Selasa, 16 Januari 2018

cerita fantasi



Part 1 Zona Aman
Suara dentaman dan terompet  seolah menyetrum alam sadarnya, bunyi kembang api menyadarkan tidurnya yang baru sejam, ia beranjak dari tempatnya, meluruskan keduanya kakinya. Matanya sejak tadi melirik jam yang berada di layar hpnya yang menunjukkan pukul 12:10 menit. Ia mencari kacamatanya di antara tumpukan kertas dan sampah yang berada di sekitarnya. Sebuah meja dengan setinggi 15 cm berada di hadapanya dengan 2 buah laptop dan kertas gambar serta pensil warna berserakan.
Venus itulah nama gadis itu, ia tidak mengerti mengapa orang tuanya memberikan nama yang menurutnya begitu aneh, sama halnya dengan dirinya. Orang-orang yang ada di sekitarnya terutama tetangganya menganggapnya gadis yang aneh, bahkan anak-anak menggangapnya gila. Ketika ia keluar dari rumahnya anak-anak akan berlari ketakutan saat melihatnya. Venus tinggal di lingkungan yang cukup ramai, dan padat akan perumahan. Rumah yang di tinggalinya pun bukan miliknya, tetapi milik dari saudara kakeknya, ketika ia masih hidup ia tinggal sendiri di tempat ini, setelah meninggal, Venus meminta izin untuk menempatinya karena bagaimanapun tak ada yang ingin tinggal di tempat kecil seperti itu, yang hanya berukuruan  6X6 meter, serta halaman yang tidak  begitu luas. Tanpa ruang tamu dan dapur. Saat masuk Venus akan di sambut dengan ruangan yang sudah dianggapnya sebagai tempat tidur, ruang kerjanya, bahkan tempatnya menikmati makanannya.
Sudah lima tahun ia menempati rumah itu, selama itu pula ia baru menyadari bahwa umurnya saat ini sudah 29 tahun, di Indonesia umur itu termasuk umur yang cukup tua untuk menikah. Tapi dibaliknya usianya itu, tidak menampakkan hal seperti itu. bagi orang lain, ia seperti berusia 25 tahun. Ia bekerja sebagai penulis lepas dari perusahaan book online, sebagai penulis komik dan webtoon. Sebagai penulis webtoon yang terbit setiap minggu karyanya selalu di tunggu oleh pembaca yang rata-rata dari kalangan remaja, ada sekitar 6 webtoon yang di kerjakannya sekaligus dalam sepekan ini. 3 di antaranya adalah komik yang bertema horor dan fantasi, sedangkan dua komik lainnya adalah bertema vampire dan zombie, dan yang terakhir bertema  percintaan. Saat ini Venus sedang fokus mengerjakannya sekaligus untuk menyelesaikannya semua episode terakhir yang akan terbit sekaligus bulan depan.
Memang banyak yang tidak mengenalnya di dunia nyata, bahkan di tempat kerjanya hanya beberapa orang yang mengenalnya, salah satunya adalah adalah bosnya, pemilik perusahan sekaligus yang mengelola langsung para karyawannya. Sudah 10 tahun perusahaan Book online berdiri jaya di tangannya, mereka membuat aplikasi yang mempermudah para pelajar, mahasiswa atau orang-orang yang memiliki hobi membaca menggunakan sistem mereka dan tidak perlu lagi repot mencari dan  di tambah lagi kehadiran Venus yang sudah dianggap emas perusahaan. Karya-karyanya mampu membuat orang lain terhipnotis. Hanya saja Venus belum pernah menampakkan dirinya di dunia nyata, padahal begitu banyak yang selalu mengundangnya menghadiri seminar seputar penulisan, tetapi dengan tegas Venus selalu menolaknya. Jika seperti itu manajernya akan menyibukknya dirinya membawa semua komik yang di gambarnya dan semalaman harus di tanda tangani sebagai ganti tidak ingin bertemu dengan penggemarnya.
Waktu menunjukkan pukul tiga, di saat semua orang tertidur dia masih duduk beralas bantalan yang sangat nyaman, sesekali ia berbaring menyandarkan tubuhnya lalu kembali mengambar. Goresan terakhir lalu di terbitkan, perasaan lega membuat Venus merenggankan semua badannya dan melanjutkan tidurnya lagi.
Lagi-lagi suara bel membangunkan tidurnya, ia langsung bangun membuka pintu, ia sudah tahu siapa yang akan datang menemuinya.
“Ya ampun…!” teriak Manajernya, Yuli yang juga merupakan teman baiknya terkejut saat di sambut ruangan yang begitu berantakan, ia tahu kebiasaan temannya itu. ia menutup hidungnya memunguti semua kotak dan kantongan makanan serta kaleng minuman yang berserakan, bekas makanan yang belum di buang sejak seminggu lalu benar-benar menusuk hidung, pakaian yang begitu berantakan dan kotor langsung di masukkan ke mesin cuci. Yuli membuka semua jendela agar udara segar bisa menghilangkan sedikit bau pengap yang ada di ruangan itu.
“Seharusnya kamu membersihkan semua kotoran ini, bisa-bisanya kamu hidup dengan ruangan seperti ini…!” omel Yuli, ia terpaksa harus membersihkan kamar Venus.
“Sudah berapa hari kamu nggak mandi?” kesal Yuli mendekati Venus yang melanjutkan tidurnya, ia memeriksa bau tubuh Venus, ia menjawab pertanyaan Yuli dengan mengangkat 3 jarinya.
“Tiga hari…! “ ia langsung menjauh sambil terus mengomel. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat itu, Yuli meminta Venus menandatangi sebuah berkas lalu pergi.
“Aku sudah mengeluarkan cucianmu, jadi sebaiknya kamu menjemurnya sekarang juga…!” Yuli pergi dengan nada kesal, ia tidak tahu harus melakukan apa pada gadis itu, sejak mereka kenal, Venus selalu membuatnya kesal karena tidak bisa menjaga kebersihannya.
Venus beranjak dari tempat tidurnya, ia memperhatikan sekelilingnya, terlihat lebih bersih dari sebelumnya, sampah yang menjadi sarang kecoak sudah dibuang Yuli. ia mengangkat kedua kakinya dengan berat menutup kembali jendela dan menyalakan ac dan langsung ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Sore ini dia ingin keluar membeli peralatan gambar, dan membeli makanan mengisi kulkasnya telah kosong.
ia meraih kunci mobilnya, mengikat rambutnya yang lepek menggunakan karet gelang, memakai jaket lalu menutupi kepalanya, hanya menggunakan sandal jepit ia mengunci pintunya lalu pergi. Ia sedikit menyempatkan waktunya ke toko buku, lalu ke supermarket membeli beberapa persediaan makanan untuk beberapa hari. Setiap hari ia menjalani kehidupan seperti itu tanpa pernah mengeluh dan bosan, ia hanya menikmati kecintaannya menulis dan mengambar. Selain daripada itu ia tidak pernah memikirkan hal lainnya.
“Ven…!” teriak seseorang dari jauh, ia berhenti mencari asal suara itu, Venus langsung memalingkan wajahnya saat mengetahui laki-laki yang membuatnya langkahnya terhenti.
“Aku selalu menghubungimu, dan kamu nggak pernah jawab?” ujar Dito, kakak laki-laki yang satu-satunya yang begitu peduli padanya.  Venus anak bungsu dari 3 bersaudara, kakak perempuannya saat ini sudah bekerja dan menikah, memiliki dua anak. Sedangkan kakak laki-lakinya baru setahun menikah, istrinya saat ini sedang hamil tiga bulan. Ayah dan ibunya telah meninggal dua tahun lalu, saat ini mereka bertiga menjalani kehidupannya masing-masing. Hanya Dito yang selalu menanyakan kabar adik perempuannya itu. Hampir setiap bulan, Anita kakak iparnya selalu datang mengunjungi Venus membawakan beberapa makanan. Meski sudah hidup mandiri, Dito masih saja sering mengkhawatirkannya.
“Aku sibuk menyelesaikan gambarku…!” ujarnya berhenti.
“Karena kebetulan kita bertemu, sebaiknya kamu ikut denganku!” ajak Dito mengambil semua barang bawaannya. Ia memasukkan belanjaannya ke dalam bagasi mobil Venus. Tanpa berkata apa-apa, Venus mengikutinya masuk ke mobil.
“setibanya di rumah kakaknya, Anita begitu bahagia melihat kedatangan Venus, sejak ia hamil, Anita tidak pernah lagi mengunjunginya. Saat ia masuk dua keponakannya menyambut kedatangannya, mereka berdua adalah anak dari Hesti, kakak perempuannya. Setelah kedua orang tua mereka meninggal, Hesti sudah jarang bertemu dengannya dan hanya ditto yang masih sering mengabarinya, ia bahkan sudah tidak ingat terakhir kali mereka bertemu. Ini pertama kalinya juga mereka bisa berkumpul, Karena Hesti begitu sibuk dengan pekerjaanya.
Venus menghentikan mobilnya, ia menarik nafas sambil memperhatikan orang-orang yang sedang berjalan kaki, terkadang ia juga ingin hidup normal seperti mereka, memiliki banyak teman, bisa berjalan-jalan kemana saja. Tetapi keinginannya itu hanya sebatas keinginan yang tidak penting, menurutnya apa yang di jalani saat ini cukup membuatnya bahagia. Ia membuka kaca jendela memperhatikan langit yang tidak menampakkan kerlipan cahaya bintang satupun, sepertinya hujan akan turun malam ini, halilintar terlihat beberapa kali di sertai petir, ia kembali melajukan mobilnya. Tiba-tiba kilatan cahaya menghentikan mobilnya, Venus berhenti menginjak remnya. Ia terkejut saat kilatan cahaya itu tepat berada di hadapannya dan menumbangkan sebatang pohon besar. Venus memperhatikan sekitarnya, tak ada satupun orang yang dilihatnya, lampu jalan yang tadinya begitu terang tiba-tiba mati. Ia kembali menyalakan mobilnya yang mogok tiba-tiba. Kilatan halilintar berubah menjadi percikan api yang sangat besar menghanguskan batang pohon yang berada tidak jauh darinya. Venus keluar dari mobilnya, ia di kagetkan bunyi seperti batu besar yang jatuh, di susul suara letusan yang terdengar begitu dahsyat membuat tanah yang berada di sekitarnya bergetar.
Venus terperanjat kaget melihat kejadian langsung yang disaksikannya, setengah kagum setengah terkejut. Tiba-tiba dari balik percikan api keluar sosok seseorang dengan tubuh yang menyala. Tatapannya matanya seperti bola api. Sosok bayangan hitam tanpa wajah di angkatnya lalu di lempar tepat di hadapan Venus. Bayangan hitam itu tiba-tiba terbakar dan hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Venus  begitu ketakutan sampai tidak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri. Laki-laki-laki yang dilihatnya, dengan tubuh menyala dan mata menyala. Menghampirinya. Sebuah tongkat besi keemasan tertancap tepat di dadanya. Tongkat itu tiba-tiba menghilang saat laki-laki itu keluar dari cahaya api yang mengelilinginya. Perlahan cahaya yang berada di tubuhnya padam, berubah menjadi darah. Wajahnya terlihat lebih jelas meski tertutup rambut. Laki-laki yang entah dari mana datangnya itu semakin mendekat, Venus berkeringat dingin dengan tubuh kaku. Ia ingin sekali masuk ke dalam mobil dan menguncinya. Ia tidak tahu sedang menyaksikan kejadian apa saat ini, mustahil baginya untuk mempercayainya sendiri.
“Tolong…!” ucap laki-laki itu, menutupi luka yang cukup parah. Seolah ia baru saja lepas dari perkelahian dan marabahaya. Venus tidak bisa memikirkan apa-apa, saat ini orang yang berada di hadapannya adalah sosok manusia yang sedang meminta pertolongan, sekarat dengan penuh luka. Venus dengan berani menghampiri laki-laki itu, ia menyentuhnya saat tubuhnya terjatuh di tanah, seperti panci yang baru di angkat dari kompor, seperti itu rasanya saat Venus menyentuh tubuh laki-laki itu. tiba-tiba kedua tangan laki-laki itu mengenggam pergelangan tangan Venus. Ia berteriak seolah tangannya sedang terbakar. Venus berusaha melepaskan tangan itu, tetapi tiba-tiba kesadaranya menghilang begitu saja.
Part 2
Siapa dia?
Sebuah mimpi buruk dan begitu panjang, tiba-tiba membangunkannya, Venus memandangi kamarnya yang agak gelap, ada bau aneh yang sejak tadi menganggunya, ia menyalakan lampu, betapa terkejutnya ia, saat memperhatikan pakaiannya berlumuran darah, Venus berlari ke kamar mandi. Seketika berteriak terjatuh saat melihat sosok laki-laki yang dianggapnya mimpi benar-benar berada di hadapannya. Laki-laki yang hanya mengenakan celana hitam dan tanpa mengenakan baju. Laki-laki tidak itu sadarkan diri, ia berbaring di depan pintu kamar mandi masih berlumuran darah, luka di dadanya hanya tertutuk kain. Ia ingin meminta tolong pada Yuli pada siapapun yang bisa menolongnya, tetapi ia juga takut harus menjelaskan bagaimana menjelaskan kejadian aneh yang terjadi. Venus mengambil beberapa kotak obat, ia membersihkan darah di sekujur tubuhnya. Membalut lukanya dengan kain kasa, tubuhnya sangat panas, Venus memperhatikan lengannya, ada bekas hitam yang melekat tapi itu tidak terasa sakit.
