di sukai hanya karena hal sepele. Mereka perlahan akan
melupakanmu…!” ujarnya.
“Aku
tidak pernah menginginkan ini, bekerja di dunia seperti ini tidak pernah ada
dibenakku. Kau tahu hal apa yang kupelajari saat berada dunia ini. bekerja!!
Menghasilkan uang adalah satu-satunya cara menghadapi kehidupan ini, dan
belakangan ini aku baru tahu. Semakin tinggi pekerjaan seseorang setinggi pula
itu orang akan mengagumimu. Apa yang bisa aku lakukan? Saat ini mereka hanya
butuh aku, wajahku dan tubuhku untuk investasi mereka. Aku tidak pernah memohon
untuk mendapatkan peran yang lebih besar, tetapi terkadang mereka membuatku
kelelahan dan orang-orang yang setiap hari meneriaki namaku, mengagumiku di manapun
aku berada mereka semua selalu ada, kau pikir itu mudah bagiku…? Ini melelahkan
Ven…aku hanya ingin mengumpulkan uang sebanyak mungkin, membeli rumah dan
tinggal bersamamu…itu saja, aku tidak memikirkan hal lain lagi selain ingin
bersamamu…!” jelas El ia memeluk Venus begitu lama,ia akhirnya sadar dengan
perasaan yang sebenarnya ingin di sampaikan El padanya. Mungkin di luar sana El
menikmatinya semua kemewahan dan ketenarannya tetapi dari lubuk hatinya ia
hanya ingin bahagia bersama Venus.
Pernyataan
pertama
Sehari
setelah itu, setelah jadwal syutingnya selesai. Manajernya membawanya ke
perusahaan agensinya. Kali ini akan di adakan rapat setelah itu konferensi
pers. Saat itu dengan tekad yang bulat dan dari persetujuan dari agensinya, ia
akan mengklarifikasi kebenaran hubungannya dengan Venus. Setelah syuting film dan
kontrak modelnya berakhir. Ia baru diizinkan mengumumkan pernikahannya.
Hari
yang melelahkan bagi El, jadwalnya yang padat terkadang harus menyelesaikan
syuting sampai larut malam, bahkan ia sama sekali tidak memiliki kesempatan
bertemu Venus.
Pagi-pagi
sekali El sudah di bangunkan oleh Leo, pagi ini mereka harus berangkat ke salah
satu destinasi wisata pantai tebing tinggi, salah satu destinasi pantai yang
begitu indah. El akan mengadakan pemotretan sekaligus syuting adegan terakhir
dari filmnya. Sebelum itu, El meminta supir dan manajernya membawanya ke rumah
Venus. Ia meminta izin kepada Ditto untuk membawa Venus bersamanya.
Tanpa
sepengatuan Venus, El sudah mempersiapkan kejutan kepada Venus. Sebuah lamaran
yang telah disiapkannya. Sebenarnya ini adalah rekaman khusus yang di buat oleh
agensinya. Mereka sengaja membuat ide ini seminggu sebelum kontraknya berakhir.
El tidak tahu menahu mengenai acara yang akan di adakan untuknya. Ia baru tahu
sehari sebelum mereka berangkat. Acara ini khusus meliput lamarannya kepada
Venus. Awalnya ia tidak setuju dengan ide ini, tetapi sutradara yang
bertanggung jawab serta krunya telah mempersiapkan semuanya. Mereka sudah
membuat jadwal tayangnya malam ini secara live.
saat
itu Venus menunggu di hotel, ia menunggu sampai syutingnya selesai. Tidak lama
kemudian beberapa orang datang dan salah satunya adalah manajer El, mereka
membawa baju yang telah di siapkan untuknya. Mereka memakaikan riasan ringan di
wajah Venus. Meskipun ia tidak tahu mengapa El menyuruh manajernya melakukan
itu semua, Venus hanya mengikuti mereka menuju ke sesuatu tempat. tidak begitu
lama Venus akhirnya tiba salah restoran yang berada di tepi pantai. Lampu yang
berwarna-warni menambah keindahan sekitar pantai. Venus melangkah pelan saat
beberapa orang menyambutnya, sebuah meja dengan lilin menghiasi sekitarnya.
Sekitar tiga kamera berdiri mengelilingi meja itu, tidak lama kemudian El
muncul dengan setangkai bunga di tangannya.
“Apa
yang kau lakukan?” bisik Venus, kini ia sadar saat ini semua kamera merekam
mereka berdua. El sengaja tidak melibatkan banyak orang agar Venus tidak
canggung.
“ini
bukan ideku…! Jadi aku mohon…?” bisik El, ia tahu saat ini Venus tidak merasa
nyaman dengan apa yang terjadi, El berusaha untuk mengalihkan perhatian Venus.
Ia mengenggam tangan Venus. Ia mengeluarkan cincin dari saku celananya,
memakaikanya di jari kelingkingnya.
Para
kru yang menonton tidak jauh dari mereka, seolah ikut terbawa perasaan. Mereka hanya bisa menggigit jari, saat ini mereka
menyaksikan acaranya secara langsung, tanpa naskah atau cut. Mereka terus
merekam membiarkannya mengalir apa adanya. Suasana begitu romantis saat itu,
angin malam berhembus sejuk. Seakan ucapan yang dikatakan El dihafalnya dari
naskah, ia tidak lagi memikirkannya, perasaanya benar-benar bahagia saat itu,
ketika El melamarnya, memintanyan untuk menikahinya. Bagi seorang perempuan itu
menjadi kebahagian terindah dalam hidupnya. Hampir sejam berlalu, kini El
berdiri menghampiri Venus ia memakaikan kalung dengan Kristal biru
menggelantung. Ia meraih kedua tangan Venus.
“Aku
ingin memulai hidupku bersamamu, untuk pertama dan terakhir kalinya…!!” ujar El
mengakhiri rekaman malam itu. suasana sepi tiba-tiba menjadi riuh saat itu,
suara tepuk tangan dan ucapan selamat datang dari berbagai arah.
“Kau
tidak perlu melakukan semua ini…!” Ujar Venus setelah mereka tiba di hotel.
“Ini
bukan ideku…apa kamu tidak menyukainya?” Jelas El, wajah Venus berubah
seketika, sejak tadi ia menahan sesuatu dalam hatinya, Ia mencoba mengerti
tetapi ia hanya tidak suka privasinya di tayangkan, ia tidak suka perasaan
mereka menjadi tontonan banyak orang.
“Seharusnya
kamu menolaknya…!!”
“Mereka
sudah mempersiapkannya sebelum aku mengetahuinya…oke aku minta maaf…!!” ucapnya
pelan, El tidak ingin bertengkar hanya karena hal sepele.
“Please…aku
minta maaf. Ini tidak akan terulang lagi…!” ucapnya lagi, ia benar-benar
menyesal dengan apa yang dilakukannya. Ia memandangi Venus berharap ia bisa
memaafkan dirinya.
“Jangan
diam seperti ini, bicaralah…!!” El memegangi kedua pundak Venus, ia menatapnya
lebih dekat. Berharap Venus mengucapkan sesuatu.
“Baik…tapi
ini terakhir kalinya, tidak ada lagi kamera atau sejenisnya…!” ujarnya. El
memeluk Venus sambil mengucapkan terima kasihnya.
Memikirkan
apa yang akan terjadi di masa depan merupakan hal yang biasa, hanya saja kita
harus fokus dengan apa yang akan terjadi hari ini, karena setiap waktu
mempunyai bagiannya sendiri. Setiap kisah memiliki cerita dengan porsinya
masing-masing.
The
end
20
Desember 2017