Venus dengan sekuat tenaga menarik tubuhnya, menempatkannya di kasur. Ia memberi sekat di ruangan itu, ada rasa takut dan kasihan saat menolong laki-laki yang asalnya entah dari mana, dan bagaimana bisa laki-laki itu mengetahui tempat tinggalnya. Terlalu banyak pertanyaan yang tersimpan dalam pikirannya, apakah laki-laki itu seorang manusia atau bukan.
Pukul dua malam, tangan Venus masih sibuk menggambar di atas tabletnya, sesekali ia melihat keadaan laki-laki itu, ia masih bernafas tapi entah mengapa seharian ini ia belum juga sadarkan diri. Ia memegang kepalanya dengan kesal. Ia menyesal tidak lari saat kejadian itu. rasa penasarannya membawanya harus melibatkan diri dengan orang asing ini.
Terdengar suara rintihan, Venus meletakkan tangannya di atas meja, ia melihat laki-laki itu bergerak lalu bangun, duduk memegangi lukanya. Venus mendekatinya perlahan.
“Siapa kamu?” Tanya laki-laki itu, ia memperhatikan sekelilingnya, ia lupa mengapa bisa berada di tempat ini.
“Kamu manusia yang menolongku…?” ujarnya lagi, laki-laki itu tiba-tiba menarikku lengan Venus. Ia terkejut mencoba melepaskan diri.
“Aku tidak akan menyakitimu…!” katanya,Venus lalu diam dengan rasa takut, laki-laki itu menekan telapak tangannya, Cahaya aneh muncul dari telapak tangan Venus, ia menarik sesuatu keluar dari telapak tangannya, sebuah Kristal dengan cahaya biru putih terpancar melayang tepat di hadapannya.
“Apa ini?” Tanya Venus, rasa penasarannya seolah membuat kejadian luar biasa itu menjadi hal yang biasa. Tanpa menjawab, laki-laki itu seolah mengambil sesuatu dari pancaran cahayanya, dia memandangi tubuh laki-laki itu seketika berubah menjadi cahaya seperti saat Venus melihatnya, hanya saja sedikit berbeda, kini cahaya itu sama seperti cahaya yang ada pada Kristal itu. cahaya yang ada di tubuhnya kembali hilang, Kristal itu kembali masuk ke telapak tangannya. Ia terus melihat tidak percaya dengan apa yang terjadi. Seketika itu luka yang ada di tubuhnya hilang, ia terlihat lebih sehat dari sebelumnya. Laki-laki itu memandangi Venus seolah sedang membaca pikirannya.
“Aku juga manusia sama seperti kalian, hanya saja dimensi kita berbeda…!? Jawaban itu langsung membuatnya duduk ingin mengetahui lebih banyak, meski terdengar begitu mustahil. Dirinya adalah penulis webtoon, tentu saja kejadian seperti ini hanya ada dalam dunia fantasi, yang bisa di buatnya menjadi lebih hebat, hanya saja ini berbeda. Ini nyata dan bukan tentang imajinasi yang dia bayangkan yang terjadi dalam dunia kartun, komik atapun sejenisnya.
“Dimensi yang berbeda…?” Tanya Venus.
“Dimensi di mana manusia di bagi dua, dimensi pertama makhluk seperti kalian yang ada di bumi, hidup normal, makan dan minum, berreproduksi dan menghasilkan keturunan. Mati lalu lahir kembali, sedangkan dimensi kami, kami juga seorang manusia di ciptakan dengan api, air, tanah, dan udara. Kami memiliki tingkatan dimana api adalah penguasa, tanah adalah penjaga sedangkan air dan udara adalah pengikut. Kami juga mati seperti kalian. Hanya saja aku tidak terbuat dari empat hal itu, aku tercipta dari cahaya yang merupakan simbol keabadian dan penguasa. Semua mengincar Kristal yang berada di dalam tubuhku, sampai mereka harus membangkitkan makhluk kegelapan hanya untuk menangkapku. Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa berada di dunia ini, dimensi kalian….!” Jelasnya, Venus mendengarkan semuanya dari awal, sebuah ide tiba-tiba meledak dikepalanya. Ia tidak lagi penasaran dengan makhluk asing yang ada di hadapannnya. Malah sebuah ide bermunculan di kepalanya. Venus segera beranjak dari tempat itu, ia duduk di meja kerjanya, mencatat ide itu dan mengambar seuatu. Mungkin  ceritanya kali ini akan lebih menarik dari sebelumnya. Venus tidak henti-hentinya memandangi telapak tangannya, ia tidak percaya ada benda berharga berada dalam tubuhnya, benda itu dititipkannya padanya tanpa tahu alasannya.
“Saat ini prajurit kegelapan sedang mencariku di semua dimensi, ia akan lebih mudah menemukanku, hanya dengan melacak Kristal itu. maka dari itu aku menitipkannya padamu, sampai waktunya aku akan mengambilnya kembali” jelasnya, Ia seakan bisa membaca pikiran Venus.
“Apa hubungannya dengan menitipkannya kepada orang lain?” Tanya venus, rasa ingin tahunya kembali muncul.
“Berada di tubuh orang lain mempersulit mereka untuk mendeteksi keberadaanku, mereka tidak akan tahu aku berbaur dengan manusia…!” lanjutnya, cerita laki-laki itu terdengar begitu menarik, ia bisa menjadikan referensi untuk cerita yang akan dibuatnya.
“Terus…kapan kamu bisa pulang kembali ke tempat asalmu…!” Tanya Venus.
“Sampai Kristal itu menghilang dengan sendirinya…!” jawabnya.
“Apa yang akan terjadi jika kristalnya menghilang?”
“Aku akan kembali dengan sendirinya, Kristal itu akan mulai menghitam dan lenyap, bersamaan itu pula aku akan kembali dengan kematianku…!”
“Tadi kamu bilang Kristal itu simbol keabadian, orang yang memilikinya akan hidup abadi…!” Venus menyilangkan kedua kakinya, ia mencatat beberapa hal penting yang dikatakannya.
“Kristal ini akan menghilang apabila ia berada di dimensi lain untuk waktu yang cukup lama…!”
“Oh…jadi kamu akan tinggal sampai Kristal itu menghilang…!?”
“Hanya itu jalan satu-satunya yang bisa aku pikirkan, akan terjadi bencana apabila Kristal ini berada di tangan orang yang salah…!” Ujar pria itu.
“Sampai kapan Kristal ini akan ada di tanganku?”
“Aku akan mengambilnya saat waktunya tiba, kamu tidak usah khawatir, Kristal itu tidak akan berpengaruh apa-apa padamu…!” jawabnya, rasa khawatirnya sedikit berkurang, hanya saja yang dipikirkan saat ini bagaimana mungkin ia tinggal bersama laki-laki yang baru di kenalnya, di ruangan sempit seperti ini dan apa yang akan di katakan Yuli atau keluarganya jika mereka tahu. Untuk sementara ia akan membiarkannya laki-laki itu tinggal sampai ia menemukan solusinya.
“Aku Venus…!” memperkenalkan dirinya.
“Aku El…!” jawabnya/
“El…? hanya itu…El” pikirnya, nama yang terlalu pendek dan begitu mudah diingat, El atau L yang berarti light atau cahaya, itu sesuai dengan nama dan asalnya.
“Sebaiknya kamu istirahat…!” lanjut Venus memberikannya beberapa pakaian untuk di pakainya.
Alarm hpnya yang sejak tadi berbunyi membangun Venus dari tidurnya, ia berharap semuanya yang dialaminya kemarin masih mimpi, Venus menarik nafas saat melihat El duduk bersila di dekat jendela. Tidak seperti biasanya Venus bangun lebih pagi. Ia meminta Yuli datang menjemputnya. Venus mengganti pakaian, menyikat gigi dan mencuci wajahnya, ia merapikan rambut dan menyisirnya.
“Oh iya kalau kamu lapar, ada makanan di kulkas, dan kamu bisa menyalakan tv…! “ tunjuk Venus, ia khawatir meninggalkannya di rumah sendirian.
“Aku sudah belajar tentang apa yang dilakukan manusia, kehidupan mereka dan semua tentang mereka, jadi tidak usah khawatir…lagi pula aku tidak bisa keluar selama kondisiku belum pulih…!” sekali El memperjelas kekhawatirannya, terkadang ia tidak percaya laki-laki itu bisa beradaptasi begitu cepat.
“Tumben banget…kamu minta di jemput…!” Ujar Yuli.
“Ah…Pak Herlan memintaku datang untuk mengikuti rapat…!” ucap Venus, ia menaikkan penutup kepalanya, setibanya di kantor Venus menyembunyikan wajahnya menuju ruang rapat. Sebagian dari karyawan yang sejak dulu penasaran dengan sosok Venus, bergantian mengintip di pintu.
“Apa kamu melihatya?” Tanya seseorang yang baru saja kembali, mukanya begitu kecewa, karena tidak bisa bertemu dengan Venus secara langsung.
“Dia seperti selebriti, begitu sulit melihat dan menemuinya, padahal dari awal aku adalah penggemar beratnya…!” jelas Candi duduk di kursi kerjanya.
“Kita bekerja di kantor yang sama tapi belum pernah bertemu dengannya…!” tambah Mona.
“Bukankah Martin pernah bertemu dengan secara langsung…wah dia yang paling beruntung…!” sahut Candi…menghentikan langkah Martin saat menuju keruang rapat. Kali ini dia juga akan mengikuti rapat bersama Venus.
“Oke…aku akan mengambil fotonya sekali saja…!” Ujar Martin membuat perasaan mereka sedikit lega.
Rapat kali ini bertujuan untuk memilih beberapa penulis dan komikus. Ada sekitar enam orang, tiga di antaranya yang akan terpilih bekerja di perusahan ini, dan ketiga orang itu salah satunya akan menjadi asisten pribadi Venus. Meski Venus menolak untuk memperkerjakan asisten tetapi pak Herlan bersikeras untuk membantu pekerjaan Venus.
Setelah memeriksa profil, gambar dan tulisan mereka. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Venus untuk memutuskan, dia memilih dua orang laki-laki dan satu perempuan, dan tanpa berpikir panjang, ia langsung menunjuk Stefan tanpa ragu untuk menjadikan asistennya.
“Terima kasih…!” pria itu langsung berdiri seakan memberikan penghormatan terbesarnya karena telah memilih dirinya, ia sangat bangga karena bisa bekerja sama dengan Venus. Rapat yang berlangsung selama dua jam itu akhirnya selesai juga, Venus masih duduk di tempatnya  menunggu semua orang pergi.
“Berhentilah terlihat lebih keren…!” Lontar pak Herlan “Semua karyawan yang bekerja di sini sangat ingin mengenal dan belajar banyak denganmu…jadi pelatihan bulan depan kamu yang akan bertanggung jawab…!” Tambah pak Herlan. Venus hanya bisa menuruti perkataannya itu, selama enam tahun pak Herlan sangat baik untuknya, menjadikannya karyawan lepas. Ia bisa bekerja dengan hanya tinggal di rumah. Mungkin sudah waktunya bagi Venus menghadapi dunia luar, bisa kenal dengan banyak orang dan dekat dengan rekan-rekan kerjanya. Ia juga bisa mengucapkan banyak terima kasih kepada orang-orang yang sering membantunya selama ini.
Dengan cepat kabar itu sampai di telinga para penulis lainnya, terutama komikus dan penulis webtoon. Mereka begitu semangat saat tahu pelatihan bulan depan akan di pimpin langsung oleh Venus.
Part 3
 Karena ini pertama kalinya
Sementara itu di rumah Venus, El yang sudah belajar beradaptasi dengan sekitarnya belajar banyak dari tv yang di nontonnya. Sejak Venus pergi ia memperhatikan ruangan itu begitu berantakan dan kotor. Bau yang tidak enak berkumpul di tempat sampah menjadi satu, saat ia membuka kulkas hampir semua makanan yang ada di dalamnya sudah berbau dan sangat kotor. Hal istimewa yang belum di ceritakan El pada Venus, ia mencoba ingin menjadi manusia dan berbaur dengan mereka, ia tidak ingin menceritakannya pada Venus soal kekuatan yang di milikinya. Ia bisa mengembalikan sesuatu pada tempatnya, dengan menjentikkan jarinya ia bisa merapikan ruangan ini dengan sendirinya. Ia juga bisa berpindah tempat dengan cepat atau menghilang ke suatu tempat. Terdengar suara pintu di buka, El kembali ke posisi duduknya ia menutup kedua matanya. Meski tahu kedatangan Venus, ia tidak bergerak sedikit pun. Saat menyalakan lampu, Venus terkejut melihat ruangannya terlihat lebih bersih, bahkan debu tak tercium di hidungnya, ruangan terlihat lebih segar, ia membuka kulkas yang terlihat sangat bersih dan dapurnya terlihat lebih mengkilau. Untung saja ia tidak menyentuh meja kerjanya. Venus meletakkan beberapa makanan di lantai.
“Apa kamu sudah makan…?” Tanya Venus, El langsung membuka matanya. Ia menghampiri makanan yang membuatnya lapar.
“Kamu yang membersihkan ini semua?” Tanya Venus.
“Rumahmu terlihat berantakan…!” katanya, El menatap Venus sejenak, dia meminta tangannya diulurkan.
“Ada masalah dengan kristalmu…?” Venus mengulurkan tangannya, Kristal itu kembali muncul saat pemiliknya menyentuhnya.
“Tubuhku akan merasa lemas saat terlalu lama berada jauh dari benda ini…!” katanya mengenggam tanganku, seolah ia meresap energi dari Kristal itu.
“Kenapa nggak bilang dari kemarin…!” Venus kembali menarik tangannya saat El selesai. Ini pertama kalinya ada seseorang yang diajaknya bicara dan makan bersama. Selama lima tahun ia menghabiskan waktunya di tempat ini, sendiri tanpa ada seseorang yang bisa di ajaknya bicara.
“Aku ingin besok kamu membawakan barang ini padaku…!” El langsung mengeluarkan secarik kertas, memberikannya pada Venus.
“ini kan bahan-bahan untuk memasak…!” Ujar Venus, ia heran mengapa laki-laki ini meminta hal seperti ini padanya. Mungkin dia belajar saat menonton tv.
“Besok kita keluar bersama untuk membelinya…!” Venus menaruh kertas itu di tasnya, beranjak pergi menuju ke meja kerjanya, ia menarik sekat yang membatasi mereka. Ia terlihat begitu lelah, dia ingin tidur sejenak lalu bangun melanjutkan kerjaannya.
“Aku tidur duluan…!” sahutnya, beberapa menit kemudian, Venus sudah tertidur begitu cepat. El kembali ke posisinya, ia duduk menyilangkan kedua kakinya, memejamkan matanya.
Semenjak kedatangan El bersamanya, ia tidak lagi banyak menghabiskan waktunya di rumah, ia merasa canggung hanya berduaan, setiap pagi Venus berangkat lebih pagi menuju kantor, ia banyak menghabiskan waktunya di ruangannya, Yuli begitu senang tanpa di perintah ia langsung menyuruh cleaning service segera membersihkan ruangan yang akan digunakan oleh Venus.
“Kok tiba-tiba sih…?” Tanya Yuli.
“Ini sudah lima tahun, nggak mungkin aku menghabiskan waktuku di tempat itu selamanya. Aku juga perlu suasana baru untuk mendapatkan ide baru” jelas Venus.
“Kok ada dua meja?” Tanya Venus.
“Kamu akan bersama Stefan di sini…! Jangan protes, Pak Herlan sendiri memintanya…” Yuli keluar, ia tidak ingin mendengar Venus protes hanya karena Stefan di tempatkan satu ruangan dengan dirinya. Seharusnya ia senang karena kehadiran asistennya itu akan sedikit mempermudah pekerjaannya. Venus menaruh semua barangnya di atas meja, ia kembali mengerjakan gambarnya, melanjutkan ide cerita yang baru saja muncul di otaknya. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang masuk ke ruang kerjanya, begitu pun Styefan yang tidak berani menganggu pekerjaannya, Venus tidak sekalipun meninggalkan tempat duduk dan ruangannya.
“Bagaimana rasanya bisa bekerja sama dengan Venus…!” ujar Candi, mereka kembali membicarakan Venus saat usai makan siang, masih ada waktu 20 menit sebelum mereka kembali bekerja.
“Hampir ia tidak pernah bicara, saat aku membawakannya minuman atau makanan, dia tidak sekalipun melirikku atau mengucapkan sesuatu…” ujar Stefan, ia berharap bisa dekat sebagai rekan kerja dan ia ingin belajar banyak hal dari Venus.
Waktu menunjukkan pukul empat sore, semuanya sudah bersiap pulang, hanya Venus yang masih duduk di tempatnya, ia telah menyelesaikan lima episode dalam ceritanya. Stefan menghampiri Venus.
“Kamu nggak pulang…!” Ujar Stefan, Venus membukanya tudung kepalanya, pertama kalinya ia melihat wajah Venus dengan jelas, ia tidak tahu mengapa gadis itu suka menggunakan jaket yang memiliki penutup kepala. Venus menatap jam di layar hpnya.
“Aku akan pulang sebentar lagi…!” Jawabnya, ia menyandarkan kepalanya di kursi menutup matanya.  Stefan memandangi Venus sebentar.
“Oh iya…!” Stefan menaruh sebuah kertas di hadapannya.
“Besok, Pak Herlan meminta kita menghadiri pertemuan ini…!”. Venus meraih dan langsung membacanya, undangan untuk menghadiri pertemuan penulis komik, tamu yang akan datang tertulis di undangan itu, dari berbagai Negara Asia, seperti Jepang, Cina dan Korea, nama Venus menjadi salah satu tamu yang akan menghadiri acara itu. ia menarik nafas meletakkan kembali undangan itu, ia memperhatikan Stefan yang sedang menunggu apa yang akan dikatakannya, Venus  lega bisa memilih Stefan menjadi asistennya, karena saat menghadiri acara tersebut ia butuh seseorang yang bisa menerjemahkan bahasa mereka.
“Pulanglah…!” Ujar Venus kembali melanjutkan pekerjaannya.  Stefan melangkah keluar menutup pintu. Ia berpapasan dengan Yuli yang kini tidak lagi menjadi manajer Venus, karena ia sebentar lagi akan menikah dan pindah bersama suaminya di luar kota
“Bagaimana…? “ Tanya Yuli mengintip Venus di kaca jendela.
“Dia setuju mau menghadiri acara itu…!” ucap Stefan, Yuli mengangguk senang.
“Aku kira dia akan menolaknya…! Dia cukup aneh akhir-akhir ini…!” pikir Yuli.
Mereka berdua lalu pergi, kantor sudah sangat sepi, dan hanya ada dua satpam yang menjaga di pintu masuk. Ia tiba-tiba teringat dengan El, ia lupa kalau meninggalkannya terlalu lama membuat tubuh El lemah. Venus segera beranjak dari tempatnya, ia terkejut saat seseorang menabrak tubuhnya.
“Kamu belum pulang…?” Tanyanya, Venus mengangkat kepalanya memperhatikannya.
“Stefan…!!, apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Venus.
“Dompetku ketinggalan…”
“Ah,,,benarkah…!” Venus kembali menuruni tangga, tidak lama kemudian, Stefan setengah berlari menyusul Venus.
“Oh iya…Bagaimana kalau kita makan sesuatu sebelum pulang…!” ajak Stefan, dia tahu harus memperlakukan Venus sebagai atasannya saat di kantor, tetapi Venus tidak keberatan karena ia juga akan nyaman bekerja sama dengan orang yang akrab dengannya. Venus setuju dengan ajakan Stefan, ia menuju ke café yang berada tidak jauh dari kantor.
“Aku tinggal di lantai atas…!” ucap Stefan membawa dua minuman di tangannya sambil menunggu hamburger pesanannya.
“Serius…! Kamu menyewanya?” Tanyanya.
“Hmmm…aku menyewanya, café ini juga milik temanku…! Cafenya baru di buka seminggu yang lalu…!” jelas Stefan, ia menikmati minumannya sesekali melirik ke Venus.
Hampir satu jam mereka mengobrol, itu sedikit membuat Stefan terkesan dengannya, entah apa yang dilihat darinya, ia terlihat begitu lusuh, wajahnya tersembunyi di balik kacamatanya, matanya yang sayu terlihat begitu menarik bagi Stefan.
“Aku harus pulang…!”
“Biar aku yang mengantarmu…!” Ujar Stefan.
“Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri…!” tambahnya, Venus segera pergi setelah membeli makanan yang akan di bawanya pulang.
Venus membuka pintu, kedatangannya membuat El langsung berdiri.
“Apa kamu nggak bosan di rumah terus…!”Tanya Venus, kata-kata yang baru saja diucapkanya sering terdengar dari mulut Yuli dan pak Herlan. Ia memperhatikan El yang sudah berganti pakaian, ia memakai kaos dan celana pendek miliknya, terlihat sangat lucu. tapi wajah El terlihat pucat, ia menghampiri El dan memegang tangannya, Venus paham apa yang terjadi pada El, kristalnya yang membuatnya seperti ini.
“Hari ini pekerjaanku banyak di kantor, jadi aku sedikit terlambat…!” ujar Venus menyesal. Gara-gara ajakan Stefan dia lupa pulang lebih cepat.
Malam itu, El sedikit merasa bersalah pada Venus, ia tahu selama ini ia kehadiran dirinya membuat Venus harus berangkat lebih pagi.
Seperti biasanya, Venus sudah bersiap-siap pergi. Tanpa sepengetahuan Venus, El saat itu mengikuti Venus ke kantor, ini pertama kalinya ia melihat dunia luar, menyaksikan semua yang di lakukan oleh manusia, ini tidak ada bedanya dengan dunianya, Venus berhenti di depan sebuah café, ia tertarik dengan tulisan yang ada di depan kaca. Café yang baru buka ini membutuhkan pelayan.
“Apa tempat ini masih membutuhkan pelayan...!” Tanya El, tidak sengaja bertemu Stefan saat ia keluar, Ia mengantar El masuk menemui Fani.
“Sepertinya dia ingin kerja di sini…!” Ujar Stefan duduk sambil menikmati sarapan paginya. Fani langsung tersenyum saat melihat El, ia begitu kagum dengan laki-laki yang wajahnya hampir mirip dengan Seung Ho (Drama korea Black). Tubuhnya yang tinggi sekitar 185 cm, kulitnya yang coklat dengan badannya yang memperlihatkan otot-ototnya.
“Dia sempurna…!” pikir Fani, tanpa melakukan wawancara ia langsung memperkerjakannya, Fani begitu semangat memberikan beberapa hal yang harus di lakukannya dalam melayani tamu, Fani juga mengajarkannya membuat beberapa minuman, El tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mempelajari semuanya. Setelah berganti pakaian El langsung menghampiri tamu yang datang dan mencatat pesanan mereka. Fani tidak menyangka keputusan untuk memperjakan El ternyata membawa keberuntungan baginya, kenapa tidak pengunjung café yang rata-rata mahasiswa dan remaja langsung jatuh hati saat melihat El, bahkan sebagian dari mereka sengaja sembunyi mengambil foto dan menguploadnya di sosial media, Fani begitu senang saat semua komentar mengenai tempatnya banyak mendapatkan respon yang sangat baik. Fani langsung menghubungi fotografer kenalannya, ia ingin menjadikan El model untuk cafenya.
“Bagaimana kalau kamu tinggal di sini, kami punya kamar kosong di atas…!” Ujar Farhan suami Fani, ia juga sesekali datang membantu Fani mengurus cafenya. El langsung setuju, Venus pasti senang saat tahu dirinya mendapatkan pekerjaan. ia tidak akan membuat Venus merasa tidak enak dengan dirinya karena harus tinggal berdua dalam satu rumah, di tambah lagi tempat ini begitu dekat dengan keberadaan Venus.
Saat itu Venus tidak tahu harus melakukan apa untuk menghadiri sebuah acara, ini pertama kalinya, ia meminta tolong pada Stefan tanpa canggung karena Yuli hari itu tidak datang ke kantor, ia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi. Tentu saja Stefan sangat merasa senang. Hampir satu jam mereka mengelilingi toko baju, tampak di wajah Venus ia kebingungan memilih sesuatu. Stefan menarik tangan Venus masuk ke dalam sebuah toko, ia memilih beberapa pakaian yang cocok di tubuh Venus. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama bagi Stefan, ia memilih gaun yang di sukainya.
“Apa ini tidak kepanjangan…!” Sahut Venus keluar dari kamar ganti, Ia terkejut saat melihat penampilan Venus, selama ini dia melihat Venus selalu memakai kaos panjang dan celana dengan penutup kepala. Kali ini Venus terlihat begitu cantik, Stefan terdiam sambil menatap Venus, dia benar-benar kagum melihatnya, mungkin saat ini ia sedang jatuh cinta pada wanita itu. Setelah membeli baju, Stefan mengantar Venus ke salon, tidak membutuhkan waktu yang lama, Stefan juga telah berganti pakaian.
Kini penampilan Venus benar-benar berubah, rambutnya yang biasanya di ikat kini terurai, dandanannya yang polos dengan make up ringan di wajahnya, serta lipstik yang senada dengan warna bibirnya membuat Venus benar-benar berbeda. Ia bahkan tidak mengenali dirinya sendiri. Lagi-lagi Stefan di buat pangling, ia tidak menyangka Venus bisa secantik ini, wanita itu berhasii membuat jantungnya berdebar secepat ini.
Dari kejauhan El yang sudah menyelesaikan pekerjaannya kembali mengikuti Venus, entah mengapa ia sedikit tertarik dengan kehidupan Venus. Setibanya mereka di hotel, Venus menjadi salah tamu yang paling di tunggu. Sementara itu El menunggu di lobi.
Sudah hampir dua jam, ia tiba-tiba teringat dengan El. Dia yakin saat ini El membutuhkan kristalnya agar tubuhnya tidak kesakitan. Ia meminta Stefan segera mengantarnya pulang. Sejak tadi Stefan memperhatikan dirinya yang begitu gelisah .
“Kamu baik-baik aja kan…!” Tanya Stefan saat tiba di lobi.
“Aku baik-baik saja…!” Ujar Venus.
Pandangan tertuju pada seseorang yang sedang duduk tidak jauh darinya, El langsung berdiri menghampiri Venus.
“Apa yang kamu lakukan…! Kok kamu tahu aku ada di sini…!” Tanya Venus penasaran.
“Tentu saja aku tahu, karena Kristal itu…!” Jelas El singkat,” ada yang ingin aku katakan padamu…!” lanjut El serius.
“Oh iya Stef…kamu pulang duluan aja…!” ujar Venus, ia menunggu Stefan pergi. Ia begitu penasaran dengan apa yang ingin di katakan El. Tiba-tiba El menghampirinya lebih dekat.
“Ini kekuatanku yang belum kamu ketahui…!” Bisik El tiba-tiba memeluk Venus, mendekapkan kepalanya di dadanya. Venus terkejut dengan perlakukan tiba-tibanya, El melepaskan pelukannya, rasa terkejutnya bertambah saat dirinya tidak lagi berada di lobi hotel, tetapi di depan sebuah café yang kemarin baru saja di datangi olehnya.
“Sekarang aku bekerja dan akan tinggal di sini…!” ujar El,
“Benarkah…! Ini sangat dekat dari tempatku bekerja…!”
“Aku sengaja, agar bisa dekat dengan Kristal itu…!” jelas El “Aku akan mengantarmu pulang…!” El kembali memeluk Venus, sekejap saja ia sudah berada di rumahnya.
“Wah ini hebat…! Kamu bisa melakukannya kapan saja?” Tanya Venus. “ Apa saja yang bisa kamu lakukan…?”
“Membersihkan ruangan ini dengan cepat…!” ujar El. “Aku hanya bisa perpindah tempat apabila Kristal itu bersamaku…!” jelasnya lagi.
“Jadi maksudmu…kamu tidak bisa melakukannya sendiri”
“Iya…hanya jika kamu dekat denganku, aku bisa berpindah ke mana saja…!” Tambah El, malam ini terakhir kalinya ia akan bermalam di rumah Venus, ia harus mendapatkan izinnya dulu sebelum pindah. Malam semakin larut, Venus sudah tertidur nyenyak sejak tadi, El menghampirinya pelan, ia meraih tangan wanita itu dan menggengamnya. Kristalnya masih bersinar sangat terang. Meski dari dimensi lain ia juga bisa merasakan perasaan yang sama dengan manusia yang ada disini.
Meski El tidak tinggal bersamanya lagi, Venus tidak lagi menyelesaikan tulisan dan gambarnya di rumah, ia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor, ia tidak lagi khawatir tentang El, dia bisa menemuinya kapan saja. Setiap hari setelah selesai, El akan menunggu Venus, ia sengaja memasakkan sesuatu sebelum ia pulang.
“Apa hubunganmu dengan Venus…!” pertanyaan itu terlontar dari Stefan yang sejak beberapa hari lalu penasaran dengan kedekatan mereka, saat ini mereka lebih sering bertemu karena bersebelahan kamar. Stefan merasa laki-laki ini adalah penghalangnya dekat dengan Venus. Tiba-tiba Venus muncul dari balik pintu, saat itu ia menunggu El selesai dengan pekerjaannya, karena El memintanya menemaninya membeli beberapa pakaian. Ia sedikit terkejut dengan perubahan El, kini fotonya yang mengiklankannya tentang café ini berdiri di samping pintu, ia baru sadar El terlihat sangat tampan, bahkan baru saja ia muncul di televisi mempromosikan sebuah produk pakaian. Akhir-akhir ini dia cukup terkenal di sosial media.
“Apa yang kamu pikirkan…!” sahut El sejak tadi Venus terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Hmm…tidak apa-apa!” Ujar Venus melanjutkan langkahnya.
“Bagaimana dengan kristalmu…!” Venus mengangkat tangannya.
“Kristalnya baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir…!” jelas El, ia meraih tangan Venus, menatap wajahnya yang sedikit tersembunyi balik topinya, entah mengapa perasaan Venus berdebar, sejak El memeluknya saat itu ia sering memikirkannya. Bahkan saat ini ia terlihat nyaman berada di samping El. Hujan tiba-tiba turun, mereka berdua berlari menuju halte bis.         
“Sepertinya hujan akan lama berhenti…!” Ujar Venus, hari ini ia tidak membawa mobilnya.
“Aku akan mengantarmu pulang…!” Ujar El memperhatikan sekelilingnya, memastikan tidak ada orang yang melihat mereka.
“Apa kita akan melakukannya lagi…!” Venus terlihat senang, begitu pula dengan El. Sekali lagi ia mendekap Venus dalam pelukannya.
“Kita sudah sampai…!? Bisik El, ia tidak membawa Venus pulang ke rumahnya, tetapi menuju ke sebuah menara paling tinggi di kota ini. menara yang juga sebagai pembangkit tenaga listrik. Cahaya kemerahan berkedip tidak jauh dari atasnya, ia tidak tahu mengapa El membawanya ke atas, Venus masih berpegang pada El, kakinya sedikit bergetar saat melihat sekelilingnya, angin bertiup seakan ingin menerbangkan mereka.
“Hal yang paling kusukai adalah berada di ketinggian seperti ini, kau tahu…? Rasanya aku bisa membaca dan melihat semua keadaan di dunia ini.” Jelas El, ia menarik tubuh Venus semakin dekat dengannya, ia tahu Venus sedikit takut karena genggamannya semakin kuat di tangannya.
“Ini luar biasa…!” Puji Venus, ia terkesan melihat semua pemandangan yang berada di ketinggian 21 kaki dari permukaan tanah. Meskipun sedikit takut, ia tidak ingin melewatkan kejadian itu.
“Bagaimana kalau tiba-tiba kekuatanmu menghilang dan kita tidak bisa kembali…!” Pikir Venus, El langsung tertawa dengan apa yang dikatakan Venus.
“Jangan pikir macam-macam…itu tidak akan terjadi…!” Ujar El, ia memperhatikan Venus yang berada di sampingnya.
“Sebaiknya kita kembali…!” ucap El, mereka cukup lama berada di atas, Venus kelihatan kedinginan dan bibirnya terlihat pucat. Ia segera memeluknya. Hanya beberapa detik, mereka sudah tiba di rumah.
“Lain kali kita harus ke tempat yang lebih hebat…” usul Venus begitu senang.
Sementara itu di kantor, Venus sibuk dengan tablet dan gambarnya, hanya saja ia sedikit tidak merasa enak badan, kepalanya sangat pusing, dan nafasnya begitu berat. Stefan sejak tadi memperhatikan Venus, ada yang salah dengannya. Stefan menghampiri meja Venus.
“Kamu nggak apa-apa?” Tanya Stefan, Venus hanya menggelengkan kepalanya. Ia kembali ke tempatnya. Tidak lama setelah itu, saat Venus berdiri tubuhnya tiba-tiba ambruk. Stefan mengangkatnya segera dan langsung membawanya ke rumah sakit.
“Apa yang terjadi…!” tanya mereka bersamaan, satu kantor saat itu heboh dan langsung berkumpul ketika mendengar Venus jatuh pingsan.
“Tadi aku sempat bertemu dia di lift, wajahnya begitu pucat…!” tambah seseorang, mereka hanya bisa berdoa dan menunggu kabar dari Stefan.
Ditto juga langsung meluncur ke rumah sakit saat mendengar Venus masuk ke rumah sakit.
“Bagaimana keadaannya?” Tanya Ditto, ia menghampiri Venus yang sedang tertidur dengan selang infus yang terpasang di tangan kanannya.
“Dokter bilang, ia deman dan kekurangan darah akibat kelelahan, saat ini keadaanya sudah membaik, dokter menyuntiknya dengan obat tidur, agar ia bisa istirahat…!” jelas Stefan memperkenalkan dirinya pada kakak Venus.
“Terima kasih sudah membawanya ke rumah sakit…!” ucap Ditto, ia memang tidak bisa menyimpulkan apa hubungan di antara mereka, tapi Ditto bisa tahu kalau laki-laki ini menyukai adiknya. Itu sangat jelas dari sikap Stefan, ketika Ditto masuk, ia melihat laki-laki itu membelai rambut Venus.
“Aku yang akan menjaganya, sebaiknya kamu kembali ke kantor…!”. Suruh Ditto.
Di lain sisi, El yang saat itu sedang melakukan pemotretan dan syuting iklan di café tempatnya bekerja, tiba-tiba merasakan sesuatu terjadi pada tubuhnya, dadanya begitu sakit, seakan-akan ia kembali merasakan tusukan pedang dari pasukan kegelapan yang mengejarnya. El merasakan kristalnya semakin jauh darinya, ia tidak mengerti, Venus pergi begitu saja tanpa memberitahunya. El langsung meminta izin untuk pergi, ia keluar menuju kantor Venus, dan berpapasan dengan Stefan.
“Mana Venus…!” Tanyanya menahan sakit. Stefan terkejut melihat El yang terlihat tidak baik.
“Venus di rumah sakit, ia jatuh pingsan…!” ujar Stefan.
“Aku minta tolong, antarkan aku sekarang juga ke rumah sakit…!” pinta El masuk lebih dulu ke mobil, Stefan terpaksa harus kembali membawa El. Sepanjang perjalanan El tidak berbicara apapun, Entah apa yang terjadi dengan laki-laki yang duduk di sampingnya, ia terlihat begitu kesakitan sambil memegangi dadanya. Stefan semakin mempercepat laju mobilnya.
“Kamu nggak apa-apa?” Tanya Stefan saat turun dari mobil.
“Cepat bawa aku ke Venus…!” El langsung mengikuti Stefan.
El menghampiri Venus yang sudah sadar dari tidurnya, ia terkejut melihat El masuk dengan keadaan seperti itu. tubuhnya seakan bergetar dan matanya merah, sekujur tubuhnya basah.
“Apa yang terjadi…” seru Venus, ia melihat tatapan El yang seakan lupa dirinya siapa, tatapannya kosong. Venus menariknya duduk di sampingnya. Tanpa mengatakan apa-apa, Venus memeluk tubuh El, ia bisa merasakan sekujur tubuhnya basah. Tiba-tiba Kristal yang berada di tangannya keluar dengan sendirinya, cahayanya lebih terang dari sebelumnya. Kristal itu menghilang masuk ke dalam tubuh El, kini ia seperti memeluk sebuah cahaya. Perlahan kondisi El membaik, tubuhnya kembali normal. Beberapa menit cahaya itu kembali ke tangan Venus dan menghilang. Venus begitu khawatir sampai air matanya keluar, ini pertama kalinya ia melihat El begitu kesakitan. Meski keadaan sudah membaik, El seakan tidak ingin melepaskan pelukannya.
“Biarkan aku seperti ini sebentar saja, rasanya lebih sakit saat mereka menusukku…” Ujar El, ingatannya begitu kuat saat harus melawan 20 pasukan kegelapan sendirian, tusukan pedang yang di bawanya masih meninggalkan luka, dan Kristalnya tidak bisa menyembuhkan luka itu.
“Siapa kamu…?” sahut Ditto masuk, Stefan sejak tadi berdiri melihat mereka berdua, wajah Stefan berubah kesal saat melihatnya. Ia langsung keluar dari kamar rumah sakit kembali ke mobilnya. Venus melepaskan pelukannya saat kakaknya masuk. Ia memperkenalkan El pada Ditto.
“Hanya teman…!! Sampai berpelukan seperti itu…!” Ujar Ditto.
“Sebaiknya kak Ditto pulang, kasihan Anita di rumah sendiri, aku udah nggak apa-apa, lagian besok aku bisa keluar dari rumah sakit…!” Ujar Venus, dia juga tidak bisa membiarkan istrinya yang sedang hamil, sendirian di rumah.
“Kalau kamu butuh sesuatu hubungi aku…!” ucapnya khawatir meninggalkan Venus.
“Aku akan menjaganya…!” ujar El sebelum Ditto keluar.
Suasananya tiba-tiba berubah canggung saat hanya ada mereka berdua, Venus memulai pembicaraan dengan meminta maaf pada El.
“Aku rasa kristalnya semakin melemah…!” ujar El, membuat Venus kebingungan.
“Apa maksudmu…?”
“Tidak lama lagi kristalnya akan berubah, aku tidak tahu bisa secepatnya ini…!” ucapnya, suaranya melemah, saat mengatakannya, pertama kali ia terjebak di dunia ini, ia ingin mempercepat kristalnya menghilang, agar semuanya kembali pada keadaan semula, tapi keadaan berubah semenjak ia bertemu dengan Venus, di hatinya ia ingin tinggal lebih lama bersama Venus.
“Kamu juga akan menghilang…!” ucapnya menunduk memandangi tangannya yang berada di genggaman El.
“Kenapa kamu tidak menyerahkan saja Kristal ini dan tetap tinggal…!” Kini Venus tidak tahu tahu harus mengatakan apa, ia paham Kristal yang berada di tubuhnya sama saja dengan jiwa El, menyerahkan Kristal pada pasukan kegelapan sama saja menyerahkan kematiannya pada mereka. Venus tidak bisa berpikir apa-apa selain menangis di hadapan El. Ia menatap begitu dalam pada wanita yang sedang mengeluarkan air matanya, ada sesuatu yang di pahami selama ini. ia mencoba menjelaskannya pada Venus.
“Di dimensiku, kami diciptakan dari berbagai unsur, kita dari pencipta yang sama tetapi dengan dunia yang berbeda. Manusia seperti kalian memiliki perasaan kasih sayang, cinta, benci dan permusuhan sedangkan di dunia kami, tidak ada yang seperti itu, kami hanya sekedar di ciptakan lalu di matikan. Beda dengan kalian yang butuh cinta dari satu sama lain, kalian bekerja untuk mendapatkan uang, kalian melakukan banyak di dunia ini…!” El berhenti kembali menatap Venus yang masih belum menemukan inti pembicaraannya dengan El, ia membelai rambut Venus dan menghapus air matanya.
“Makhluk seperti kami tidak di ciptakan dengan perasaan itu, aku baru tahu di dunia ini merasakan jatuh cinta adalah hal yang luar biasa, dan aku merasakan itu. kau tahu…aku sangat senang karena bisa merasakannya, jantungku berdebar begitu kuat seakan ingin meledak, merindukan meski baru bertemu, selalu ingin berada di sampingnya, Ah…mungkin terdengar begitu biasa bagi orang lain, tapi bagiku ini luar biasa. Aku merasakan itu hanya bila berada dekat denganmu…!” Jelasnya. Venus menyembunyikan kesedihannya, ia benar-benar tidak ingin kehilangan El.
“Aku mencintaimu…!! Izinkan aku berada di sampingmu sampai saat waktunya…!” El kembali memeluk Venus, El tidak ingin membuang waktunya yang berharga.
Sementara itu Stefan dengan wajah pucat  bercampur kesal mengerem tiba-tiba mobilnya, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya, bukan karena lelaki itu memeluk Venus tetapi sesuatu yang aneh baru saja di saksikannya secara langsung, kedua kakinya seakan tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, ketika laki-laki yang bernama El memancarkan cahaya di sekitar tubuhnya, waktu seakan berhenti saat itu, seakan ada asap putih yang mengelilingi ruangan tempat Venus, udara yang terasa panas dan juga dingin, Stefan mencoba menggerakkan seluruh tubuhnya, tak ada yang bisa dilakukannya, dengan kedua matanya, sebuah cahaya yang tak pernah dilihatnya selang beberapa detik menghilang begitu saja, seakan apa yang dilihatnya hanya sebuah ilusi. Nafasnya seakan sesak saat itu, Stefan begitu terkejut dan semuanya menghilang saat Ditto tiba-tiba membuka pintu.
“Apa yang baru saja terjadi?” pikirnya dalam hati, ia langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa, sepanjang ia mengemudikan mobilnya pikirannya masih teringat dengan kejadian aneh yang barus di saksikannya. Siapa sebenarnya laki-laki yang bersama Venus sekarang? Pertanyaan itu terus berputar dalam otaknya.
Keesokan harinya, Venus yang sudah semakin membaik kembali masuk ke kantor, selama dua hari di rumah sakit membuat pekerjaannya menumpuk, webtoon yang dibuatnya harus tertunda selama dua hari, dan itu membuat para penggemarnya menunggu tidak sabar dengan ceritanya. Sedangkan El masih bekerja di café, semakin hari café yang di tempatinya bekerja semakin ramai dengan pengunjung, di sela-sela El bekerja tawaran menjadi model, bahkan dari berbagai stasiun tv menawarinya untuk bekerja sama, El tanpa segan menolakknya, ia hanya mau melakukan itu apabila tempatnya tidak begitu jauh dari tempat bekerjanya.
Selama beberapa hari ini juga Stefan tidak begitu banyak bicara, ia terkesan sedikit menjaga jarak dengan Venus, setiap hari  bertemu dengan mereka berdua membuat Stefan di penuhi dengan rasa penasaran yang begitu besar, ia tidak menjadikan keingintahuannya menjadi ambisi yang akan membuat Venus menjauh darinya. Setiap hari bertemu dengan El membuat tatapanya kepada El penuh dengan rasa penasaran, setiap kali mereka berdua bertemu Stefan menatapnya dengan tajam. Ia ingin sekali tahu siapa sebenarnya laki-laki itu.
“Kamu nggak pulang…?” Tanya Venus saat merapikan mejanya, waktu menunjukkan pukul Sembilan malam.
“Nanti aja, aku harus menyelesaikan gambar ini…!” katanya tersenyum. “Kamu mau ke café?” Tanya Stefan. Venus hanya mengangguk lalu pergi menutup pintu. Stefan menarik nafas begitu panjang sebelum melanjutkan gambarnya.
“Bagaimana pekerjaanmu?” Tanya El, membereskan meja, ia menutup café lebih cepat malam ini. El mematikan beberapa lampu lalu membawakan minuman ke meja Venus.
“Semuanya baik-baik saja, aku harus menyelesaikannya semuanya bulan depan…!” jelas Venus menikmati secangkir kopi yang dibuat sendiri oleh El.
“Tinggallah lebih lama, aku akan mengantarmu pulang…!” ujar El.
“Nggak usah…lagian aku bawa mobil…!”
“Stefan di mana?” Tanya El, sejak tadi ia tidak pernah melihat laki-laki itu.
“Dia masih di kantor…ada apa?”
“Tidak apa-apa…!” ucapnya sambil memikirkan sesuatu.
Setelah Venus pulang, El kembali ke tempatnya, duduk di tengah kegelapan sambil menatap keluar jendela, tidak lama kemudian Stefan muncul dari balik pintu, ia terkejut mendapat El yang sedang duduk menatapnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Stefan, melangkah pergi, menaiki tangga. El mengikutinya tanpa sepengetahuannya. Betapa terkejutnya Stefan saat El sudah berdiri di depan pintu.
“Siapa kamu kamu sebenarnya…!?” Stefan terperanjak kaget, ia mundur beberapa langkah saat melihat El.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan…?” El menghampiri Stefan yang terus menatapnya, kini tatapan itu berubah menjadi sebuah lorong cahaya di pikiran Stefan, cahaya itu seakan berputar di kepalanya, sebuah titik hitam yang semakin jauh secepat kilat. Ia berdiri di antara lorong cahaya itu. tiba-tiba cahaya itu menghilang, ia melihat dirinya masih berdiri di tempatnya seperti semula, El berdiri di hadapannya. Apa yang baru saja dialaminya seakan menjelaskan semuanya.
Membaca pikiran seseorang hal yang  mudah bagi El, waktu itu ia begitu ceroboh sehingga tanpa sadar, Stefan melihat keadaan dirinya. Selama beberapa hari ini juga setiap ia bertemu dengan Stefan, ia bisa mengetahui apa yang dipikirkannya.
“Jadi selama ini, Venus….?” Ujar Stefan, saat ini pikirannya kalut,  ia tidak percaya dengan apa yang baru saja di ketahuinya.
“Venus yang menyelamatkanku…!” Kini penjelasan El membuat Stefan mengerti, ia sengaja memberitahu siapa sebenarnya dirinya kepada Stefan, karena ia tahu Stefan adalah orang yang bisa ia percaya setelah Venus. Ia juga tahu bahwa Stefan juga menyayangi Venus sama seperti dirinya.
Stefan menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, ia masih memikirkan semua ucapan tidak masuk akal yang baru di dengarnya. Seperti mimpi tetapi begitu nyata, kejadian yang hanya bisa di buat oleh imajinasi manusia, di karang se fiktif mungkin agar menjadi cerita yang luar biasa.
Zona
Malam ini angin bertiup bersilir, perlahan tetapi terasa aneh, Venus sejak tadi merasakan telapak tangannya berdetak seakan jantungnya berpindah, tubuhnya berkeringat cuacanya begitu panas malam ini, ia membuka pintu angin bertiup cukup sejuk di luar sini, Venus menatap langit yang tertutup awan. Tiba-tiba arah angin bertiup dari berbagai arah, tiupan angin membuat semua pepohonan bergerak seakan tidak tentu arah, dedauhan berjatuhan dari pohonnya, bersamaan halilintar dan petir mengores langit malam, gemuruh yang begitu dahsyat mengingatkannya pada kejadian ia bertemu dengan El. Sebuah kilat bersamaan suara petir tiba-tiba menyambar tiang listrik yang berada tepat di depan rumahnya, Venus terkejut saat semua lampu tiba-tiba mati. Ia membuka pintu dan menutupnya menyalakan lilin, tetapi lilin yang dinyalakannya ikut mati. Suara gemuruh bertambah dahsyat mengejutkan Venus, tiba-tiba telapak tangannya bergerak sendiri. Seakan kristalnya ingin keluar. Venus meraih ponselnya mencoba menghubungi seseorang. Tetapi hpnya tiba-tiba mati begitu saja.
“Apa yang terjadi?” pikirnya ketakutan, tangannya masih bergoyang berulang kali, suara angin terdengar jelas dari luar seakan ingin menerobos masuk, Venus menyandarkan tubuhnya di dinding mengambil beberapa kain dan menutup tangannya. Saat ini ia benar-benar membutuhkan El. Mungkin saja kejadian ini ada hubungannya dengan Kristal miliknya, Ia tidak mengkhawatirkan dirinya saat ini, yang ia khawatirkan hanya El. Venus meraih kunci mobilnya ia berpikir untuk mendatangi El ketempatnya. Venus membuka pintu perlahan, tetapi tubuhnya tiba-tiba terlempar menabrak dinding, Venus menjerik kesakitan ketika tubuhnya terhantam keras, tubuhnya kembali terangkat dan terhempas beberapa kali di lantai. Venus mencoba melarikan diri ia bersembunyi di balik tirai, ia tidak tahu lagi harus melakukan apa, semua tubuhnya kesakitan, kedua tangannya terluka. Pintunya terus menabrak dinding karena tiupan angin yang bergumul seperti topan. Angin itu seolah bersatu memenuhi rumahnya. Venus mengenggam kedua tangan di dadanya, ia berharap El bisa segera datang, ia pasti merasakan kejadian yang terjadi malam ini.
Tiba-tiba beberapa sosok bayangan muncul dari dalam angin, sosok bayangan yang sama yang dilihatnya ketika pertama kali bertemu dengan El. Venus begitu terkejut karena sosok bayangan itu muncul di rumahnya. Mengapa tiba-tiba pasukan kegelapan datang, tentu saja ia mengetahui keberadaan Kristal itu, El pernah mengatakan bahwa pasukan kegelapan tidak akan mengetahui keberadaan Kristal itu selama berada di tubuh manusia. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?. Seperti sosok Dementor yang memakai jubah yang menutupi wajahnya. Kehadirannya benar-benar membuat ruangan itu di penuhi aura gelap dan kematian. Meski masih bersembunyi Venus bisa melihat jelas bayangan itu, mereka berdiri dengan jubah panjang menjuntai ke lantai, tangannya memegang sebuah tongkat dengan api yang menyala di ujungnya. Meskipun ia bersembunyi, mereka bisa mengetahui keberadaan Venus. Tirai yang menyembunyikannya terlepas. Kini sosok kegelapan itu berada tepat di hadapannya, sekali lagi tubuhnya terangkat, Venus menjerit kekeras-kerasnya. Suara bayangan itu menggema di telinganya, yah…! Tentu saja pasti mereka bertanya di mana Kristal itu, di mana pemiliknya dan mengapa ia meninggalkannya di tubuh seorang manusia.
“Lepaskan…!!” teriak Venus, tubuhnya meronta, tetapi itu tak mengubah apapun. Tubuhnya melayang, seakan tubuhnya saat ini bukan miliknya.
“Keluarkan Kristal itu…!!” ucap suara itu, tubuh Venus seakan tertarik, tubuhnya merasakan panas yang luar biasa, tanganya terangkat, Kristal itu tiba-tiba mengeluarkan cahayanya, Kristal itu seolah di tarik paksa keluar dari tubuhnya, ia begitu kesakitan, menjerit menahannya. Seolah rohnya di tarik keluar dari tubuhnya dengan paksa. Kini jeritannya berhenti, kepala Venus menengadah ke atas, urat lehernya seakan ingin terlepas.mulutnya terbuka lebar, matanya terbuka , kini kesadaran Venus sudah hilang sepenuhnya. Kristal itu tanpa pemiliknya tidak bisa di keluarkan. Hanya menunggu sampai El menyadari keberadaan pasukan kegelapan itu.
Suara ketukan pintu membangunkan Stefan, ia melihat jam yang menunjukkan pukul satu malam. Suara El terdengar dari luar pintu.
“Ada apa?” Tanya Stefan, ia terkejut saat melihat keadaan El
“Venus….!!” Ucapnya seakan tak bisa bicara, Stefan segera berlari menuju ke mobil di susul El, tak ada waktu ia menjelaskan kepada Stefan, saat ini Venus berada dalam situasi berbahaya.
“Mengapa mereka bisa tahu?” Tanya Stefan sambil melajukan mobilnya, mengikuti arah menuju rumah.
“Di rumah sakit…mereka pasti tahu saat Kristal itu masuk ke dalam tubuhku, dan saat tiba nanti, aku ingin kamu langsung membawa Venus keluar setelah aku mengeluarkan Kristalnya…!” jelasnya.
“Bagaimana denganmu…!” Stefan menghentikan mobilnya tepat di rumah Venus. Ia menatap pria yang ada di sampingnya, wajahnya menjelaskan kekhawatirannya. Mungkin saja ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Venus. Tanpa menjawab El langsung turun dari mobil diikuti Stefan, suasana tiba-tiba berubah El memperhatikan sekitarnya, seperti masuk dalam dimensi yang berbeda, pasukan kegelapan membuat perlindungan di sekitar rumah Venus, El bisa melihat jelas seperti kaca dengan titik cahaya membentuk lingkaran. Kilatan petir dan halilintar menyatu. Stefan begitu terkejut saat kakinya masuk melangkah. Di luar sana tidak terjadi apa-apa sedangkan suasana berubah ketika ia masuk. El berlari masuk menghampiri Venus, ia meraih tubuhnya. Stefan terperangah melihat kejadian yang dilihatnya, pasukan kegelapan berdiri di depannya.
“Keluarkan Kristal itu sekarang juga…!” ujar suara itu, salah satu dari mereka maju mengangkat tongkatnya, mengarahkan ke tubuh Venus.
“Keluarkan kristalnya sekarang juga atau kami yang akan mengeluarkan dengan paksa…!” ucap suara itu, bahkan mendengarnya seperti kutukan kematian di telinga Stefan. El memeluk tubuh Venus yang tidak sadarkan diri, ia menatap wanita itu dengan kesedihan di wajahnya bercampur amarah. El mengeluarkan Kristalnya dari tubuh Venus. Stefan segera menghampiri mereka berdua, Stefan memegang tubuh Venus. Tubuh El tiba-tiba berubah, tubuhnya di penuhi cahaya kemarahan. Stefan menjatuhkan tubuhnya saat melihat kejadian itu, El menatap Stefan untuk segera pergi membawa Venus.
El mendorong mereka masuk kembali ke lingkaran angin yang membawanya, entah apa yang terjadi saat itu, keadaan menjadi normal kembali, ketika lubang angin dan cahaya itu menghilang. Stefan membawa Venus ke kamar El dan membaringkannya di tempat tidur. Sekujur tubuhnya penuh luka dan darah. Baru saja ia ingin mengobati luka Venus, ia terkejut saat tubuh Venus di penuhi dengan titik cahaya di lukanya, perlahan luka itu sembuh dengan sendirinya. Jari-jarinya bergerak perlahan, Venus membuka kedua matanya.
“Kamu nggak apa-apa…!apa ada yang sakit?” Tanya Stefan sambil menyelimutinya. Tiba-tiba ia melempar selimut dan bantal, melempar semua apa yang dilihatnya, Venus tampak ketakutan dan terus menjerit, Stefan mencoba menenangkannya tetapi Venus terus memberontak, seolah-olah ia berada di tempat asing, bahkan ia tidak mengenal Stefan.
Stefan terpaksa harus menghubungi rumah sakit, setelah beberapa menit, perawat menyuntikkan obat penenang kepada Venus.
“Apa yang terjadi?” Tanya Ditto, yang baru saja tiba bersama Anita, tidak lama kemudian Hesti juga datang. Stefan tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka.
Selama beberapa hari Venus tinggal bersama kakaknya, semenjak kejadian itu Venus tidak pernah bicara, ia hanya diam sambil terus menatap dengan tatapan kosong, dokter yang memeriksanya tidak bisa memastikan apa yang terjadi, keadaannya sangat baik, tidak ada yang salah pada tubuhnya atau kepalanya. Tetapi Venus tidak bisa mengingat orang-orang yang berada di dekatnya, ia bahkan tidak ingat dengan dirinya. Satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaan ini hanya El, tapi kini laki-laki itu benar-benar lenyap.
Stefan kembali mengunjungi rumah Venus, ia membuka pintu perlahan. Rumahnya begitu berantakan,bahkan pintu rumahnya hampir jatuh saat ia membukanya. Tak ada tanda-tanda keberadaan El. Bahkan orang-orang yang tinggal di sekitar lingkungan Venus mengira rumahnya kerampokan.
Dua bulan berlalu, selama itu juga Venus tidak bekerja, bahkan webtoon yang dirilisnya ikut tertunda. Website maupun blog perusahaannya di penuhi komentar dari para penggemar tulisan Venus, bahkan dari perusahaan fotografer yang telah menandatangani kontrak dengan El sampai saat ini terus mencari keberadaannya. Meski hanya sebentar El sudah mendapat banyak penggemar, bahkan kabar menghilangnya El di beritakan di beberapa stasiun TV. Tak terkecuali para penggemarnya yang selalu datang ke café.
Hari ini setelah mengunjungi rumah Venus dan mengambil beberapa barang miliknya, ia akan mengunjungi Venus di rumah kakaknya. Hampir setiap hari Stefan datang, sesekali mengajaknya berjalan-jalan meski Venus hanya seperti cangkang kosong, Stefan selalu berusaha mengajaknya bicara, bahkan menceritakan tentang El kepadanya, tetapi tidak ada perubahan yang terjadi. Bahkan keluarganya tidak tahu harus melakukan apa. Jiwanya seakan hilang meninggalkan raganya.
“Apa yang sebenarnya terjadi…!” ujar Ditto memandangi adik perempuannya itu, hampir dua bulan melihat keadaan adiknya membuat selalu bersedih, bahkan terkadang air matanya tumpah di pangkuan istrinya.
“Kamu belum mengetahui kabar laki-laki itu? apa mungkin kepergiannya membuat Venus seperti ini…!” pikir Ditto, ia berharap jawaban dari Stefan, tetapi Stefan tak bisa memberi jawaban dari pertanyaannya. ia hanya berharap El bisa datang menjelaskan apa yang terjadi.
Omi….
Hari berlalu begitu cepat, begitu cepatnya hingga perlahan laki-laki yang bernama El sudah hilang di benak orang-orang yang pernah mengingatnya, seiring waktu berlalu, keadaan Venus masih sama seperti yang dulu. Ia duduk di samping jendela , tatapan yang kosong tak bisa menjelaskan bagaimana raut wajahnya. Langit terlihat gelap tertutupi oleh awang hitam saat itu, suara petir tiba-tiba mengagetkannya. Ditto menghampiri Venus menutup jendela. ia membawa Venus masuk ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Venus tiba-tiba membangunkan tubuhnya kembali, ia berdiri membuka pintu, tanpa beralas kaki, dalam keadaan tidak sadar ia berjalan menuju kesuatu tempat, hujan tiba-tiba turun begitu deras, hampir setengah jam ia berjalan, dengan basah kuyub ia berhenti di depan sebuah café, lalu masuk. Pengunjung café saat itu begitu terkejut melihat seseorang yang tiba-tiba masuk dengan tubuh kehujanan. Fani terkejut menghampiri Venus yang berjalan menaiki tangga, ia segera menghubungi Stefan. Tidak lama kemudian ia tiba-tiba, ia mengatur nafasnya setelah berlari.
“Apa yang terjadi?” Bisik Fani dari bawah, Ia tidak berani mendekati Venus. Stefan menyuruh Fani membawakannya air hangat untuk Venus.
“Venus….!” Panggil Stefan perlahan mendekatinya, Venus berdiri tepat di hadapan kamar yang pernah di tinggali oleh El.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Ayo kita pulang, kakakmu pasti khawatir…!” bujuk Stefan memegang pundaknya. Venus menghempaskan tangan Stefan, ia kembali berjalan turun keluar café. Stefan mengejarnya, hujan semakin deras beberapa kali ia memaksa Venus naik ke mobil tetapi seakan tubuhnya sedang di kendalikan, Venus berjalan tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di sekitarnya. Stefan mengemudikan mobilnya mengikuti kemana Venus akan pergi. Langkah Venus terhenti saat mendengar suara petir, seakan ada sesuatu yang terjadi, Stefan memperhatikan Venus yang berdiri diam beberapa saat, ia memperhatikan gadis itu memperhatikan tangannya yang mengeluarkan cahaya seperti petir, tidak begitu jelas hanya sekilas, Stefan begitu terkejut. Ia keluar dari mobilnya kembali menghampiri Venus.
“Aku akan mengantarkanmu kepada El…!” ujar Stefan, ekspresi Venus berubah saat mendengar nama itu, ia menatap Stefan yang membawanya masuk ke dalam mobil. Stefan tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Mengapa cahaya Kristal itu masih terlihat di tubuh Venus, itu sama saat semua lukanya tiba-tiba sembuh begitu saja. Apa semuanya masih berhubungang dengan El?. Stefan melajukan mobilnya ke rumah Venus, ia sendiri tidak yakin membawa Venus kembali ada hubungannya dengan cahaya yang baru di lihatnya, apa dengan membawanya akan mengembalikan keadaan Venus seperti dulu.
Stefan membantu Venus masuk, terlihat begitu berantakan dan debu bertebaran di mana-mana, keadaanya masih sama saat Stefan mengunjugi rumah itu terakhir kali. Stefan menarik nafas, terlihat dari raut wajahnya begitu kecewa. Ia masih belum menemukan apa-apa di tempat ini.
“Ayo kita pulang…!” ajak Stefan, setelah berkeliling beberapa menit.
“Sebentar lagi dia akan datang…!!” ujar Venus, ini pertama kalinya ia mendengar Venus mengucapkan sesuatu setelah hampir lima bulan.
“Kamu bicara…!” seru Stefan begitu senang, ia kembali kebingungan dengan ucapan Venus. Siapa yang akan datang, bibir Venus terus mengucapkannya berulang kali, ia menatap keluar pintu seolah sedang menunggu seseorang. Dari kejauhan sebuah cahaya secepat kilat menghampiri mereka berdua. Stefan begitu terkejut saat cahaya itu berubah menjadi lebih besar, menyilaukan penglihatan Stefan, ia menghampiri Venus yang masih berdiri tepat di depan cahaya itu. ia mencoba melindungi Venus meski tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Telapak tangan Venus kembali memancarkan sinarnya. Kini lebih jelas. Cahaya itu keluar seolah menyatu dengan cahaya yang berada di hadapannya, tidak lama kemudian perlahan cahaya redup. Terlihat sosok yang tidak begitu jelas, Venus tiba-tiba terjatuh tidak sadarkan diri. Stefan menopang tubuh Venus memeluknya. Perlahan cahaya itu redup memperlihatkan sosok seseorang yang berdiri di hadapan mereka.
“El…!” ujar Stefan saat sosok itu semakin jelas di hadapannya. El tersenyum sesaat melihat mereka berdua. Tubuhnya tiba-tiba ambruk tepat di hadapan Stefan. El terlihat begitu lemah ia terbaring memperhatikan Venus yang tidak begitu jauh darinya.
“Venus…!” ucapnya berusaha meraih tangan Venus. Stefan membantu El duduk, ia membawa Venus lebih dekat dengannya. El meraih tubuh Venus dan langsung memeluknya. Melihat itu membuat Stefan sedikit cemburu. Ia hendak berdiri meninggalkan mereka berdua, tetapi El langsung meraih tangan Stefan. Dalam hitungan detik mereka bertiga sudah berada di kamar milik El. Mereka membaringkan Venus yang masih tidak sadarkan diri.
“Bagaimana keadaannya?” Tanya El membelai rambut Venus, ia begitu merindukannya. Ia menatap wanita itu begitu dalam. Stefan langsung berdiri, menarik El meninjunya, dengan satu pukulan saja tubuh El terhuyung, El tidak bisa mengelak saat pukulan itu membuat bibirnya berdarah. Ia mengerti mengapa Stefan melakukan semua itu setelah mendengar kondisi Venus selama ia menghilang.  Ia tidak tahu efek Kristal membuat venus seperti itu. selama El kembali ke dimensi tempat tinggalnya, ia harus melawan pasukan kegelapan sendirian, berjuang keras untuk hidup, bertarung demi dunianya, demi wanita yang sedang menunggunya, meskipun ia sendiri tahu tidak akan bisa bertemu dengan wanita yang di cintainya lagi. El tersungkur dengan tubuh terluka, tubuhnya terbakar. Tetesan darah yang menyerupai semburan lava menetes di sekujur tubuhnya. Kekuatannya sudah diluar batas. Ia sudah begitu lelah dengan pertempuran ini. kini pasukan kegelapan sudah mengelilinginya. Mereka mengangkat semua tongkat api siap mengarahkannya pada tubuh El, dengan sisa kekuatannya ia mengeluarkan kristalnya dari tubuhnya. Sebelum Kristal itu berada di tangan pasukan kegelapan, El menghancurkannya menjadi kepingan lalu menghilang bersamaan dengan hancurnya Kristal itu, tubuh El perlahan berubah menjadi cahaya yang memancar begitu terang, membuat pasukan kegelapan lenyap dan musnah seketika tanpa jejak.
Saat pertempuran itu berakhir, semua penguasa dari berbagai tingkatan berkumpul. mereka memberikan penghormatan terakhirnya kepada El.
“Omi…apa yang harus kita lakukan pada Zian?” sahut pengawal terkuat yang mendampingi Omi. Omi adalah pemimpin tertinggi di dimensi ini, dia yang telah menciptakan El dari cahaya Kristal mengubahnya menjadi manusia menjadikan Kristal itu adalah sebagian dari jiwa El. Membutuhkan waktu sekitar seribu tahun lamanya untuk menunggu El tercipta. Omi tidak pernah menyangka menciptakan El dengan Kristal itu membuat malah petaka di dunia dimensi. Sampai Zian pemimpin terdahulu dan terkuat membangkitkan pasukan kegelapan hanya untuk mengambil Kristal itu. Zian adalah satu-satunya penguasa dari tingkatan tanah yang di anggap tidak berhak berkuasa, ia berhasil menduduki kepemimpinan setelah mengambil kesempatan saat krisis pemilihan terjadi penguasa api berada di ambang kelemahan,  Selama 500 tahun ia menjadi penguasa dengan keserakahannya, akhirnya setelah penguasa api lebih kuat, Omi mengambil hak kepimpinan menciptakan Kristal yang dapat memperkuat penguasaannya. Setelah Zian di gulingkan dan ia terpuruk dalam pengasingannya, harapannya tiba-tiba kembali setelah mendengar Kristal terkuat di ciptakan. Zian mengorbankan jiwanya hanya untuk membangkitkan pasukan  kegelapan demi mendapatkan benda yang bisa menjadikannya penguasa abadi.
Omi langsung menyuruh semua pengawalnya menyeret Zian pusaran kematian, melenyapkannya merupakan hukuman terberat dari segala hukuman.
“Bagaimana dengan El…apa tidak ada cara untuk mengembalikannya…!”.
Omi hanya diam, ia mengambil serpihan cahaya Kristal yang masih tertinggal di tongkat cahaya milik El, tiba-tiba cahaya itu berubah memperlihatkan sosok seorang perempuan. Omi segera membawa sisa cahaya itu menuju ke istana. Cukup lama ia berdiri memperhatikan cahaya yang berbentuk cermin itu melayang di tengah semua penguasa dari empat tingkatan. El tidak sadar membawa sebagian ingatan dan jiwa manusia ke dalam kristalnya.
“Jadi apa yang harus kita lakukan…?” ujar salah satu satu dari mereka.
“butuh waktu yang cukup lama menghidupkan El kembali….!” Omi menggunakan tongkatnya, ia memasukkan cahaya itu ke dalam sebuah peti kaca, ia menyuruh pasukan air dan udara untuk menjaga peti kaca itu, mereka memasukkan dalam sebuah gelembung raksasa lalu memasukkannya ke dalam air yang telah di bubuhi serbuk cahaya.
“Butuh waktu berapa lama? Bagaimana dengan wanita itu…!?” tanya Erdon, dia adalah satu pemimpin di pasukan air.
“Butuh seribu tahun bahkan lebih daripada itu…itu waktu yang sebentar di bumi yang hanya beberapa bulan...!” Jelas Omi sambil tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya.
“Makhluk yang bahkan tidak memiliki perasaan seperti El, jatuh cinta dengan wanita itu. bahkan sisa kristalnya masih tertinggal di tubuh gadis itu…!” Jelas Omi. Kini ia mengerti dengan situasi yang merupakan kehendak pencipta sesungguhnya. Meski membiarkan sebagian jiwa dan kenangan milik Venus terperangkap untuk beberapa waktu. Sebagian dari kenangan milik El juga terperangkap dalam tubuh Venus. Setelah El hidup Omi akan membawa El kembali ke bumi selamanya. Ia hanya berharap wanita yang menunggunya bisa bertahan sampai waktunya tiba.
“Wah…!” Ujar Stefan terkejut ketika mendengar semua penjelasan El, baginya itu sedikit tidak masuk akal, tetapi tak ada yang bisa ia katakan, kecuali menunggu Venus kembali sadar. Apakah kemunculan El mengembalikan keadaannya kembali.
Pagi menjelang
Dari luar pintu terdengar beberapa orang yang sedang mengobrol, suara itu tidak lain adalah suara Ditto dan Stefan. El tersadar dari tidurnya, ia bangkit dan membuka pintu. Stefan yang sejak tadi berusaha mengulur waktu dan menjelaskan keadaannya akhirnya tidak bisa melakukan apa-apa saat Ditto melihat El. Tanpa mengatakan apa-apa Ditto mendorong El dan menyerobot masuk. Saat itu juga Venus tersadar, ia memperhatikan sekitarnya.
“Dit…!” ucapnya, Ia langsung memeluk adiknya itu, setelah sekian lama akhirnya Venus berbicara dan bisa mengenalnya. Ia bisa mengenal orang-orang yang berada di sekitarnya. Ia terkejut saat mendengar kondisinya selama bulan ini, bagi Venus itu seperti mimpi, ia seperti tertidur dan bangun keesokan harinya. Ia tidak menyadari cukup lama ia dalam keadaan tidak sadar. Hanya saja saat ini Ditto tidak menyukai keberadaan El, meski Stefan sudah menjelaskan apa yang terjadi, itu tidak membuatnya berubah pikiran.
“Ayo kita pulang…kamu harus beristirahat. Dokter akan datang memeriksamu…!” Ditto membantu Venus berdiri.
“El…!” ujar Venus berhenti saat melihat El yang coba memalingkan wajahnya. Ia melepas tangan Ditto menghampiri El.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya, entah mengapa tanpa sadar Venus meneteskan air matanya. Ia menghampiri El, meski ia tidak tahu apa yang terjadi, semua ingatannya hari itu sengaja di hapus atas permintaan El. Ia tidak ingin Venus mengingat kejadian saat pasukan kegelapan muncul. Ia ingin sekali memeluk Venus, cukup lama menunggu untuk bertemu dengannya lagi. Butuh bertahun-tahun untuk bisa kembali ke dunia ini. Venus begitu merindukan pria yang sekarang berdiri di hadapannya.
“Ayo kita pulang…!” Ditto menarik pelan Venus membawanya turun kembali ke mobil, El tidak bisa melakukan apa-apa. Ini kesalahan yang harus diperbaikinya sendiri. Semuanya terjadi karena dirinya.
“Tenang saja, aku akan membantumu bertemu dengan Venus, tapi saat ini kamu harus sabar sampai semuanya tenang kembali…!” Jelas Stefan, ia meninggalkan El sendirian.
Pertemuan pertama
Seiring waktu yang pernah hilang, perlahan semuanya kembali seperti semula. Kembalinya El membawa sesuatu yang begitu luar biasa bagi penggemarnya. El tidak lagi bekerja di café, ia sibuk dengan tawaran membintangi sebuah iklan dan produk, menjadi model dan tidak membutuhkan waktu yang cukup lama nama El melejit di berbagai stasiun televisi, dari iklan kecil sampai produk merek terkenal ingin memakainya sebagai model. Bahkan beberapa hari yang lalu ia tawari membintangi sebuah film, manajernya langsung menerima tawaran itu setelah menerima persetujuan dari El. Saat ini El tidak lagi tinggal di café, agensi yang menaunginya memberikan apartemen yang cukup luas kepadanya.
Sementara itu Venus yang sudah dua bulan berada di luar negeri, menghabiskan waktunya beristirahat dan menikmati liburannya. Kali ini dia akan kembali setelah meminta izin dari Ditto, hanya saja ia tidak memberi tahu kakaknya kapan ia akan datang. Ia benar-benar merindukan El, ia ingin sekali bertemu dengannya, Venus menghubungi Stefan tentang kedatangannya hari itu. mendengar Venus akan datang, Stefan berpikir bagaimana perasaan El selama ini, hampir setiap hari ia berusaha mendapatkan kabar Venus dari dirinya menunggu Venus dengan kesabarannya, selama ini El menahan perasaanya untuk bertemu dengannya. Setiap malam ia selalu merasa terganggu dengan kedatangan El di tengah malam saat dirinya ingin beristirahat. Manajernya akan terus menghubungi dirinya ketika El tiba-tiba menghilang. Selama ini Stefan berusaha mendengar ceritanya dan melihatnya dengan wajah kesedihan. Sering kali kecemburuan melanda di pikiran Stefan, tapi itu tidak membuatnya membenci El. Harus ia akui perasaanya takkan sama, perasaan El lebih besar dari perasaan yang dimilikinya.
Setelah menghubungi El dan memastikan dirinya berada di apartemen, Stefan segera meluncur ke tempat El. Ini pertama kalinya ia mengunjunginya langsung ke rumahnya.
“Sepertinya kamu sudah menjadi bintang besar…!” ujar Stefan, ia duduk menyilangkan kedua kakinya sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia tidak menyangka laki-laki yang entah dari keberadaanya ini benar-benar membuatnya takjub. Hanya sebentar saja sosoknya menjadi idola banyak orang. Bahkan Fani memajang semua gambar El di cafenya.
“Memang ada apa?” tanya El. Ia juga terkejut atas kedatangan Stefan yang tiba-tiba. Selama ini ia selalu membujuk Stefan tinggal bersamanya. Tapi Stefan menolak dengan alasan kantornya lebih dekat. Baginya, Stefan adalah keluarga satu-satunya, ia paham dengan sikap El, ini pertama kali baginya.
“Bagaimana dengan jadwalmu hari ini…!” Tanya  Stefan, ia ingin memastikan hari ini El tidak akan kemana-mana.
“Jam sepuluh nanti akan ada pemotretan, setelah itu syuting sampai malam dan…!!” sahut Leo yang tak lain adalah manajer El. Leo membawakan secangkir teh untuk Stefan.
“Emang kenapa…!” Lanjut Leo. Stefan melihat jam yang hampir menunjukkan pukul sepuluh,  El sejak tadi bersiap-siap, Leo juga sibuk mempersiapkan barang-barang El yang akan di bawanya. Ia lalu turun lebih dulu menyuruh El menyusul dan menunggunnya di mobil.
“Kalau Leo tahu kamu kabur, bagaimana reaksinya…!” ujar Stefan menyiratkan sesuatu di wajahnya.
“Mungkin dia akan membunuhku…!” ujar El.
“Baiklah…biarkan hari ini dia membunuhmu sekali saja…!” Stefan berdiri dari tempatnya, ia menyuruh El membatalkan semua jadwalnya hari ini, mungkin akan membuat Leo sedikit bekerja keras karena El baru saja menghubunginya, semenit saja sudah seribu ocehan masuk ke telinganya. El mengikuti Stefan masuk ke mobil ia belum mengerti mengapa tiba-tiba Stefan memintanya membatalkan semua jadwalnya hari ini. di tengah perjalanan Stefan menghentikan mobilnya dan turun, ia menyerahkan kunci mobilnya kepada El.
“Hari ini kamu harus menjemput Venus di bandara…!” ujarnya lalu pergi, El langsung melajukan mobilnya ke bandara, ia begitu senang mendengar Venus akan datang. Selama ini ia menunggu lama untuk bisa bertemu dengan Venus.
Ia berlari masuk, kemunculan El di bandara tiba-tiba membuat heboh, semua orang mengerumuninya. El sedikit kesulitan saat menghindari para penggemarnya, ia berusaha ramah dan tersenyum. Suasana tidak terkendali ketika itu, untung saja pengamanan dari bandara menutup sebagian akses pintu masuk dan penjemputan. Baru kali ini ia pergi tanpa manajer dan krunya.
Tidak lama kemudian, dari kejauhan tampak Venus menggunakan topi dan syal di lehernya.El berlari menghampiri Venus seketika itu, ia begitu terkejut dengan kedatangan El.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Venus memperhatikan sekelilingnya, ia khawatir akan ada wartawan atau sejenisnya yang melihat mereka. El bukanlah orang biasa saat ini, ia ikon semua selebriti tanah air. Mungkin penggemarnya akan menggila saat melihatnya mereka. Ia segera menarik El menjauh. Tetapi El kembali menarik Venus di tengah kepanikannya, ia memeluknya begitu saja dengan senyuman yang mengembang di wajah El. Venus berusaha melepaskan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di balik syal.
“Lepaskan…orang-orang melihat kita…!” bisik Venus. Hampir semua orang berusaha mengambil foto saat itu, kali ini El membuat masalah dengan merepotkan pihak sekuriti bandara yang harus turun tangan sendiri, mereka terpaksa harus mengawal El ke mobilnya.
“Lihat…!masalah yang kamu timbulkan sekarang…!” Ujar Venus, bukan raut kebahagian yang di dapatkan saat ini tetapi ia terlihat kesal dengan sikap El.
“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya El, dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan Venus padanya, dan betapa kesalnya ia saat ini. bertemu dengan Venus adalah keinginan terbesarnya. Tak akan ada yang mengerti betapa besar rindunya pada wanita yang duduk di sampingnya. Ini adalah perasaan pertama sejak ia sepenuhnya menjadi manusia. Mungkin bagi orang lain perasaannya adalah hal yang biasa yang dirasakan ketika jatuh cinta, bahkan Stefan pernah menertawakannya gara-gara menceritakan apa yang dirasakannya. Selama ini ia telah banyak bekerja sama dengan model dan artis. Tak satupun dari mereka yang membuat hatinya berdetak. Bahkan kabar tentang kedekatannya dengan salah model wanita tidak membuat El goyah. Ia tidak pernah memikirkan hal itu. di pikirannya hanya ada Venus. Mungkin hatinya hanya akan berdetak untuk Venus, dan ia memang di ciptakan khusus untuk berada di sisinya.
El menghentikan mobilnya cukup jauh hingga mereka tiba di sebuah rumah kaca penangkaran bunga anggrek. lokasi ini pernah menjadi lokasi syutingnya, tempat ini menjadi tempat pertama yang ingin di kunjunginya bersama Venus. Tidak begitu banyak pengunjung yang datang saat itu hanya beberapa orang yang terlihat dan keberadaan El tidak begitu menyita perhatian mereka. sebuah pelukan dari El membuat Venus perlahan lupa dengan kekesalannya. Mereka diam beberapa saat, Venus menutup kedua matanya dalam dekapan El, detak jantungnya terdengar begitu jelas di telinganya. Ia tidak bisa membohongi perasaanya bahwa ia benar-benar ingin bertemu dengan El. Awalnya ia berpikir menemui El yang sudah menjadi terkenal adalah hal yang sulit, atau bahkan El sudah tidak ingin bertemu dengannya. Semua pikiran itu sirna tiba-tiba saat ia melihat El menjemputnya di bandara. Mereka berdua merasakan kenyamanan yang menghangatkan  hati masing-masing.
Karena ini zona pertamaku jatuh cinta
“My first love and my end love” ujar Stefan ketika membuka instagram miliknya, meskipun tidak menggunakan namanya di akun pribadi milik El, akun itu sengaja di buat oleh manajernya untuk keperluan pekerjaan agar ia lebih dekat dengan penggemarnya. Ini pertama kalinya juga El mengupload fotonya secara langsung. Stefan memandangi El sambil menggelengkan kepalanya. Ia memperlihatkan foto itu kepada Venus, ia hanya menutup wajahnya saat ini.
“Kenapa kamu menguploadnya…?” Tanya Venus, kali ini El malah menambah masalahnya. Kini foto mereka berdua tersebar dan netizen yang melihat foto itu memenuhi kolom komentar akun instagram milik El. Hal yang di khawatirkan Venus adalah karir El, sekarang ini dia berada di puncak ketenarannya. Ia tidak ingin berita tentang dirinya menghancurkan kariernya sebagai seorang model dan aktor harus berhenti di tengah jalan.
“Apa masalahnya kalau mereka tahu…!” bela El.
“Masalahnya sekarang, bukan waktu yang tepat, seharusnya kamu menyembunyikan hubunganmu dengan Venus. Masalahnya sekarang adalah…. Venus!!, mungkin saja wartawan di luar sana sedang mencari tahu siapa wanita yang berada di foto itu. kalau mereka tahu, Venus akan selalu di kejar oleh wartawan. Kemanapun ia pergi akan ada orang yang mengenalinya, itu akan menganggu privasinya…!” jelas Stefan. Meski penjelasan Stefan tidak cukup, itu sudah terlambat. Venus cukup terkenal saat ia masih menulis webtoon. Identitas mengenai Venus tersebar. Kali ini Venus tidak bisa memikirkan apa-apa lagi, begitupun Stefan yang tidak bisa membantu mereka berdua. El hanya memandangi mereka berdua bergantian.
“Jadi bagaimana sekarang?” tiba-tiba Ditto muncul dari balik pintu, El begitu terkejut saat melihat kakak Venus datang. Ia masih ingat betapa marahnya ketika ia selalu berusaha datang menemui Venus dan ia tak pernah mengizinkannya.
“Umumkan saja pernikahan kalian…!” Tambah Ditto, mendengar itu malah membuat El begitu senang. Venus langsung berdiri dari kursi saat melihat Ditto yang kesal. Tentu saja karena ia tidak memberitahu Ditto tentang kedatangannya hari ini.
“Menikah…”ujar Venus dan Stefan bersamaan.
“Siapa yang akan menikah…!” sahut Leo yang baru tiba.
“Kalian…??” Tunjuk Leo memastikan wanita yang berdiri di samping El adalah wanita yang sama di lihatnya di foto. Suasana saat itu benar-benar kacau. Mereka semuanya hanya bisa duduk tanpa mengatakan apa-apa.
“Aku akan bicara dengan agensiku…!!” Leo tiba-tiba mengeser kursinya, ia terlihat lelah mengurusi masalah pemberitaan mengenai El seharian ini. ia beranjak pergi meninggalkan kunci mobil dan kunci apartemennya pada El. Ditto juga beranjak pergi, ia meminta El atau Stefan mengantarnya pulang. Kini tinggal mereka bertiga. Stefan menarik nafas lalu menghembuskannya. Hari ini cukup melelahkan bagi Stefan mengurusi mereka berdua. Stefan lalu meraih kunci mobilnya kembali, ia beranjak dari kursinya.
“Sebaiknya kamu mengantar Venus sekarang juga, ini sudah malam…!” ujar Stefan pasrah, ia segera naik kembali ke kamarnya.
Sepanjang perjalanan Venus terus memandang keluar jendela, sesekali ia memperhatikan El yang sedang menyetir. Saat ini ia kesal tetapi ia juga merasa kasihan padanya, ia mengerti bagaimana perasaan El, ini pertama kali baginya merasakan jatuh cinta, ia tidak tahu bagaimana mengekpresikannya. Raut wajahnya mengatakan saat ini El benar-benar merasa bersalah. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk memperbaiki semuannya. Venus meraih tangan El menggengam erat.
“Maafkan aku…!” Ucap Venus, El menepikan mobilnya. El membalas genggaman Venus. Sejak tadi ia ingin mengatakan ucapan yang sama kepada Venus.
“Aku tidak ingin menghalangimu, bekerja di dunia hiburan itu tidak mudah, sekali kamu tidak di sukai hanya karena hal sepele. Mereka perlahan akan melupakanmu…!” ujarnya.
“Aku tidak pernah menginginkan ini, bekerja di dunia seperti ini tidak pernah ada dibenakku. Kau tahu hal apa yang kupelajari saat berada dunia ini. bekerja!! Menghasilkan uang adalah satu-satunya cara menghadapi kehidupan ini, dan belakangan ini aku baru tahu. Semakin tinggi pekerjaan seseorang setinggi pula itu orang akan mengagumimu. Apa yang bisa aku lakukan? Saat ini mereka hanya butuh aku, wajahku dan tubuhku untuk investasi mereka. Aku tidak pernah memohon untuk mendapatkan peran yang lebih besar, tetapi terkadang mereka membuatku kelelahan dan orang-orang yang setiap hari meneriaki namaku, mengagumiku di manapun aku berada mereka semua selalu ada, kau pikir itu mudah bagiku…? Ini melelahkan Ven…aku hanya ingin mengumpulkan uang sebanyak mungkin, membeli rumah dan tinggal bersamamu…itu saja, aku tidak memikirkan hal lain lagi selain ingin bersamamu…!” jelas El ia memeluk Venus begitu lama,ia akhirnya sadar dengan perasaan yang sebenarnya ingin di sampaikan El padanya. Mungkin di luar sana El menikmatinya semua kemewahan dan ketenarannya tetapi dari lubuk hatinya ia hanya ingin bahagia bersama Venus.
Pernyataan pertama
Sehari setelah itu, setelah jadwal syutingnya selesai. Manajernya membawanya ke perusahaan agensinya. Kali ini akan di adakan rapat setelah itu konferensi pers. Saat itu dengan tekad yang bulat dan dari persetujuan dari agensinya, ia akan mengklarifikasi kebenaran hubungannya dengan Venus. Setelah syuting film dan kontrak modelnya berakhir. Ia baru diizinkan mengumumkan pernikahannya.
Hari yang melelahkan bagi El, jadwalnya yang padat terkadang harus menyelesaikan syuting sampai larut malam, bahkan ia sama sekali tidak memiliki kesempatan bertemu Venus.
Pagi-pagi sekali El sudah di bangunkan oleh Leo, pagi ini mereka harus berangkat ke salah satu destinasi wisata pantai tebing tinggi, salah satu destinasi pantai yang begitu indah. El akan mengadakan pemotretan sekaligus syuting adegan terakhir dari filmnya. Sebelum itu, El meminta supir dan manajernya membawanya ke rumah Venus. Ia meminta izin kepada Ditto untuk membawa Venus bersamanya.
Tanpa sepengatuan Venus, El sudah mempersiapkan kejutan kepada Venus. Sebuah lamaran yang telah disiapkannya. Sebenarnya ini adalah rekaman khusus yang di buat oleh agensinya. Mereka sengaja membuat ide ini seminggu sebelum kontraknya berakhir. El tidak tahu menahu mengenai acara yang akan di adakan untuknya. Ia baru tahu sehari sebelum mereka berangkat. Acara ini khusus meliput lamarannya kepada Venus. Awalnya ia tidak setuju dengan ide ini, tetapi sutradara yang bertanggung jawab serta krunya telah mempersiapkan semuanya. Mereka sudah membuat jadwal tayangnya malam ini secara live.
saat itu Venus menunggu di hotel, ia menunggu sampai syutingnya selesai. Tidak lama kemudian beberapa orang datang dan salah satunya adalah manajer El, mereka membawa baju yang telah di siapkan untuknya. Mereka memakaikan riasan ringan di wajah Venus. Meskipun ia tidak tahu mengapa El menyuruh manajernya melakukan itu semua, Venus hanya mengikuti mereka menuju ke sesuatu tempat. tidak begitu lama Venus akhirnya tiba salah restoran yang berada di tepi pantai. Lampu yang berwarna-warni menambah keindahan sekitar pantai. Venus melangkah pelan saat beberapa orang menyambutnya, sebuah meja dengan lilin menghiasi sekitarnya. Sekitar tiga kamera berdiri mengelilingi meja itu, tidak lama kemudian El muncul dengan setangkai bunga di tangannya.
“Apa yang kau lakukan?” bisik Venus, kini ia sadar saat ini semua kamera merekam mereka berdua. El sengaja tidak melibatkan banyak orang agar Venus tidak canggung.
“ini bukan ideku…! Jadi aku mohon…?” bisik El, ia tahu saat ini Venus tidak merasa nyaman dengan apa yang terjadi, El berusaha untuk mengalihkan perhatian Venus. Ia mengenggam tangan Venus. Ia mengeluarkan cincin dari saku celananya, memakaikanya di jari kelingkingnya.
Para kru yang menonton tidak jauh dari mereka, seolah ikut terbawa perasaan. Mereka hanya  bisa menggigit jari, saat ini mereka menyaksikan acaranya secara langsung, tanpa naskah atau cut. Mereka terus merekam membiarkannya mengalir apa adanya. Suasana begitu romantis saat itu, angin malam berhembus sejuk. Seakan ucapan yang dikatakan El dihafalnya dari naskah, ia tidak lagi memikirkannya, perasaanya benar-benar bahagia saat itu, ketika El melamarnya, memintanyan untuk menikahinya. Bagi seorang perempuan itu menjadi kebahagian terindah dalam hidupnya. Hampir sejam berlalu, kini El berdiri menghampiri Venus ia memakaikan kalung dengan Kristal biru menggelantung. Ia meraih kedua tangan Venus.
“Aku ingin memulai hidupku bersamamu, untuk pertama dan terakhir kalinya…!!” ujar El mengakhiri rekaman malam itu. suasana sepi tiba-tiba menjadi riuh saat itu, suara tepuk tangan dan ucapan selamat datang dari berbagai arah.
“Kau tidak perlu melakukan semua ini…!” Ujar Venus setelah mereka tiba di hotel.
“Ini bukan ideku…apa kamu tidak menyukainya?” Jelas El, wajah Venus berubah seketika, sejak tadi ia menahan sesuatu dalam hatinya, Ia mencoba mengerti tetapi ia hanya tidak suka privasinya di tayangkan, ia tidak suka perasaan mereka menjadi tontonan banyak orang.
“Seharusnya kamu menolaknya…!!”
“Mereka sudah mempersiapkannya sebelum aku mengetahuinya…oke aku minta maaf…!!” ucapnya pelan, El tidak ingin bertengkar hanya karena hal sepele.
“Please…aku minta maaf. Ini tidak akan terulang lagi…!” ucapnya lagi, ia benar-benar menyesal dengan apa yang dilakukannya. Ia memandangi Venus berharap ia bisa memaafkan dirinya.
“Jangan diam seperti ini, bicaralah…!!” El memegangi kedua pundak Venus, ia menatapnya lebih dekat. Berharap Venus mengucapkan sesuatu.
“Baik…tapi ini terakhir kalinya, tidak ada lagi kamera atau sejenisnya…!” ujarnya. El memeluk Venus sambil mengucapkan terima kasihnya.
Memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan merupakan hal yang biasa, hanya saja kita harus fokus dengan apa yang akan terjadi hari ini, karena setiap waktu mempunyai bagiannya sendiri. Setiap kisah memiliki cerita dengan porsinya masing-masing.
The end
20 Desember 2017